Hai. Daripada jenuh ngerjain skripsi terus ditinggal tidur, mending kalo jenuh ditinggal nulis ajah (meski bukan nulis ttg skripsi tentunya wkwk). Tadi di perjalanan dari magelang ke jogja aku mendapat gagasan tentang sesuatu yang berhubungan dengan “tangguh” dan “mental”.
Tadi, sambil mengendarai
motor, pikiranku mengendara jauh ke ingatan beberapa tahun lalu. Ketika kendaraanku
satu-satunya masih sepeda onthel. Waktu itu aku sedang menunggu jalanan sepi untuk
menyebrang bersama sepeda ku. Saat itu memang lagi ga bawa cukup uang dan
belum dikirim sama ibuk di rumah. Tiba-tiba dari belakang ada seorang ibu
setengah baya bilang dari belakang “mbak mbak, minta uang mbak, saya mau pulang
ke jokteng udah ngga punya ongkos” waktu itu posisiku di jakal (sebrang gelanggang).
Dan akhirnya aku menolak dengan halus.
Kasus kedua adalah
ketika aku mau beli makan di warung. Ceritanya ada keluarga yang kesulitan
financial (waktu itu sang istri lg mau beli makan juga –anggap namanya bu A). Dan
si pemilik warung (bu X) menawarkan untuk menggarap sawahnya. Lalu apa yang bu A
katakan pada bu X ? “ah mboten bu, kesel
awake nek matun sawah” (ah tidak mau bu, capek kalo harus
menggarap sawah). – dalam batinku, yaampuun, dia butuh tapi dia tak mau
berusaha lebih keras .
Untuk kasus pertama,
aku beberapa kali berada dalam posisi si ibu. Tak ada kendaraan, tak ada uang, tak
ada teman yang dapat dimintai pertolongan, akhirnya aku berjalan kaki. Paling lama
pernah hingga 1 jam lebih aku berjalan kaki (entah berapa jaraknya). Adek juga
pernah, ketika itu dia tak bisa menghubungi ku, tak ada lagi uang, dan akhirnya
dia berjalan kaki dari Bantul hingga kosnya. Dia tak pernah mengeluh, aku
mengetahui hal ini pun hasil dari memaksa2 agar dia buka suara. Entah apa yang
terjadi pada ibu di kasus pertama, aku tak boleh men-judge begitu saja, mungkin
ada faktor X lain, tapi menurutku, selagi tidak sangat sangaaaat terjepit
sekali, akan lebih baik jika tidak memposisikan tangan di bawah. Hidup itu
perjuangan :)
Kembali lagi, hidup
itu perjuangan. Pada kasus kedua, ada kata-kata bagus di IG adekku –no pain no gain- harus ada sesuatu yang
dikorbankan untuk sesuatu yang menyenangkan. Kalo ngga mau capek, ngga akan ada
tambahan pemasukan pak/bu. Lagi-lagi aku ngga mau nge-judge, aku hanya
berkomentar sebatas apa yang aku llihat, maaf kalo ada sesuatu yang terlewat
atau faktor X lain yang tidak aku tahu.
Tapi sekali lagi, no pain no gain. Para pengusaha yang
sukses, para insinyur yang rumahnya magrong-magrong
(mewah), atau yang punya mobil-mobil mewah itu (kecuali itu warisan atau
korupsi), mereka telah menderita pain (ke-sakit-an)
yang besar, hingga mereka bisa mendapatkan itu semua. Ada yang harus bekerja
lembur hingga larut bahkan pagi. Ada yang harus jatuh-bangun dalam usahanya. Ada
yang harus bangun kala banyak orang masih terlelap. Banyak sekali pain yang harus mereka bayar hingga
mereka seperti sekarang.
>>>Gini deh,
jangan harap punya hidup enak kalo loe ga mau perih (kecuali tadi, loe anak
orang kaya ato koruptor).
Haha ngalor ngidul ya
tulisannya, udah jarang baca buku hehe. insyaAllah kedepan diperbaiki lagi.
Semoga kali ini ada sesuatu yang kamu dapatkan dari tulisan ini sob :)

