Ingin aku menuliskannya, semoga
suatu saat nanti aku tersenyum ketika membaca tulisan ini. Berkhusnudzan kepada
Allah, mungkin ini cara Allah mendidikku. Pagi ini, salahku, aku tak bisa
menepati janji untuk berangkat setelah subuh. Jadilah aku tak tega meminta
temanku untuk mengantar ke terminal.
Pukul
05.59, jalanan sudah mulai terang. Mungkin sudah ada angkot jam segini,
pikirku. Ah ya, aku melihat dompet, dan benar, uangku hanya sisa 10 ribu. Itu
sudah semua simpanan ku. Masih ada receh, ku hitung hanya 2 ribu. Yah, angkot
dr kos ke terminal 3 ribu. Dari terminal ke magelang 10 ribu. Aku tak dapat
menggunakannya untuk biaya angkot. Jadilah aku berjalan dari kos ku di daerah
TVRI ke jombor. Alhamdulillah, Allah masih memberiku karunia kaki yang sehat.
Aku masih dapat pergi kemanapun dengan kaki ini, meski memakan banyak waktu,
meski seperti biasanya pada malam hari aku akan merintih kesakitan karena
berjalan terlalu jauh. Sempat memutar otak, bagaimana jika meminta bantuan teman
lain. Ah, kos mereka di daerah ugm, jauh. Tetangga kos juga sedang pulang dan
KL. Mataku menatap nanar ketika angkot-angkot melewatiku. Ada 6 hingga aku
sampai terminal, ah tak apa
Seharusnya,
pagi ini aku masih punya sisa uang, tapi semalam, salah satu temanku mengajak
makan. Dia tau aku blm makan dari pagi. Aku percaya, sebenarnya aku kuat tak
makan hingga pagi ini, hingga sampai rumah dan makan masakan ibu, tapi temanku
terus memaksa. Yasudah, mungkin demi kebaikanku juga. Kali ini aku mencoba membayar
sendiri walaupun sedikit kekurangan masih dibayarnya, aku tau kondisinya juga
sedang kekurangan.
Baginilah,
dengan kondisiku yang seperti ini pun orang tuaku sudah berusaha maksimal.
Sering tetanggaku menasehati agar aku serius belajar. “da, bapak ibumu ki
wis pontang panting golek duit awan begi, ida nek belajar sing tenanan, ojo
ngecewakke bapak ibu”. Ida adalah nama panggilanku di rumah. Begitulah, aku
mengumpulkan uang beasiswaku setiap bulan untuk meringankan orang tua ku
membayar UKT setiap semesternya. (terimakasih para donatur Karya Salemba Empat,
tiga tahun ini saya bisa tetap kuliah). Terkadang ada keinginan seperti
penerima lain, bisa membelanjakan uang beasiswa untuk beli hp, beli sepatu. Ah
sepatu, kedua sepatuku berharga 60 ribu, dan tahun demi tahun telah menemaniku
walaupun sekarang beberapa sisi telah menunjukkan uraian benangnya.
Aku
tahu, aku bukan satu-satunya mahasiswa yang merasakan ini. Di luar sana, bahkan
mungkin banyak yang harus lebih prihatin dari ku. Makan dengan nasi garam,
atau nasi kecap. Aku bersyukur ada kompor di kos. Aku bisa beli sayur 2 ribu
dan tempe 3 ribu untuk ku olah menjadi menu makanan sehari. Kadang beberapa
kali aku harus mengencangkan perut ketika berasku habis, mejikomku bermasalah
atau di warung tidak ada stok gas ketika gasku habis. Aku bersyukur, punya
teman-teman yang baik. Sesekali ada yang mengantarku ketika aku tak memiliki
kendaraan. Bahkan teman dekatku beberapa kali mentraktir ku makan. Terimakasih
teman-teman, terimakasih atas segala kebaikan kalian, semoga Allah selalu
memberi kemudahan untuk kalian, amin :')