Rabu, 23 November 2016

Rindu Stadium Kronis



Tidak asing dengan kata konis? Ya, “kronis” biasa digunakan dalam istilah-istilah penyakit yang menyatakan bahwa perjalanan penyakit memakan waktu beberapa lama hingga menjadi semakin parah. Aku menggunakannya untuk mendefinisikan rinduku. Rindu pada Siboro, pada harum segar udaranya, pada keramahan masyarakatnya, pada setiap sudut desanya, pada anjing-anjing berkeliaran, pada bunga-bunga di setiap pekarangan rumah, pada anak-anak kecil yang sering mengikuti kami kemana pun, pada biru segar langitnya, pada lezat mie gomaknya, pada hijau bukitnya, juga pada pesona indah nun menawan danau Toba. Lengkap sudah rinduku. Ingin rasanya menapakkan kaki (lagi) pada tanah itu.

Ah ya, semua tak akan lagi sama. Tidak ada lagi 30 teman-teman unit SMU 02. Ella, Eben, Mardi, Nia, Mba Ajeng, Anna, Sista, Tepan, Vey, Dita, Togi, seeeemuanya. Tak ada ribut-ribut maupun jauh-jauh ke Dusun Tulas untuk mengerjakan program. Atau menginap di Sub Unit 4 dan merasakan pagi di pinggir Danau Toba. Dengan air yang dihembus angin, semacam ombak kecil yang kadang riak riuh. Atau menikmati tenggelam matahari yang sinarnya dibiaskan oleh air danau. Aku rindu, Tuhan, aku rindu. Kami, tempat itu dan mereka.


48 hari di Desa Siboro. Dengan segala suka dukanya. Aku jatuh cinta, pada setiap ukiran kejadian dan pengalaman yang kami jalani. Seperti ulat, aku merasa seperti berada dalam kepompong yang menjadi kupu-kupu di sana. Sedikit banyak, aku merasa berproses di tempat itu. Aku belajar banyak, terutama dari segi kepribadian dan emosi. Aku belajar mengenai indahnya toleransi. Itulah mengapa para founding fathers kita memberikan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Aku benar-benar merasakan kebhineka-an di sana. Lingkup kecil saja, 30 orang dari tim kami berasal dari suku, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Dari Suku Jawa, Sunda, Flores, Batak, juga Melayu. Dari yang beragama muslin, katolik, maupun Kristen. Meluas pada masyarakat, mereka menghormati agama dan keperayaan kami, muslim. Dimana mayoritas penduduk di sana beragama Kristen dan katolik. Pernah suatu ketika kami dijamu makan malam. Dan mereka benar-benar memisahkan hidangan kami, yang halal, kata mereka. Mereka juga mengajari kami budaya mereka, mereka sangat ramah pada kami yang awalnya adalah orang sangat asing dari pulau nan jauh, pulau jawa.

KSE Value



Banyak hal yang harus diselesaikan, tapi sepertinya tangan ini sudah tidak tahan jika tidak menulis mengenai KSE Value. Bismillah, aku coba merangkumnya dalam tulisan ini.

Pengalaman, kejadian, diskusi, kegiatan, satu tahun terakhir membentuk cara pandangku mengenai beasiswa ini. Secara keseluruhan, coba aku menuangkan KSE value yang aku pahami dalam intern dan intensive values. Pertama, kita akan membahas konsep intern. Konsep ini mencakup tiga hal: 1. Paguyuban, 2. hubungan kita dengan ayahanda dan ibunda yayasan, dan 3. hubungan antar sesama penerima beasiswa. Perumpamaan terbaik untuk KSE adalah sebuah rumah, dengan keluarga di dalamnya. Konsep ini banyak ku dapatkan dari sharing dengan bang fahri. Bahkan sebagian besar redaksinya dari beliau, Bang Fahri.

Paguyuban. Kita harus memahami makna dari kata ini. Mengapa semua perkumpulan penerima menggunakan kata “paguyuban”. Dalam teori sosiologi, terdapat gemeinschaft (paguyuban) dan gesellschaft (patembayan). Dilansir dari wikipedia.org, paguyuban merupakan kelompok social yang anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal. Kelompok ini memiliki ikatan batin yang kuat antar anggotanya dan bersifat informal. Salah satu tipe paguyuban yang tingkat solidaritasnya tinggi adalah karena ikatan darah (nanti kita bahas lebih dalam)

Sedangkan patembayan menurut wikipedia.org adalah kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki ikatan lahir yang pokok untuk jangka waktu yang pendek. Kelompok ini memiliki hubungan antar anggota yang bersifat formal, memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal, memperhitungkan nilai guna, lebih didasarkan pada kenyataan sosial. Contoh kelompok ini seperti organisasi-organisasi di kampus, seperti BEM, BSO, UKM, dan lain sebagainya. Meskipun tidak dipungkiri beberapa ada yang seperti paguyuban. Seperti contohnya, jika sudah lengser dari kepengurusan Hima misalnya, keakraban akan jauh lebih berkurang, belum angkatan-angkatan di bawahnya lagi, bahkan sebagian besar sudah tidak kenal.

Berbeda dengan konsep Patembayan, kedekatan dan keakraban Paguyuban akan dibawa hingga nanti-nanti. Bahkan di KSE, istilah keluarga KSE akan dibawa hingga mati, karena setelah lulus kuliah ada paguyuban alumni. Berkaca dengan keadaan paguyuban sekarang, masih seperti patembayan. Dibutuhkan alasan untuk datang dan saling bertemu.

Teman, sahabatku, penerima beasiswa KSE, pandang dan anggaplah perkumpulan ini seperti keluarga. Apa yang dilakukan sebuah keluarga? Makan bersama, berbagi, belajar, bercengkrama, kadang bertengkar, kadang dimarahi, diberikan nasehat, saling melindungi, bahkan ibarat ayah dan ibu memberi uang saku, kita juga diberi uang saku bukan dari yayasan? 600rb per bulan. Kembalilah ke rumah, hangatkanlah kebersamaan keluarga kita. Kalau bukan kamu, siapa lagi anggota keluarga KSE ini?

Kamu, kamu yang luar biasa, menjadi ketua BEM, ketua Hima, berhasil dengan lomba-lomba luar biasa, exchange ke luar negri, mendapat pengalaman camp di sana sini. Tidak kah kamu ingin kembali ke rumah dan membagikan pengalamanmu ke saudara-saudara dan adik-adikmu?

Kedua, Hubungan dengan dengan ayah bunda yayasan. Bang Fahri menyampaikan dengan sepenuh hati “Sekarang, bayangkan bahwa ayah kita di pusat sana, pada awal yayasan ini, mereka membawa map kesana sini, melobi ke beberapa perusahaan untuk memberikan sebagian dananya buat kita, agar dana 600rb tetap mengalir di rekening kita setiap bulannya, segala pasang surutnya. Ayahhanda kita berkata, pak kami punya anak-anak berpotensial, namun mereka kesulitan secara finansial, maukah perusahaan bapak bergabung menjadi donatur untuk mereka?”. Teman, pernahkah kita membayangkan hal demikian? Atau, kita hanya egois, yang penting uang 600rb selalu ditransfer tepat waktu? Mari kita bertanya pada diri sendiri.

Cukup menyakitkan ketika membaca milis, beberapa penerima ingin keluar dari milis. Padahal, milis adalah grup yang menyatukan dan memperlancar komunikasi kita. KSE sekarang, keluarga ini, telah tersebar di seluruh nusantara. Jika kau berada di Medan saat ini, ada kakak/adik yang berada di Papua sana. Coba bayangkan jika seorang anak berkata “Ma, aku mau keluar dari grup keluarga ini, gak penting Ma gimana kakak di Manado sana, atau adik di Pekanbaru”. Anak seperti apa yang jarang bertemu adik dan kakaknya, tapi malah tidak suka jika dipersatukan. Ya, wajar jika dalam suatu keluarga adik-kakak bermarahan, tp karena keluarga, pasti akan kembali lagi bukan?

Jangan lupa, dengan segala jerih payahnya, ayahanda dan ibunda kita ingin kita lebih baik dari hari ke hari. Ada tanggungjawab besar ketika kita menerima beasiswa ini. Berikanlah kado terbaik untuk ayah dan bunda kita, dengan meningkatnya Indeks Prestasi (IP)mu, atau hasil juaramu, atau kontribusimu pada masyarakat. Daan, kabarkan kondisi kita, apa yang kita lakukan, pencapaian apa yang kita miliki, melalui grup milis =) .

Yang ketiga adalah hubungan antar penerima. Telah banyak disinggung hubungan antar penerima sebelumnya. Bahwa dengan melihat Paguyuban (gemeinschaft) adalah sebuah keluarga, maka layaknya kita seluruh penerima adalah saudara. Adik dan kakak. Seorang kakak pasti akan melindungi adiknya. Seorang adik pasti akan menyayangi kakaknya. Tidak mungkin dalam sebuah keluarga, kakak tidak kenal siapa nama adiknya bukan?

Maka dari itu, mumpung belum terlambat. Sering-sering lah ke rumah kita (Sekre Kardjo). Mengakrabkan keluarga kita lebih dekat. Kita bercengkrama dan berbagi hal-hal positif bersama. Jika terdapat kegiatan wajib, datanglah untuk sekedar membantu. Masukkan KSE dalam salah satu skala prioritasmu. KSE tidak ingin dinomorsatukan, namun juga tidak ingin diduakan.

Sebagian besar redaksi dari tulisan ini berasal dari bang Fahri. Kata beliau hanya ada 3 kategori untuk hadir di acara wajib. 1. Datang, 2. Tidak datang, 3. Menyempatkan. Tidak mungkin ada orang yang tidak bisa hadir terus menerus sama sekali, yang ada hanya dia yang “tidak menyempatkan” untuk kehadirannya.

Begitulah some intern value of KSE. Berikutnya, kita akan membahas intensive value. Tentang sharing, networking, dan developing. Baca terus blog ini yah . .

KSE Value (2)



Selanjutnya, mari kita bahas mengenai intensive KSE Value. Tapi sebelumnya, mohon maaf pada siapapun terkait jika ini menyalahi aturan atau pemahaman yang lain. Bukan bermasud mengkotak-kotakkan KSE Value atau membuat-buat teori sendiri. Saya hanya menuangkan apa yang saya pahami, sejauh saya mengamati dan menikmati kebersamaan di KSE.

Kembali pada topic bahasan. Values ini didapatkan dari motto KSE. Sharing, networking, developing. Dan redaksi dalam tulisan ini banyak berasal dari Pak Dadit, Pak Mirza, dan beberapa ayahanda yayasan saat dalam pelatihan Indofood Leadership Camp. Sering Pak Dadit menyampaikan, bahwa KSE adalah miniaturnya Indonesia. Mengapa dan ada apa dengan sharing, networking, dan developing?

Sharing. Berbicara mengenai kata berbagi. Mengapa ini menjadi kata pertama? Karena ruh dari beasiswa ini adalah sharing, berbagi. Bukan tanpa alasan sharing menjadi kata pertama. Para ayahanda donatur kita berharap kita berbagi apapun yang kita miliki dalam skala yang sederhana sebelum kita berbagi hal-hal luar biasa. Dahulu, tahun 1995, para ayahanda founder kita mengumpulkan uang gaji pertama mereka untuk memberi beasiswa pada 3 atau 4 orang mahasiswa UI. Kala itu, mereka blm sesukses sekarang.

Nilai-nilai dalam berbagi lah yang harus ditanamkan pada setiap penerima beasiswa. Seperti diketahui, berbagi dapat dilakukan dengan sesuatu berbentuk fisik maupun something yang lebih soft. Berbagi makanan (xixi), berbagi waktu kita, berbagi pengalaman yang telah kita miliki, berbagi mengenai skill/kemampuan tertentu, juga berbagi ilmu yang dimiliki. Untuk berbagi, jangan takut kehilangan. Karna sesuai hukum alam, jika kita berbagi, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih entah dari mana asalnya. Tapi jangan berbagi untuk berharap mendapat sesuatu, ikhlas bro ;).

Networking. Setelah berbagi, kita menemukan orang-orang yang sama dengan visi kita. Walaupun berbeda bidang ilmu. Namun akhirnya kita terkoneksi, kita dapat membangun sebuah jaringan. Lingkaran terkecil adalah paguyuban. Kita dipersatukan di paguyuban oleh KSE. Bagi mereka-mereka yang sering berbagi, melakukan kegiatan di sekre, atau sekedar bercengkrama di grup media sosial, akan membentuk sebuah jaringan. Membutuhkan teman PKM dari jurusan lain? Bisa. Ingin jodoh dari jurusan lain? Bisaa. Haha

Oke, lebih serius (sedikit). Salah satu networking erat yang dirasakan penulis adalah dalam Paguyuban BISMA. Dipertemukan dalam pelatihan demi pelatihan. Kami semakin dekat. Bahkan kami lupa jika kami berasal dari seluruh Nusantara. Dalam menginisiasi seminar nasional pun, kami bergerak dari daerah masing-masing untuk membantu berbagai persiapan acara yang dapat kami kerjakan dari jarak jauh. Untuk rapat pun, jam 7 misalnya, harus detail hingga pemilihan jam 7.00 WIB, WITA atau WIT. Unik memang. Di hal lain, untuk mengakses jurnal dari universitas lain pun lebih mudah karena kami memiliki koneksi dalam (sesama mahasiswa).

Networking benar-benar sesuatu yang sangat bermanfaat. Bukan hanya saat ini, tapi hingga nanti kita mencari kerja maupun mengembangkan perusahaan, networking ini akan sangat berguna. Berbagai jurusan dari berbagai universitas dengan berbagai budaya dan agama, bersatu dalam sebuah keluarga. “Pelangi menjadi indah karena warnanya yg beragam bukan?” (Ronny, UNRI).

Developing. Setelah networking, developing menjadi hal yang lebih luar biasa. Dengan memiliki networking yang kuat, kita bisa bersama-sama berkembang. Di KSE, bahkan di lingkup kecil paguyuban, pasti terdapat para penerima yang sebelumnya menjadi aktor di kampus. Dalam artian menjadi aktivis BEM, Himpunan Mahasiswa, UKM, bahkan penggiat kompetisi(lomba) PKM dan semacamnya. Tidak sedikit pula penerima yang telah diasah softskillnya melalui camp. Dengan berbagai pangalaman, saling berbagi ilmu dan kemampuan, kita sama-sama men-develop keluarga kita KSE. Hingga nanti satu persatu dari kita akan berkembang, menjadi bibit-bibit unggul, yang kelak ketika kita tersebar di seluruh indonesia dan menyuburkan generasi-generasi Indonesia selanjutnya. Itulah cita-cita ayahanda dan ibunda para donatur kita.

Oh ya, mungkin ini juga menjadi salah satu alasan, mengapa KSE tidak menetapkan IPK minimal dalam seleksi penerimanya. Jika tidak salah dengar, KSE ingin dengan mendapatkan beasiswa, seorang mahasiswa dengan IPK rendah pun dapat berkembang. Bisa jadi bukan karena dia bodoh, namun ada sesuatu yang lain. Dan diharapkan dia bisa memanfaatkan the power of sharing, networking, and developing.

KSE ini, bukan seperti beasiswa sebelah, yang hanya mendapatkan uang dan sudah. Para founder ingin kita berbagi, bernetworking, dan berkembang bersama. Hingga seperti cita-cita Pak Dadit, KSE seperti miniatur Indonesia. Tentunya dengan para penerima beasiswa yang unggul dan memiliki integritas tinggi :).

Tak Mengenal Kata “Seandainya”

Kalo masa depan boleh dipilih dan punya kebebasan memilih. Aku ingin jadi ibu penuh waktu. Mendidik anak di rumah, taat pada suami, mengisi waktu kosong dengan menulis, berselancar di dunia maya dengan akses internet cepat di rumah, mendapatkan royalti dari hal-hal yang aku suka. Tapi itu adalah bayangan paling ideal di benakku. Dalam kenyataannya, tidak munafik, ada suatu cover besar yang melingkupi semuanya, walaupun itu bukan segala-galanya. Yaitu keadaan ekonomi.

Bisa dibilang, aku bosan dengan keadaan ekonomi yang seperti ini semenjak aku lahir. Meski Alhamdulillah, aku bersyukur atas segala fasilitas dari Allah yang dipinjamkan padaku detik ini. Tapi hidup dengan segala keterbatasan sungguh menyakitkan. Bukankah sahabat-sahabat Rasulullah dahulu juga sukses dan kaya? Dengan kekayaan mereka bisa mendanai berkembangnya agama ini di masa itu?

Keadaan ekonomi, entah seperti apa keadaan ekonomi keluarga kecilku nanti. Maka dari itu, aku tidak ingin menjalin hubungan khusus dengan siapapun. Aku berkembang, mengeksplore semaksimal mungkin kompetensi, belajar dari banyak hal, dan berkarir. Allah pernah berjanji dalam salah satu ayat di Al Qur’an (lupa surat apa) yang intinya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya. Ada yang mengartikan bahwa jodoh kita sesuai dengan kondisi kita saat itu. Memantaskan diri dari segi ilmu dan karir. Hmm.. tapi lebih jauh dari itu adalah memantaskan diri dari segi agama (xixi).

Maka dari itu, sering harus menutup mata ketika melihat balita-balita menggemaskan. Sering merasa baper dan ingin segera menikah. Jujur, ingin sekali. Huft, tidak ada hal yang lebih hebat selain “bersabar”. Bersabar dengan keadaan ini, menenangkan diri dengan memperkaya ilmu, dan, tidak putus berdoa pada Allah agar didatangkan seorang pangeran berkuda yang memenuhi kriteria. Haha, engga ah, berharap boleh, tapi jangan terlalu tinggi. Yang bisa dilakukan sekarang hanya memantaskan diri #ayopantaskandiri