Jumat, 25 Oktober 2013

Jika boleh aku mengandai



Jika  boleh aku mengandai

Jika boleh aku mengandai
Ingin ku habiskan waktu bersamanya
Mengunjungi tempat biasa-biasa saja
Namun tak biasa dengan bersamanya

Pagi yang cerah
taman pintar yang selalu ramai
Bermain air di halamannya
Mencoba wahana “pintar” sambil bermanja dihadapannya

Siang yang terik
Mengbadikan gambar di tempat-tempat unik
Menawan nan bersejarah
Ala benteng vredeeburg

Sore yang redup,
Ditemani hengat secangkir susu jahe
Melihat senja dari angkringan batas kota
Lengkap dengan maghrib bersamanya di masjid syuhada

Malam yang tak terusik
Bersepeda
mengelilingi kota ini
berakhir dengan bercengkrama
nol kilomenter yang romantis

masih mengandai
dan memang hanya dapat mengandai
setidaknya, untuk saat ini

ku tunggu engkau
wahai manusia sederhana
Tuhan memang telah memberitahuku
Ketika ruh ini baru saja ditiupkan

Namun siapa engkau
Seperti apa engkau
Aku tak dapat mengingatnya
Betapapun, rahasiaNya

Kini, hanya  bersabar
Mengisi waktuku dengan hal-hal positif
Hingga kita bertemu nanti
Aku ingin, ketika nanti kau menemuiku
Aku telah menjadi wanita luar biasa
Untuk mendampingi  engkau yang luar biasa




Disela waktuku, Oktober 2013

Sabtu, 19 Oktober 2013

Evaluasi :)


            Aku seorang mahasiswa baru di sebuah universitas biasa saja di negri ini. Fakultasku memang kedokteran. Eits, jangan slah. Dan jangan membayangkan terlalu “high” terlebih dahulu. Kelak profesiku bukanlah seorang dokter. Atau bergelar “dr.” di depan namaku. Kelak, aku akan bergelar Fildzah Ikramina S,  Gz. Seorang ahli gizi. Lucu memang. Program studiku gizi kesehatan. Dan ini merupakan awal. Sebuah perenungan seorang mahasiswa baru yang masih lugu, polos, dan belum bisa menerima  kenyataan bahwa ia hanya bisa lulus ujian tulis di pilihan kedua. Ini lah ceritaku, sepenggal perenungan ketika menjalani masa orientasi, atau bahasa kerennya ospek.
Ya, itulah aku. Hari-hari ospek aku penuhi dengan bejubel pertanyaan di kepalaku. Ini itu. Bahkan pertanyaan itu semakin membesar kala hari-hari pertama kuliah ku jalani. Singkat cerita, dari ospek yang diadakan empat hari, dua diantranya ospek fakultas. Di sanalah isi kepala ku mulai terurai. Kelompokku terdiri dari 10 orang, 4 orang dari pendidikan dokter regular, 2 orang pendidikan dokter Internasional, 2 dari keperawatan, dan 2 dari gizi kesehatan yang aku salah satunya. Kami diharuskan mengenakan badge dengan spesifikasi warna jurusan kami masing-masing. Gizi dengan badge kuning tentunya. Namun bukan itu yang menyedot banyak perhatianku. Melainkan satu warna badge yang tersebar dimana-mana (pemakainya). Ah ya, itu badge pilihan pertama ku dulu.
Tidak jauh-jauh, pikiranku hanya melayang ke  suatu ingatan. Ingatan mengenai empat belas hariku yang lumayan melelahkan, penuh dengan target-target, pengulangan, mencoba dan mencoba, memecahkan satu demi satu butir soal. Otodidak. Belajar degan diriku sendiri, dengan pengalaman. Karna mungkin, memang itu sumber masalahnya. Aku yang kurang total dalam berjuang.
Sejak awal aku bercita-cita kuliah di universitas ternama itu. Dengan jurusan yang kurang masuk di akal untuk aku miliki. Terlalu tinggi kata orang. Tapi tetap saja aku maunya ke sana. Tak peduli aku dari SMA yg kurang  ternama sekalipun. Aku sempat merengek kepada orang tua ku. Ingin sekali aku mengikuti bimbingan belajar. Dengan segala iklan menarik yang tentunya sangat meggiurkan. “Jaminan lolos”. Namun, apa dikata, tak ada biaya untuk menuju ke sana. Satu kalimat ibuku yang selalu membekas di kepalaku. “Sabar ya sayang, kalo gusti Allah berkehendak, pasti ada jalan”. Entah mantra atau apa, petuah orang tua selalu benar. Tiga bulan menjelang ujian nasional ada oprec Superbedjo. Sebuah bimbingan belajar gratis dari mahasiswa universitasku saat ini yang mendapat beasiswa dari yayasan Karya Salemba Empat. Aku mendapat banyak hal dari bimbingan ini, walaupun hanya 3 bulan.
Ketika itu, posisiku agak sulit. Aku tidak diterima melalui jalur undangan. Dan konsekuensinya aku harus berusaha lebih keras dangan pesain dari seluruh pelsok negri untuk mendapatkan kuota 30% di univ itu. Tiga minggu menjelang ujian tulis. Program superbedjo telah selesai.  Aku putuskan untuk boyongan ke rumah, tidak lagi di kos. Alasannya simpel, di rumah tak lagi memikirkan mau makan dimana hari ini, selalu tersedia di meja makan, so, bisa memanfaatkn waktu seefisien mungkin untuk focus belajar. haha.
Dan, inilah, perjuanganku dimulai. Aku bisa memprosentasekan, hasil dari belajar sendiri ini yg nantinya 70-75% menopang ujianku. Strategiku mudah saja. Aku beli buku tentag ujian masuk universitas, harganya kalau tidak salah 23ribu. Aku juga meminjam buku milik kakak angkatan. Aku terinspirasi oleh cerita dari seorang guru fisikaku. Ada seorang murid beliau les privat yang sangat bermbisi masuk jurusan pertambangan di univ teknik ternama. Setip hari ia targetkan 500 soal. Aku megap-megap dengan angka  itu, hingga aku memutuskan dalam satu hari aku harus bisa mengerjakan satu paket soal yang terdiri dari soal TPA, kemampuan dasar, juga kemampuan sains. Kalau ditotal, tidak ada 300 (setengahnya, hehe). Lalu, monitoring melalui passing grade. Gimana caranya? Kapan2 aku posting deh. Intinya aku belajar dengan diriku sendiri. Tapi aku tidak pernh merasa sendiri. Satu yang paling berat dari itu semua. D I S I P L I N. tidak semua targetku tercapai. Karna praktik tidak semudah teori. Munhkin itu yang menjad hambatan utama ku.
Aku belajar di kamar, sendiri. Berkali-kali aku tertidur. Bahkan bisa berjam-jam. Berkali-kali aku tersihir oleh program-program di televise, telenovela, atau apalah namanya. Waktuku tersita banyak sekali. Aku tahu itu semua salah, aku tahu itu semua membuatku lepas target. Tapi susaaah sekali untuk beranjak. Walhasil hanya 60% targetku soal-soal yang aku kerjakan. Aku mengutuk diriku sendiri. Tapi musuh terbesar adalah diri sendiri.
Mungkin itulah, mereka yang menggunakan badge biru (pendidikan dotker), mungkin mereka berkucur keringat lebih. Benar, memang faktor intlegensi sangat mempengaruhi, namun usaha mereka, aku tidak meragukannya. Mungkin mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menelaah materi, tidur mereka lebih sedikit, usaha mereka keras,bahkan mungkin mereka sudah mempersiapkannya jauh bebulan-bulan sebelumnya.
Aku memang menyesal atas ketidak disiplinanku, higga detik ini. namun satu hal, Tuhan telah menggariskan sesuatu yang amat indah untuk aku jalani. Syukur. Itu yang berkali-kali aku ucap ketika hari demi hariku mulai terang dengan tujuan hidup. Aku mulai mengerti kemana tujuan ku. Apa yang aku pelajari. Dan sumbangsih besar yang akan aku berikan pada negri ini 10 tahun lagi. Terimakasih Allah, takdirMu lebih indah dari bayangan manusia kecilMu ini :’)