Selasa, 04 Agustus 2015

Ada yang Tertinggal di Merbabu


Hati
Repotnya punya hati
Rasa datang dan pergi
Ayolah, hati-hati dengan hati

Pendakian merbabu empat ribu sekian mdpl menggores sedikit cerita yang telah ditutup. Selalu berusaha menghindari terbitnya rasa lalu dari benak. Entah nafsu dalam diri atau syaitan yeng menarik untuk menikmati kenyamanan berbincang dengannya. Pos sabana satu, tak tahu sudah berapa tingginya, namun di balik bukit tempat mendirikan tenda, kami dapat memandang eloknya kelap kelip lampu kota solo, lampu jalan utama yang meliuk sempurna membentuk angka dua terbalik.

Sesuatu mendorongku untuk mengamati lebih dekat, ah aku tahu dia di sana, tak boleh, tak boleh kesana. Tapi tetap saja kaki ini mengikuti langkah seorang teman yang juga akan menikmati indahnya, bertiga dengan dia. Tak berapa lama, si teman kembali ke tenda, namun kakiku berat untuk meninggalkan tempat itu. Keindahan tempat itu menyihirku untuk masih berlama-lama berada  di sana. Namun bersama dia.

Ada gejolak hebat di dalam benakku, ayolah, berbalik dan pulanglah ke camp, berlama-lama berbincang dengannya hanya akan membuka rasa lalu atau plis, tunggulah sebentar, tak bisa ku pungkiri, aku merindukan berbincang dengannya. Membuatku mundur satu langkah, dan langkah lagi dalam waktu yang lama. Tak berani aku menatapnya, pandanganku jauh terlempar pada gunung lawu di sebrang sana atau lampu-lampu kota solo boyolali yang begitu menawan. Salah, aku membuka percakapan yang sedikit sensitif. Salah, pembicaraan itu harus beralih, atau segera diakhiri.

Pada kesempatan lain, dalam kelelahan kepayahan lintasan turun, dia banyak membantuku. Bukan hanya dia yang membantu, namun juga temanku lain. Sudah, bersikaplah professional, dia dan teman lain sama. Kendalikan emosi dan perasaanmu pil.

Oh Allah, berat sekali gejolak hati, andai dia bisa mendapat kesiapannya dalam satu atau dua tahun nanti, tentulah aku lebih memilihnya dari pada orang yang belum ku kenal. Belum ku temukan orang yang dapat menguasai naik turun emosiku selain dia. Allah, pertemukan kami nanti, atau pertemukanlah aku dengan seseorang yang memiliki kedewasaan sepertinya.

Wahai hati, tenanglah, cinta itu fitrah, namun harus dipilah dan dipilih, mana yang harus tumbuh dan mana yang harus ditutup. Ingat, cinta pada lawan jenis harus disimpan dan disemai untuk sang pendamping di masa depan yang masih misteri detik ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar