Sekelumit bahasa (krama)
Kita orang
mana?
Sejenak
telintas di benakku mengenai sepotong kalimat itu. Melayangkan fikiran yang
tumbuh dari sepotong pesan singkat. “Fil, bahasa kramanya –setiap pagi- apa ya?”.
Berfikir keras, lama, tidak juga pecah dalam kata. Mencoba mengingat ingat. Enjang (pagi), hanya itu yang terlintas.
Payah ini bahasa ibu, kenapa tidak bisa?
Sejenak
aku merenung mengganti bahasa. Every morning
(Inggris) atau kullu shabahah
(arab). Lancar. Duhai, apa yang terjadi. Aku yang tinggal di kota budaya, yang
seharusnya masih kental akan kebudayaan Jawanya saja tidak bisa berbahasa karma
yang benar. Bagaimana dengan di tempat lain? Agaknya, arus globalisasi yang
terlalu deras sudah menguliti identitas kita.
Bahasa
Jawa. Melalui bahasa kita mendapatkan nilai tata karma (baca: moral) yang
luhur. Dengan segala serba serbi mutiara kata yang sarat akan maknanya. Seharusnya
ini bisa menjadi penyaring dampak globalsasi. Hingga dampak negatif dapat
semaksimal mungkin ditekan. Sehingga kita mempunyai identitas di kancah dunia. Ini
lho masyrakat Jawa yang masih
menjunjung tinggi budayanya.
Teringat
seorang teman, dengan gelar “Raden Roro” di depan namanya (gelar bagi keturunan
keraton).—maaf tanpa ingin menyinggung siapapun--. Suatu hari kami dalam satu divisi yang sama,
yang mengharuskan berkomunikasi dengan masyarakat desa menggunakan bahasa krama.
Namun, dia tidak bisa menggunakan bahasa itu. Hanya dapat mengerti tanpa bisa mengucap. Dia tinggal
masih dalam wilayah Yogyakarta. Ternyata sedari kecil, orangtuanya membiasakan
berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Beberapa
kali mengamati keluarga-keluarga di Jogja dan sekitarnya. Ternyata, orang tua
sekarang membiasakan berkomunikasi dengan putra putrinya menggunakan bahasa
Indonesia. Terlebih bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke atas. Padahal,
bhineka tunggal ika tidak akan demikian jika tidak ada bahasa daerah (jadinya
hanya”ika”). Padahal pula, transfer moral yang luhur juga dilakukan melalui
bahasa.
Seorang
guru pernah berpetuah “Ajak anak kalian berkomunikasi dengan
bahasa jawa karma, karna dia tidak akan mendapatkannya secara utuh kecuali dari
orangtuanya dan keluarganya. Bahasa Indonesia akan biasa digunakan gurunya di
sekolah nanti. Begitu pula bahasa Inggris dan bahasa asing lain, akan diajarkan
melalui bangku sekolah maupun kursus”. Begitulah wahai ibu, calon ibu, ayah dan
calon ayah. Mari kita melestarikan suatu permata indah bernama bahasa yang terbalut
dalam luhurnya budaya ini.