ICHA
Teman, ingin ku ceritakan padamu
mengenai seorang sahabat yang begitu spesial dalam melewati masa putih abu-abu
ku. Jangan kalian tafsirkan bahwa dia adalah seorang laki-laki, dengan perasaan
merah jambu pada ku. Bukan.
Bermula dari keterpaksaan ku
menjalani hidup sederhana demi ambisi besarku. Merayu habis orang tua untuk
dapat tinggal di rumah kos. Hari-hari itu begitu berat bagi ku. Tak sedikitpun
aku mau membagi cerita penderitaanku dengan orang tua ku. Aku terlalu gengsi
untuk itu. Mungkin bahasaku terlalu berlebihan. Tapi menurutku, begitulah
adanya.
Aku mengenalnya semenjak satu rumah
kos dengannya. Sering kami pergi membeli makan bersama, nonton film di latop
kala sepi, mengerjakan tugas bersama, banyak hal yang kami lakukan berasama.
Mulai dari hal yang menyenangkan hingga hal-hal yang tidak mengenakkan.
Aku kagum dengan sosoknya. Dia
seorang yang kukuh pada pendiriannya. Percaya diri dengan apa yang
dilakukannya. Peduli. Baik hati. Ramah. Semua itu ada padanya. Nanti akan ku
uraikan satu persatu tentangnya. Tentu saja, dia bukanlah seorang yang
sempurna. Sebagai seorang berdarah Makassar yang hampir 6tahun tunggal di
jogja, sifat Makassarnya masih kental. Tahu lah, orang Makassar seperti apa.
Aku bingung ingin bercerita dari mana, karna beribu-ribu cerita telah kami ukir
bersama. Emm, mungkin dari cerita unforgettable bin asyik bin ngeri aja yaa.
Tahun pertama hijrahku ke jogja.
Menjelang ujian semester hingga hari-hari saat malam ujian semester. Aku tertarik dengan salah satu kamar kos yang
ukurannya lebih kecil dari 3m3 yang kebetulan baru ditinggal pindah oleh
penyewanya. Kecil sih, tapi ada satu yang membuatnya beda dengan kamar lain.
Yaitu teras mungil pribadi di depannya. Anak-anak kos lain sempet iri juga sih
sama aku, gara-gara aku duluan yang mesen kamar itu, hehe. Tapi, sumpah, teras
itu berkesan banget berooo.
Bergaya layaknya anak kecil yang
nggak punya dosa, aku dan sahabatku itu menggelar tikar kain di sana. Duduk
santai hingga menjelang malam. Selalu memegang buku yang belum tentu 100 % kami
baca. Senda gurau, ngliatin orang-orang lewat di jalan, ketawa kakak kikik
nggak jelas. Nonton film sampe larut. Semua dilakuin di teras itu. Sakin
betahnya, kami berdua sampe bawa bed cover ke teras mungil. Indah banget sih,
lebih keren dari hotel bintang lima. Karna bintang kami berjuta-juta di atas
sana (langit).
Sampai suatu saat, saking indahnya
cuaca malam itu, kami memutuskan untuk tidur di teras itu sampe pagi. Waktu
mulai berjalan. Tip tap tip tap.. dan terdengar bunyi “kruyuuuk kruyuk” dari
perut kami. Pukul 10 malam rupanya. Tak tahan dengan kelaparan yang semakin
menjadi, kami memutuskan untuk berkelana mencari makanan di Jalan Magelang.
Bayangkan, dua manusia super manis-manis keluar dengan sepeda malam-malam hanya
untuk membeli martabak manis. WOW ! :D
Usai mengsi amunisi, kami kembali
pada tempat pertapaan suci kami di teras. Hmm, nyam nyam. Bagai malaikat yang
mau menyelamatkan dua perut dengan cacing-cacing ganas, martabak manis ludes
berpindah tempat ke perut kami. Hingga waktu mulai beranjak ke status midnight. Ketawa kami terus pecah dengan
topik-topik geje peneman belajar kami. Tiba-tiba terdengar suara dari bawah
“Mbaaa, mbaa”. Sontak ! bulu kuduk kami berdiri.
“Waaaaaaaa..” kami menjerit lirih.
Antara takut dan terancam. Dug dug dgu.. denyut jantung kami terus berpacu.
Spontan kami menghambur masuk ke kamar meninggalkan bedcover dan seluruh harta
kami di teras depan. Takut kalau-kalau orang tadi bisa manjat ke atas dan
menemukan kami berdua (lebay).
…………………………………………………To
be continue…………………………………………….
Hehheh