Kalo masa
depan boleh dipilih dan punya kebebasan memilih. Aku ingin jadi ibu penuh
waktu. Mendidik anak di rumah, taat pada suami, mengisi waktu kosong dengan
menulis, berselancar di dunia maya dengan akses internet cepat di rumah,
mendapatkan royalti dari hal-hal yang aku suka. Tapi itu adalah bayangan paling
ideal di benakku. Dalam kenyataannya, tidak munafik, ada suatu cover besar yang
melingkupi semuanya, walaupun itu bukan segala-galanya. Yaitu keadaan ekonomi.
Bisa
dibilang, aku bosan dengan keadaan ekonomi yang seperti ini semenjak aku lahir.
Meski Alhamdulillah, aku bersyukur atas segala fasilitas dari Allah yang
dipinjamkan padaku detik ini. Tapi hidup dengan segala keterbatasan sungguh
menyakitkan. Bukankah sahabat-sahabat Rasulullah dahulu juga sukses dan kaya?
Dengan kekayaan mereka bisa mendanai berkembangnya agama ini di masa itu?
Keadaan
ekonomi, entah seperti apa keadaan ekonomi keluarga kecilku nanti. Maka dari
itu, aku tidak ingin menjalin hubungan khusus dengan siapapun. Aku berkembang,
mengeksplore semaksimal mungkin kompetensi, belajar dari banyak hal, dan
berkarir. Allah pernah berjanji dalam salah satu ayat di Al Qur’an (lupa surat
apa) yang intinya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan
sebaliknya. Ada yang mengartikan bahwa jodoh kita sesuai dengan kondisi kita
saat itu. Memantaskan diri dari segi ilmu dan karir. Hmm.. tapi lebih jauh dari
itu adalah memantaskan diri dari segi agama (xixi).
Maka dari
itu, sering harus menutup mata ketika melihat balita-balita menggemaskan.
Sering merasa baper dan ingin segera menikah. Jujur, ingin sekali. Huft, tidak
ada hal yang lebih hebat selain “bersabar”. Bersabar dengan keadaan ini,
menenangkan diri dengan memperkaya ilmu, dan, tidak putus berdoa pada Allah
agar didatangkan seorang pangeran berkuda yang memenuhi kriteria. Haha, engga
ah, berharap boleh, tapi jangan terlalu tinggi. Yang bisa dilakukan sekarang
hanya memantaskan diri #ayopantaskandiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar