Senin, 29 Juni 2015

Be myself ~edisi meng-4LaY-kan sepupu~

Kretek .. hoaaamm bersolek ria. Akhirnya selesai juga UAS. At least selesai juga malam-malam panjang dengan kertas-kertas hand out. It’s time to enjoy ma holidaaaay ..

Ini aku, yang sedang bertumbuh menjadi diriku yang sebenarnya. Lelah memaksa diri untuk menjadi “dewasa” kata orang. Menurutku, dewasa bukan hanya mengenai sikap kalem, diam, sok mengerti, dan sok bisa. Dewasa adalah ketika kita bisa mengayomi mereka yang lebih muda, hingga bijak dalam mengambil keputusan dan menghadapi kehidupan. Jadi dengan sikap ku yang kekanak-kanakan bukan berarti aku tidak dewasa. Aku hanya sedang ingin menjadi diriku, aku yang ceria, aku yang suka having fun, tentunya dalam batas-batas yang telah ditentukan.  Tolong ya, jangan suka menjudge sesuatu dari luarnya #gayasewot ceritanya hahha.

Nah kan, daripada pusing mikirin nikah ngga jadi-jadi, atau mereka-mereka yang bikin bingung, anggap aja temen biasa, mending nikmatin aja hidup. Mensyukuri setiap jengkal nikmat yang diberikanNya. Nikmat kemampuan, fikiran, materi, kehidupan, semuanya. Terutama untuk berbagi, dan memberi arti :)

Ini cerita kemarin sore. Saat uang di dompet hanya 20 ribu, saat dua bulan ngga kerja dan ngga punya tambahan apapun. Kebetulan ini hari libur anak-anak sekolah. Keponakan dan sepupu-sepupuku tumpah ruah di rumah keluarga besarku (baca: anak2 SD, TK, dan belum sekolah). Orang-orang dewasa sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku kepalang tanggung, paling besar dan paling tua diantara mereka . Ya, kadang bisa dibilang aku yang momong (mengasuh) mereka. Aku suka anak kecil, suka sekali, membuat mereka tertawa dan memperhatikan mereka bermain adalah kebahagiaan tersendiri.  Tak jarang, aku sering mengajak beberapa di antara mereka ke taman kota atau kolam renang ketika libur kuliah seperti ini. Kali ini giliran putra dari almarhum om ku dan sepupu dari gontor yang jarang pulang yang beruntung aku ajak main.

Nampak, air muka kecewa pada yang lain. Baiklah, aku berikan pengertian pada mereka. Aku jelaskan perlahan. Ah andai aku bisa nyetir mobil, tak ada raut-raut muka itu. Yah mau bagaimana, aku trauma menabrak pembatas sungai ketika belajar mobil dengan ayah, tak lagi berani belajar.

Back to topic. Haha, dengan 1 motor bertunggang 2 orang dewasa dan 2 anak kecil, si timee (nama motorku) melaju membelah jalan-jalan desa di Gerabag menuju air terjun Sekar Langit. Sengaja memilih perjalanan ke sana menghindari bapak coklat (polisi) dan juga prinsip cost effective di SekarLangit. Masa bodo lah, yang penting pada seneng, haha.

Si timee mulai memasuki wilayah parkir. “Horee..” sorak ria si kecil. Lari kesana kemari. Dari pintu gerbang ke air terjun masih harus ditempuh dengan berjalan kaki. Nikmati saja, sambil bercanda di sepanjang perjalanan, juga belajar menghitung setiap anak tangga dengan berteriak keras-keras “saa tu, duuu a, tiii ga ..” . Tak pernah luput, mengabadikan setiap momen dengan kamera.

Puncaknya, ketika air terjun di depan mata, berlipat bahagianya. Si kecil langsung copot baju (3 tahun). Baiklah, kita-kita kakak nya langsung pasang badan. Siap posisi di tiga penjuru. Kali-kali dia loncat kesana kemari, sambil sesekali bermain air. 

Lelah bermain air, saatnya istirahat di batu agak besar yang lumayan landai. Karna tabiat si kakak tertua (baca: aku) suka selfie, yasudah kita berselfie ria. Hahhaha.

Adzan ashar berkumandang, saatnya pulang …

~Salah satu bahagia adalah tertawa bersama mereka~

*tulisannya blm selesaii, kapan2 yaa, lg males nulis inih, heheh

Magelang, 29 Juni 2015


Jumat, 26 Juni 2015

(bukan) Orang Baik

(bukan) Orang Baik

Belum genap 5 jam aku membicarakannya
"Orang baik"

Aku tahu
Aku tak sebaik yg kalian kira
Aku pun tak seburuk di benak kalian

Andai
Tuhan memberiku ekstra time untuk menjelaskan
Semua duduk perkara ini

Namun sudahlah
Bukankah sahabat Ali pernah berpesan
"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu."

Mohon, jangan membenciku
Atau, jangan terlalu mencintaiku
Karna sesuatu di kepala kalian bukan absolut
mengenai aku sebenarnya

Sabtu, 20 Juni 2015

Menulislah

menulisah
ya, menulislah
tuangkan semua di pikiran

kok tata bahasamu ngga sebagus dulu?
ah siapa peduli
aku menulis untuk merasa nyaman
aku menulis untuk merasa memiliki teman

dalam prosesku
sebuah proses pendewasaan
langit berhias awan
kehidupan berbingkai pengalaman

hei, ini bukan puisi,
bukan juga pantun, haha
ini hanya celoteh pada blog pribadi

aku dan secangkir teh hangat di teras kecil beratapkan langit ramadhan
semoga ramadhan ini banyak memberi berkah :)

Bocah Kecil dan Puntung Rokok


Bocah Kecil dan Puntung Rokok

Aaaa tidaa bisaa
Tangan ini geli pengen ngetik lagi. Pengalaman tadi siang ..

Menatap nanar pada bocah kecil yang aku perkirakan usianya sekitar 2-3 tahun.

Sambil memanasi motor, biasa mata menatap pada apapun di sekitar. Oke, sesosok ibu muda baru saja lewat di sebelah. Tak berapa lama, seorang anak kecil berjalan di belakangnya (berjarak sekitar 3 meter dari sang ibu). Di sebuah persimpangan, sang ibu berbelok. Namun si bocah berhenti. Awalnya aku mengira dia memakan sesuatu di tanah. Tapi aku pertajam penglihatanku (agak kabur tanpa kacamata), ternyata si bocah menghirup SISA PUNTUNG ROKOK!!! yang mungkin sudah dibuang pemiliknya namun masih berasap.

Ya Allah, ayah bunda dimana peran kalian. Bukankah kalian ditugaskan Allah untuk menjaga titipanNya (anak) ??  . ayah dan bunda, bukankah seharusnya kalian menjadi malaikat yang mengenalkannya pada sang Pecipta ?

Ayah, bunda, setahu saya, anak itu bagai kanvas kosong nan putih. Menjadi apa dia kelak, sepenuhnya itu cerminan dari apa yang dididik dan dilakukan kalian. Saya berani pastikan, si bocah yang menghisap sisa puntung rokok  pasti pernah melihat ayah atau paman atau kakeknya merokok di depannya. Bahkan mungkin sering (berulang, setiap hari) dia terpapar pada lingkungan perokok hingga dalam pikirannya tercipta presepsi rokok adalah hal keren ala orang dewasa. Si bocah mencoba layaknya perokok professional dengan dua jari menjepit puntung.

Ya Allah, hati saya menangis melihatnya. wahai ayah, bunda, masadepan putra kalian masih panjang dan luas. Apa kalian mau begitu saja membiarkan putra kalian terus-terus terpapar rokok, membuat nikotin dan zat lain merampas ikatan oksigen pada hemoglobin, pasokan oksigen di otaknya tidak mencukupi, lantas kemampuan kognitifnya rendah. Belum lagi, ketika dia mendapat nilai jelek, kalian akan melontarkan kata2 buruk yang membuatnya semakin terpuruk. Dia tidak dapat berkembang, hingga dewasa susah mendapat pekerjaan, kembali (maaf) miskin, lantas lari dari masalah dengan menghisap rokok, dia punya putra lagi, putranya terpapar hal yang sama. Tidak akan selesai lingkaran setan itu! Berputar begitu terus.

source: www.coolchaser.com
Wahai bunda, ujung tombak itu ada padamu, masa depan putramu ada di tanganmu. Hiasilah kanvas itu dengan warna-warna yang indah. Ciptakanlah suasana nyaman untuk perkembangan dan pertumbuhan putra-putrimu. Laranglah ayah merokok di depannya. Ciptakanlah komitmen antara ayah dan bunda untuk bersama mendidiknya. Kata pepatah “apa yang ada pada dirimu saat ini bukanlah harga mati untuk kau tidak pernah berjuang memperbaikinya”. Putra-putrimu punya masadepan yang luas, jauh terbentang di sana. Genetik? Miskin itu bukan terikat pada gen, kecerdasan memang terkait pada genetik, tapi kesuksesan itu 90% ada pada usaha. Ayah dan ibu masih bisa mengoptimalkan perkembangan otaknya dengan asupan makanan (yodium, omega3, omega6) , masih bisa memberikan kata-kata positif setiap hari yang menguatkan kepercayaan dirinya, masih bisa menciptakan lingkungan positif walaupun dalam kesederhanaan. :)

Entah sepertinya saya masih terlalu naïf, masih menjadi mahasiswa yang sehari-hari menelan teori. Masih belum mengerti sepenuhnya masyarakat. Saya pun belum pernah merasakan memiliki putra. Andai saya bisa bertukar pikiran dengan si ibu di jalan itu. Karena saya tau, saya berteriak-teriak di sini, siapa yang mau baca. Mereka, mungkin hanya facebook yang mereka kenal. Bismillah, semoga suatu saat lidah ini dapat menyampaikan kebaikan dan diterima masyarakat .. menjadi agen of change, insyaAllah, amin :)

Tanpa Judul O_o

source: www.etsy.com

Tanpa Judul O_o

Okelah, di sela-sela belajar UAS, rileks dikit menuangkan secuil pikiran. Beberapa detik lalu, aku tergelitik membuka sebuah trailer film. Mengenai pernikahan dan poligami. Betapa si tokoh utama merasa dirinya telah berada di negri dongeng dengan indahnya hidup yang dijalaninya. Suami yang setia, anak-anak yang cerdas, karir menulis yang bagus. Hingga suatu hari (kurang begitu jelas gmn ceritanya krn blm baca novelnya, ekek) si suami akan menikah lagi. Kalo baca di goodreads sih itu novel bercerita mengenai poligami dari segi pandang istri (pertama).

Duh, sakit banget pasti. Udah dia ikhlaskan hari-harinya untuk sepenuhnya mengabdi pada suaminya, menjadi istri dan ibu yang baik, tapi tiba-tiba.. Jika aku menjadi dia, pasti sangat berat menjalaninya. Terlepas siapapun kalian pembaca blog ku (entah apa ada pembacanya atau tidak, wkwk). Aku ingin sedikit curhat di sini, setidaknya aku merasa ada sahabat yang sedang mendengarkan ceritaku.

Pernikahan. Aku tahu itu bukan perkara mudah.

Aku kemudian berkaca pada diriku sendiri. Ah, siapkah aku menjadi seorang istri? Aku ingin, sangat ingin mendampingi dia, siapapun dia. Aku ingin mengabdi padanya. Menjadi istri dan ibu sepenuh waktu, dengan tetap memilki pekerjaan paruh waktu. Tapi, entahlah. Pandanganku mendadak berubah setelah menyaksikan trailer film itu. Bagaimana jika aku menikah muda, dengan usia pernikahan yang seumur jagung, badai itu datang? Apa aku siap? Apa emosi dan psikis ku sanggup menghadapinya? Jika cinta suami terbagi? Jawabannya tidak, aku tidak akan sanggup.

Apa aku harus menunggu hingga usiaku matang? Tidak juga. Aisyah r.a. istri Rasulullah bahkan menikah pada umurnya yang belum genap 10 tahun (lupa berapa). Sudahlah, yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berdoa, semoga kelak dikaruniai seorang suami yang setia. Walaupun poligami diperbolehkan dalam agama, namun tetap saja, aku pribadi pasti tidak sanggup.

Sudah, tutup laptop, buka bukuu.. belajarr!!

Sabtu, 13 Juni 2015

Meng-4LaY-kan Keluarga

Meng-4LaY-kan Keluarga

~kata mas Azhar Nurun, ikatlah kenangan dengan menuliskannya :D . ini ceritaku~

Haha. Cerita ini mengenai 12 Juni kemarin. Kenapa aku beri judul alay? Karena itu yg dikatakan adekku dengan semua tingkahku dan romantisme keluarga yg sedang aku bangun. Haha, biarlah. Inilah keluargaku, hanya aku yg paling cerewet. Keluargaku tergolong pendiam, terutama ayah dan adekku. Ibu, cenderung pintar berbicara sih, tp entah kenapa aku agak mendominasi di keluargaku, hehe.

Kembali ke cerita, aku mengajak orang tua ku touring ke jogja layaknya anak muda, hihi. Eh aku cuman menawarkan sebenarnya, tp beliau2 mau ternyata. Ayah dan ibu memang tergolong menikah muda, hihi, jadi aku hampir seperti kakak adik (dari segi penampilan fisik) dengan mereka. Walaupun rambut mereka sudah mulai memutih, ternyata diajak main ayok aja.

Kami tidak pergi terlalu jauh memang, hanya malioboro dan alkid. Tp kebersamaan jalan2 berempat ini tergolong langka. Bisa satu tahun sekali, yah aku dan adekku cenderung sibuk di hari biasa :( . tapi tak apa, inilah keluargaku yang unik. Lengkap 1 putra dan 1 putri, jadilah kami berjalan seperti double date, haha.

Agenda pertama, sholat di taman pintar. Sembari menunggu aku, ternyata ayah dan ibu ke shopping, dan mengantongi 2 buku dari penulis favorit mereka, ustad YM. Hmm, ayah terlihat 'sumigrah' sekali dengan buku barunya. Pertama murah, kedua bukunya pas sekali dengan dirinya. Maklum, sehari2 hanya bertemu kursi, rumput, dan kebun. Apapun yg orangtua ku punya, pasti untuk memenuhi kami di sini :" . sudah, itulah kenapa, I'm happy to see that face.

Ayahku sempat ngga mau lagi diajak ke malioboro, mau baca bukunya aja katanya. Nah, akhirnya dengan ajakan 3power puff (haha) , ayah mau diajak. Menyusuri jalanan malioboro, melihat kaos2 couple (uugh, pengen bangeeet, tp ga punya coupleee, ngajak adek jadi couple ku, hahhaha) . Finally, udah, beli baju hem buat adek, liat bunga2 buat ibuk, dan balik.

Matahari mulai bersembunyi di ufuk barat ketika kami mulai melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Usai menunaikan sholat maghrib, kami bergegas pulang. Ah kurang seru- kataku dlm hati. Iseng, krn dulu sewaktu sma aku doyan main, aku ajak pulang melewati alkid. Pikirku, sekali2 lah, lewat doang.

Wow, senang sekali melihat ekspresi ibu. Melihat mobil2 bertenaga ayuhan kaki, dengan lampu warna warni . Dari motor sebelah, ibu menawari "mba ida, mau naik ngga?" . tp rasa2nya itu ibu yg pengen, hihi. Sepertinya beliau belum pernah melihat seperti ini, jaman beliau remaja blm ada mobil berlampu macam2 seperti ini. Ayok, kita naik berempat. Haha

Tawar menawar dengan si abang mobil, akhirnya fix. Adekku langsung menempati bagian kemudi. Aku santai saja, ku pikir dia lebih jago wkt latihan stir kata ayahku dulu. Oke, mobil kecil mulai melaju, pelan, nyaman. Sampaai, ciiiit, ngerem mendadak. Huft, hampir saja. Nampak pengendara motor di belakang meringsut agak marah haha. Mobil melaju lagi, brukkk.. Nabrak mobil2an lain yang akan diparkir. Hahhaha, adek kena omelan si empunya mobil. Tp as usual, dia ttp meringis2 sok cool, wkwk.

Perjalanan ditutup dengan menikmati susu murni hangat di dekat kos adek. Hmm .. Indahnyaa. Menghangatkan keluarga. Kapan lagi bisa meluangkan waktu seperti inii. Sebelum sibuk. Sebelum nambah menantu, hihi. *eh kalo ada menantu jadi berlima kalo jalan-jalan , biarin, biar adek jomblo naik motornya, hahaha kasian deh dek, salah siapa ngga mau cium tangan mba ida :p :p

Anyway, I love my family so much, big huuuuuuug ({}) ({}) ({}) ({})



Hihi, ini aku sama adek yg di depan
Ayah sama ibu yg jadi ppenumpang
Ini dia bapak sopirnyaa (adekku)
Keliatan tua ya mukanya, wkwk

Kamis, 11 Juni 2015

Romantisme ayah dan putrinya


Romantisme ayah dan putrinya

Source: www.styliwallpapers.com
Ayah, kau masih setampan ketika pertama kali aku melihatmu. Mungkin pertama katika aku melihat dunia. Seiring berputarnya roda waktu, tak sedikit warna rambutmu yang mulai memutih, lekuk bernama kerut di wajahmu pun mulai nampak. Meski begitu, kau masih segagah dulu untuk putrimu. Ayah, purtimu begitu mencintaimu. Terimakasih untuk samudra kesabaran yang begitu luas, yang telah kau hamparkan untuk keluarga kecilmu ini.

Satu bulan terakhir, aku sering merasa hampa dengan seluruh kegiatanku. Jujur saja, entah kenapa aku mudah sekali frustasi. Mungkin aku sedikit mengidap penyakit stress. Beruntung, tanggung jawabku sebagai seorang koordinator telah berakhir, aku bisa menghabiskan akhir pekan di rumah. Ah, rumah. Tempat yang selalu menawarkan kebahagiaan dan kehangatan, walaupun terkadang ada gejolak panas, sepertinya setiap rumah tangga memilikinya. Aku merasa, pulang adalah solusi terbaik. Selama ini, ketika orang tua ku menelpon “ sedang apa nok? Pulang ngga minggu ini?” , lebih sering ku lontarkan jawaban “mboten buk, ada kegiatan”. Begitu selama bertahun-tahun terakhir. Sejak SMP aku sudah berpisah dengan orang tua ku. Ah tidak ada salahnya akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu dengan mereka. Supaya mereka masih merasa memiliki putri, hihi.

Ayah yang akrab aku sapa dengan sebutan “bapak” sedari kecil, sering membuatku tertawa ketika menangis, ketika aku mengeluh, pun ketika aku rewel hingga saat ini. Dengan candaan-candaan kecil kami sering tertawa bersama. Beberapa waktu terakhir aku sering meledek ayahku “wii, perut bapak mulai hamil, ati-ati lho pak resiko penyakit sindrom metabolic (baca: diabetes, jantung, hipertensi, dll) , makanya pak, olahraga :p ” dan ayahku hanya tetawa kecil sambil melontarkan ejekan lain untukku.

Beberapa kepulangan terakhir, ada keajaiban baru, haha. Seperti biasanya, selepas subuh dan selesai berdzikir, ayah ke kamarku dan melemparkan benda2 kecil ke arahku yang masih belum sepenuhnya bangun. Menggelitiki kakiku dengan bulu-bulu boneka ku. Mengambil selimutku. Atau menutup (bhs jawa: mbetet) hidungku. Sambil melayangkan nyanyian paginya “ayo bangun, wis sholat subuh hurung ki”. Oke fine, mau tak mau aku pun bangkit dari tidurku. Selesai aku menunaikan subuh, tidak seperti biasanya yang menyalakan TV dan mendengarkan ceramah ustad YM, ayah mencegahku tidur lagi. Ia mengajakku jalan-jalan di desa.

Asiiiik, teriakku dalam hati. Aku dilahirkan di sini, namun jarang sekali aku menikmati udara desa ini. Terakhir, sewaktu SD. Ayah mengajakku ke rute yang berbeda dari biasanya. Melalui jalan-jalan kecil di sub-desa. Jalan-jalan ini bukan hanya sekedar berjalan, namun juga bertukar kata. Aku bercerita banyak hal kepada ayah sepanjang perjalanan. Kuliahku, organisasiku, hingga hubunganku dengan teman-teman. Sesekali, kami melewati tempat-tempat bersejarah(buatku). Pemandian kecil di dekat mata air, tempat aku dan teman-teman SD ku pernah mandi di sana. Atau tanah lapang diantara pohon-pohon bambu (lumayan horor) yang pernah sempat menjadi bakal rumah kami (tp tdk jadi).

Sambil berjalan, aku menyamakan pundakku dengan pundaknya. Terkadang ketahuan, hihi. Ayahku langsung menegakkan badannya dan menjinjitkan kakinya. Kalau sudah bergitu, aku langsung manyun :3 “aaa baapak, kan mba ida udah hampir sama tingginya sama bapak”, dan ayahku pasti tertawa menang mendengarnya. Dengan medan yang mulai becek dan tidak lagi beraspal, aku mulai rewel. “pak, batu-batunya bikin sakiit”, dengan mudahnya ayahku menjawab “lho, ini malah pijat refleksi alami”, cep, diam aku. Lagi, di suatu jalan “paak, becek, bau keboo pak”. Apa kata ayahku “dadi uwong ki rausah kakean ngeluh, lakoni wae, makin ngeluh makin abot”. Jlebb, satu kalimat. Tapi dalam maknanya. Aku langsung terdiam. Dalam bahasa Indonesia Jadi manusia itu jangan terlalu banyak mengeluh, dijalani saja, semakin banyak mengeluh maka semakin berat bebanmu. Ah ayah :”) betapa sering putri mu ini mengeluh. Maafkan putri mu ya ayah –dalam hati-.

Begitulah, hingga akhir perjalanan kami adalah Kali Ngelis. Sebuah sungai yang dibendung dan dibagi ke beberapa sungai kecil untuk mengairi sawah di banyak penjuru desa kami. Udara masih sangat sejuk ketika kami sampai di tempat itu. Rumput-rumput hujau pun masih berembun. Ada taman kecil di sana, uniknya warna daun di taman itu ada 3 macam, merah, kuning, dan hijau tua. Indah sekali. Aku mencuci kaki ku di anak sungai kecil. Sempurna :)