Jumat, 27 Januari 2017

Konsep given then give, kenapa Superbedjo?



Aku bersyukur, ada suatu yayasan beasiswa yang memberikan tambahan uang saku setiap bulannya dengan cita-cita yang amat mulia. “Bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa”. Salah satu gagasan yang aku dapatkan adalah, mereka ingin memutus rantai kemiskinan dengan pendidikan.

Begitulah, alasan mengapa aku ingin mengabdikan diri pada kementrian rumah belajar di paguyuban penerima beasiswa. Bukan sebagai pegawai yang menerima bayaran perbulan dengan bekerja. Bukan. Namun lebih karena aku ingin berterimakasih. Sebuah konsep give –memberi-. Orang yang memberi, maka akan tergerak hatinya untuk memberi kembali, ah ya konsep ini hanya untuk orang yang memiliki nurani.

Singkatnya, aku mengabdikan diri ke paguyuban karena aku ingin menjadi kepanjangan dari cita-cita para pendiri yayasan beasiswaku. “Memutus rantai kemiskinan dengan pendidikan,-bersama sama mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bagi mereka, yang orang tuanya sanggup membiayai kuliah di swasta, maka tidak terlalu banyak khawatir. Namun bagi kami, yang masih dalam status “makan apa” dalam keseharian, maka satu-satunya jalan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik adalah melalui pendidikan, dengan belajar di universitas negri. Dengan pendidikan, kelak diharapkan, akan dapat berkarir, atau setidaknya memiliki pemikiran terbuka dengan wawasan yang luas untuk memiliki sebuah usaha.

Maka superbedjo harus sukses. Mereka bukan diambil dari anak-anak cerdas. Melainkan dari golongan menengah ke bawah, yang memiliki semangat mengabdi, dan dari berbagai tingkat kecerdasan. Jika hanya mereka yang sudah cerdas, dan sudah tentu masuk perguruan tinggi, untuk apalah kami bersusah payah mengadakan kelas 4x seminggu. Paham? Kalian harus sukses ;)

Rp 1.000,-



Pernahkah uang senilai 1.000 menjadi sangat berarti ketika kau tak sengaja menemukannya di dalam sakumu? Ya, hampir semua perantau pernah merasakannya. Betapa bahagia ketika mendapatkan dua koin bergambar bunga itu, atau satu koin tipis berwarna millennium. Setidaknya bisa untuk membeli roti di warung belakang.

Aku tahu, bahkan mungkin ada orang yang lebih sering merasakannya dari pada aku. Alhamdulillah, setidaknya aku bersyukur, Allah lebih sering mencukupkan kebutuhanku dari pada kekurangan. Aku bukan wanita cantik dari keluarga kaya. Aku juga bukan seorang yang sangat cerdas dari keluarga miskin.

Haha realita lebih sering berbeda dengan drama. Tapi saat ini aku sendang menjadi aktor utama dalam drama kehidupan nyata ku. Dengan Allah sebagai sutradara terbaik. Sayangnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Apa yang akan terjadi di next episode. Aku hanya berusaha menjalani peranku dengan usaha terbaik semaksimal kemampuanku.

Bersyukur, ada suatu yayasan beasiswa yang memberiku tambahan uang makan setiap bulannya. Walaupun uang jajan yang mereka berikan sangat jarang sekali ku sentuh jika tidak dalam keadaan sangat mendesak. Ya, harus ditabung untuk membayar uang kuliah setiap semesterku. Terimakasih KSE :)

Uang 1.000. Ketika dalam mode itu, aku harus menghargai setiap apa yang aku miliki. Sambil menunggu insyaAllah 6 hingga 12 jam kemudian ibu akan mengirimnya. Atau jika di rumah belum ada rezeki, mode berpuasa adalah salah satu pilihan. Kebetulan puasa romadhon tahun lalu banyak sekali udzurnya.

Yang jelas, aku berdaulat atas apa yang aku miliki. Aku tidak akan pernah mengganggu kalian. Dan perlakukan aku sebagai teman yang biasa saja. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi semua perantau. Benar bukan? Haha.

Tak ada yang harus di tutupi, dan tak perlu malu dengan kondisi ini. Justru, ini menjadi catatan kecil dalam lembaran catatan kehidupanku, bahwa kelak aku harus berusaha lebih keras untuk mengubah keadaan ini. Pasti ada jalan entah dari manapun. Perih yang ku alami hari ini, akan menjadi kekuatanku esok hari. Selama terus berusaha dan berdoa. Akan ada sesuatu yang manis di sana (masa depan) .-