Aku sudah berjanji untuk membagi cerita pendakian ini dalam dua versi,
karna di samping penderitaan, ada hal-hal lain yang menyejukkan mata dan hati.
Dari pada terlalu panjang, lebih baik aku uraikan dalam poin-poin
1. tatap di depan, selesaikan di hadapan. Ini
hikmah pertama yang aku ambil ketika mendaki. Semua terjal, melihat lintasan di
atas hanya akan membuat pikiran loyo. Lebih baik hadapi yang ada di depan kaki,
pijak jalan yang dapat dipijak. Seperti kehidupan bukan, daripada kita
mengkhawatirkan masa depan –bagaimana nanti, sukses atau tidak-- lebih baik
kita hadapi apa yang ada di depan mata hari ini, melakukan hal terbaik yang
dapat kita lakukan.
2. terbit bulan, merah, cerah dari ufuk timur.
Salah satu pertimbangan aku mengikuti pendakian karena katanya tanggal itu
bulan purnama. Lama kami mendaki, namun bulan tak juga muncul. Namun setelah
jalanan ekstrim menuju pos 3, bulan muncul, terbit, indaah sekali. Merah merekah, di batas langit dan bumi. Menghibur
kami, beribu syukur terucap. Indahnya bumi Allah.
3. langit penuh bintang, mirip luar angkasa. Terlihat
di pemberhentian kami, sabana satu. Mendongakkan kepala. Dan, vallaaa,
bintang-bintang berlomba memancarkan sinar yang nampak kecil-kecil ditangkap
mata. Sempurna. Tak ada sebatang pohon pun. Seperti berada di luar angkasa. Itu
ketika memandang ke atas, memandang ke bawah, menemukan hamparan lampu-lampu
kota solo nan elok, berpadu dengan gelapnya malam.
4. terbit matahari ufuk timur, merah, ada
fotografer. Setelah melalui malam yang rasanya amat panjang, memandang ke
arah timur membuat hati bergetar dengan keindahan batas cakrawala. Sebentar
lagi matahari terbit. “golden moment” kata mas zukhruf. Garis antara langit dan
bumi terlihat jelas. Langit berpendar merah orange. Dan sekitar pukul 6,
matahari mulai muncul, merah, malu-malu dari timur. Sungguh beruntung bersama
fotografer di sini. Berbagai gaya dan gambar kami abadikan dalam kamera. Apa
lagi yang lebih aku sukai dari foto-foto ^^ . puas berfoto dan membuat ucapan
dengan kertas, kami menikmati hangatnya matahari sembari menyantap mie dan
coklat hangat. Lebih hangat bersama sahabat. Gita kuu ({}).
5. perjalanan pulang, mengenai perjuangan. Seharusnya
ini masuk dalam versi kapok, tapi aku lebih ingn melihat dalam sudut positif.
Berkali-kali aku terjatuh, karet alas sepatuku mulai tepos sehingga licin untuk
berpijak. Seperti hidup, ada satu yang menjadi prinsipku: ketika jatuh, harus
bangun lagi. Bukan kamu kalau menyerah dan tidak berpijak pada kakimu
(merosot). Karena akan kasihan pada pendaki lain yang naik, sebab jalurnya
rusak jika kita merosot.
6. Tuhan menciptakan sempurna. Kembali
pada niat, naik gunung untuk tadabur alam, bersyukur dan mengambil hikmah pada
semua ciptaanNya. Perjalanan pulang lebih dan lebih mengerikan, untukku, hampir
semua jalan licin. Tapi Allah sudah
menciptakannya sedemikian rupa. Allah menciptakan akar dan pohon edelwais yang
sangat kuat. Bahkan untuk menopang tubuhku dan menjadi pegangan ketika aku akan
terjatuh.
7.
Kami perempuan,
memang tidak sekuat laki-laki, namun kami tidak lemah. Let me finish it. Pada
akhir perjalanan turun, aku benar-benar telah kehabisan tenaga. Tidak fokus
sedikit saja pasti jatuh. Berkali-kali mendapat bantuan untuk meringankan
beban. Tidak, selalu terngiang dalam benakku: kami perempuan, memang tidak sekuat
laki-laki, namun kami tidak lemah. Izinkan aku menyelesaikan pendakinku
walaupun terhuyung-huyung. Walaupun sudah seperti nenek-nenek yang dijaga dua
cucuknya, akhirnya berhasil jugaa.
8. pemandangan indah, tanaman hijau, hutan
pinus, edelwais, bunga2 ungu&putih kecil. Tak dapat dipungkiri, itulah
tadabur alam. Ciptaan-ciptaan Allah yang elok sempurna memanjakan mata. Hampir
semua tanaman di sana, jarang ku temukan di bawah. Bersyukur atas nikmat alam
yang indah. Indonesiaku yang indah ^^.
Begitulah hal-hal yang
menyenangkan di gunung, tapi kalau diajak naik gunung lagi . . tidak
terimakasih. Haha, cukup dengan ini aku merasa sangat bersyukur dilahirkan di
bumi Indonesia. Sekarang, saatnya kembali ke dunia nyata !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar