Rabu, 02 November 2016

Luar Biasa, BISMA! (2)



Camp 2 (Hotel Agrowisata Salatiga)

Setelah penantian panjang untuk camp selanjutnya, akhirnya kami dipertemukan di bulan Mei. Camp 2 di Salatiga. Di sebuah hotel di daerah perbukitan, dengan pemandangan kota salatiga langsung sepanjang mata memandang. Sebuah hotel baru dengan bangunan besar dan tinggi menjulang. Dengan kolam renang yang selalu melambai-lambai untuk didekati, namun tidak bisa dinikmati, karena camp yang kami jalani.

Pertama kali kami menginjakkan kaki di tempat itu, kami langsung disambut oleh pelatih Wira dengan wajah dinginnya. Kami bergegas mengambil barang dan pembagian kamar. Tidak ada kegiatan malam itu. Kami hanya dikumpulkan di sebuah ruangan seminar dan menyepakati kontrak belajar selama dalam camp. Wajah kami mengembang, ketika kami mendapatkan 2 baju baru, baju Camp 2 dan Positive Fighter. Haha, anak kampong memang kami.

Esok hari, camp dimulai. Segala peraturan dan ketentuan selama kami di AKMIL diterapkan kembali dalam camp ini. Mulai dari senam, makan, etika memasuki ruangan, posisi duduk di kursi, hingga pergerakan dimanapun dan kapanpun harus berlari sambil bernyanyi sekeras-kerasnya. Hotel tempat kami pelatihan lebih banyak memiliki area outdoor sejauh tempat materi dan gedung penginapan, sehingga tidak terlalu mengganggu pengunjung yang lain. Officer tetap seperti sebelumnya. Belum puas jika kami belum menciut dengan perkataan dan sikap mereka.

Suatu yang unik di camp ini adalah cermin. Konon ini sudah dilakukan pada ILC di tahun-tahun sebelumnya. Dalam hitungan detik kami ber-80 harus terbagi menjadi 4 kelompok.  Selamjutnya dari kelompok-kelompok tersebut kami harus menentukan salah seorang diantara mereka untuk menjadi cermin. Dengan syarat 1) beda universitas 2) beda jenis kelamin 3) beda agama 4) beda pulau. Minimal harus memiliki 3 syarat untuk menjadi cermin.  Daan, Budi Mustapa Sagala dari Udayana beruntung menjadi cerminku, haha.

Kemanapun kami pergi harus bersama dengan cermin. Apapun yang kami lakukan cermin akan menjadi support untuk melakukan hal positif. Atau, akan terseret dalam hukuman jika kedapatan tidak disiplin. Mulai dari hal-hal kecil seperti berlari dari kamar ke tempat materi, membangunkan jika sang cermin mengantuk, hingga ke kamar mandi pun harus bersama cermin (toilet lk2 dan perempuan sebelahan, jangan salah sangkan -___-)

Kami medapatkan materi-materi luar biasa seputar pengembangan diri. Beberapa materi mengubah pandangan dan cara berpikirku. Juga, membuatku berani untuk bersaing. Di sinilah aku mulai berani untuk sedikit show up meski sangat susah sekali. Pernah pada sesi refleksi aku mendapatkan feedback kurang baik karena aku kurang aktif.  

Di hari pertama, aku berada pada zona netral. Bukan zona bintang, maupun zona tengkorak. Namun sayang, sang cermin mendapatkan zona tengkorak. Tak apa, sebuah konsekuensi harus ditanggung bersama. Kami tidak tidur di kamar malam itu. Kami tidur di aula. Dengan suhu Kopeng yang dingin saat itu. Beberapa teman meredakan kekecewaan cerminnya. Berdiskusi kenapa mereka bisa mendapat tengkorak, padahal mereka aktif di forum, apakah mereka terlampau aktif? Entahlah. Aku dan 3 orang lain mencari angin di balkon aula. Siapa sangka, di malam yang gelap dan dingin, kami bisa mendapatkan pemandangan luar biasa Kota Salatiga dari tempat kami berada. Semacam bukit bintang versi Salatiga. Kami menikmatinya. Tak apa, manusia kadang di atas dan kadang di bawah bukan?

Di camp inilah kami menyusun seminar nasional (yang kemudian menjadi Camp 5 kami).  Kami yang terbagi menjadi beberapa region bersaing mengenai konsep yang kami usung. Kami harus berpikir bisa dan bisa, meski harus mengundang mentri sekalipun. Di sesi ini, kami juga belajar membuat sebuah presentasi yang padat dan interaktif. Namuuun, konsep dari region kuning yang kami usung tidak matang. Sehingga wassalam kami mendapatkan tengkorak. Sebailiknya, konsep dari region cerminku lah yang mendapatkan kehormatan untuk diaplikasikan, cerminku mendapatkan bintang.

Cerminku berdiri di belakangku saat sesi refleksi. Malangnya kami (tengkorak), kami harus mendapatkan uang 200 ribu untuk setiap orang di sesi Positive Fighter kemudian hari. Tak apa, manusia kadang ditengah dan kadang di bawah bukan? (xixi)

Esok hari tiba. Kami siap menjelajahi kota Salatiga dengan seragam Positive Fighter.  Tanpa KTP, tanpa barang berharga, dan tanpa uang sepeser pun. Bus yang kami tumpangi melaju, bukan ke TKP melainkan ke Noodle Division dari Indofood. Kami melakukan kunjungan industri terlebih dahulu. Mengelilingi pabrik pembuatan mie dari mulai bahan baku, pengolahan mie, hingga pengolahan limbah. Uniknya, limbah pun diolah sebelum dibuang ke lingkungan agar tidak mencemari alam.

Kembali ke positive fighter. Pukul 2 siang, petualangan kami dimulai. Kami mencari pasar dan pusat perbelanjaan lain untuk mencari penghasilan. Beberapa dari kami ada yang berjualan apa saja, membersihkan rumah, membersihkan kamar mandi, bahkan beberapa ada yang seperti kami : mengamen.

Mengamen menjadi pilihan paling tepat bagi aku dan tim (melisa, tasya, budi) karena kami hanya dapat melakukan itu. Setelah beberapa waktu kami berpencar. Tinggal aku dan cerminku mengamen di jalanan Kota Salatiga. Bahkan kami masuk hingga ke gang-gang perumahan. Hingga jauh jarak kami dari titik kumpul. Beberapa saat aku merasa haus sekali karena terus menyanyi. Aku dan cerminku tidak berani menggunakan uang yang kami dapatkan untuk membeli minum. Beruntung ada seorang ibu yang baik hati memberikan kami minum air putih, bahkan ditawarkan soda. Alhamdulillah, di tengah kesempitan selalu ada kemudahan.

Suatu pengalaman yang mengesankan ketika kami sudah sangat jauh, tidak lagi mengetahui arah, perut semakin lapar, dan hujan deras mengguyur Kota Salatiga. Seluruh rumah yang kami lalui menutup pintu (wajar karena hujan deras). Kami tidak kenal siapapun di daerah itu. Dan, berteduh di salah satu rumah menjadi pilihan kami. Lama kami berteduh, hujan semakin dingin, kami memutuskan untuk mengetuk pintu. Sayang sekali, sepertinya rumah tersebut memang kosong, dilihat dari halaman rumah yang ditumbuhi rerumputan tinggu. Rumah sebelah cukup jauh dijangkau di tengah derasnya hujan. Kami hanya menunggu, hingga intensitas hujan tidak sederas sebelumnya. Akhirnya, kami memotong daun talas berdiameter ½ meter. Kami gunakan daun tersebut untuk melindungi tubuh kami dari air hujan.

Kami menemukan jalan menuju titik kumpul. Tasya dan Melisa sudah menunggu di depan pasar sesuai perjanjian awal kami. Perut kami lapar. Di tangan Melisa masih ada parsel dari kunjungan industri tadi. Alhamdulillah ada mie yang kami bisa makan dengan meremasnya. Mengesankan, mungkin ini pengalaman sekali seumur hidup merasakan hal-hal seperti ini.

Dari tim kecil kami (Aku, Budi, Melisa, Tasya), kami berhasil mengumpulkan uang 500ribu lebih beberapa ribu. Hingga kami, BISMA Batch 8 memecahkan rekor positive fighter dari BISMA sebelumnya, 12 juta. Dalam waktu 6 jam dan dengan jumlah personel yang kami miliki. Bangga,  menjadi bagian dari BISMA :’). Hari itu, dengan apresiasi luar biasa dari pak Phutut dan para pelatih lain, kami semua mendapatkan bintang. Kami semua dipersilahkan tidur nyenyak di kamar.

Tidak semudah itu, malam setelah kami tiba di hotel. Kami harus mematangkan konsep pengabdian kami untuk salah satu SD di Salatiga. Diskusi yang cukup rumit dari semua divisi. Larut malam, kami baru bisa beristirahat di kasur empuk.

Pagi-pagi sekali tim pendahulu harus berangkat ke SD, beberapa juga harus ke Kota untuk membeli peralatan. Secara bergelombang kami dijemput menuju SD. Kami diberikan kelonggaran oleh kepala sekolah untuk mengisi kegiatan para siswa dalam satu hari itu. Diawali dengan senam bersama dari para instruktur kocak peserta BISMA. Dilanjutkan beberapa materi kesehatan di setiap kelas. Bersamaan dengan itu, dibentuklah pelatihan dokter kecil, dibongkarlah fasilitas kesehatan UKS menjadi lebih baik, hingga penataan kantin menjadi kantin sehat.

Baru kali ini melakukan pengabdian masyarakat, dengan persiapan sesingkat-singkatnya dan hasil semaksimal-maksimalnya. Dimana lagi kalau bukan bersama BISMA. Haha. Luar biasa, setelah hari sebelumnya menjelajah Kota Salatiga, hari itu kami implementasikan kemampuan dan ilmu kami sebagai mahasiswa.

Siang menjelang sore, kami telah menyelesaikan seluruh pekerjaan kami. Para pelatih, pihak Indofood, maupun KSE bangga terhadap kami. Atas semua yang kami lakukan, kami mendapat apresiasi berupa waktu kosong dari mulai pukul 16.00 hingga 18.00. Kami bebas melakukan apapun yang kami inginkan. Sebuah waktu kosong yang sangat berharga bagi kami. Tak tanggung-tanggung, sasaran utama kami adalah kolam renang. Sebagian besar dari kami menceburkan diri. Euphoria kami sedikit melewati batas memang. Beberapa officer ikut menjadi sasaran, tercebur dalam kolam.

Malam harinya, kami mendapatkan teguran habis-habisan atas sikap kami. Hehe maafkan kami pelatih. Begitulah segelintir pengalaman berharga di Camp 2. Dengan ilmu baru dan tekad yang baru, aku memulai hari, dengan “aku” yang baru pasca camp ini.

main di kolam setelah pengabdian di SD

keceriaan wajah tak berdosa

mengkonsep pengabdian setelah positive fighter
Kegembiraan selesai Camp
(gedung kiri lt. 2) ruangan tempat tengkorak berselimut dingin
Sharing dengan BISMA angkatan sebelumnya

pembuatan kantin sehat SD Sumogawe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar