Selanjutnya,
mari kita bahas mengenai intensive KSE
Value. Tapi sebelumnya, mohon maaf pada siapapun terkait jika ini menyalahi
aturan atau pemahaman yang lain. Bukan bermasud mengkotak-kotakkan KSE Value
atau membuat-buat teori sendiri. Saya hanya menuangkan apa yang saya pahami,
sejauh saya mengamati dan menikmati kebersamaan di KSE.
Kembali pada
topic bahasan. Values ini didapatkan dari motto KSE. Sharing, networking, developing. Dan redaksi dalam tulisan ini
banyak berasal dari Pak Dadit, Pak Mirza, dan beberapa ayahanda yayasan saat
dalam pelatihan Indofood Leadership Camp. Sering Pak Dadit menyampaikan, bahwa
KSE adalah miniaturnya Indonesia. Mengapa dan ada apa dengan sharing, networking, dan developing?
Sharing.
Berbicara
mengenai kata berbagi. Mengapa ini menjadi kata pertama? Karena ruh dari
beasiswa ini adalah sharing, berbagi. Bukan tanpa alasan sharing menjadi kata
pertama. Para ayahanda donatur kita berharap kita berbagi apapun yang kita
miliki dalam skala yang sederhana sebelum kita berbagi hal-hal luar biasa. Dahulu,
tahun 1995, para ayahanda founder kita mengumpulkan uang gaji pertama mereka
untuk memberi beasiswa pada 3 atau 4 orang mahasiswa UI. Kala itu, mereka blm
sesukses sekarang.
Nilai-nilai dalam berbagi lah yang harus
ditanamkan pada setiap penerima beasiswa. Seperti diketahui, berbagi dapat
dilakukan dengan sesuatu berbentuk fisik maupun something yang lebih soft. Berbagi makanan (xixi), berbagi waktu
kita, berbagi pengalaman yang telah kita miliki, berbagi mengenai
skill/kemampuan tertentu, juga berbagi ilmu yang dimiliki. Untuk berbagi,
jangan takut kehilangan. Karna sesuai hukum alam, jika kita berbagi, kita akan
mendapatkan sesuatu yang lebih entah dari mana asalnya. Tapi jangan berbagi
untuk berharap mendapat sesuatu, ikhlas bro ;).
Networking.
Setelah
berbagi, kita menemukan orang-orang yang sama dengan visi kita. Walaupun
berbeda bidang ilmu. Namun akhirnya kita terkoneksi, kita dapat membangun
sebuah jaringan. Lingkaran terkecil adalah paguyuban. Kita dipersatukan di
paguyuban oleh KSE. Bagi mereka-mereka yang sering berbagi, melakukan kegiatan
di sekre, atau sekedar bercengkrama di grup media sosial, akan membentuk sebuah
jaringan. Membutuhkan teman PKM dari jurusan lain? Bisa. Ingin jodoh dari
jurusan lain? Bisaa. Haha
Oke, lebih serius (sedikit). Salah satu
networking erat yang dirasakan penulis adalah dalam Paguyuban BISMA.
Dipertemukan dalam pelatihan demi pelatihan. Kami semakin dekat. Bahkan kami
lupa jika kami berasal dari seluruh Nusantara. Dalam menginisiasi seminar nasional
pun, kami bergerak dari daerah masing-masing untuk membantu berbagai persiapan
acara yang dapat kami kerjakan dari jarak jauh. Untuk rapat pun, jam 7
misalnya, harus detail hingga pemilihan jam 7.00 WIB, WITA atau WIT. Unik
memang. Di hal lain, untuk mengakses jurnal dari universitas lain pun lebih
mudah karena kami memiliki koneksi dalam (sesama mahasiswa).
Networking benar-benar sesuatu yang
sangat bermanfaat. Bukan hanya saat ini, tapi hingga nanti kita mencari kerja
maupun mengembangkan perusahaan, networking ini akan sangat berguna. Berbagai
jurusan dari berbagai universitas dengan berbagai budaya dan agama, bersatu
dalam sebuah keluarga. “Pelangi menjadi indah karena warnanya yg beragam bukan?”
(Ronny, UNRI).
Developing.
Setelah
networking, developing menjadi hal yang lebih luar biasa. Dengan memiliki
networking yang kuat, kita bisa bersama-sama berkembang. Di KSE, bahkan di
lingkup kecil paguyuban, pasti terdapat para penerima yang sebelumnya menjadi aktor
di kampus. Dalam artian menjadi aktivis BEM, Himpunan Mahasiswa, UKM, bahkan penggiat
kompetisi(lomba) PKM dan semacamnya. Tidak sedikit pula penerima yang telah
diasah softskillnya melalui camp. Dengan berbagai pangalaman, saling berbagi
ilmu dan kemampuan, kita sama-sama men-develop
keluarga kita KSE. Hingga nanti satu persatu dari kita akan berkembang, menjadi
bibit-bibit unggul, yang kelak ketika kita tersebar di seluruh indonesia dan menyuburkan
generasi-generasi Indonesia selanjutnya. Itulah cita-cita ayahanda dan ibunda
para donatur kita.
Oh ya, mungkin ini juga menjadi salah
satu alasan, mengapa KSE tidak menetapkan IPK minimal dalam seleksi penerimanya.
Jika tidak salah dengar, KSE ingin dengan mendapatkan beasiswa, seorang
mahasiswa dengan IPK rendah pun dapat berkembang. Bisa jadi bukan karena dia
bodoh, namun ada sesuatu yang lain. Dan diharapkan dia bisa memanfaatkan the power of sharing, networking, and developing.
KSE ini, bukan seperti beasiswa sebelah,
yang hanya mendapatkan uang dan sudah. Para founder ingin kita berbagi,
bernetworking, dan berkembang bersama. Hingga seperti cita-cita Pak Dadit, KSE
seperti miniatur Indonesia. Tentunya dengan para penerima beasiswa yang unggul
dan memiliki integritas tinggi :).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar