Judul dari tulisan ini adalah slogan dimanapun kami
berada. Saat siapapun bertanya “Apa kabar BISMA?”. Bukan karena kami sombong, namun semata-mata ini adalah bentuk afirmasi positif kami.
Pada akhirnya, waktu dan raga ini akan menginjakkan
kaki pada camp 5. Sebuah akhir dari rangkaian Indofood Leadership Camp Batch 8.
Hanya akhir rangkaian, namun bukan akhir dari persahabatan kami. Masih jelas di
dalam ingatan, wajah-wajah cerah penghias lika liku ILC kami. Mulai dari wajah
para peserta, para pelatih, para officer, hingga Pak Mirza, Bu Dwi, Pak Deni,
Mas Helmi, Bang Santo. Seperti biasa, sayang rasanya membiarkan memori berlalu
tanpa mengikatnya dalam kata. Inilah dia rangkaian demi rangkaian yang telah
kami lalui. Satu tahun yang indah bersama teman-teman BISMA (ILC)
Di Indofood Leadership Camp, kami dilatih mengenai
softskill dan hardskill menjadi seorang professional, lengkap dengan ditanamkan
pondasi cinta tanah air dan kedisiplinan. Ayahanda dan Ibunda kami
bercita-cita, dimanapun kami berada, kami akan menjadi bibit unggul yang akan
tersebar di seluruh Negri ini, menebar kebermanfaatan.
Camp 1 (Akademi Militer
TNI-AD Magelang)
Aku tidak bisa tidur menjelang keberangkatan camp
pertama. Perutku rasanya mulas. Beberapa exercise telah aku lakukan, tapi
rasanya tidak cukup untuk persiapan fisik di camp pertama ini. Tak ku bayangkan
bagaimana 10 hari mencekam di tempat itu. Bismillah, dijalani saja, sepulang
dari camp aku pasti mendapatkan sesuatu yang luar biasa nanti, seperti kata
kakak2 di paguyuban. Waktu menunjukkan pukul 22.00, aku harus segera istirahat,
mata ku paksa terpejam.
Pukul 00.00 tanggal 28 Januari 2016. Hari dimulai.
Alarm berdentang keras membangunkanku. Segera bergegas mandi dan re-checking
lagi barang-barang yang harus dibawa. 01.20 meluncur bersama seorang teman,
membelah jalanan kota Yogyakarta dinihari. Kami harus tiba di stasiun tugu
sebelum jam 2 pagi.
Sesampainya di stasiun tugu, banyak hal yang harus
disiapkan, mengumpulkan satu demi satu kontingen dari universitas lain,
sebagian masih menunggu di dalam stasiun. Bus rombongan dari Semarang tiba.
Singkatnya, kami sudah siap. Rombongan dari dalam stasiun mulai keluar satu
persatu. Menggunakan jas almamaternya yang terlihat gagah. Berbagai warna aku
saksikan, 28 perguruan tinggi negri dari seluruh Indonesia. Subhanallah,
kegiatan yang aku impikan dari tahun pertama bergabung di KSE ini benar-benar
aku ikuti.
Kami dikumpulkan, diberikan beberapa instruksi dan
dipersilahkan sholat dalam waktu 15 menit. Itulah batasan waktu yang pertama
kali kami rasakan. Semua bergegas. Usai sholat, kami menunggu beberapa lama.
Matahari mulai terbit. Perjalanan menuju Akademi Militer Magelang dimulai. Kami
menaiki truk-truk TNI. Luar biasa sekali, tidak ada yang menghalangi laju kami.
Bagaikan tamu Negara terhormat, kendaraan-kendaraan lain membuka,
mempersilahkan jalan kami.
Masih tidak menyangka, kami
adalah putra putri terpilih dari 28 perguruan tinggi negri se-Indonesia. Kami
akan dilatih oleh para jendral dan perwira terbaik negri ini. Merasakan
atmosfer sekolah para jendral TNI Angkatan Darat: Akademi Militer. Lamunanku tersentak. Kami
sampai di pintu gerbang AKMIL. Kami diturunkan dari truk. Kami dilatih mengenai
baris berbaris selama kurang lebih 1 jam. Kata para pelatih, kami akan memasuki
gerbang Kesatrian. Gerbang yang tidak setiap hari dibuka. Gerbang dimana yang
dapat melewatinya hanyalah calon perwira, perwira, hingga presiden dan para
staffnya. Hari itu, kami diberikan kehormatan melewati gerbang tersebut untuk
menginjakkan kaki pertama kali di AKMIL. Di kemudian hari, kami diberitahukan
alasan mengapa kami diberikan kehormatan ini.
Latihan cukup. Kami berbaris rapi, dibagi dalam
beberapa pleton. Tegap langkah kami, seirama dengan musik dan drum yang
diputarkan. Kami, masih dengan almamater kami masing-masing, berbagai warna
yang melangkah bersama. Di kanan dan kiri kami, berjajar para pelatih dengan
sragam TNI AD seperti membuat pagar betis, bertepuk seirama pula dengan musik,
sambil mengucapkan “selamat datang…
selamat datang.. UGM, ITB, ITS …” dan lain-lain. Terharu kami mendengarnya,
beliau-beliau adalah para Jendral dan Perwira yang menyambut kami.
Camp di AKMIL terbagi dalam 2 sesi. 5 hari pertama
adalah hari-hari kami di dalam lingkungan AKMIL. 5 hari selanjutnya adalah
kegiatan kami di hutan Menoreh. 5 hari pertama berjalan sangaat lambat. Namun,
di sesi inilah kami belajar banyak hal. Masih segar dalam ingatan, pelatih
mengajarkan kami kedisiplinan pribadi, dengan tongkat khasnya. Beliau
mengajarkan cara menaruh handuk, menata isi lemari, juga menata kasur sampai
detail hingga posisi bantal tegak lurus dan garis terkecil sekalipun. Di tempat
itu pula, pelatih Mustofa (entah di hari keberapa) mengajarkan lagu-lagu
penyemangat (Semerah Darah, Di Bawah Lembah Tidar, Derap Langkah, dll).
Di sana, kedisiplinan benar-benar ditanamkan pada
kami. Disiplin waktu, disiplin pakaian, disiplin baris berbaris, disiplin
bersikap. Semua serba tertata, semua serba rapi. Hanya saja, karena tidak semua
dari kami memiliki background kedisiplinan, kami sedikit lambat menyerapnya.
Sering hukuman melayang pada kami. Push up, squat jump, jalan jongkok, sikap
plang, berguling di tanah dan lain-lain. Kami tidak lantas menyumpah serapah
atas hal yang kami dapatkan, semata-mata kami sadar, semua untuk mendisiplinkan
kami. (yaa sedikit banyak paha dan betis
kami berwarna biru-biru itu biasa, haha).
Setiap pergerakan kami harus berlari, bernyanyi sekuat-kuatnya, dan
menjaga barisan agar tetap rapi. Salah-salah, kami bisa saja dihukum jalan
jongkok dari tempat materi hingga mesh kami yang berjarak lebih dari 100 meter.
Setiap waktu makan adalah masalah bagi kami (haha). Waktu makan dan snack adalah
“trauma”. Yang benar saja, pertama kali kami makan di ruang makan, kami harus
mengangkat kursi sebagai hukuman karena kami terlalu berisik dan lambat saat
makan. Kami harus menghabiskan seluruh makanan yang terhidang. Oke, sebelumnya,
mari kita bahas adab saat makan. 1) Memasuki ruang harus hormat pada ruangan 2)
bergerak cepat dan duduk tanpa bersuara 3) tempat duduk harus lurus dari ujung
ke ujung 4) posisi lambang pada piring harus lurus dengan posisi kita 5)
laporan sebelum dan sesudah melaksanakan makan 6) makan secepatnya tanpa suara
7) menghabiskan seluruh makanan yang terhidang 8) makan dengan badan tegap,
tidak bersandar di kursi, dan sendok yang mendekati mulut (bukan sebaliknya) 9)
usai makan, tulang-tulang dan plastik kerupuk di piring diposisikan mendekati
posisi kita, ditumpuk dengan sendok dan garpu yang tidak disilangkan dan
menunjuk ke arah jarum jam 11. Pernah suatu ketika kami tidak dapat
menghabiskan makanan dengan waktu yang ditentukan, kami harus masuk ke kolong
meja, kami harus merenungkan kesalahan kami di sana. Pernah pula, beberapa
orang harus merayap diantara meja di ruang makan karena hal yang sama. Sampai sekarang, hal-hal ini menyenangkan
untuk dikenang namun tidak untuk diulang, haha.
Banyak ilmu yang dipaparkan melalui materi demi
materi. Mengenai masadepan Indonesia dilihat dari segi industri, cinta Tanah Air, hingga Bela Negara. Pernah
suatu materi di sesi malam. Mata ini berat untuk membuka. Sayup-sayup ketika
membuka mata, sedikit memahami apa yg dibicarakan. Karna ingin memecah mitos
bahwa anak UGM itu pendiam, iseng mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan.
Siapa yang tau, ternyata pembicaraan ke kanan, aku menanggapi ke kiri. Hahaha,
malu sih iya, masa bodo ah.
Ada satu sesi materi unik. Materi yang disampaikan di
luar ruangan. Yaitu materi untuk survival life. Kami dikumpulkan di lapangan
tembak. Materi mengenai cara mendirikan tenda darurat, cara memilih daun untuk
dimakan, cara makan belalang, menangkap burung dan ayam hutan dengan alat
seadanya, hingga cara menangkap dan mengolah ular. Bukan main, ular yang
digunakan adalah ular kobra dan piton. Para pelatih mahir memperagakan.
Beberapa dari kami juga diminta untuk mencoba. Kuncinya, pemegang tidak boleh
merasa takut, karena pembuluh darah kita akan terasa oleh si ular. Ada seorang
peserta yang mencoba menangkap, namun si ular melilit tangannya, mungkin
peserta tsb sedikit merasa takut, beberapa pelatih lain sedang sibuk dengan
ular lainnya. Beruntung officer Ikhsan melihat, diputarlah ekor ular di telapak
tangannya, kemudian lilitan ular mulai mengendur. Kami juga diajari cara
membuat api. Seperti apa serunya? Cobalah ikuti camp ini nanti
Hari terus berjalan. Setiap hari bangun pukul 4,
sholat, senam, kegiatan, hingga pukul 1-2 pagi istirahat lagi. Sudah menjadi
hal biasa di sana. Bahkan untuk persiapan perform acara malam keakraban dengan
Taruna, kami mempersiapkannya hingga jam 3 pagi. Jam 4 kami sudah memulai hari
baru lagi. Dan aneh, kami merasa biasa saja, tidak terasa lelah sekalipun. Di
kemudian hari, aku membaca sebuah jurnal, ternyata kecukupan karbohidrat dan
energi mampu mencegah rasa lelah (muscle
fatigue). Haha, bagaimana tidak,
sekali makan bisa 3-4 centong nasi.
Satu malam sebelum acara puncak. Kami mendapatkan
kesempatan berdiskusi dengan taruna. Orang-orang terpilih dari seluruh
Indonesia yang benar-benar sudah tidak diragukan lagi kemampuan otak dan
fisiknya. Kami berdiskusi mengenai Proxy
War ditinjau dari berbagai bidang ilmu. Kesehatan, ekonomi, teknologi, dan
humaniora dari segi kami warga sipil (mahasiswa) dan dari segi para taruna
sebagai pembela Negara. Tidak menyangka pula, ternyata salah satu partner
diskusi meja kami adalah kepala senat, semacam ketua osis AKMIL dari TNI AD.
Pantas saja beliau menggunakan atribut2 yang lumayan mencolok sebagai taruna
nomor 1.
Hari puncak di camp pertama (sebelum ke hutan).
Penampilan kolabrasi dari kami para mahasiswa dan para taruna, sungguh
luarbiasa. Kami terdiri dari berbagai daerah di Nusantara, bagitu pula para
taruna. Penampilan elok nan megah, disaksikan para pelatih dan petinggi. Aku
pribadi tidak ikut andil dalam penampilan. Aku menyaksikan teman-teman show
dari meja bundar bersama para taruna berseragam lain. Sebagai gambaran, setting
tempat kami seperti dalam Indonesia Lawak Club, hanya saja memanjang di 3 sisi
dan di tengah adalah area penampilan. Senang rasanya bisa berkenalan lagi
dengan taruna. Ada mas Box yang entah siapa nama aslinya. Beliau kocak, semacam
player, dan sering mengerjai adik tingkatnya. Di akhir sesi, semua dari kami
yang hadir melakukan dansa ala Indonesia. Berdansa dengan iringan lagu maumere. Asyik sekali. Putar ke kirine hey noona manis putarlah ke
kiri ke kiri ke kiri dan ke kiri ke kiri manisee. Sebuah momen, yang tidak
akan lepas dari ingatan.
Malam puncak berakhir, selanjutnya kami harus
mempersiapkan diri menghabiskan waktu di Plempungan.
Tempat dimana para taruna juga biasa berlatih di sana. Pagi seperti biasa,
senam dan sarapan. Selesai mengemasi barang, kami langsung dijemput oleh truk
anti lampu merah (truk TNI) menuju lokasi. Hari pertama, menterjemahkan peta
dan navigasi siang hari. Tidak seperti peta biasa, karna ini lebih ribet
(menurutku), kita harus mengetahui lintang2 derajat2. Akses air bersih mulai
susah. Bahkan terpaksa wudhu di sebuah sungai kecil. Makan pun, kami makan
menggunakan plato aluminium. Sudah seperti plato pengungsian di film2 perang.
Sore hari, kami belum sempat melakukan sholat maghrib.
Namun tidak ada kesempatan untuk kembali mengambil mukena dan sholat. Akhirnya
atas inisiatif bang Prima, ketua pleton(kelompok), kami sholat di lapangan saat
itu juga. Wudhu dengan rumput yang basah dengan sisa air hujan sebelumnya. Para
perempuan pun mengikuti, seluruh aurat kami sudah tertutup dengan pakaian yang
kami kenakan (walaupun kami pakai celana), tapi bismillah, kami ingin
melaksanakan kewajuban. Kami sholat beralaskan rumput hijau. Sederhana, namun
indah sekali saat kami bersujud.
Acara dilanjutkan dengan navigasi malam. Sangat sulit
mencari rute di malam hari, terlebih di tempat yang sepertinya jarang terjamah
orang. Beberapa kali aku harus berdiri sendirian menjadi patok, hingga kami semua
mendapat arah yang pasti. Beberapa kali hembusan angin nakal, bahkan bayangan2
aneh sempat datang. Namun, mau tidak mau harus berani. Adrenalin bekerja.
Akhirnya, kami mendapatkan titik berkumpul.
Malam beranjak pagi, siang mendominasi hari, hingga
sore menyergap. Kami melakukan penjelajahan hutan, memanjat tebing, menyebrang
sungai dengan 2 tali, terjun flaying fox, juga melempar pisau dengan sasaran.
Semua kami lalui dengan senang hati. Sampailah kami pada hari dimana kami
melakukan survival life. Banyak hal yang menyenangkan, tapi akan lebih
menyenangkan jika kamu merasakannya langsung ;) . Oh ya, kami sempat dihukum
karena ketidakdisiplinan kami, bergulung-gulung di lapangan Plempungan hingga
beberapa dari kami muntah karena kami harus bergulung di lapangan luaas, hampir
50 meter, dan harus berbalik lagi.
Sekembalinya kami dari hutan, hanya ada jeda waktu 30
menit untuk bersiap-siap melakukan GPS di alun-alun Magelang. Dengan waktu
sekian menit, dan jumlah kamar mandi terbatas, mana sempat kami mandi. Cukup
mencuci muka, berganti baju, dan bedak bayi menjadi andalan agar tubuh kami
tidak berbau. Amazing, kami tetap
terlihat gagah, tampan dan cantik walaupun tidak mandi. Haha, karena kami
berpakaian rapi, dengan bawahan jeans, bersepatu cats, ikat pinggang, dan topi
Bela Negara. Singkatnya kami melakukan GPS di alun-alun, dengan atmosfer yang
terasa asing walaupun disana adalah tanah kelahiranku.
Malam harinya, benar-benar malam puncak di sesi kedua.
Merupakan malam renungan. Dengan api unggun besar di tengah-tengah kami. Salah
saru perwakilan kelompok diminta maju dan memegang lilin. Jarak kami sekitar 3
meter dari pemegang lilin. Dan kami diperintahkan untuk meniup lilin dari
tempat kami berdiri. Susah, sangat susah kami rasa. Namun akhirnya kami dapat
melakukannya dengan segenap usaha kami bersama. Selanjutnya, kami diberikan
refleksi demi refleksi dari para pelatih selama kami berproses 10 hari di
tempat itu. Juga tanggungjawab kami untuk meneruskan cita-cita mereka untuk
bangsa ini. Semua ilmu kami, semua bidang yang kami geluti, kami harus dapat
memajukan Indonesia. Kami, setiap individu, yang berdiri di lapangan rumput
itu. Tangisku mulai pecah, tatkala lagu Tanah Air dan Ibu Pertiwi didendangkan.
Aku merasakan kesadaran sedalam-dalamnya. Untuk berbakti pada bangsa ini, pada
ibu pertiwi, Negara dimana saat ini tanahnya ku pijak. Kami bergiliran mencium
bendera pusaka. Bukan, bukan untuk menuhankan bendera. Namun, bendera adalah
sebagai bentuk dari Tanah Air Indonesia. Bulir demi bulir halus mengalir di
pipiku. Indonesia, rakyat, dan alamnya menanti pengabdianmu..
Hari demi hari telah kami lalui. Saatnya pelepasan
tanda peserta. Kami bersuka cita, dengan tetap menghormati dan berterimakasih
pada para pelatih. Beberapa dari kami berfoto ria. Kami juga mengambil gambar
di salah satu sudut lapangan luas dengan tulisan “Negara dan Bangsa Menunggu
Dharma Baktimu”. Indaaah sekali. Seperti merasakan sebuah kepuasan tersendiri.
Dengan sebuah pemahaman baru di pundak. Mengabdikan apa yang kami tekuni dan
kami pelajari untuk bangsa ini.
Tak lama, kami
diperintahkan kembali untuk berkumpul. Dengan baju putih sragam selama
pelatihan, dan penampilan rapi, lengkap dengan topi Bela Negara. Kami dilepas
dari tempat ini. Seperti tatkala pertama kali kami menginjakkan kaki, kini kami
akan keluar melalui Gerbang Kesatrian. Berbeda dengan kami yang lalu, dengan
berbagai warna almamater kami, saat ini kami dengan satu warna, putih. Dengan
tegap kami melangkah, bersama tepuk dari para pelatih dan iringan lagu, kami
menyelesaikan pelatihan ini.
Gerimis menghantarkan kami, bersama truk-truk TNI AD,
kembali ke dunia dan rutinitas nyata …
![]() |
| Lupa karena apa, kami semua dihukum push up |
![]() |
| hari pertama makan di AKMIL, semua acak2an |
![]() |
| Pleton 1A, suka duka kita bersamaa |
![]() |
| Survival life, bakar ular, ubi, dan jagung untuk dimakan |
![]() |
| latihan survival menangkap ular |
![]() |
| bahagianya diangkut truk AKMIL |
![]() |
| Pelatihan keseharian |
![]() |
| Gerakan Pungut Sampah pasca keluar dari hutan |
![]() |
| Latihan PBB |
![]() |
| Malam keakraban bersama taruna |










Tidak ada komentar:
Posting Komentar