Minggu, 09 Oktober 2016

From the deepest of my heart


Friends, I want to tell something. About what was happened yesterday. About the feelings I felt yesterday. I'm so sorry, its all my fault



Subhanallah, Alhamdulillah. Panik yang kian menyergap berangsur mereda. Check in di bandara Internasional Minangkabau bermasalah, dialihkan pada costumer service. Ternyata jadwal keberangkatanku bukan hari ini, melainkan kemarin. Pikiranku gelap, tiket pesawat Padang-Jogja yang mahal, dari mana aku bisa mendapatkan dana pulang. Untuk benar-benar pulang. Aku berada beribu-ribu kilometre dari Jogjakarta, di pulau jauh. Bagaimana aku pulang. Bagaimana kepanikan orang tua ku mendengar harga tiket yang sedemikian mahal. Apa yang akan dijual untuk menutupi tiket kepulanganku. Kalut sudah fikiranku.

Bersyukur masih ada Dessy, Aisha, bang Andi, Icad, Ook di suatu tempat di bandara ini. Aku mencoba menghubungi mereka, satu per satu. Tak ada jaringan. Semakin panik. Icad menghubungi ku kembali. Ku temui posisi mereka. Mataku menagkap sosok dessy. Tangisku pecah, berhambur di pundaknya. Kosong pikiranku. Mereka semua menenagkanku. Memintaku berfikir jernih menyelesaikan masalah ini. 

Beruntung aku memiliki mereka, beruntung aku memiliki keluarga Bisma. Bisma batch 8. Mereka, kita, kami, terlatih memecahkan masalah seperti ini. Dengan kebesaran hati teman2 di bandara, mereka mencarikan tiket termurah untuk kepulanganku. Dana? Inisiatif mereka untuk menggunakan dana sisa Positive Fighter.


Bisma,  I love you guys 

Sabtu, 08 Oktober 2016

SHARING dengan KSE UNAND



SHARING dengan KSE UNAND

Menutup hari yang indah dengan warna kebersamaan teman-teman KSE Nusantara. Sayang rasanya jika memori hanya sekedar lewat, tanpa mengikatnya dalam kata.

Sabtu, 7 Oktober. Beberapa dari peserta pelatihan BISMA di Rokan Hilir, Riau, memutuskan untuk melakukan extend kepulangan. Kami memutuskan untuk berkunjung ke kota Padang. Dimana salah satu keluarga kami berada di sana, KSE UNAND. Tiba di kota Padang kami menginap di salah satu rumah penerima KSE tengah malam. Malam menjelang pagi yang hangat dengan dilanjutkan obrolan yang renyah seputar banyak hal. Beberapa juga memutuskan untuk melanjutkan tanggungjawab di Semnas BISMA November nanti.

Pagi diawali dengan keterlambatan kami menuju sekre KSE UNAND. Usut punya usut anggota paguyuban telah menunggu kami semenjak pukul 8 pagi. Benar saja, begitu tiba di sekre mereka, kami disambut hangat oleh keluarga kami di KSE UNAND. Bukan hanya satu dua, melainkan puluhan. Menyenangkan sekali atmosfer yang mereka ciptakan. Kami membicarakan beberapa hal. Mulai dari kota Padang hingga keunikan paguyuban mereka.

KSE UNAND, sebuah paguyuban dengan penerima beasiswa 170orang. Merekatkan satu sama lain dengan cara sederhana, namun luar biasa di mataku. Sebelumnya, pertama, paguyuban ini terletak tidak jauh dari kampus UNAND, sekitar 5-10 menit ditempuh dengan kendaraan bermotor. Kedua, system keaktifan paguyuban ini dinilai bukan dilihat seberapa sering beaswan mengikuti kegiatan dalam tahunan, namun seberapa seberapa sering beaswan berkunjung ke sekre setiap minggunya. Hal ini menjadi unik menurutku. Benar kata mereka, untuk merekatkan kekeluargaan tidak bisa didapatkan dengan beberapa kegiatan saja, namun harus dipupuk dari hari ke hari. Sehingga ketika sesama beaswan merasa mereka adalah keluarga maka kegiatan apapun akan mereka ikuti dengan senang hati. Layaknya keluarga.

Bila ku hubungkan dengan pemahamanku mengenai motto KSE, sharing adalah berbagi mengenai berbagai hal, baik itu diterjemahkan dalam program2, maupun hal-hal yg lebih sederhana lain. Sharing akan membuat kita memiliki visi yang sama (berbagi). Dengan kesamaan visi kita akan membentuk sebuah jaringan, dimana antar beaswan terkoneksi dalam sebuah kekeluargaan yang sering bersebut Networking. Dengan sharing dan networking yang kuat, kita akan berkembang bersama-sama, mewujudkan kemajuan Indonesia dari berkembangnya individu per individu di dalamnya. Hal ini sering kita juluki sebagai developing. Teringat sebuah pepatah “jika kau ingin berjalan cepat makan berjalanlah sendiri, jika kau ingin berjalan lebih jauh maka berjalanlah bersama” kurang lebih seperti itu aku memaknai developing.

Kembali ke KSE UNAND. Ketiga adalah, mereka berkembang bersama. Memasuki secretariat paguyuban KSE UNAND kita akan dihadapkan bangunan yang simple tanpa banyak barang2 yg un-useful. Terlihat foto paguyuban, jadwal hari bahasa, dan pojok entrepreneur di ruang depan. Begitu masuk, kita akan menemui ruang utama dimana terlihat pojok unik (1 x 1m) yang selalu terdapat barista yang siap melayani pesanan minuman2 ala café. Tidak banyak juga barang2 di ruangan ini sehingga sekre terasa luas dan nyaman. Begitu pula di 2 ruangan lain yang dimanfaatkan sebagai kamar. Benar-benar simple. Karena, sekre ini akan dipenuhi oleh para beaswan di sore hingga malam hari.

Apa yang mereka lakukan? Apa tidak membuang waktu? Hmm, mereka berkumpul dalam kelompok2 yg tidak sengaja terbentuk begitu mereka datang, beberapa hanya bertukar kata, bermain uno, ataupun sharing hal-hal bermanfaat lain. Untuk pertanyaan kedua, aku mendapatkan jawaban yang pas sekali. Untuk menjawab pertanyaanku, maupun untuk teman2, berdasarkan diskusi dengan Andri dan yg lain. a) Sebenarnya tidak ada orang yang sibuk dan benar2 sibuk. Yang ada hanya orang yang tidak dapat memanajemen waktu dengan baik. Bila seorang beaswan benar2 menyebut dirinya aktivis, maka dia akan terbiasa dengan sedikitnya kehadiran di ruangan pribadinya (kos/kamar). Intinya, dia lebih aktif di luar. b) sebenarnya, tidak ada yang benar-benar tidak sempat ketika kita meluangkan waktu.

Hal unik keempat dari paguyuban ini adalah hari bahasa. Dengan kehadiran mereka di sekre, mereka menetapkan hari bahasa yang terdiri dari bahasa Minang, Indonesia, dan Inggris. Sempat tidak percaya program ini dapat berjalan. Namun menurut pengakuan sebagian dari mereka, program ini berjalan walaupun dengan campuran bahasa. Untuk bahasa Minang sendiri, sebenarnya semua mahasiswa baru di UNAND telah dilatih bahasa ini ketika ospek di universitas. Jadi tidak memberatkan untuk mereka dari luar daerah. Keren ya!

Kelima, paguyuban ini kaya sekaliii. Selama perjalanan kami menyusuri tempat-tempat wisata, selain ditemani dari anggota paguyuban, kami juga dibelikan tiket gratis untuk masuk pantai malin kundang. Di pantai lain ketika kami menikmati sunset, kami dibelikan 4 porsi makanan laut yg aneh, lupa namanya apa. Malam hari, ketika kami berfoto ria di klenteng, kami dibelikan milko untuk tiap tamu. Heran, paguyuban ini kaya sekali, hingga dapat memuliakan tamu sedemikian rupa. Kemudian, aku berdiskusi dengan irvan. Ternyata, iuran mereka 200rb di awal tahun. Dulu, mereka menaikkan iuran karena jumlah penerima dan kebutuhan kegiatan paguyuban tidak seimbang. Namun sekarang, mereka tetap sukarela melakukannya walaupun jumlah beaswan tidak lagi tergolong sedikit. Salut dg paguyuban ini, saving mereka hingga puluhan juta, meng-cover kegiatan2 mereka, maupun memuliakan tamu seperti ini xixi. Iya juga, jangan takut berbagi, karena Tuhan akan memberikan lebih jika kita berbagi :) begitu juga berbagi secara materi.

Keenam, hal unik yang aku rasakan adalah sesi makan malam. Semua berkumpul di ruangan paling besar. Mereka membeli nasi padang (kataku) berbungkus-bungkus, lalu kami melingkar di sekeliling makanan yang telah terjajar rapi memanjang. Daaan taraaa, kami makan bersama menyantap nasi komando. Sebenarnya bukan nasi komando, ada istilah lagi di sini, tp entah kenapa aku sedang tidak mudah sebutannya mengingatnya. Rasanya menyenangkan, kehangatan yang membuatku tak ingin melupakannya. Sederhana, namun benar2 mengena. Usut punya usut, mereka sering makan dengan cara ini, untuk sekedar mengakrabkan.

Terimakasih KSE UNAND, terimakasih atas sambutannya yang hangat, terimakasih atas sharing-sharing yang sangat bermanfaat. Doakan semoga kami KSE UGM segera memiliki keluarga yang sama hangatnya .:) .

salam dari gadis medhok jogja
Fildzah Ikramina