Beginilah aku, aku lelah berdebat denganmu. Aku selalu tidak memiliki kata untuk mengungkapnya. Menjelaskan apa yang ku percayai. Menjelaskan betapa sakit mengingkari nurani. Hubungan yang tak diperbolehkan Illahi.
Beberapa hari lalu, sebuah kejadian menyadarkan akan banyak hal. Akhirnya memberanikan diri, bismillah, tak mau lagi ku ingkari kepercayaan ibu.
Siang beranjak malam. Setelah penegasan siang itu, tiba-tiba malam ibu menelfon "nok, mbak ida ngga papa kan? ibuk mimpi mbak ida dijahati temen mbak ida kayak pas SD dulu", dengan suara ibu yang sedikit parau, sepertinya beliau sedang menangis di sana. Aku tenang, tersenyum, dan berkata "mboten enten nopo-nopo kok buk, ibuk kangen mbak ida yaa".
Anggap itu hanya angin lewat. Anggap semua sebagai pengalaman berharga. Selalu bertukar pikiran, berdiskusi, dan belajar banyak hal dari orang itu.
Aku ingin segera pulang ke pelukan ibu. Dan berkata "mbak ida sayang ibuk".
Aku selalu ingin menjadi putri kecilnya yang cerdik, lincah, cantik dan selalu membawa berita-berita manis yang bisa mengembangkan senyumnya ketika pulang. Seperti doa yang disematkannya padaku 20 tahun lalu, Fildzah, sebuah permata hati.
Ibu, maaf jika aku pernah mengecewakanmu :")