Camp 2 (Hotel Agrowisata
Salatiga)
Setelah penantian panjang untuk camp selanjutnya,
akhirnya kami dipertemukan di bulan Mei. Camp 2 di Salatiga. Di sebuah hotel di
daerah perbukitan, dengan pemandangan kota salatiga langsung sepanjang mata
memandang. Sebuah hotel baru dengan bangunan besar dan tinggi menjulang. Dengan
kolam renang yang selalu melambai-lambai untuk didekati, namun tidak bisa
dinikmati, karena camp yang kami jalani.
Pertama kali kami menginjakkan kaki di tempat itu,
kami langsung disambut oleh pelatih Wira dengan wajah dinginnya. Kami bergegas mengambil
barang dan pembagian kamar. Tidak ada kegiatan malam itu. Kami hanya
dikumpulkan di sebuah ruangan seminar dan menyepakati kontrak belajar selama
dalam camp. Wajah kami mengembang, ketika kami mendapatkan 2 baju baru, baju
Camp 2 dan Positive Fighter. Haha, anak kampong memang kami.
Esok hari, camp dimulai. Segala peraturan dan
ketentuan selama kami di AKMIL diterapkan kembali dalam camp ini. Mulai dari
senam, makan, etika memasuki ruangan, posisi duduk di kursi, hingga pergerakan
dimanapun dan kapanpun harus berlari sambil bernyanyi sekeras-kerasnya. Hotel
tempat kami pelatihan lebih banyak memiliki area outdoor sejauh tempat materi
dan gedung penginapan, sehingga tidak terlalu mengganggu pengunjung yang lain.
Officer tetap seperti sebelumnya. Belum puas jika kami belum menciut dengan
perkataan dan sikap mereka.
Suatu yang unik di camp ini adalah cermin. Konon ini
sudah dilakukan pada ILC di tahun-tahun sebelumnya. Dalam hitungan detik kami
ber-80 harus terbagi menjadi 4 kelompok.
Selamjutnya dari kelompok-kelompok tersebut kami harus menentukan salah
seorang diantara mereka untuk menjadi cermin. Dengan syarat 1) beda universitas
2) beda jenis kelamin 3) beda agama 4) beda pulau. Minimal harus memiliki 3
syarat untuk menjadi cermin. Daan, Budi
Mustapa Sagala dari Udayana beruntung menjadi cerminku, haha.
Kemanapun kami pergi harus bersama dengan cermin.
Apapun yang kami lakukan cermin akan menjadi support untuk melakukan hal
positif. Atau, akan terseret dalam hukuman jika kedapatan tidak disiplin. Mulai
dari hal-hal kecil seperti berlari dari kamar ke tempat materi, membangunkan
jika sang cermin mengantuk, hingga ke kamar mandi pun harus bersama cermin
(toilet lk2 dan perempuan sebelahan, jangan salah sangkan -___-)
Kami medapatkan materi-materi luar biasa seputar
pengembangan diri. Beberapa materi mengubah pandangan dan cara berpikirku.
Juga, membuatku berani untuk bersaing. Di sinilah aku mulai berani untuk
sedikit show up meski sangat susah sekali. Pernah pada sesi refleksi aku
mendapatkan feedback kurang baik karena aku kurang aktif.
Di hari pertama, aku berada pada zona netral. Bukan
zona bintang, maupun zona tengkorak. Namun sayang, sang cermin mendapatkan zona
tengkorak. Tak apa, sebuah konsekuensi harus ditanggung bersama. Kami tidak
tidur di kamar malam itu. Kami tidur di aula. Dengan suhu Kopeng yang dingin
saat itu. Beberapa teman meredakan kekecewaan cerminnya. Berdiskusi kenapa
mereka bisa mendapat tengkorak, padahal mereka aktif di forum, apakah mereka terlampau
aktif? Entahlah. Aku dan 3 orang lain mencari angin di balkon aula. Siapa
sangka, di malam yang gelap dan dingin, kami bisa mendapatkan pemandangan luar
biasa Kota Salatiga dari tempat kami berada. Semacam bukit bintang versi
Salatiga. Kami menikmatinya. Tak apa, manusia kadang di atas dan kadang di
bawah bukan?
Di camp inilah kami menyusun seminar nasional (yang
kemudian menjadi Camp 5 kami). Kami yang
terbagi menjadi beberapa region bersaing mengenai konsep yang kami usung. Kami
harus berpikir bisa dan bisa, meski harus mengundang mentri sekalipun. Di sesi
ini, kami juga belajar membuat sebuah presentasi yang padat dan interaktif.
Namuuun, konsep dari region kuning yang kami usung tidak matang. Sehingga
wassalam kami mendapatkan tengkorak. Sebailiknya, konsep dari region cerminku
lah yang mendapatkan kehormatan untuk diaplikasikan, cerminku mendapatkan
bintang.
Cerminku berdiri di belakangku saat sesi refleksi.
Malangnya kami (tengkorak), kami harus mendapatkan uang 200 ribu untuk setiap
orang di sesi Positive Fighter kemudian hari. Tak apa, manusia kadang ditengah dan kadang di bawah bukan?
(xixi)
Esok hari tiba. Kami siap menjelajahi kota Salatiga
dengan seragam Positive Fighter. Tanpa KTP, tanpa barang berharga, dan tanpa
uang sepeser pun. Bus yang kami tumpangi melaju, bukan ke TKP melainkan ke Noodle Division dari Indofood. Kami
melakukan kunjungan industri terlebih dahulu. Mengelilingi pabrik pembuatan mie
dari mulai bahan baku, pengolahan mie, hingga pengolahan limbah. Uniknya,
limbah pun diolah sebelum dibuang ke lingkungan agar tidak mencemari alam.
Kembali ke positive
fighter. Pukul 2 siang, petualangan kami dimulai. Kami mencari pasar dan
pusat perbelanjaan lain untuk mencari penghasilan. Beberapa dari kami ada yang
berjualan apa saja, membersihkan rumah, membersihkan kamar mandi, bahkan
beberapa ada yang seperti kami : mengamen.
Mengamen menjadi pilihan paling tepat bagi aku dan tim
(melisa, tasya, budi) karena kami hanya dapat melakukan itu. Setelah beberapa
waktu kami berpencar. Tinggal aku dan cerminku mengamen di jalanan Kota
Salatiga. Bahkan kami masuk hingga ke gang-gang perumahan. Hingga jauh jarak
kami dari titik kumpul. Beberapa saat aku merasa haus sekali karena terus
menyanyi. Aku dan cerminku tidak berani menggunakan uang yang kami dapatkan
untuk membeli minum. Beruntung ada seorang ibu yang baik hati memberikan kami
minum air putih, bahkan ditawarkan soda. Alhamdulillah, di tengah kesempitan
selalu ada kemudahan.
Suatu pengalaman yang mengesankan ketika kami sudah
sangat jauh, tidak lagi mengetahui arah, perut semakin lapar, dan hujan deras
mengguyur Kota Salatiga. Seluruh rumah yang kami lalui menutup pintu (wajar
karena hujan deras). Kami tidak kenal siapapun di daerah itu. Dan, berteduh di
salah satu rumah menjadi pilihan kami. Lama kami berteduh, hujan semakin
dingin, kami memutuskan untuk mengetuk pintu. Sayang sekali, sepertinya rumah
tersebut memang kosong, dilihat dari halaman rumah yang ditumbuhi rerumputan
tinggu. Rumah sebelah cukup jauh dijangkau di tengah derasnya hujan. Kami hanya
menunggu, hingga intensitas hujan tidak sederas sebelumnya. Akhirnya, kami
memotong daun talas berdiameter ½ meter. Kami gunakan daun tersebut untuk
melindungi tubuh kami dari air hujan.
Kami menemukan jalan menuju titik kumpul. Tasya dan
Melisa sudah menunggu di depan pasar sesuai perjanjian awal kami. Perut kami
lapar. Di tangan Melisa masih ada parsel dari kunjungan industri tadi.
Alhamdulillah ada mie yang kami bisa makan dengan meremasnya. Mengesankan, mungkin ini pengalaman sekali
seumur hidup merasakan hal-hal seperti ini.
Dari tim kecil kami (Aku, Budi, Melisa, Tasya), kami
berhasil mengumpulkan uang 500ribu lebih beberapa ribu. Hingga kami, BISMA
Batch 8 memecahkan rekor positive fighter
dari BISMA sebelumnya, 12 juta. Dalam waktu 6 jam dan dengan jumlah
personel yang kami miliki. Bangga,
menjadi bagian dari BISMA :’). Hari itu, dengan apresiasi luar biasa
dari pak Phutut dan para pelatih lain, kami semua mendapatkan bintang. Kami
semua dipersilahkan tidur nyenyak di kamar.
Tidak semudah itu, malam setelah kami tiba di hotel.
Kami harus mematangkan konsep pengabdian kami untuk salah satu SD di Salatiga. Diskusi
yang cukup rumit dari semua divisi. Larut malam, kami baru bisa beristirahat di
kasur empuk.
Pagi-pagi sekali tim pendahulu harus berangkat ke SD,
beberapa juga harus ke Kota untuk membeli peralatan. Secara bergelombang kami
dijemput menuju SD. Kami diberikan kelonggaran oleh kepala sekolah untuk
mengisi kegiatan para siswa dalam satu hari itu. Diawali dengan senam bersama
dari para instruktur kocak peserta BISMA. Dilanjutkan beberapa materi kesehatan
di setiap kelas. Bersamaan dengan itu, dibentuklah pelatihan dokter kecil,
dibongkarlah fasilitas kesehatan UKS menjadi lebih baik, hingga penataan kantin
menjadi kantin sehat.
Baru kali ini melakukan pengabdian masyarakat, dengan
persiapan sesingkat-singkatnya dan hasil semaksimal-maksimalnya. Dimana lagi
kalau bukan bersama BISMA. Haha. Luar biasa, setelah hari sebelumnya menjelajah
Kota Salatiga, hari itu kami implementasikan kemampuan dan ilmu kami sebagai
mahasiswa.
Siang menjelang sore, kami telah menyelesaikan seluruh
pekerjaan kami. Para pelatih, pihak Indofood, maupun KSE bangga terhadap kami.
Atas semua yang kami lakukan, kami mendapat apresiasi berupa waktu kosong dari
mulai pukul 16.00 hingga 18.00. Kami bebas melakukan apapun yang kami inginkan.
Sebuah waktu kosong yang sangat berharga bagi kami. Tak tanggung-tanggung,
sasaran utama kami adalah kolam renang. Sebagian besar dari kami menceburkan
diri. Euphoria kami sedikit melewati batas memang. Beberapa officer ikut
menjadi sasaran, tercebur dalam kolam.
![]() |
| main di kolam setelah pengabdian di SD |
![]() |
| keceriaan wajah tak berdosa |
![]() |
| mengkonsep pengabdian setelah positive fighter |
![]() |
| Kegembiraan selesai Camp |
![]() |
| (gedung kiri lt. 2) ruangan tempat tengkorak berselimut dingin |
![]() |
| Sharing dengan BISMA angkatan sebelumnya |
![]() |
| pembuatan kantin sehat SD Sumogawe |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar