Selasa, 04 Agustus 2015

Naik Gunung: versi kapok


Sehari lalu kami di gunung Merbabu. Menapakkan kaki pada terjal tanahnya, juga membiasakan paru-paru dengan suhu dinginnya. Aku memulainya dengan sesuatu yang sudah tidak baik, emosiku sedang labil saat itu. Baru ketika aku berpisah dengan teman-teman karena mereka menunaikan shalat ashar, aku menenangkan hatiku. Hati, ku mohon diamlah, tekanlah ego, dan lupakanlah emosimu. Sepintas  aku lebih baik.

Dan, semua pengalaman ini membuatku tak mau mendaki lagi:
- naik terjal, mlusut, jalanan licin—super duper ekstra 300% dari biasa
- ga pernah latian, jantung berdegub sangat kencang, bahkan rasanya hampir copot
- bersentuhan dg lawan jenis, dibantu karena aku hampir terpelanting. 
- badan lemes, menggigil, tangan mati rasa
- turun susah, licin, gagal fokus jatuh terus
- dapet ledekan terus: apapun tema nya

Ini, aku uraikan hal yang paling aku benci dan paling membekas. Saat-saat di tenda malam hari:

Sebelum tidur. “Mba fil ngga pake SB?” l “Engga”I “Terus pake apa?” I “aku bawa sarung sama jaket dua. dalam hati aku ngga bawa SB, ngga punya, pake caranya adek aja pake sarung,semoga gapapa. Oya, katanya aku dipinjemin SB, kok ngga ada yg ngingetin atau ngsih tau SB nya dimana ya. Udahlah paling nnti ada.

Bismillah, tapi unfortunately penyakit ngga bisa tidur dateng, mata ku pakasain terpejam, tapi pikiraku masih bermain di luar tenda sana atau memikirkan apapun banyak sekali. Ayolah lepaskan pikiranmu, tidur tiduur, percuma. Gigi ku mulai gemertak, menggigil. Tiba-tiba ingat pesan ibuk, perbanyak dzikir. Setidaknya aku lebih tenang, meski aku masih berpikir siapa yang batuk di sana, siapa yang bergerak dan tergesek benda plastik di sana.

22.30. kakiku dingin, jariku susah bergerak. Masya Allah, dingin. Sadar di sebelah Gita juga kedinginan dangan tangannya. Oh ya, aku punya balsem otot mungkin bisa panas. Jari tanganku mengambil balsam dalam-dalam dan mengoleskannya pada jari kaki. Sedikit lebih hangat, tapi masih dingin.
Entah pukul berapa. Ya Allah, dingin, dingin nya sakit, jari ku ikut menggigil, kata adek satu sleeping bag bisa buat berdua kalo cewek, tapi aku ngga tega sama mereka, mereka masih kedinginan walaupun udah pake sleeping bag.

Ingin sekali aku mengadukan apa yang aku rasakan pada seseorang di tenda sebelah, walaupun hanya pesan singkat. Tanganku meggapai-gapai handphone, tapi tidak, tak ada sinyal. Sudahlah, bukan waktunya mengeluh.

00.33. dingin makin menggigit. Kakiku seperti menginjak es. Sama sekali tak dapat menggerakkan jari kakiku. Ku paksakan duduk, mencoba berbagai posisi agar lebih nyaman. Gita juga bangun, tangannya masih kedinginan, “Git, jam berapa sekarang?” berharap subuh segera menjelang I  “Masih jam setengah satu zat”. Tidak, harus merem, semoga waktu segera bergulir. Kami segera memposisikan tidur kembali.

02.00.  Gita terbangun lebih dulu, dia sudah duduk. Jaket yang ku gunakan untuk selimut menjadi dingin bukan main, seperti basah oleh embun. Yang menutupi badan hingga kakiku ke bawah hanya selembar sarung, yang saat itu sudah menjadi dingin bukan main. Terpaksa menanggalkan jaket paling luar, bisa tambah dingin kalo terus dipake. “Allah, Allah, Allah” hanya itu yang menyertai setiap tarikan nafas.
Ada bulir hangat yang mengalir dari mataku. Allah, Allah, Allah, entah jam berapa sekarang.
03.00.  terbangun lagi karena daily alarm di handphone. Allah, masih jam 3. Gita tertidur dalam posisi duduk. Kasihan aku melihatnya, padahal dia sudah berbalut SB. Bangun untuk mematikan alarm. Lantas meringkuk, melipat kaki, mungkin akan lebih baik. Nafasku dalam, seperti bengek (asma), sudah lama bukan hanya gigi yang gemertak, tapi badan hingga kaki. Jadi ingat pelajaran SMA, menggigil adalah gerakan alamiah untuk meningkatkan suhu tubuh.
04.00 alarm ku berbunyi kembali. Ada suara-suara di luar, juga lampu senter yang terarah ke tenda kami. Ah pendaki lain, mungkin mereka bergegas ke puncak untuk mendapat sunrise. Sekuat tenaga aku melipat tubuhku, sabarlah sebentar lagi subuh.
Tak lama, teman-teman lain bangun, membangunkan satu sama lain untuk meneruskan perjalanan ke puncak. Alhamdulillah, setidaknya mungkin aku dapat meminjam salah satu SB mereka, kepalaku benar-benar pening, dingin. Urung aku mengikuti mereka ke puncak, lebih baik di sini.
Teman-teman bergegas sholat dan berangkat ke puncak. Masih meringkuk di tenda. Selepas sholat subuh bersama Gita, tak sengaja melihat langit merekah merah, sebentar lagi matahari terbit. Sayang melewatkannya.
Singkat cerita, kami puas menikmati fajar. Puas menikmati hangat matahari. Pukul setengah 8. Kembali ke tenda, membungkus diri dengan SB, entah milik siapa. Subhanallah, subhanallah, subhanallah. Benar-benar hangat, air mataku menetes lagi, hangat  ini indah, terimakasih Allah.
Teman-teman dari pucak sudah sampai di camp kami. Mereka membuat sarapan, dan ngobrol apapun, sekali duakali aku dapat menyahut pecakapan mereka. Tapi ada yang menyakiti hati, aduh di saat seperti ini, aku sudah tak dapat mengendalikan ego ku. Sudahlah, aku membenamkan tubuhku dalam-dalam di sleeping bad. Siapapun membangunkanku, mengajakku bergabung, tak mau, aku ingin di sini, dalam sleeping bad. Aku mau istrahat, kakiku terlalu pegal karena meringkuk semalam.
Itu hanya sepenggal, dari keseluruhan penderitaan naik gunung. Di peringkat kedua paling menyakitkan adalah ketika kamu mendaki dan kamu turun. It’s so hard. Berulang kali jatuh bedebam di tanah, dabu pun menjadi kawan. Lain kali tidak lagi, masih banyak cara lain untuk tadabur alam disamping mencederai diri dengan mendaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar