Rabu, 02 November 2016

Luar Biasa, Bisma! (1)

Judul dari tulisan ini adalah slogan dimanapun kami berada. Saat siapapun bertanya “Apa kabar BISMA?”. Bukan karena kami sombong, namun semata-mata ini adalah bentuk afirmasi positif kami.
 
Pada akhirnya, waktu dan raga ini akan menginjakkan kaki pada camp 5. Sebuah akhir dari rangkaian Indofood Leadership Camp Batch 8. Hanya akhir rangkaian, namun bukan akhir dari persahabatan kami. Masih jelas di dalam ingatan, wajah-wajah cerah penghias lika liku ILC kami. Mulai dari wajah para peserta, para pelatih, para officer, hingga Pak Mirza, Bu Dwi, Pak Deni, Mas Helmi, Bang Santo. Seperti biasa, sayang rasanya membiarkan memori berlalu tanpa mengikatnya dalam kata. Inilah dia rangkaian demi rangkaian yang telah kami lalui. Satu tahun yang indah bersama teman-teman BISMA (ILC)

Di Indofood Leadership Camp, kami dilatih mengenai softskill dan hardskill menjadi seorang professional, lengkap dengan ditanamkan pondasi cinta tanah air dan kedisiplinan. Ayahanda dan Ibunda kami bercita-cita, dimanapun kami berada, kami akan menjadi bibit unggul yang akan tersebar di seluruh Negri ini, menebar kebermanfaatan.

Camp 1 (Akademi Militer TNI-AD Magelang)

Aku tidak bisa tidur menjelang keberangkatan camp pertama. Perutku rasanya mulas. Beberapa exercise telah aku lakukan, tapi rasanya tidak cukup untuk persiapan fisik di camp pertama ini. Tak ku bayangkan bagaimana 10 hari mencekam di tempat itu. Bismillah, dijalani saja, sepulang dari camp aku pasti mendapatkan sesuatu yang luar biasa nanti, seperti kata kakak2 di paguyuban. Waktu menunjukkan pukul 22.00, aku harus segera istirahat, mata ku paksa terpejam.

Pukul 00.00 tanggal 28 Januari 2016. Hari dimulai. Alarm berdentang keras membangunkanku. Segera bergegas mandi dan re-checking lagi barang-barang yang harus dibawa. 01.20 meluncur bersama seorang teman, membelah jalanan kota Yogyakarta dinihari. Kami harus tiba di stasiun tugu sebelum jam 2 pagi.

Sesampainya di stasiun tugu, banyak hal yang harus disiapkan, mengumpulkan satu demi satu kontingen dari universitas lain, sebagian masih menunggu di dalam stasiun. Bus rombongan dari Semarang tiba. Singkatnya, kami sudah siap. Rombongan dari dalam stasiun mulai keluar satu persatu. Menggunakan jas almamaternya yang terlihat gagah. Berbagai warna aku saksikan, 28 perguruan tinggi negri dari seluruh Indonesia. Subhanallah, kegiatan yang aku impikan dari tahun pertama bergabung di KSE ini benar-benar aku ikuti.

Kami dikumpulkan, diberikan beberapa instruksi dan dipersilahkan sholat dalam waktu 15 menit. Itulah batasan waktu yang pertama kali kami rasakan. Semua bergegas. Usai sholat, kami menunggu beberapa lama. Matahari mulai terbit. Perjalanan menuju Akademi Militer Magelang dimulai. Kami menaiki truk-truk TNI. Luar biasa sekali, tidak ada yang menghalangi laju kami. Bagaikan tamu Negara terhormat, kendaraan-kendaraan lain membuka, mempersilahkan jalan kami.

Masih tidak menyangka, kami adalah putra putri terpilih dari 28 perguruan tinggi negri se-Indonesia. Kami akan dilatih oleh para jendral dan perwira terbaik negri ini. Merasakan atmosfer sekolah para jendral TNI Angkatan Darat: Akademi Militer. Lamunanku tersentak. Kami sampai di pintu gerbang AKMIL. Kami diturunkan dari truk. Kami dilatih mengenai baris berbaris selama kurang lebih 1 jam. Kata para pelatih, kami akan memasuki gerbang Kesatrian. Gerbang yang tidak setiap hari dibuka. Gerbang dimana yang dapat melewatinya hanyalah calon perwira, perwira, hingga presiden dan para staffnya. Hari itu, kami diberikan kehormatan melewati gerbang tersebut untuk menginjakkan kaki pertama kali di AKMIL. Di kemudian hari, kami diberitahukan alasan mengapa kami diberikan kehormatan ini.

Latihan cukup. Kami berbaris rapi, dibagi dalam beberapa pleton. Tegap langkah kami, seirama dengan musik dan drum yang diputarkan. Kami, masih dengan almamater kami masing-masing, berbagai warna yang melangkah bersama. Di kanan dan kiri kami, berjajar para pelatih dengan sragam TNI AD seperti membuat pagar betis, bertepuk seirama pula dengan musik, sambil mengucapkan “selamat datang… selamat datang.. UGM, ITB, ITS …” dan lain-lain. Terharu kami mendengarnya, beliau-beliau adalah para Jendral dan Perwira yang menyambut kami.

Camp di AKMIL terbagi dalam 2 sesi. 5 hari pertama adalah hari-hari kami di dalam lingkungan AKMIL. 5 hari selanjutnya adalah kegiatan kami di hutan Menoreh. 5 hari pertama berjalan sangaat lambat. Namun, di sesi inilah kami belajar banyak hal. Masih segar dalam ingatan, pelatih mengajarkan kami kedisiplinan pribadi, dengan tongkat khasnya. Beliau mengajarkan cara menaruh handuk, menata isi lemari, juga menata kasur sampai detail hingga posisi bantal tegak lurus dan garis terkecil sekalipun. Di tempat itu pula, pelatih Mustofa (entah di hari keberapa) mengajarkan lagu-lagu penyemangat (Semerah Darah, Di Bawah Lembah Tidar, Derap Langkah, dll).

Di sana, kedisiplinan benar-benar ditanamkan pada kami. Disiplin waktu, disiplin pakaian, disiplin baris berbaris, disiplin bersikap. Semua serba tertata, semua serba rapi. Hanya saja, karena tidak semua dari kami memiliki background kedisiplinan, kami sedikit lambat menyerapnya. Sering hukuman melayang pada kami. Push up, squat jump, jalan jongkok, sikap plang, berguling di tanah dan lain-lain. Kami tidak lantas menyumpah serapah atas hal yang kami dapatkan, semata-mata kami sadar, semua untuk mendisiplinkan kami. (yaa sedikit banyak paha dan betis kami berwarna biru-biru itu biasa, haha).  Setiap pergerakan kami harus berlari, bernyanyi sekuat-kuatnya, dan menjaga barisan agar tetap rapi. Salah-salah, kami bisa saja dihukum jalan jongkok dari tempat materi hingga mesh kami yang berjarak lebih dari 100 meter.

Setiap waktu makan adalah masalah bagi kami (haha). Waktu makan dan snack adalah “trauma”. Yang benar saja, pertama kali kami makan di ruang makan, kami harus mengangkat kursi sebagai hukuman karena kami terlalu berisik dan lambat saat makan. Kami harus menghabiskan seluruh makanan yang terhidang. Oke, sebelumnya, mari kita bahas adab saat makan. 1) Memasuki ruang harus hormat pada ruangan 2) bergerak cepat dan duduk tanpa bersuara 3) tempat duduk harus lurus dari ujung ke ujung 4) posisi lambang pada piring harus lurus dengan posisi kita 5) laporan sebelum dan sesudah melaksanakan makan 6) makan secepatnya tanpa suara 7) menghabiskan seluruh makanan yang terhidang 8) makan dengan badan tegap, tidak bersandar di kursi, dan sendok yang mendekati mulut (bukan sebaliknya) 9) usai makan, tulang-tulang dan plastik kerupuk di piring diposisikan mendekati posisi kita, ditumpuk dengan sendok dan garpu yang tidak disilangkan dan menunjuk ke arah jarum jam 11. Pernah suatu ketika kami tidak dapat menghabiskan makanan dengan waktu yang ditentukan, kami harus masuk ke kolong meja, kami harus merenungkan kesalahan kami di sana. Pernah pula, beberapa orang harus merayap diantara meja di ruang makan karena hal yang sama. Sampai sekarang, hal-hal ini menyenangkan untuk dikenang namun tidak untuk diulang, haha.

Banyak ilmu yang dipaparkan melalui materi demi materi. Mengenai masadepan Indonesia dilihat dari segi industri,  cinta Tanah Air, hingga Bela Negara. Pernah suatu materi di sesi malam. Mata ini berat untuk membuka. Sayup-sayup ketika membuka mata, sedikit memahami apa yg dibicarakan. Karna ingin memecah mitos bahwa anak UGM itu pendiam, iseng mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan. Siapa yang tau, ternyata pembicaraan ke kanan, aku menanggapi ke kiri. Hahaha, malu sih iya, masa bodo ah.

Ada satu sesi materi unik. Materi yang disampaikan di luar ruangan. Yaitu materi untuk survival life. Kami dikumpulkan di lapangan tembak. Materi mengenai cara mendirikan tenda darurat, cara memilih daun untuk dimakan, cara makan belalang, menangkap burung dan ayam hutan dengan alat seadanya, hingga cara menangkap dan mengolah ular. Bukan main, ular yang digunakan adalah ular kobra dan piton. Para pelatih mahir memperagakan. Beberapa dari kami juga diminta untuk mencoba. Kuncinya, pemegang tidak boleh merasa takut, karena pembuluh darah kita akan terasa oleh si ular. Ada seorang peserta yang mencoba menangkap, namun si ular melilit tangannya, mungkin peserta tsb sedikit merasa takut, beberapa pelatih lain sedang sibuk dengan ular lainnya. Beruntung officer Ikhsan melihat, diputarlah ekor ular di telapak tangannya, kemudian lilitan ular mulai mengendur. Kami juga diajari cara membuat api. Seperti apa serunya? Cobalah ikuti camp ini nanti

Hari terus berjalan. Setiap hari bangun pukul 4, sholat, senam, kegiatan, hingga pukul 1-2 pagi istirahat lagi. Sudah menjadi hal biasa di sana. Bahkan untuk persiapan perform acara malam keakraban dengan Taruna, kami mempersiapkannya hingga jam 3 pagi. Jam 4 kami sudah memulai hari baru lagi. Dan aneh, kami merasa biasa saja, tidak terasa lelah sekalipun. Di kemudian hari, aku membaca sebuah jurnal, ternyata kecukupan karbohidrat dan energi mampu mencegah rasa lelah (muscle fatigue).  Haha, bagaimana tidak, sekali makan bisa 3-4 centong nasi.

Satu malam sebelum acara puncak. Kami mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan taruna. Orang-orang terpilih dari seluruh Indonesia yang benar-benar sudah tidak diragukan lagi kemampuan otak dan fisiknya. Kami berdiskusi mengenai Proxy War ditinjau dari berbagai bidang ilmu. Kesehatan, ekonomi, teknologi, dan humaniora dari segi kami warga sipil (mahasiswa) dan dari segi para taruna sebagai pembela Negara. Tidak menyangka pula, ternyata salah satu partner diskusi meja kami adalah kepala senat, semacam ketua osis AKMIL dari TNI AD. Pantas saja beliau menggunakan atribut2 yang lumayan mencolok sebagai taruna nomor 1.

Hari puncak di camp pertama (sebelum ke hutan). Penampilan kolabrasi dari kami para mahasiswa dan para taruna, sungguh luarbiasa. Kami terdiri dari berbagai daerah di Nusantara, bagitu pula para taruna. Penampilan elok nan megah, disaksikan para pelatih dan petinggi. Aku pribadi tidak ikut andil dalam penampilan. Aku menyaksikan teman-teman show dari meja bundar bersama para taruna berseragam lain. Sebagai gambaran, setting tempat kami seperti dalam Indonesia Lawak Club, hanya saja memanjang di 3 sisi dan di tengah adalah area penampilan. Senang rasanya bisa berkenalan lagi dengan taruna. Ada mas Box yang entah siapa nama aslinya. Beliau kocak, semacam player, dan sering mengerjai adik tingkatnya. Di akhir sesi, semua dari kami yang hadir melakukan dansa ala Indonesia. Berdansa dengan iringan lagu maumere. Asyik sekali. Putar ke kirine hey noona manis putarlah ke kiri ke kiri ke kiri dan ke kiri ke kiri manisee. Sebuah momen, yang tidak akan lepas dari ingatan.

Malam puncak berakhir, selanjutnya kami harus mempersiapkan diri menghabiskan waktu di Plempungan. Tempat dimana para taruna juga biasa berlatih di sana. Pagi seperti biasa, senam dan sarapan. Selesai mengemasi barang, kami langsung dijemput oleh truk anti lampu merah (truk TNI) menuju lokasi. Hari pertama, menterjemahkan peta dan navigasi siang hari. Tidak seperti peta biasa, karna ini lebih ribet (menurutku), kita harus mengetahui lintang2 derajat2. Akses air bersih mulai susah. Bahkan terpaksa wudhu di sebuah sungai kecil. Makan pun, kami makan menggunakan plato aluminium. Sudah seperti plato pengungsian di film2 perang.

Sore hari, kami belum sempat melakukan sholat maghrib. Namun tidak ada kesempatan untuk kembali mengambil mukena dan sholat. Akhirnya atas inisiatif bang Prima, ketua pleton(kelompok), kami sholat di lapangan saat itu juga. Wudhu dengan rumput yang basah dengan sisa air hujan sebelumnya. Para perempuan pun mengikuti, seluruh aurat kami sudah tertutup dengan pakaian yang kami kenakan (walaupun kami pakai celana), tapi bismillah, kami ingin melaksanakan kewajuban. Kami sholat beralaskan rumput hijau. Sederhana, namun indah sekali saat kami bersujud.

Acara dilanjutkan dengan navigasi malam. Sangat sulit mencari rute di malam hari, terlebih di tempat yang sepertinya jarang terjamah orang. Beberapa kali aku harus berdiri sendirian menjadi patok, hingga kami semua mendapat arah yang pasti. Beberapa kali hembusan angin nakal, bahkan bayangan2 aneh sempat datang. Namun, mau tidak mau harus berani. Adrenalin bekerja. Akhirnya, kami mendapatkan titik berkumpul.

Malam beranjak pagi, siang mendominasi hari, hingga sore menyergap. Kami melakukan penjelajahan hutan, memanjat tebing, menyebrang sungai dengan 2 tali, terjun flaying fox, juga melempar pisau dengan sasaran. Semua kami lalui dengan senang hati. Sampailah kami pada hari dimana kami melakukan survival life. Banyak hal yang menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan jika kamu merasakannya langsung ;) . Oh ya, kami sempat dihukum karena ketidakdisiplinan kami, bergulung-gulung di lapangan Plempungan hingga beberapa dari kami muntah karena kami harus bergulung di lapangan luaas, hampir 50 meter, dan harus berbalik lagi.

Sekembalinya kami dari hutan, hanya ada jeda waktu 30 menit untuk bersiap-siap melakukan GPS di alun-alun Magelang. Dengan waktu sekian menit, dan jumlah kamar mandi terbatas, mana sempat kami mandi. Cukup mencuci muka, berganti baju, dan bedak bayi menjadi andalan agar tubuh kami tidak berbau. Amazing, kami tetap terlihat gagah, tampan dan cantik walaupun tidak mandi. Haha, karena kami berpakaian rapi, dengan bawahan jeans, bersepatu cats, ikat pinggang, dan topi Bela Negara. Singkatnya kami melakukan GPS di alun-alun, dengan atmosfer yang terasa asing walaupun disana adalah tanah kelahiranku.

Malam harinya, benar-benar malam puncak di sesi kedua. Merupakan malam renungan. Dengan api unggun besar di tengah-tengah kami. Salah saru perwakilan kelompok diminta maju dan memegang lilin. Jarak kami sekitar 3 meter dari pemegang lilin. Dan kami diperintahkan untuk meniup lilin dari tempat kami berdiri. Susah, sangat susah kami rasa. Namun akhirnya kami dapat melakukannya dengan segenap usaha kami bersama. Selanjutnya, kami diberikan refleksi demi refleksi dari para pelatih selama kami berproses 10 hari di tempat itu. Juga tanggungjawab kami untuk meneruskan cita-cita mereka untuk bangsa ini. Semua ilmu kami, semua bidang yang kami geluti, kami harus dapat memajukan Indonesia. Kami, setiap individu, yang berdiri di lapangan rumput itu. Tangisku mulai pecah, tatkala lagu Tanah Air dan Ibu Pertiwi didendangkan. Aku merasakan kesadaran sedalam-dalamnya. Untuk berbakti pada bangsa ini, pada ibu pertiwi, Negara dimana saat ini tanahnya ku pijak. Kami bergiliran mencium bendera pusaka. Bukan, bukan untuk menuhankan bendera. Namun, bendera adalah sebagai bentuk dari Tanah Air Indonesia. Bulir demi bulir halus mengalir di pipiku. Indonesia, rakyat, dan alamnya menanti pengabdianmu..

Hari demi hari telah kami lalui. Saatnya pelepasan tanda peserta. Kami bersuka cita, dengan tetap menghormati dan berterimakasih pada para pelatih. Beberapa dari kami berfoto ria. Kami juga mengambil gambar di salah satu sudut lapangan luas dengan tulisan “Negara dan Bangsa Menunggu Dharma Baktimu”. Indaaah sekali. Seperti merasakan sebuah kepuasan tersendiri. Dengan sebuah pemahaman baru di pundak. Mengabdikan apa yang kami tekuni dan kami pelajari untuk bangsa ini.

 Tak lama, kami diperintahkan kembali untuk berkumpul. Dengan baju putih sragam selama pelatihan, dan penampilan rapi, lengkap dengan topi Bela Negara. Kami dilepas dari tempat ini. Seperti tatkala pertama kali kami menginjakkan kaki, kini kami akan keluar melalui Gerbang Kesatrian. Berbeda dengan kami yang lalu, dengan berbagai warna almamater kami, saat ini kami dengan satu warna, putih. Dengan tegap kami melangkah, bersama tepuk dari para pelatih dan iringan lagu, kami menyelesaikan pelatihan ini.

Gerimis menghantarkan kami, bersama truk-truk TNI AD, kembali ke dunia dan rutinitas nyata …


Lupa karena apa, kami semua dihukum push up

hari pertama makan di AKMIL, semua acak2an

Pleton 1A, suka duka kita bersamaa

Survival life, bakar ular, ubi, dan jagung untuk dimakan

latihan survival menangkap ular

bahagianya diangkut truk AKMIL

Pelatihan keseharian

Gerakan Pungut Sampah pasca keluar dari hutan

Latihan PBB

Malam keakraban bersama taruna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar