Tidak
asing dengan kata konis? Ya, “kronis” biasa digunakan dalam istilah-istilah
penyakit yang menyatakan bahwa perjalanan penyakit memakan waktu beberapa lama
hingga menjadi semakin parah. Aku menggunakannya untuk mendefinisikan rinduku.
Rindu pada Siboro, pada harum segar udaranya, pada keramahan masyarakatnya,
pada setiap sudut desanya, pada anjing-anjing berkeliaran, pada bunga-bunga di
setiap pekarangan rumah, pada anak-anak kecil yang sering mengikuti kami kemana
pun, pada biru segar langitnya, pada lezat mie gomaknya, pada hijau bukitnya,
juga pada pesona indah nun menawan danau Toba. Lengkap sudah rinduku. Ingin
rasanya menapakkan kaki (lagi) pada tanah itu.
Ah
ya, semua tak akan lagi sama. Tidak ada lagi 30 teman-teman unit SMU 02. Ella,
Eben, Mardi, Nia, Mba Ajeng, Anna, Sista, Tepan, Vey, Dita, Togi, seeeemuanya.
Tak ada ribut-ribut maupun jauh-jauh ke Dusun Tulas untuk mengerjakan program.
Atau menginap di Sub Unit 4 dan merasakan pagi di pinggir Danau Toba. Dengan
air yang dihembus angin, semacam ombak kecil yang kadang riak riuh. Atau
menikmati tenggelam matahari yang sinarnya dibiaskan oleh air danau. Aku rindu,
Tuhan, aku rindu. Kami, tempat itu dan mereka.
48
hari di Desa Siboro. Dengan segala suka dukanya. Aku jatuh cinta, pada setiap
ukiran kejadian dan pengalaman yang kami jalani. Seperti ulat, aku merasa
seperti berada dalam kepompong yang menjadi kupu-kupu di sana. Sedikit banyak,
aku merasa berproses di tempat itu. Aku belajar banyak, terutama dari segi
kepribadian dan emosi. Aku belajar mengenai indahnya toleransi. Itulah mengapa
para founding fathers kita memberikan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Aku
benar-benar merasakan kebhineka-an di sana. Lingkup kecil saja, 30 orang dari
tim kami berasal dari suku, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Dari Suku
Jawa, Sunda, Flores, Batak, juga Melayu. Dari yang beragama muslin, katolik,
maupun Kristen. Meluas pada masyarakat, mereka menghormati agama dan keperayaan
kami, muslim. Dimana mayoritas penduduk di sana beragama Kristen dan katolik.
Pernah suatu ketika kami dijamu makan malam. Dan mereka benar-benar memisahkan
hidangan kami, yang halal, kata mereka. Mereka juga mengajari kami budaya
mereka, mereka sangat ramah pada kami yang awalnya adalah orang sangat asing
dari pulau nan jauh, pulau jawa.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar