Di jam ini, aku seharusnya merampungkan
laporan gizi olahraga. Ah sebentar, suasana ini terlalu kondusif untuk
menuangkan pikiran. Suasana yang sempurna. Komputer intel core, ruangan berAC, akses internet cepat. Sedang tidak
bernafsu membuka dropbox untuk menyelesaikan tugas. Aku ingin mendongeng. Tentang
cerita yang tertunda. Tentang Pelatihan Bela Negara di Akademi Militer Januari
lalu. Tentang pengalamanku, tentang kenanganku bersama 200 sahabat dari penjuru
negriku. Mungkin, tidak semua dapat ku tulis, mengingat waktuku tinggal 30
menit sebelum tagihan komputer ini naik 2 kali lipat, haha.
28 Januari. 8 Mobil khas militer
menjemput kami di stasiun tugu. Setia menunggu kami dari dini hari. Aku tak tahu
apa yang aku pikirkan, hanya tiga kata “ini telah dimulai”. Pelatihan yang
menjadi buah bibir dari tahun ke tahun. Yang menjadikan kakak-kakak tingkat
bermetamorfose menjadi kupu-kupu indah di mataku. Aku tidak tahu apa yang akan
terjadi padaku. Ada semacam rasa gugup. Yang jelas, “aku akan menjadi pribadi
yang berbeda selepas kepulanganku dari pelatihan ini”.
Mobil terus melaju membelah
jalanan. Terlihat kendaraan lain yang terasa lebih kecil di samping kanan kiri
kami. “wow, kita udah kayak anak presiden” celetuk salah satu dari kami. Benar saja,
kami terus melaju tanpa ada satu lampu merah pun yang menghambat laju kami. Beginilah
iring-iringan eksklusif ala militer.
Sebelum memasuki area Akademi
militer, kami di latih di suatu tempat mengenai cara berlatih dan berjalan mode
langkah tegap. Usut punya usut, kami akan memasuki wilayah Akmil melalui
gerbang utama. Gerbang Kesatrian. Gerbang dimana biasanya hanya Presiden,
Jendral, dan orang-orang penting yang dapat melewatinya. Orang sipil seperti
kami tidak diperkenankan, kecuali calon militer dan pada pelatihan ini. Kami berlatih,
dan berusaha sebaik mungkin berjalan melewati gerbang tersebut. Nampak kanan
dan kiri kami barisan tentara berpangkat entah apa berjajar, seperti membuat
pagar betis, menyambut kedatangan kami. Aku terharu :”(
Kami dilatih kedisiplinan. Kami dilatih
menghargai waktu. Kami disadarkan, mengenai siapa diri kami yang sebenarnya. Bahwa,
kami adalah anak bangsa yang wajib menjalankan amanah negara. Sesuai tertera
dalam undang-undang, pasal 27. Bahwa, setiap warga negara berhak dan wajib
melaksanakan bela negara *kurang lebih seperti itu bunyinya. Bela negara yang
harus kami lakukan bukan dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan bidang ilmu
yang sekarang kami tekuni. Menjadi ahli di bidangnya, dan mengabdikan apa yang
kami miliki pada bangsa. Bisa dibayangkan, kami berasal dari berbagai
universitas di indonesia, dengan berbagai spesifikasi ilmu yang berbeda-beda. Salah
satu pelatih mengatakan, kalian adalah aset berharga, yang harus diasah
sedemikian rupa.
Uups, tinggal 4 menit lagi
waktuku habis. Akan ku sambung lagi lain waktu. See u soon :*