Sehari lalu kami di gunung Merbabu. Menapakkan kaki pada
terjal tanahnya, juga membiasakan paru-paru dengan suhu dinginnya. Aku
memulainya dengan sesuatu yang sudah tidak baik, emosiku sedang labil saat itu.
Baru ketika aku berpisah dengan teman-teman karena mereka menunaikan shalat
ashar, aku menenangkan hatiku. Hati, ku
mohon diamlah, tekanlah ego, dan lupakanlah emosimu. Sepintas aku lebih baik.
Dan, semua pengalaman ini membuatku tak mau mendaki lagi:
- naik terjal, mlusut, jalanan licin—super duper ekstra 300%
dari biasa
- ga pernah latian, jantung berdegub sangat kencang, bahkan
rasanya hampir copot
- bersentuhan dg lawan jenis, dibantu karena aku hampir
terpelanting.
- badan lemes, menggigil, tangan mati rasa
- turun susah, licin, gagal fokus jatuh terus
- dapet ledekan terus: apapun tema nya
Ini, aku uraikan hal yang paling aku benci dan paling
membekas. Saat-saat di tenda malam hari:
Sebelum tidur. “Mba fil ngga pake SB?” l “Engga”I “Terus
pake apa?” I “aku bawa sarung sama jaket dua. dalam hati aku ngga bawa SB, ngga punya, pake caranya adek aja pake sarung,semoga
gapapa. Oya, katanya aku dipinjemin SB, kok ngga ada yg ngingetin atau ngsih
tau SB nya dimana ya. Udahlah paling nnti ada.
Bismillah, tapi unfortunately penyakit ngga bisa tidur
dateng, mata ku pakasain terpejam, tapi pikiraku masih bermain di luar tenda
sana atau memikirkan apapun banyak sekali. Ayolah lepaskan pikiranmu, tidur
tiduur, percuma. Gigi ku mulai gemertak, menggigil. Tiba-tiba ingat pesan ibuk,
perbanyak dzikir. Setidaknya aku lebih tenang, meski aku masih berpikir siapa
yang batuk di sana, siapa yang bergerak dan tergesek benda plastik di sana.
22.30. kakiku dingin, jariku susah bergerak. Masya Allah, dingin. Sadar di sebelah
Gita juga kedinginan dangan tangannya. Oh
ya, aku punya balsem otot mungkin bisa panas. Jari tanganku mengambil
balsam dalam-dalam dan mengoleskannya pada jari kaki. Sedikit lebih hangat,
tapi masih dingin.
Entah pukul berapa. Ya
Allah, dingin, dingin nya sakit, jari ku ikut menggigil, kata adek satu
sleeping bag bisa buat berdua kalo cewek, tapi aku ngga tega sama mereka,
mereka masih kedinginan walaupun udah pake sleeping bag.
Ingin sekali aku mengadukan apa yang aku rasakan pada
seseorang di tenda sebelah, walaupun hanya pesan singkat. Tanganku meggapai-gapai
handphone, tapi tidak, tak ada sinyal. Sudahlah,
bukan waktunya mengeluh.
00.33. dingin makin menggigit. Kakiku seperti menginjak es.
Sama sekali tak dapat menggerakkan jari kakiku. Ku paksakan duduk, mencoba
berbagai posisi agar lebih nyaman. Gita juga bangun, tangannya masih
kedinginan, “Git, jam berapa sekarang?” berharap
subuh segera menjelang I “Masih jam
setengah satu zat”. Tidak, harus merem,
semoga waktu segera bergulir. Kami segera memposisikan tidur kembali.
02.00. Gita terbangun
lebih dulu, dia sudah duduk. Jaket yang ku gunakan untuk selimut menjadi dingin
bukan main, seperti basah oleh embun. Yang menutupi badan hingga kakiku ke
bawah hanya selembar sarung, yang saat itu sudah menjadi dingin bukan main.
Terpaksa menanggalkan jaket paling luar, bisa
tambah dingin kalo terus dipake. “Allah, Allah, Allah” hanya itu yang
menyertai setiap tarikan nafas.
Ada bulir hangat yang mengalir
dari mataku. Allah, Allah, Allah, entah
jam berapa sekarang.
03.00. terbangun lagi karena daily alarm di
handphone. Allah, masih jam 3. Gita
tertidur dalam posisi duduk. Kasihan aku melihatnya, padahal dia sudah berbalut
SB. Bangun untuk mematikan alarm. Lantas meringkuk, melipat kaki, mungkin akan
lebih baik. Nafasku dalam, seperti bengek
(asma), sudah lama bukan hanya gigi
yang gemertak, tapi badan hingga kaki. Jadi ingat pelajaran SMA, menggigil
adalah gerakan alamiah untuk meningkatkan suhu tubuh.
04.00 alarm ku berbunyi kembali.
Ada suara-suara di luar, juga lampu senter yang terarah ke tenda kami. Ah pendaki lain, mungkin mereka bergegas ke
puncak untuk mendapat sunrise. Sekuat tenaga aku melipat tubuhku, sabarlah sebentar lagi subuh.
Tak lama, teman-teman lain bangun, membangunkan satu sama lain untuk
meneruskan perjalanan ke puncak. Alhamdulillah,
setidaknya mungkin aku dapat meminjam salah satu SB mereka, kepalaku
benar-benar pening, dingin. Urung aku mengikuti mereka ke puncak, lebih
baik di sini.
Teman-teman bergegas sholat dan
berangkat ke puncak. Masih meringkuk di tenda. Selepas sholat subuh bersama
Gita, tak sengaja melihat langit merekah merah, sebentar lagi matahari terbit.
Sayang melewatkannya.
Singkat cerita, kami puas
menikmati fajar. Puas menikmati hangat matahari. Pukul setengah 8. Kembali ke
tenda, membungkus diri dengan SB, entah milik siapa. Subhanallah, subhanallah, subhanallah. Benar-benar hangat, air
mataku menetes lagi, hangat ini indah, terimakasih Allah.
Teman-teman dari pucak sudah
sampai di camp kami. Mereka membuat sarapan, dan ngobrol apapun, sekali duakali
aku dapat menyahut pecakapan mereka. Tapi ada yang menyakiti hati, aduh di saat seperti ini, aku sudah tak
dapat mengendalikan ego ku. Sudahlah, aku membenamkan tubuhku dalam-dalam
di sleeping bad. Siapapun membangunkanku, mengajakku bergabung, tak mau, aku
ingin di sini, dalam sleeping bad. Aku
mau istrahat, kakiku terlalu pegal karena meringkuk semalam.
Itu hanya sepenggal, dari
keseluruhan penderitaan naik gunung. Di peringkat kedua paling menyakitkan
adalah ketika kamu mendaki dan kamu turun. It’s so hard. Berulang kali jatuh
bedebam di tanah, dabu pun menjadi kawan. Lain
kali tidak lagi, masih banyak cara lain untuk tadabur alam disamping mencederai
diri dengan mendaki.