Kamis, 13 Desember 2018

Si Pemimpi Kecil

Hai, jumpa lagi di malam menyenangkan ini. Kata orang, sejarah kalo tidak di tuliskan akan berlalu begitu saja seperti asap yang terbang dan menghilang entah ke manaa. Suatu saat, blog ini akan kutunjukkan pada putra putriku. Bagaimana bundanya pernah begini dan begitu. Tulisan galau pun tak ingin ku hapus. Biar begitu apa adanya, hihi.

And, this is me, si pemimpi kecil dari desa yg tidak terkenal. Dimana pulang sekolah yang dicari adalah sungai, bermain bidadari-bidadarian sambil mandi di sungai, pura-pura luluran menggunakan lumpur sungai, mengumpulkan buah entah apa namanya di kebun semi hutan di pinggir sungai, nakal mengambil bunga kopi yang dirangkai menjadi bunga pengantin, atau berpetualang di bekas irigasi bikinan belanda di bukit dekat rumah. Masa SD yang amat menyenangkan.

Si pemimpi kecil, yang ingin sekali sekolah di Jogja hanya karena terpesona oleh jalan flyover di jombor. Si pemimpi kecil yang bertekad memenangkan 5 Lomba walaupun sekolah di Madrasah. Si pemimpi kecil yang sangaat ingin naik pesawat.” Tulislah 100 keinginanmu, dan satu per satu nanti akan tercapai” kata seorang senior kala itu. Benar saja, hal yang sangat ku ingat kala itu adalah naik pesawat, juara lomba karya tulis ilmiah nasional (LKTI Nasional), dan kuliah di fakultas kedokteran.

Tak lama, hanya sekitar 2 tahun dari penulisan 100 mimpi itu. Aku benar bisa naik pesawat, ke Banjarmasin waktu itu, untuk menghadiri LKTI Nasional dari  universitas Lambung Mangkurat. Itu kali pertama menginjakkan kaki di pesawat. Jika teman2 ku bilang impiannya adalah naik pesawat, sudah dari SMA aku mewujudkan mimpi pertamaku. Dari sana, aku ingin menjelajahi “bhineka” nya Indonesia, bagaimana? Sedangkan untuk makan saja uang selalu pas-pasan. Orang bilang itu keberuntungan (tapi kata pelatihku, tidak ada yang namanya keberuntungan, semua terjadi karna suatu alasan), di masa kuliah aku mendapat penempatan untuk KKN di pulau Samosir (Sumatera Utara),  naik pesawat lagi, xixixi, beruntung bisa mempelajari keberagaman dari suku Batak Toba di sana. Lanjut selang beberapa lama, aku lolos di camp 4 lalu 5 indofood, terbanglah aku ke Pekanbaru (Riau), menjelajahi kota Padang (Sumatera Barat), dan terbang ke pulau Dewata (Bali). Ah ya, the power of kemauan. Dimana ada kemauan pasti ada jalan..

Oh ya, di LKTI Nas itu, beruntung kami kantongi juara 3 Nasional, gugurlah impian juara lomba nasional. Pada dasarnya, aku bukan orang cerdas, aku hanya punya modal kemauan, otakku tidak seencer teman2 yang bisa langsung paham sekali dijelaskan. Di asrama, saat temen2 terlelap tidur, saat itulah aku berusaha keras memahami apa yg disampaikan guru dg bekal buku2 perpus. Aku bisa kuliah di fakultas kedokteran UGM, karna mimpiku, aku ingin kuliah di sana. Tak lolos jurusan pendidikan dokter, jurusan gizi kesehatan  pun aku sambangi. Masih segar kala itu, belajar siang malam, mengurung diri di rumah selama 2 minggu demi belajar SBMPTN (Ujian tulis). Guruku hanya buku dg pembahasan soalnya, apalah daya uang dari ortu hanya 200rb, tidak cukup untuk membayar les2an mahal, cukup ku alihkan dengan buku, mereka seperti guru les bagiku. Walaupun, ketika kuliah aku merasa salah jurusan haha. Teman2 kuliahku sungguh akademis, aku seperti orang asing, untuk menelan materi kuliah harus ku pelajari berkali2, haha. Sebagai gantinya, aku lebih memilih aktif di UKM dan paguyuban beasiswa KSE, haha itulah kenapa aku dibilang bukan seperti anak UGM yang akademis.

Dibalik semua itu, masa SMA hingga kuliahku penuh dengan perjuangan. Rasanya hidup hanya berjuang-berjuang-berjuang tak ada habisnya (waktu itu). Tapi kata ibuk, insyaallah semua akan berubah, asal kita tidak menyerah dari berjuang. Hari ini, 50 ribu hanya cukup untuk makan 1 hari, tapi kala itu, 50 rb ku gunakan untuk makan satu minggu, sudah termasuk uang bensin dan fotocopy. Heran kenapa dulu bisa? Wallahu’alam, masalah membuat kita stronger.


Pemimpi kecil, mimpi-mimpi apa lagi yang ingin diwujudkan? Wait, banyak list menunggu

Rabu, 12 Desember 2018

Ngene Lho Cah Kerjo

Jatuh, bangun lagi, ditekan, bangkit lagi, ada masalah, selesaikan lagi. Yah begitulah, namanya juga sedang bejuang. Bongkahan emas juga merasakan kesakitan ketika dipilah kemurniannya dengan api bersuhu tinggi, dilelehkan dengan panas luar biasa, dan dibentuk dengan indah yang akhirnya menghiasi etalase-etalase mahal. Dari sebelumnya hanya tanah yg terinjak-injak, atau hanya material yg tak dianggap diantara timbunan material lain di bumi, menjadi sesuatu bernilai tinggi, tak sedikit pengorbanan yg harus dialami si emas bukan?

Yaa begitulah, masa depan adalah milik mereka yang menyiapkan hari ini. Jadi, dipukul berkali-kali dengan tekanan dan masalah, its okay, masih bisa senyum. Toh badai ga akan selamanya singgah. Akan ada masa damai aman tantram dan menyenangkan. Haha

Namanya juga kerja, diantara 30 hari dalam 1 bulan, pasti ada saja satu momen low yang sangat low sampai terfikir untuk menyerah. Kalo sudah begitu, hanya 2 kontak di HP yang bisa recharge. Sharing dengan ortu dan mas faiq. Diskusi beberapa menit, tanang, dan kembali lagi berpikir jernih. Mau kerja dimanapun, dengan lingkungan seperti apapun, pasti kita menghadapi saat-saat dimana resign adalah pilihan menarik. Di saat seperti itu, diam dulu, cari tempat curhat positif, jangan langsung ambil keputusan dalam keadaan "panas". Ingat kembali apa tujuan utama kita bekerja. Dan everything is under control ketika kita menyelesaikan masalah dengan kepala dingin ^^.

Ngene lho kerjo, apa yang kita dapatkan akan sesuai dg apa yg kita kerjakan. Penuh tekanan, masalah, iya, tapi coba tengok akhir bulan ketika gajian, Hahaha. Satu lagi, kerja di tempat penuh tekanan dan masalah akan membuat kita semakin berkembang dari hari ke hari. Kamu hari ini akan sangat berbeda dengan kamu di bulan depan. Karna otakmu terasah, kedewasaanmu teruji. Jadi tujuan lain selain salary? Itulah aktualisasi diri dan karir :)

Sabtu, 28 Juli 2018

Titik Jenuh

Perjalanan masih saangat panjang. Jalani, tekuni, sabar, tawakkal. Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya bukan?

Melihat teman-teman sudah bekeluarga, beberapa sambil bekerja, menimang buah hati mereka. Indah sekali. Melihat desain-desain rumah unik nan cantik, rasanya “nyaman sekali berada di dalamnya”. Namun semua butuh proses, tidak instan. Jangan percaya siapapun. Tidak ada penyihir yang bisa menjadikanmu Cinderella dalam satu malam. Semua harus diusahakan.

Kita memiliki rencana, A, B, C hingga Z. Tapi Allah selalu punya rencana lebih baik dari itu. Apalah manusia. Kadang hanya bisa menangis bersimpuh, namun lupa ketika berlimpah nikmat.

Dan kini, aku sedang berada di titik jenuh, mungkin titik terjenuh. Ingin pergi dari rutinitas ini, sudah seperti robot. Tak ada teman yang bisa dengan tulus ku ajak bercengkrama. Kehidupanku serasa pernuh dg kerja-tidur-kerja-tidur. Hiburan? Ah makan makanan lezat, dan menghamburkan uang.

Selebihnya aku jenuh.

Bekerja di tempat ini, uang melimpah, semua kebutuhan keluargaku terpenuhi, tapi aku kosong. Sungguh menjemukan jauh dari para staf lain, bertemu pun tak akrab, tak ada kenalan atau teman kuliah. Atau aku yang terlalu malas bersosialisasi. Teman itu diciptakan, dan butuh energi lebih untuk menciptakan “pertemanan” itu.


Ah aku rindu jogja, rindu rumah hijau itu, rindu setiap sudut kampusku, rindu kesibukan rumah belajar, rindu event2 sosial. Sempat terbesit, apa aku perlu mencari pekerjaan lain yg bisa ditempatkan di sana? Ah entahlah. Random.

Minggu, 27 Mei 2018

Dua Tiga dan Angin Segar

“Nok, jangan lupa selalu bersukur”. Alhamdulillah, itu nasehat yang selalu ibu ingatkan sebelum menutup telpon dari ku. Satu lagi, selalu berbaik sangka terhadap apa yg Allah gariskan pada ku. Belakangan, aku ribet sekali, kenapa Allah belum juga datangkan jodoh, padahal sudah berusaha merayu Allah ini itu. Mungkin aku terlalu panik. Usia ku sudah menginjak dua tiga, teman-temanku sudah memiliki putra. Sedangkan aku, hilal jodoh pun belum juga terlihat, haha.  Di sisi lain, peluang karir ku semakin terbuka. Aku jadi teringat nasehat Triana, dalam menjawab doa kita, Allah punya 3 jawaban: “ya”, “nanti”, atau “Aku punya yg lebih baik”. Mungkin ini saatnya move on memikirkan jodoh, haha. Mungkin Allah ingin aku “nanti” memikirkannya. Tak ada yg tak mungkin bagi Nya. Bumi masih terhampar luas, masih bejuta-juta manusia di muka bumi. Mudah sekali bagi Allah untuk membolak balikkan hati manusia. Jadi tenang, tak ada yg perlu dikhawatirkan sekalipun usiaku sudah dua tiga. Naudzubillahi min dzalik, apapun yg terjadi aku tak akan membuka cerita masa lalu, “F” , tak ada jalan kembali.

Sekarang yg ingin aku jalani adalah menikmati karir ku seperti layaknya aku menikmati bermain dengan soal-soal olimpiade matematika dahulu. Aku paham, aku tak akan berhasil 100%. Yang aku tau, apa yg aku jalani sekarang sangat menyenangkan. Kerikil tajam bahkan hantaman batu akan selalu ada, namun itu yang membuat jalanku lebih bermakna dan berwarna.

Selanjutnya, target kecilku, membuktikan aku bisa berprestasi di ibu kota. Mengembangkan networking lebih luas di sana. Impianku, satu tahun lagi, aku bisa menyodorkan program bagus, lalu bisa memegang rayon Yogyakarta, aktif lagi di olahraga freeletics, menjadi pembicara di event2 mahasiswa, memberikan hadiah bagus untuk simbah dan mba lala di warung property. Oh ya, sebelum itu, November 2018 aku sudah harus bisa menyetir mobil dengan sim A nya.

Sedikit tentang warung property. Sebuah "warteg" kalo orang biasa menyebutnya, bertempat di jalan Monjali Yogyakarta. Semenjak tahun 2010, warung itu selalu menyuplai asupan gizi ku, xixi. Harganya sangat terjangkau untuk aku yg hanya punya uang makan 50rb seminggu. Semakin berjalannya waktu, hingga aku lulus kuliah di 2017, tak banyak kenaikan harga yg diberikan pada ku. Khusus aku, ya walaupun harga ke pelanggan lain tergolongnya masih cukup murah dibandingkan warung lain. Aku sayang sekali dengan simbah dan keluarganya. Sering aku berlama-lama untuk ngobrol. Prinsip simbah, gapapa keuntungan sedikit, asalkan perputaran cepat. Hal ini sangat menguntungkan kami anak kosan, hehe. Sekarang Alhamdulillah, pelanggan semakin banyak, warung sudah lebih bagus, simbah dan keluarganya juga sudah bisa beli mobil avansa. Jadi ketika aku bisa kembali lagi ke sana, aku ingiin sekali memberikan simbah hadiah untuk kebaikan hatinya pada kami anak kosan :D .

Alhamdulillah, aku bahagia menjalani hari2ku saat ini. Seorang muslim yang baik, jika diberi anugerah maka akan bersyukur, dan jika diberi cobaan maka akan bersabar. Setiap manusia punya masa lalu. Apa yang ada pada dirimu saat ini bukanlah harga mati untuk kau tidak pernah berjuang memperbaikinya, bukan?  Ini aku, yg masih berusaha memaafkan masa lalu dan menjadi muslim lebih baik dari hari ke hari :)


Bandung, di sela istirahat kantor

Sabtu, 26 Mei 2018

Senin, 21 Mei 2018

Untukmu (lagi) Nak

Halo nak, bertahun-tahun dari sekarang mungkin kamu akan membaca tulisan Bunda ini. Bunda hanya ingin menuangkan apa yg ada di kepala Bunda. Tentang, mimpi yg ingin Bunda sisipkan pada kalian. Namun Bunda berikan kebebasan pada kalian, untuk meneruskan mimpi ini atau memilih jalan kalian.

Jika Bunda memiliki kalian, Bunda ingin merawat kalian sepenuh hati, meskipun mungkin kalian akan rewel, sering ngompol, pundung tentang hal kecil, semoga Bunda dan Ayah diberikan keluasan hati untuk selalu memberikan yg terbaik bagi kalian.

Source: merdeka.com
Jika Bunda memiliki kalian, Bunda ingin salah satu dari kalian, atau semua dari kalian, berkuliah di Havard University. Bunda terinspirasi dengan banyak orang baik, yg menebar kebermanfaatan sangat luas, berasal dari universitas tersebut. Masalah biaya, tenang, saat ini bunda sedang mengusahakannya. Mempersiapkan masa depan terbaik untuk keluarga kita (mungkin juga ayah sedang melakukan hal yang sama). Tak apa, tak usah menggunakan beasiswa, insyaAllah Ayah dan Bunda mampu. Biarlah beasiswa untuk mengangkat mereka yg memang orang tua nya di garis kecukupan, agar dapat memotong rantai kemiskinan di sana. Doakan kami mampu mengusahakan untuk kalian :)

Nak, orang-orang mungkin bilang bunda adalah orang ambisius dan segala stigma negatifnya. Apapun kata mereka, Bunda bahagia menjalani hari-hari Bunda. Ketika Bunda memiliki keinginan, maka bunda akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. Bunda ingin berada di tempat tinggi, bukan dengan menjatuhkan yg lain, melainkan dengan memaksimalkan segala yg Bunda miliki. Hmm.. biarkan orang lain berkata apa, tidak semua suara harus didengar. Kamu yg memiliki hidupmu, dan kamu punya kendali penuh atas apa yg ingin kamu pilih atau lepaskan, nak.

Oh ya, kalo menempuh sekolah menengah nanti, janga heran jika Ayah dan Bunda “buang” kalian ke pesantren ya nak. Di sana adalah tempat terbaik membentuk karekter. Setidaknya, pesantren modern Gontor, xixi. Di pesantren nanti, kamu akan diajarkan untuk berjuang dalam segala keterbatasan, kalian akan dikenalkan mengenai Tuhan dan Agama ini lebih dalam, hingga muncul rasa cinta, bukan hanya rutinitas. Tau kah kalian, orang hebat itu dilahirkan dari segala keterbatasan, bukan dari lengkapnya fasilitas. Dan di sana adalah tempat penempaan paling sempurna :)
                                                                 
Ayah. Hari ini, ketika Bunda menulis ini, bunda belum bertemu dengan ayah kalian. Doakan agar bunda segera betemu dengan sosoknya. Doakan agar bunda menemukan ayah yang mampu melindungi keluarga kecil kita, giat bekerja keras, dan menjadi nahkoda hebat yg menuntun keluarga kecil kita pada cahaya.


Sudah ya, bunda ngantuk. Suatu saat, mungkin bunda sisipkan lagi harapan bunda melalui kata. Semangat mencarinya putra putriku yg sholeh sholehah :) :) 

Minggu, 20 Mei 2018

Wanita bekerja

Aku belum bisa menangkap hikmah lain dari kehidupan di samping aktivitas bekerja, karena waktuku masih banyak tersita untuk pekerjaan. Orang bilang, totalitas wkwkwk. Bukan sebenarnya, aku hanya belum meluangkan waktu untuk berjalan kaki, benar-benar mengamati kehidupan sekitar, dan menangkap hikmah yg bisa dipetik. Jadi untuk sementara, aku baru bisa membicarakan mengenai pekerjaan.

Salah satu anugerah terindah yg Allah berikan padaku, pekerjaan. Aku sangat mencintai pekerjaan ini. Bukan tanpa perjuangan di belakang sana tentunya. Aku pernah mengalami jatuh bangun selama 9 bulan terakhir. Tak terhitung berapa kali aku ingin resign. Tak terhitung berapa lama aku menangis karena banyak hal yang harus aku selesaikan. Tapi kembali pada kata pepatah, pukulan yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat. Beruntung aku memiliki atasan, beberapa kolega, dan keluarga yg selalu mengerti dan membukakan pikiranku.

Apa yang salah dengan wanita bekerja? Bekerja adalah cara ku mengaktualisasikan diri. Sebagaimana kita telah mengaktualisasikan diri di bangku SD hingga kuliah, begitupun bekerja. Hanya saja, di tempat bekerja kita dituntut untuk belajar lebih cepat. Sering melakukan penelitian sederhana melalui pengambilan keputusan yg dirasa tepat, trial and error. Terlebih sebagai seorang leader.

-Kodratnya wanita bekerja di rumah- untuk pernyataan itu, akan ku jawab nanti. Usai aku memiliki kedewasaan yg cukup matang mengenai pernikahan dan segala konsepnya. Untukku saat ini, adalah memberikan yg ter
baik semaksimal mungkin di pekerjaan, belajar lebih banyak dari siapapun kapanpun dan dimanapun. Mengaktualisasikan diri. Bertumbuh dari hari ke hari. Lebih dewasa dari tempaan masalah demi masalah. Hingga suatu saat aku bisa mendiskusikan dengan “mas imam”, mana yg terbaik.

Jangan memandang rendah wanita bekerja, juga jangan menganggap wanita bekerja terlalu superior. Setiap wanita bekerja memiliki alasan atas pilihan mereka untuk bekerja. Juga, setinggi apapun mereka terlihat, kepada “mas imam” tetap harus tunduk dan mengabdi. :)


Selamat istirahat fellas !

Rabu, 16 Mei 2018

Resign

Satu kata yang sedang hits di beberapa teman terdekatku. Sempat ada pendapat “ngapain kerja kalo ngga nyaman, ga usah diterusin kalo kamu ditekan terus” dsb. Segala slentingan negatif yang tidak sepenuhnya ingin ku dengar. Memang, ada benarnya perkataan mereka. Namun aku lebih banyak tidak setujunya dengan pendapat itu.

Mau bekerja di manapun pasti ada masalah. Kalo tidak dihadapkan banyak masalah, buat apa perusahaan membayar mahal kita? Setara, apa yg kita usahakan dan apa yang kita dapatkan. Aku pernah di posisi mereka. Dimana aku mencari banyak suara untuk mendukungku resign. Tapi, sudahlah, tidak ada salahnya mencoba hal baru, bertahan sedikit lebih lama, hingga kita terbiasa dg rasa sakit ada, menjadi pribadi yg lebih tangguh. Yaa seperti soal ujian lah, untuk naik ke kelas selanjutnya kita harus mengerjakan ujian bukan? Kita lulus, berarti kita naik kelas. Sama juga, kita lulus memecahkan masalah, kita tidak akan pernah sama dg diri kita di hari kemarin, satu kelas kedewasaan telah kita lampui.

Baiklah, jangan samakan beban seseorang dg org lain. Baik itu di perusahaan yang sama, maupun berbeda. Aku yakin kawan, cuma kamu yg paham seberapa berat beban yg kau tanggung saat ini. Namun  bolehkah aku memintamu melihat cermin di depan (berkaca ke belakang), apa yg telah kau lampaui di belakang sana, tak bisakah bertahan sejenak, atur strategi, dan selesaikan. Bukannya lari dan pergi.

source: konsultasisyariah.com
Sudah basi, namun aku hanya ingin mengingatkan mengenai perumpamaan arang dan intan. Sama-sama tersusun dari rantai karbon yg sama, namun memiliki nilai yg jauh berbeda. Intan telah melalui proses tekanan yg sangat tinggi, sedangkan arang hanya dengan panas biasa. Kuatlah untuk menjadi intan sobat :)

Pesanku, jangan terjun tanpa rencana. Ketika rencanamu matang, silahkan, resign bisa menjadi awal baru untuk jenjang karir yg lebih baik di perusahaan lain nanti. Tp ketika kamu tak memiliki rencana, ku harap, kamu pikirkan ulang. Pertama, karena kondisi perekonomian indo saat ini, bernar2 tidak mudah mencari pekerjaan. Kedua, waktu semakin berjalan, dan usia mu tidak berhenti (kamu semakin berumur). Semakin susah mencari kerja di usia yg tidak lagi muda.  Ketiga, apa iya di tempat baru nanti kamu tidak akan menemukan masalah yg sama? Kita tak bisa memastikan bukan?

Bisa jadi, ketika kamu mampu menyelesaikan segala ketidaknyamanan saat ini, karirmu semakin menanjak. Ingat, ketika kamu lulus suatu ujian, kamu tidak akan menjadi pribadi yg sama lagi. Kamu semakin indah dan berkilau.

Oke, aku tidak memaksa, tulisanku di atas terlalu subjektif di satu sisi. Peace. Setidaknya izinkan aku menyampaikannya padamu melalui tulisan ini sobat. Harapanku tetap, sukses selalu jalan apapun yg kamu piliih :)


Bandung 16 Mei 2018

Spesial untuk Mak Stella

Selasa, 15 Mei 2018

Simpan Air Mata Mu, Fil

www.pinterest,com
Hujan mengguyur kota Bandung sore ini. Seperti biasa, kantor hanya menyisakan sepi. Hanya aku sendiri yang masih berkutat dengan angka-angka. Waktu terus berjalan. Semakin sore, aku belum menunaikan sholat ashar. Air segar mengguyur wajah ku, menenggelamkan ku dalam khusyu wudhu. Ah lama aku tak bersimpuh dalam, selama ini hanya rutinitas. Segala beban membuatku duduk tertunduk dalam waktu yang lama. Setetes demi setetes, hingga deras, mengalir membasahi pipiku. Terbayang masalah demi masalah yang sedang ku hadapi, ah tidak, selama ini pertolonganNya begitu besar. Dia mengangkatku dari lembah hitam menjijikkan, Dia tutupi semua aib ku, Dia angkat aku ke derajat lebih tinggi, Dia berikan aku anugrah demi anugrah yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Tak terhitung berapa kali aku luput dariNya.  Aku selalu merasa, langkah ini selalu dibimbingNya. Dia ciptakan masalah demi masalah, untuk aku kembali padaNya, menjauhi maksiat. Dingin selalu membangunkanku sebelum subuh berkumandang, namun aku, selalu nakal, hanya selimut yang lebih ku pilih. Saat ini, dalam simpuh yang panjang, seolah aku disadarkan, kembali kembali kembali.

Aku masih menangis, kala rentetan kata ini tertuang. Allah, ingin ku sandarkan kepala ini pada seseorang, namun rupanya Engkau masih menginginkan sujudku lebih panjang, atau doa ku yang lebih khusyu, mancurahkan segala ini hati ini padaMu. Sudah? Selesai menangis nya? Sedari dulu aku berkomunikasi dengan diriku mealui kata. Tanpanya, aku tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. 

Menjalani hari demi hari sendiri, adalah suatu konsekuensi, suatu resiko yang harus aku tanggung. “Bertanggungjawab atas semua pilihan”. Itu yang selalu ibu ingatkan padaku. Bekerja di tempat ini adalah suatu pilihan, dan segala pernak pernik pekerjaan adalah resiko yang harus aku selesaikan dan pecahkan.

Aku kuat. Dari hari ke hari aku (harus) semakin kuat. Tempaan membuatku lebih dewasa. Ingat ketika dahulu, masih di bangku kuliah, tak terhitung berapa lama aku menangis, bapak ibu belum mampu mengirim uang mingguan, beasiswa belum turun, insentif mengajar juga belum waktunya. Menangis aku menahan lapar, tak ada sepotong pun roti maupun beras di kos. Menangis, tertidur, lalu lupa akan rasa lapar itu. Selalu percaya, keadaan itu tidak akan selamanya. Saat ini, Allah menjawabnya sudah. Bahkan gaji jauh di atas bayangan yang ku harapkan dahulu. Namun benar, semakin naik, maka angin semakin kencang berhembus. Kesulitan finansial bukan lagi sebuah masalah. Kini dihadapkan dengan masalah-masalah lain di pekerjaan, teman yang jarang ku miliki, juga keinginan untuk menemukan teman seperjuangan yang menemani langkah hingga tua nanti.

Sudah, Allah belum menghadirkannya dalam hidupmu, bukan karena Dia tidak mendengar doa mu, Fil. Mungkin, kamu yang belum pantas menerima teman hidup itu. Beberapa bagian hidup mu, sifatmu, emosi mu, kematangan cara berfikirmu, perlu diperbaiki. Mungkin memang karena kamu belum siap.


Tersenyum ya, semua akan lebih mudah dihadapi dengan senyum mu, Fil. Oh ya, dari pagi belum sempat makan ya, terlalu sibuk bekerja kamu, makanya emosimu labil, nangis aja. Ayo sudahi, segera senyum dan makan, jangan sampai sakit, Fil :)

Jumat, 11 Mei 2018

7 bulan kerja meeen !

holaa
Lama aku ga ketemu kamu ya blog. Banyaaak banget kejadian di belakang sana. Terutama setelah si biru ilang (laptop), aku jadi jaraang banget nulis. Alhamdulillah diberi kemampuan sama Allah buat dapet pengganti si biru, sekarang aku coba lagi menangkap makna dari realita, dan dituangkan melalui kata-kata ini.

Setelah tulisanku sebelumnya, "dilamar atau melamar" hahaha, sekarang aku bikin skuelnya nih, 7 bulan kerja. Singkat cerita, setelah aku dinyatakan lulus Juli lalu, aku segera bikin linkedin, daftar jostreet, follow semua ig tentang job2an lah pokoknya, juga bikin akun ECC UGM. Dari ECC, aku apply semua lowongan yg kira2 aku bisa masuk, asal all major aku klik aja haha. Aku juga iseng ikut program talent hunt (semacam pencarian bakat gitu, haha). Ga tanggung2 langsung dapet 3 panggilan dari telent hunt, eh ketiganya disuruh jadi medrep (pusing adek bang panas2an gitu). Yang konimex sempet lanjut tuh tes psikologi,

Singkat cerita lagi, dari hasil aku apply2 sembarangan itu, aku dapet panggilan di PT Cimory sehari setelah wisuda. Bisa dibayangkan habis wisuda seharian pake sepatu tinggi banget, lanjut jalan2 sama keluarga besar, hari selanjutnya harus tes kerja. Awalnya mageer banget, badan remuk semua rasanya, sempet ngga mau berangkat tes, Tapi, kataseniorku yang baik hati  . . (to be continued// kalo inget)