Selasa, 04 Agustus 2015

Pertidaksamaan Gender dalam Islam


Iseng pengen re-memorize ceramahya ust felix barusan di laptop. Jadi ceritanya, Islam bukan hanya sekedar agama, tp ia adalah the way of life. Islam mengatur segalanya dengan sempurna. Dari mulai kita bangun di pagi hari, sampai kita tidur menutup hari, Islam sudah mengatur segalanya.

Tapi, pernah ngga, kita sebagai perempuan merasa tidak adil. Kenapa laki-laki tidak usah berhijab? Kenapa laki-laki mendapat pahala yang besar ketika shalat di masjid, berjihad, dan lain sebagainya sedangkan kita perempuan diperintahkan untuk beribadah di tempat yang terdalam di rumah kita. Laki-laki bebas mengeksplorasikan ini itu. Laki-laki pun akan mendapat bidadari-bidadari surga dengan amalan-amalan tertentu. Sedangkan kita? Apa ada bidadara-bidadara (bidadari cowok) untuk kita?

Tenang sob, Allah sudah mengaturnya dengan sempurna. Kaum feminis, juga kaum barat lantang menyerukan persamaan gender. Bahkan  salah satu point MDG’s yg ketujuh kalo ga salah, terdapat persamaan gender. Kalau laki-laki dan perempuan setara, ibaratnya laki-laki dan perempuan akan sama-sama bersaing dalam satu jalur. Tapi tidak dalam Islam. Laki-laki dan perempuan memiliki jalur masing masing menuju suksesnya (surga).

Sekarang begini,  laki-laki diperintahkan berjihad dan mencari nafkah sedangkan wanita diperintahkan di rumah untuk mendidik anak-anaknya serta mengurus rumah. Asal kamu tahu, laki-laki harus bersusah payah beribadah la la la untuk mendapat pahala menggapai surga, sedangkan perempuan ni, para muslimah asalkan dia beribadah taat kepada Allah, menjaga harga dirinya, lalu suaminya ridho kepadanya, maka dia bisa masuk surga dari pintu manapun. Subhanallah, kereeeenn yaa. Tapi sayangnya hanya sedikit wanita yang dapat melakukannya :(.

“Apabila seorang wanita telah mengerjkan sholat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, senjaga syahawatnya lalu menaati suaminya, maka akan dikatakan padanya ‘Masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki’” (HR. Ahmad dan Ibnu Habban)

Jadi, jelas kan. Laki-laki dan perempuan memiliki jalannya sendiri-sendiri. Sehingga keduanya bisa saling beriringan dan saling melengkapi :), bukan bersaing. Laki-laki, lelah berdakwah, berjihad, atau mencari nafkah, sampai di rumah di sambut sang istri. Udah lelah, sampai di rumah ngelihat rumah bersih, anak-anak terurus dengan baik serta cerdas-cerdas, dimasakin makanan yg enak lagi, pasti nyaman dan seneng.

Oya, tentang bidadari surga, baca di post ku berikutnya yaa ^_^

Sumber:
Ceramah Ust Felix Siauw di Yogyakarta

Ngomong-ngomong tentang rumah tangga, kapan-kapan aku certain kenapa aku pengen nikah muda. Karena setiap jengkalnya pahala. Nyuciin baju suami, nyediain makanan buat suami, ngurus anak-anak, de el el banyak pahalanya lho sob :D 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar