Tradisi (ini ceritaku ^.~)
Tanganku
selalu tergelitik untuk menuliskan sesuatu ketika aku mengalami suatu kejadian
yang unik dan tak terlupakan. Namun, inilah si Upill. Berjuta-juta (lebay) tulisan
telah diketik. Namun hanya segelintir yang mencapai finish. Alias tulisannya
selesai dan siap publish. Semoga tulisan ini menjadi satu diantara berjuta-juta
yang dapat terbit di kumpulan cuap-cuap ini.
“Keinginanku sederhana, melihat pendekar-pendekar dari perguruan ini.
Karna kurasa, aku mulai jatuh cinta dengan perguruan ini. –Jogja 1 Des”
Tepat dua hari ke belakang
aku mengikuti acara tahunan beladiri ini. Tradisi. Acara besar yang diadakan
satu tahun sekali guna mempertemukan semua cabang di Indonesia dan Dunia.
Mendengar judulnya saja, aku sudah berspekulasi bahwa ini akan menjadi suatu
acara yang belum pernah aku lihat dan pasti keren. Yang artinya, aku akan
menemui banyak pendekar, baik yang masih di tingkat dasar maupun pendekar
sungguhan (hehe). Bukan hanya itu, rangkaian acara yang aku dengar dari
beberapa senior terdengar sangat keren di benakku. Dan apakah kenyataannya
begitu? Ikuti terus kisahku :p
Dua minggu
sebelum acara: kepo kepo, nyari tau itu acara apa. Nyari massa (anak-anak dasar
1) buat ikut acara itu.
Satu minggu sebelum
acara: tiap latihan malem tidak ada pengumuman mengenai tradisi. Masih tenang,
mungkin kakak senior kelupaan dan belum dibuka pendaftaran.
Dua hari sebelum acara
: “maaf untuk dasar 1 belum bisa mengikuti tradisi karena sragamnya belum jadi.
Gubrakk. Ga jadi ikut tradisi
Dua
puluh satu jam sebelum acara: “Salam perguruan :D. (intinya) dasar 1 bisa
mengikuti acara tradisi dengan syarat mala mini mengambil sragam di sekre.”
Senangnya hatiku, jadi juga sragamku (lagu
insana: senangnya hatiku turun panas demamku, heheh)
Singkat cerita,
hari sabtu pagi ba’da subuh aku melaju dengan Arvita, menaiki kuda besiku.
Nyasar di beberapa tempat. Belok sana balik sini. Dan dapat. Perguruan Merpati
Putih Parang Kusuma. Sampai di TKP, takjub bukan main. Lapangan seluas itu
dipenuhi oleh manusia-manusia berbaju putih dangan celana hitam lengkap dengan
ikat pinggangnya masing-masing. Indah sekali, aku terharu :’) (lebay). Mereka
sedang bersiap melakukan pemanasan, seperti latihan biasanya.
Bertemu
dengan kakak senior. Satu. Dua. Ternyata ada misskom di kolat ku. Dasar 1
cabang Sleman memang belum diberikan ikat pinggang karena belum pengukuhan.
Dan, yang benar saja, kami dicarikan ikat-ikat pinggang milik kakak tingkatan
yang tergeletak tak bertuan. Dari tampilannya saja benda-benda itu sudah hampir
menyatu dengan tanah pasir, tidak terurus, dan lembab. Baiklah, itu lebih baik
daripada seumur acara terdisi dihukum karna tidak mengenakan ikat pinggang. Dan
mungkin bisa dibayangkan, sragam yang baru saja keluar dari konveksi, putih
mulus, berpadu dengan sabuk putih kusam yang mungkin bukan putih lagi namanya.
Kami mencucinya seadanya. Dan langsung mengenakannya. Hahaha, kalau bukan karna
acara ini mungkin seumur hidup tidak pernah merasakan pengalaman ini.
Next, beranjak ke
acara berkutnya. Setelah peregangan, kami menaiki kendaraan merakyat menuju
sungai titik titik (lupa namanya). Kami melakukan tabur bunga di sana.
Sebelumnya, kami diceritakan sejarah, mengapa melakukan hal itu. Ternyata jauh
sebelum orangtuaku bertemu (alias aku belum lahir), ada satu orang murid
merpati putih yang hanyut di tempat itu. Disusul dengan tiga orang lain yang
juga hanyut dalam kesempatan yang berbeda. Semoga ruh mereka diterima di sisi
Allah dan diampuni dosa-dosanya, amiiiiin. Dan kami melakukan tabur bunga di
sana.
Berangkat
dari tepi sungai, kami melakukan pendakian di sebuah bukit bernama Gunung
Botak. Entah dari mana ceritaya tempat itu dinamai Gunung Botak. Karna
sepenglihatanku diperjalanan kanan kiri ku lihat saja banyak pohon-pohonnya (ha
ha). Kami mendaki dan menuruninya selama kurang lebih 3-4 jam. Aspal yang
berliku-liku, bebatuan yang terjal, serta kerikil-kerikil halus --yang cukup
menusuk-nusuk kaki dan membuat kaki berpotensi kapalan— menjadi lintasan kami.
Namun jangan salah, di puncak kami melihat pemandangan (yang bisa ditebak
pasti) indaah sekali. Perpaduan antara bukut-bukit hijau, pantai, dan laut.
Benar-benar manis. Pada akhir perjalanan kami melewati jalanan beraspal selama
beberapa kilometer. Dan ajaibya, hujan turun membasahi peraspalan, yang
menyelamatkan kaki-kaki indah kami dari efek buruk aspal panas yang dilintasi
tanpa alas kaki. Hahaha.
Betapa indahnya sampai di
basecamp. Istirahat, tidur terlentang. Serasa disurga, hoho. Tak butuh waktu
berjam-jam hingga panggilan peserta berkumandang. Kami kembali berkumpul di
lapangan. Agenda kali ini adalah gerak. Setangkapku, yang kami lakukan ini
adalah gerak murni dari Merati Putih yang berlum termodifikasi. Dan apa yang
terjadi, ketika tiba materi gerak tangan, tidak ada yang ku mengerti sama
sekali. Kami belum diajarkan, sementara anak-anak dasar satu kolat lain sudah
“terlihat” mahir. Ya, mau bagaimana lagi, aku ikut-ikutan saja, walaupun cacat
sana sini. Haha, yang penting hepii.
Waktu
istirahat, acara pending sekitar 15 menit menunggu guru besar. Sip, ada waktu
sejenak, lari ke masjid mumpung udah adzan. Acara dilanjukan dengan upacara
pembukaan. Pre-memori pre-memori. Dan ini yang unik. Disediakan tiga gentong
dari tanah liat berisi air. Air pertama untuk cuci tangan, kurang tau
campurannya apa. Air kedua untuk membasuh muka, kali ini ada bunga-bunganya. So, airnya wangi dan seger. Air ketiga
juga kurang tau campurannya apa, tapi dari cerita seorang senior, air ini
fungsinya untuk menghitamkan rambut. Dalam
hati, bule-bule yang rambut aslinya bukan item gimana ya? –pertanyaan cukup
disimpan saudara2 -___-
Terjadi
antrian mengular pada prosesi di atas. Acara dilanjutkan dengan sesuatu yang
paling menakjubkan di sepanjang Tradisi ini. ialah Menghantar Matahari.
Bermeditasi di depan sunset, sambil
merenung tentang kehidupan, juga dipadu dengan gerakan garuda benteng. Yang
jelas ini keren pake banget. Sebelum mata terpejam, masih tertangkap oleh mata
kami, matahari yang mulai tenggelam. Saat itu posisi kami di atas bukit pasir,
dari posisi tinggi itu matahari terlihat seperti akan tenggelam di laut. Tak
henti mengucap syukur atas pemandangan indah ini. Bukan hanya itu sodara, jika
kepala sedikit menengok ke belakang, maka akan tampak elok pelangi yang sempurna
membentuk setengah lingkaran dari ujung ke ujung. Menghantar matahari dilakukan
dengan mata tertutup, dan sudah menjadi hukum alam, aku tak dapat menyaksikan
kepergian mereka (Karena ketika mata
terbuka, hari sudah mulai gelap).
Dilanjut dengan
ISHOMA. Ingat, namanya ishoma. IStirahat SHOlat MAkan. Tidak istilah ada mandi
dalam akronim ini (nanti jadi ISHOMAMA,
hihi). So, tidak ada mandi dalam agendaku. Hehe, bukan cuma aku, tapi hampir semua peserta lain, coba aja ditanya,
apa mereka mandi :p. Berlangsung hingga pukul sekitar setengah 8. Dalam
kegelapan basecamp, kami makan bersama. Untung
ada Icha yang menyelipkan hape dengan fasilitas senter di kerudungnya, jadi
tidak terlalu gelap. Oya, ada satu yang asik, ngobrol sama temen-temen sama
senior-senior. This is my second family :)
Diakhiri dengan upcara penutupan yang super keren. Pokoknya ini khas Merpati
Putih banget. Ada jurus-jurus yang dibuat seni, lalu Dewan Guru di angkat di
kursi yang sudah dibuat ada bambunya buat ngangkat (keren banget, ini bener-bener pendekar). Dilanjut pengukuhan
mereka yang mangikuti UKTnas. Ada beberapa wejangan, penutupan, dan
pulaang. That’s all Tradisi Merpati Putih tahun emas 2013 versi ku, peserta
dari Dasar 1. Maaf bila ada salah kata, kalo ada kritik dan saran, boleh ketik
di comment, salam ):
hmhm
BalasHapus:)