Rabu, 23 November 2016

KSE Value (2)



Selanjutnya, mari kita bahas mengenai intensive KSE Value. Tapi sebelumnya, mohon maaf pada siapapun terkait jika ini menyalahi aturan atau pemahaman yang lain. Bukan bermasud mengkotak-kotakkan KSE Value atau membuat-buat teori sendiri. Saya hanya menuangkan apa yang saya pahami, sejauh saya mengamati dan menikmati kebersamaan di KSE.

Kembali pada topic bahasan. Values ini didapatkan dari motto KSE. Sharing, networking, developing. Dan redaksi dalam tulisan ini banyak berasal dari Pak Dadit, Pak Mirza, dan beberapa ayahanda yayasan saat dalam pelatihan Indofood Leadership Camp. Sering Pak Dadit menyampaikan, bahwa KSE adalah miniaturnya Indonesia. Mengapa dan ada apa dengan sharing, networking, dan developing?

Sharing. Berbicara mengenai kata berbagi. Mengapa ini menjadi kata pertama? Karena ruh dari beasiswa ini adalah sharing, berbagi. Bukan tanpa alasan sharing menjadi kata pertama. Para ayahanda donatur kita berharap kita berbagi apapun yang kita miliki dalam skala yang sederhana sebelum kita berbagi hal-hal luar biasa. Dahulu, tahun 1995, para ayahanda founder kita mengumpulkan uang gaji pertama mereka untuk memberi beasiswa pada 3 atau 4 orang mahasiswa UI. Kala itu, mereka blm sesukses sekarang.

Nilai-nilai dalam berbagi lah yang harus ditanamkan pada setiap penerima beasiswa. Seperti diketahui, berbagi dapat dilakukan dengan sesuatu berbentuk fisik maupun something yang lebih soft. Berbagi makanan (xixi), berbagi waktu kita, berbagi pengalaman yang telah kita miliki, berbagi mengenai skill/kemampuan tertentu, juga berbagi ilmu yang dimiliki. Untuk berbagi, jangan takut kehilangan. Karna sesuai hukum alam, jika kita berbagi, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih entah dari mana asalnya. Tapi jangan berbagi untuk berharap mendapat sesuatu, ikhlas bro ;).

Networking. Setelah berbagi, kita menemukan orang-orang yang sama dengan visi kita. Walaupun berbeda bidang ilmu. Namun akhirnya kita terkoneksi, kita dapat membangun sebuah jaringan. Lingkaran terkecil adalah paguyuban. Kita dipersatukan di paguyuban oleh KSE. Bagi mereka-mereka yang sering berbagi, melakukan kegiatan di sekre, atau sekedar bercengkrama di grup media sosial, akan membentuk sebuah jaringan. Membutuhkan teman PKM dari jurusan lain? Bisa. Ingin jodoh dari jurusan lain? Bisaa. Haha

Oke, lebih serius (sedikit). Salah satu networking erat yang dirasakan penulis adalah dalam Paguyuban BISMA. Dipertemukan dalam pelatihan demi pelatihan. Kami semakin dekat. Bahkan kami lupa jika kami berasal dari seluruh Nusantara. Dalam menginisiasi seminar nasional pun, kami bergerak dari daerah masing-masing untuk membantu berbagai persiapan acara yang dapat kami kerjakan dari jarak jauh. Untuk rapat pun, jam 7 misalnya, harus detail hingga pemilihan jam 7.00 WIB, WITA atau WIT. Unik memang. Di hal lain, untuk mengakses jurnal dari universitas lain pun lebih mudah karena kami memiliki koneksi dalam (sesama mahasiswa).

Networking benar-benar sesuatu yang sangat bermanfaat. Bukan hanya saat ini, tapi hingga nanti kita mencari kerja maupun mengembangkan perusahaan, networking ini akan sangat berguna. Berbagai jurusan dari berbagai universitas dengan berbagai budaya dan agama, bersatu dalam sebuah keluarga. “Pelangi menjadi indah karena warnanya yg beragam bukan?” (Ronny, UNRI).

Developing. Setelah networking, developing menjadi hal yang lebih luar biasa. Dengan memiliki networking yang kuat, kita bisa bersama-sama berkembang. Di KSE, bahkan di lingkup kecil paguyuban, pasti terdapat para penerima yang sebelumnya menjadi aktor di kampus. Dalam artian menjadi aktivis BEM, Himpunan Mahasiswa, UKM, bahkan penggiat kompetisi(lomba) PKM dan semacamnya. Tidak sedikit pula penerima yang telah diasah softskillnya melalui camp. Dengan berbagai pangalaman, saling berbagi ilmu dan kemampuan, kita sama-sama men-develop keluarga kita KSE. Hingga nanti satu persatu dari kita akan berkembang, menjadi bibit-bibit unggul, yang kelak ketika kita tersebar di seluruh indonesia dan menyuburkan generasi-generasi Indonesia selanjutnya. Itulah cita-cita ayahanda dan ibunda para donatur kita.

Oh ya, mungkin ini juga menjadi salah satu alasan, mengapa KSE tidak menetapkan IPK minimal dalam seleksi penerimanya. Jika tidak salah dengar, KSE ingin dengan mendapatkan beasiswa, seorang mahasiswa dengan IPK rendah pun dapat berkembang. Bisa jadi bukan karena dia bodoh, namun ada sesuatu yang lain. Dan diharapkan dia bisa memanfaatkan the power of sharing, networking, and developing.

KSE ini, bukan seperti beasiswa sebelah, yang hanya mendapatkan uang dan sudah. Para founder ingin kita berbagi, bernetworking, dan berkembang bersama. Hingga seperti cita-cita Pak Dadit, KSE seperti miniatur Indonesia. Tentunya dengan para penerima beasiswa yang unggul dan memiliki integritas tinggi :).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar