Minggu, 21 Mei 2017

Belajar Ikhlas dari Cangkang Telur

Source: https://cdns.klimg.com
Telur. Aku bukan pencinta telur. Hanya saja, pasti selalu ada telur di dapurku. Alasannya karena, telur adalah makanan paling ekonomis, mudah di simpan, punya kandungan gizi tinggi, dan sumber protein utama ku. Makanan dengan bioavailabilitas protein paling tinggi lebih tepatnya. Terkadang, sambil menunggu masakan matang atau air mendidih, mataku tertuju pada telur. Dan setangkup cangkang mengajarkan makna sebuah keikhlasan padaku.

Belajarlah keikhlasan dari secangkang telur. Ia tau, pada akhirnya ia akan berada pada tempat sampah. Namun karna cangkang paham, sang putih dan kuning memiliki nilai gizi tinggi. Bukan hanya manusia yg ingin mendapatkan manfaatnya, tapi juga bakteri dan mikroorgansme lain. Maka, tubuh cangkang kokoh memeluk putih dan kuning. Membiarkan mikroorganisme menghancurkan tubuh kokohnya. Hingga limit tubuhnya tak mampu lagi melindungi sang putih dan kuning, menjadi rapuh dan mudah hancur.

Belajarlah keikhlasan dari secangkang telur. Ia tau, tubuhnya akan terurai bersama busuknya sisa makanan lain. Namun dengan sepenuh hati, ia menjaga putih dan kuning dalam dekapannya. Menghambat denaturasi protein oleh panas dari lingkungan. Coba perhatikan, telur yang direbus dengan cangkang akan memiliki waktu lebih lama matang daripada telur yang dimasak tanpa cangkang. 

 Belajarlah keikhlasan dari secangkang telur. Tapi ia tetap setia menjalankan tugasnya. Walau ia bukan apa-apa dan bukan siapa siapa. Walau pada akhirnya ia akan dilupakan dan terbuang. Namun ia, menjalankan tugas dari Rabb nya dengan usaha yang sangat istimewa. 

Diantara langit dan bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah apabila manusia berfikir :)

1 komentar: