Hati
Repotnya punya hati
Rasa datang dan pergi
Ayolah, hati-hati dengan hati
Pendakian merbabu empat ribu
sekian mdpl menggores sedikit cerita yang telah ditutup. Selalu berusaha
menghindari terbitnya rasa lalu dari benak. Entah nafsu dalam diri atau syaitan
yeng menarik untuk menikmati kenyamanan berbincang dengannya. Pos sabana satu,
tak tahu sudah berapa tingginya, namun di balik bukit tempat mendirikan tenda,
kami dapat memandang eloknya kelap kelip lampu kota solo, lampu jalan utama
yang meliuk sempurna membentuk angka dua terbalik.
Sesuatu mendorongku untuk
mengamati lebih dekat, ah aku tahu dia di sana, tak boleh, tak boleh kesana.
Tapi tetap saja kaki ini mengikuti langkah seorang teman yang juga akan
menikmati indahnya, bertiga dengan dia. Tak berapa lama, si teman kembali ke
tenda, namun kakiku berat untuk meninggalkan tempat itu. Keindahan tempat itu
menyihirku untuk masih berlama-lama berada
di sana. Namun bersama dia.
Ada gejolak hebat di dalam
benakku, ayolah, berbalik dan pulanglah
ke camp, berlama-lama berbincang dengannya hanya akan membuka rasa lalu atau
plis, tunggulah sebentar, tak bisa ku
pungkiri, aku merindukan berbincang dengannya. Membuatku mundur satu
langkah, dan langkah lagi dalam waktu yang lama. Tak berani aku menatapnya,
pandanganku jauh terlempar pada gunung lawu di sebrang sana atau lampu-lampu
kota solo boyolali yang begitu menawan. Salah, aku membuka percakapan yang
sedikit sensitif. Salah, pembicaraan itu harus beralih, atau segera diakhiri.
Pada kesempatan lain, dalam
kelelahan kepayahan lintasan turun, dia banyak membantuku. Bukan hanya dia yang
membantu, namun juga temanku lain. Sudah, bersikaplah professional, dia dan
teman lain sama. Kendalikan emosi dan perasaanmu pil.
Oh Allah, berat sekali gejolak hati, andai dia bisa mendapat
kesiapannya dalam satu atau dua tahun nanti, tentulah aku lebih memilihnya dari
pada orang yang belum ku kenal. Belum ku temukan orang yang dapat menguasai
naik turun emosiku selain dia. Allah, pertemukan kami nanti, atau pertemukanlah aku dengan seseorang yang memiliki kedewasaan sepertinya.
Wahai hati, tenanglah, cinta itu
fitrah, namun harus dipilah dan dipilih, mana yang harus tumbuh dan mana yang
harus ditutup. Ingat, cinta pada lawan jenis harus disimpan dan disemai untuk
sang pendamping di masa depan yang masih misteri detik ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar