Selasa, 04 Agustus 2015

Naik Gunung: versi positif


Aku sudah berjanji untuk membagi cerita pendakian ini dalam dua versi, karna di samping penderitaan, ada hal-hal lain yang menyejukkan mata dan hati. Dari pada terlalu panjang, lebih baik aku uraikan dalam poin-poin

1.       tatap di depan, selesaikan di hadapan. Ini hikmah pertama yang aku ambil ketika mendaki. Semua terjal, melihat lintasan di atas hanya akan membuat pikiran loyo. Lebih baik hadapi yang ada di depan kaki, pijak jalan yang dapat dipijak. Seperti kehidupan bukan, daripada kita mengkhawatirkan masa depan –bagaimana nanti, sukses atau tidak-- lebih baik kita hadapi apa yang ada di depan mata hari ini, melakukan hal terbaik yang dapat kita lakukan.

2.       terbit bulan, merah, cerah dari ufuk timur. Salah satu pertimbangan aku mengikuti pendakian karena katanya tanggal itu bulan purnama. Lama kami mendaki, namun bulan tak juga muncul. Namun setelah jalanan ekstrim menuju pos 3, bulan muncul, terbit, indaah sekali. Merah merekah, di batas langit dan bumi. Menghibur kami, beribu syukur terucap. Indahnya bumi Allah.

3.       langit penuh bintang, mirip luar angkasa. Terlihat di pemberhentian kami, sabana satu. Mendongakkan kepala. Dan, vallaaa, bintang-bintang berlomba memancarkan sinar yang nampak kecil-kecil ditangkap mata. Sempurna. Tak ada sebatang pohon pun. Seperti berada di luar angkasa. Itu ketika memandang ke atas, memandang ke bawah, menemukan hamparan lampu-lampu kota solo nan elok, berpadu dengan gelapnya malam.

4.       terbit matahari ufuk timur, merah, ada fotografer. Setelah melalui malam yang rasanya amat panjang, memandang ke arah timur membuat hati bergetar dengan keindahan batas cakrawala. Sebentar lagi matahari terbit. “golden moment” kata mas zukhruf. Garis antara langit dan bumi terlihat jelas. Langit berpendar merah orange. Dan sekitar pukul 6, matahari mulai muncul, merah, malu-malu dari timur. Sungguh beruntung bersama fotografer di sini. Berbagai gaya dan gambar kami abadikan dalam kamera. Apa lagi yang lebih aku sukai dari foto-foto ^^ . puas berfoto dan membuat ucapan dengan kertas, kami menikmati hangatnya matahari sembari menyantap mie dan coklat hangat. Lebih hangat bersama sahabat. Gita kuu ({}).


5.       perjalanan pulang, mengenai perjuangan. Seharusnya ini masuk dalam versi kapok, tapi aku lebih ingn melihat dalam sudut positif. Berkali-kali aku terjatuh, karet alas sepatuku mulai tepos sehingga licin untuk berpijak. Seperti hidup, ada satu yang menjadi prinsipku: ketika jatuh, harus bangun lagi. Bukan kamu kalau menyerah dan tidak berpijak pada kakimu (merosot). Karena akan kasihan pada pendaki lain yang naik, sebab jalurnya rusak jika kita merosot.

6.       Tuhan menciptakan sempurna. Kembali pada niat, naik gunung untuk tadabur alam, bersyukur dan mengambil hikmah pada semua ciptaanNya. Perjalanan pulang lebih dan lebih mengerikan, untukku, hampir semua jalan licin. Tapi Allah sudah menciptakannya sedemikian rupa. Allah menciptakan akar dan pohon edelwais yang sangat kuat. Bahkan untuk menopang tubuhku dan menjadi pegangan ketika aku akan terjatuh.

7.       Kami perempuan, memang tidak sekuat laki-laki, namun kami tidak lemah. Let me finish it. Pada akhir perjalanan turun, aku benar-benar telah kehabisan tenaga. Tidak fokus sedikit saja pasti jatuh. Berkali-kali mendapat bantuan untuk meringankan beban. Tidak, selalu terngiang dalam benakku: kami perempuan, memang tidak sekuat laki-laki, namun kami tidak lemah. Izinkan aku menyelesaikan pendakinku walaupun terhuyung-huyung. Walaupun sudah seperti nenek-nenek yang dijaga dua cucuknya, akhirnya berhasil jugaa.

8.       pemandangan indah, tanaman hijau, hutan pinus, edelwais, bunga2 ungu&putih kecil. Tak dapat dipungkiri, itulah tadabur alam. Ciptaan-ciptaan Allah yang elok sempurna memanjakan mata. Hampir semua tanaman di sana, jarang ku temukan di bawah. Bersyukur atas nikmat alam yang indah. Indonesiaku yang indah ^^.

Begitulah hal-hal yang menyenangkan di gunung, tapi kalau diajak naik gunung lagi . . tidak terimakasih. Haha, cukup dengan ini aku merasa sangat bersyukur dilahirkan di bumi Indonesia. Sekarang, saatnya kembali ke dunia nyata !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar