Aku seorang mahasiswa baru di sebuah universitas biasa saja di negri ini.
Fakultasku memang kedokteran. Eits, jangan slah. Dan jangan membayangkan
terlalu “high” terlebih dahulu. Kelak profesiku bukanlah seorang dokter. Atau
bergelar “dr.” di depan namaku. Kelak, aku akan bergelar Fildzah Ikramina
S, Gz. Seorang ahli gizi. Lucu memang. Program studiku gizi kesehatan.
Dan ini merupakan awal. Sebuah perenungan seorang mahasiswa baru yang masih
lugu, polos, dan belum bisa menerima kenyataan bahwa ia hanya bisa lulus
ujian tulis di pilihan kedua. Ini lah ceritaku, sepenggal perenungan ketika
menjalani masa orientasi, atau bahasa kerennya ospek.
Ya, itulah aku.
Hari-hari ospek aku penuhi dengan bejubel pertanyaan di kepalaku. Ini itu.
Bahkan pertanyaan itu semakin membesar kala hari-hari pertama kuliah ku jalani.
Singkat cerita, dari ospek yang diadakan empat hari, dua diantranya ospek
fakultas. Di sanalah isi kepala ku mulai terurai. Kelompokku terdiri dari 10
orang, 4 orang dari pendidikan dokter regular, 2 orang pendidikan dokter Internasional,
2 dari keperawatan, dan 2 dari gizi kesehatan yang aku salah satunya. Kami
diharuskan mengenakan badge dengan spesifikasi warna jurusan kami
masing-masing. Gizi dengan badge kuning tentunya. Namun bukan itu yang menyedot
banyak perhatianku. Melainkan satu warna badge yang tersebar dimana-mana
(pemakainya). Ah ya, itu badge pilihan pertama ku dulu.
Tidak jauh-jauh,
pikiranku hanya melayang ke suatu ingatan. Ingatan mengenai empat belas
hariku yang lumayan melelahkan, penuh dengan target-target, pengulangan,
mencoba dan mencoba, memecahkan satu demi satu butir soal. Otodidak. Belajar
degan diriku sendiri, dengan pengalaman. Karna mungkin, memang itu sumber
masalahnya. Aku yang kurang total dalam berjuang.
Sejak awal aku
bercita-cita kuliah di universitas ternama itu. Dengan jurusan yang kurang
masuk di akal untuk aku miliki. Terlalu tinggi kata orang. Tapi tetap saja aku
maunya ke sana. Tak peduli aku dari SMA yg kurang ternama sekalipun. Aku
sempat merengek kepada orang tua ku. Ingin sekali aku mengikuti bimbingan
belajar. Dengan segala iklan menarik yang tentunya sangat meggiurkan. “Jaminan
lolos”. Namun, apa dikata, tak ada biaya untuk menuju ke sana. Satu kalimat
ibuku yang selalu membekas di kepalaku. “Sabar ya sayang, kalo gusti Allah
berkehendak, pasti ada jalan”. Entah mantra atau apa, petuah orang tua selalu
benar. Tiga bulan menjelang ujian nasional ada oprec Superbedjo. Sebuah
bimbingan belajar gratis dari mahasiswa universitasku saat ini yang mendapat
beasiswa dari yayasan Karya Salemba Empat. Aku mendapat banyak hal dari
bimbingan ini, walaupun hanya 3 bulan.
Ketika itu, posisiku
agak sulit. Aku tidak diterima melalui jalur undangan. Dan konsekuensinya aku
harus berusaha lebih keras dangan pesain dari seluruh pelsok negri untuk
mendapatkan kuota 30% di univ itu. Tiga minggu menjelang ujian tulis. Program
superbedjo telah selesai. Aku putuskan untuk boyongan ke rumah, tidak lagi di kos. Alasannya simpel, di rumah
tak lagi memikirkan mau makan dimana hari ini, selalu tersedia di meja makan,
so, bisa memanfaatkn waktu seefisien mungkin untuk focus belajar. haha.
Dan, inilah,
perjuanganku dimulai. Aku bisa memprosentasekan, hasil dari belajar sendiri ini
yg nantinya 70-75% menopang ujianku. Strategiku mudah saja. Aku beli buku
tentag ujian masuk universitas, harganya kalau tidak salah 23ribu. Aku juga
meminjam buku milik kakak angkatan. Aku terinspirasi oleh cerita dari seorang
guru fisikaku. Ada seorang murid beliau les privat yang sangat bermbisi masuk
jurusan pertambangan di univ teknik ternama. Setip hari ia targetkan 500 soal.
Aku megap-megap dengan angka
itu, hingga aku memutuskan dalam satu hari aku harus bisa mengerjakan satu
paket soal yang terdiri dari soal TPA, kemampuan dasar, juga kemampuan sains.
Kalau ditotal, tidak ada 300 (setengahnya, hehe). Lalu, monitoring melalui
passing grade. Gimana caranya? Kapan2 aku posting deh. Intinya aku belajar
dengan diriku sendiri. Tapi aku tidak pernh merasa sendiri. Satu yang paling
berat dari itu semua. D I S I P L I N. tidak semua targetku tercapai. Karna
praktik tidak semudah teori. Munhkin itu yang menjad hambatan utama ku.
Aku belajar di kamar,
sendiri. Berkali-kali aku tertidur. Bahkan bisa berjam-jam. Berkali-kali aku
tersihir oleh program-program di televise, telenovela, atau apalah namanya.
Waktuku tersita banyak sekali. Aku tahu itu semua salah, aku tahu itu semua
membuatku lepas target. Tapi susaaah sekali untuk beranjak. Walhasil hanya 60%
targetku soal-soal yang aku kerjakan. Aku mengutuk diriku sendiri. Tapi musuh
terbesar adalah diri sendiri.
Mungkin itulah,
mereka yang menggunakan badge biru (pendidikan dotker), mungkin mereka berkucur
keringat lebih. Benar, memang faktor intlegensi sangat mempengaruhi, namun
usaha mereka, aku tidak meragukannya. Mungkin mereka lebih bersungguh-sungguh
dalam menelaah materi, tidur mereka lebih sedikit, usaha mereka keras,bahkan
mungkin mereka sudah mempersiapkannya jauh bebulan-bulan sebelumnya.
Aku memang menyesal
atas ketidak disiplinanku, higga detik ini. namun satu hal, Tuhan telah
menggariskan sesuatu yang amat indah untuk aku jalani. Syukur. Itu yang
berkali-kali aku ucap ketika hari demi hariku mulai terang dengan tujuan hidup.
Aku mulai mengerti kemana tujuan ku. Apa yang aku pelajari. Dan sumbangsih
besar yang akan aku berikan pada negri ini 10 tahun lagi. Terimakasih Allah,
takdirMu lebih indah dari bayangan manusia kecilMu ini :’)