Hai, jumpa lagi di malam
menyenangkan ini. Kata orang, sejarah kalo tidak di tuliskan akan berlalu begitu
saja seperti asap yang terbang dan menghilang entah ke manaa. Suatu saat, blog
ini akan kutunjukkan pada putra putriku. Bagaimana bundanya pernah begini dan
begitu. Tulisan galau pun tak ingin ku hapus. Biar begitu apa adanya, hihi.
And, this is me, si pemimpi kecil
dari desa yg tidak terkenal. Dimana pulang sekolah yang dicari adalah sungai,
bermain bidadari-bidadarian sambil mandi di sungai, pura-pura luluran
menggunakan lumpur sungai, mengumpulkan buah entah apa namanya di kebun semi
hutan di pinggir sungai, nakal mengambil bunga kopi yang dirangkai menjadi
bunga pengantin, atau berpetualang di bekas irigasi bikinan belanda di bukit
dekat rumah. Masa SD yang amat menyenangkan.
Si pemimpi kecil, yang ingin
sekali sekolah di Jogja hanya karena terpesona oleh jalan flyover di jombor. Si
pemimpi kecil yang bertekad memenangkan 5 Lomba walaupun sekolah di Madrasah.
Si pemimpi kecil yang sangaat ingin naik pesawat.” Tulislah 100 keinginanmu,
dan satu per satu nanti akan tercapai” kata seorang senior kala itu. Benar
saja, hal yang sangat ku ingat kala itu adalah naik pesawat, juara lomba karya
tulis ilmiah nasional (LKTI Nasional), dan kuliah di fakultas kedokteran.
Tak lama, hanya sekitar 2 tahun
dari penulisan 100 mimpi itu. Aku benar bisa naik pesawat, ke Banjarmasin waktu
itu, untuk menghadiri LKTI Nasional dari universitas Lambung Mangkurat. Itu kali
pertama menginjakkan kaki di pesawat. Jika teman2 ku bilang impiannya adalah
naik pesawat, sudah dari SMA aku mewujudkan mimpi pertamaku. Dari sana, aku ingin
menjelajahi “bhineka” nya Indonesia, bagaimana? Sedangkan untuk makan saja uang
selalu pas-pasan. Orang bilang itu keberuntungan (tapi kata pelatihku, tidak
ada yang namanya keberuntungan, semua terjadi karna suatu alasan), di masa
kuliah aku mendapat penempatan untuk KKN di pulau Samosir (Sumatera Utara), naik pesawat lagi, xixixi, beruntung bisa
mempelajari keberagaman dari suku Batak Toba di sana. Lanjut selang beberapa
lama, aku lolos di camp 4 lalu 5 indofood, terbanglah aku ke Pekanbaru (Riau),
menjelajahi kota Padang (Sumatera Barat), dan terbang ke pulau Dewata (Bali).
Ah ya, the power of kemauan. Dimana ada kemauan pasti ada jalan..
Oh ya, di LKTI Nas itu, beruntung
kami kantongi juara 3 Nasional, gugurlah impian juara lomba nasional. Pada
dasarnya, aku bukan orang cerdas, aku hanya punya modal kemauan, otakku tidak
seencer teman2 yang bisa langsung paham sekali dijelaskan. Di asrama, saat
temen2 terlelap tidur, saat itulah aku berusaha keras memahami apa yg
disampaikan guru dg bekal buku2 perpus. Aku bisa kuliah di fakultas kedokteran
UGM, karna mimpiku, aku ingin kuliah di sana. Tak lolos jurusan pendidikan
dokter, jurusan gizi kesehatan pun aku
sambangi. Masih segar kala itu, belajar siang malam, mengurung diri di rumah
selama 2 minggu demi belajar SBMPTN (Ujian tulis). Guruku hanya buku dg
pembahasan soalnya, apalah daya uang dari ortu hanya 200rb, tidak cukup untuk
membayar les2an mahal, cukup ku alihkan dengan buku, mereka seperti guru les
bagiku. Walaupun, ketika kuliah aku merasa salah jurusan haha. Teman2 kuliahku
sungguh akademis, aku seperti orang asing, untuk menelan materi kuliah harus ku
pelajari berkali2, haha. Sebagai gantinya, aku lebih memilih aktif di UKM dan
paguyuban beasiswa KSE, haha itulah kenapa aku dibilang bukan seperti anak UGM
yang akademis.
Dibalik semua itu, masa SMA hingga
kuliahku penuh dengan perjuangan. Rasanya hidup hanya
berjuang-berjuang-berjuang tak ada habisnya (waktu itu). Tapi kata ibuk, insyaallah
semua akan berubah, asal kita tidak menyerah dari berjuang. Hari ini, 50 ribu
hanya cukup untuk makan 1 hari, tapi kala itu, 50 rb ku gunakan untuk makan
satu minggu, sudah termasuk uang bensin dan fotocopy. Heran kenapa dulu bisa? Wallahu’alam,
masalah membuat kita stronger.
Pemimpi kecil, mimpi-mimpi apa
lagi yang ingin diwujudkan? Wait, banyak list menunggu