Minggu, 23 April 2017

Revolusi Mental (dong)


Hai. Daripada jenuh ngerjain skripsi terus ditinggal tidur, mending kalo jenuh ditinggal nulis ajah (meski bukan nulis ttg skripsi tentunya wkwk). Tadi di perjalanan dari magelang ke jogja aku mendapat gagasan tentang sesuatu yang berhubungan dengan “tangguh” dan “mental”.

Tadi, sambil mengendarai motor, pikiranku mengendara jauh ke ingatan beberapa tahun lalu. Ketika kendaraanku satu-satunya masih sepeda onthel. Waktu itu aku sedang menunggu jalanan sepi untuk menyebrang bersama sepeda ku. Saat itu memang lagi ga bawa cukup uang dan belum dikirim sama ibuk di rumah. Tiba-tiba dari belakang ada seorang ibu setengah baya bilang dari belakang “mbak mbak, minta uang mbak, saya mau pulang ke jokteng udah ngga punya ongkos” waktu itu posisiku di jakal (sebrang gelanggang). Dan akhirnya aku menolak dengan halus.

Kasus kedua adalah ketika aku mau beli makan di warung. Ceritanya ada keluarga yang kesulitan financial (waktu itu sang istri lg mau beli makan juga –anggap namanya bu A). Dan si pemilik warung (bu X) menawarkan untuk menggarap sawahnya. Lalu apa yang bu A katakan pada bu X ? “ah mboten bu, kesel awake nek matun sawah” (ah tidak mau bu, capek kalo harus menggarap sawah). – dalam batinku, yaampuun, dia butuh tapi dia tak mau berusaha lebih keras .

Untuk kasus pertama, aku beberapa kali berada dalam posisi si ibu. Tak ada kendaraan, tak ada uang, tak ada teman yang dapat dimintai pertolongan, akhirnya aku berjalan kaki. Paling lama pernah hingga 1 jam lebih aku berjalan kaki (entah berapa jaraknya). Adek juga pernah, ketika itu dia tak bisa menghubungi ku, tak ada lagi uang, dan akhirnya dia berjalan kaki dari Bantul hingga kosnya. Dia tak pernah mengeluh, aku mengetahui hal ini pun hasil dari memaksa2 agar dia buka suara. Entah apa yang terjadi pada ibu di kasus pertama, aku tak boleh men-judge begitu saja, mungkin ada faktor X lain, tapi menurutku, selagi tidak sangat sangaaaat terjepit sekali, akan lebih baik jika tidak memposisikan tangan di bawah. Hidup itu perjuangan :)

Kembali lagi, hidup itu perjuangan. Pada kasus kedua, ada kata-kata bagus di IG adekku ­–no pain no gain- harus ada sesuatu yang dikorbankan untuk sesuatu yang menyenangkan. Kalo ngga mau capek, ngga akan ada tambahan pemasukan pak/bu. Lagi-lagi aku ngga mau nge-judge, aku hanya berkomentar sebatas apa yang aku llihat, maaf kalo ada sesuatu yang terlewat atau faktor X lain yang tidak aku tahu.

Tapi sekali lagi, no pain no gain. Para pengusaha yang sukses, para insinyur yang rumahnya magrong-magrong (mewah), atau yang punya mobil-mobil mewah itu (kecuali itu warisan atau korupsi),  mereka telah menderita pain (ke-sakit-an) yang besar, hingga mereka bisa mendapatkan itu semua. Ada yang harus bekerja lembur hingga larut bahkan pagi. Ada yang harus jatuh-bangun dalam usahanya. Ada yang harus bangun kala banyak orang masih terlelap. Banyak sekali pain yang harus mereka bayar hingga mereka seperti sekarang.

>>>Gini deh, jangan harap punya hidup enak kalo loe ga mau perih (kecuali tadi, loe anak orang kaya ato koruptor). 

Haha ngalor ngidul ya tulisannya, udah jarang baca buku hehe. insyaAllah kedepan diperbaiki lagi. Semoga kali ini ada sesuatu yang kamu dapatkan dari tulisan ini sob :)

Selasa, 18 April 2017

Pengetahuan Umum: LEMAK


Biar blog ku isinya ngga sampah (curhatanku) semua, pengen deh sekali-kali posting yang bermanfaat. Secara, mau jadi Fildzah Ikramina, S. Gz insya Allah hahaha. Sembari cari mood buat nulis skripsi, nulis ini duluu

Kali ini aku pengen ngomongin tentang le
Source: http://www.medicalnewstoday.com
mak (kalo bahasa gizinya lipid). Satu kata yang ditakuti banyak cewek ya, yang bikin beberapa bagian tubuh bergelambir, wkwk. Lemak ini merupakan salah satu zat gizi makro (besar) disamping karbohidrat dan protein.

Jadi, lemak, karbo, protein, itu semua terkandung dalam makanan. Yang nantinya ketiganya akan dipecah menjadi energi. Nah lemak merupakan zat yang kalo 1 gram nya dipecah akan menghasilkan 9 kkal energi (paling besar diantara ketiganya). Energi ini nantinya akan digunakan untuk metabolisme basal (bernafas, peredaran darah, pencernaan, dll) dan juga untuk aktivitas (berjalan, mengetik, mencuci dll) -> semua butuh energi lho.

Lantas gimana ceritanya lemak bisa bikin anggota tubuh bergelambir? Gini, kita akan bahas yang namanya keseimbangan energi. Seimbang itu kan kalo energi masuk (makanan) sama dengan energi keluar (met. basal & aktivitas). Tubuh itu ibarat gudang ya sob, kalo keseimbangan energi nya positif (kelebihan energi) maka energi akan disimpan. Kalo keseimbangan negatif, maka simpanan-simpanan akan dipecah.

 Nah gelambir ini erat kaitannya sama energi yang disimpan. Kalo kita kelebihan energi, maka zat-zat gizi itu akan disimpan. Kelebihan lemak, akan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak juga di jaringan adipose. Kelebihan karbo, akan disimpan dalam bentuk glikogen, tapiii penyimpanan dalam bentuk glikogen ini sifatnya terbatas. Kalo karbo berlebih lagi, maka akan diubah dalam bentuk lemak oleh hati, dan disimpan ke jaringan2 adiposa. Karena simpanan lemak tidak terbatas. Catat baik2 yaa sob

Terus kalo kelebihan protein?? Pada dasarnya, protein digunakan untuk zat pembangun, untuk membentuk asam-asam amino, membentuk sel, otot juga. Tapiii protein juga digunakan sebagai energi (meski bukan fungsi utamanya). Nah kalo kelebihan protein (missal untuk zat pembangun & energi udah terpenuhi) maka protein akan mengalami deaminase, dan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak.

Tuh kan, jadi lemak, lemak, lemak semuaaa. Makanyaa, usahakan agar keseimbangan energinya pass. Atau kalo mau ngurangin gelambir-gelambir itu, usahakan keseimbangan energinya n-e-g-a-t-i-f. Dengan cara apa? Energi masuk diperkecil (porsi makanan dikurangi) ataau energi keluar diperbesar (olahragaa sob).

Okee, sedikit bertambah kan ilmunya?? Nantikan tulisan bermanfaat ku selanjutnya yaa. Aku mau bahas: ‘Hidup sehat tanpa lemak’ itu mitos atau fakta? -> aku kasih bocoran yaa, jawabannya mitos. Kok bisaa? Tunggu tulisanku selanjutnyaa ^^

Senin, 17 April 2017

Lelaki Sempurna


Haha, biarin lah, pasti pada mau bilang aku baper atau apa. Whatever. Aku cuman lagi pengen nulis aja. Skripsi, bentar ya, aku nulis ini dulu, wkwk. Kalo ada pembacanya, ya, “widiiih ada yang baca”. Kalo  engga yaa setidaknya memanfaatkan fasilitas “nyampah” di blogger. Hahaha
 
Jangan ada bapeeer, diantara kitaaa … nyanyi dulu (lagu rossa, jangan ada dusta)

Back to main topic. Lelaki sempurna. Pernah dulu, waktu masih seneng-senengnya ngikutin motivasi dari pak Mario Teguh, ada sebuah perumpamaan begini. Ada seorang wanita, dia masuk ke sebuah ruangan bertingkat-tingkat. Di setiap tingkatan ada laki-laki yang akan dipilihnya. Setiap naik dari tingkatan itu si wanita boleh memilih, tapi syaratnya kalo dia sudah naik, dia tidak boleh turun ke lantai sebelumnya.

Singkat cerita wanita itu masuk. Di lantai 1 ada laki-laki biasa saja. Di lantai 2 ada laki-laki penyayang. Lantai 3 ada penyayang dan bertanggung jawab. Di lantai 4 ada laki-laki penyayang, bertanggung jawab, dan mapan. Teruuus saja. Dia menyadari di setiap tingkatan jumlah laki-laki itu semakin sedikit. Namun dia terus naik sampai 1 lantai sebelum terakhir : laki penyayang, bertanggung jawab, mapan, sholeh, pinter agama,  memuliakan wanita, sayang dengan anak, setia, prospek masa depan cerah, dll. Di lantai ini dia ragu, tapi akhirnya dia melangkahkan kaki ke lantai selanjutnya. Di lantai itu dia mendapatkan tulisan “maaf semua laki-laki di tempat ini sudah habis”.  Daaan, apesnya dia tidak  bisa kembali ke lantai sebelumnya tadi. Akhirnya dia pulang dengan tangan hampa *tanpa gandeng pasangan, hihihi.

Yaa itu cuma perumpamaan aja sih. Sebagai wanita semakin kita mencari itu sosok lelaki sempurna, maka seumur hidup kita akan terus mencari *karna ga akan dapet. So do I. Yang penting ngga pacaran aja sih, soalnya bikin kita mandeg, stagnan,dan ujungnya harus janji-janji ga jelas “tahun depan aku mau nikahin kamu” preett, omong doang. Udah nglanggar aturan langit (dosa), tambah jauh dari Cinta-Nya, harus setia sama orang yang ga jelas apa bener bakal jadi pendamping hidup beneran apa engga. Ngga level sama yang begituan. Levelnya sama : kepastian, hahaha aku ra baper lhoo.

Semakin hari nemuin laki-laki yang sholeh, mapan, siap nikah, punya pemikiran berkembang, bisa berjuang bersama, dll. Semakin hari juga, orang-orang itu makin sempurna di mata ku. Tapi eeeitss, jangan ada baper di antara kita. Haha

Jodohmu adalah sebagaimana kualitas dirimu saat itu. “laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik” kalo ngga salah.

source: instagram @duniajilbaS
Dari pada mikirin baper sama orang kan mending memperbaiki kualitas diri. Masih banyaak banget cacat ku. Harus bisa >> Memperbaiki kualitas diri hingga mencapai kompetensi maksimal : kalo kata sertifikat BISMA.

Xixixi, tapi ya, kalo setelah lulus nanti ada yg tiba-tiba khitbah, terus bersama dia aku merasa bisa mencapai potensi maksimal plus bisa membuat surga serasa lebih dekat (cocok sm orangnya maksudnya), yauda. Di situlah mulai pake kaca mata kuda. Fokus pada dia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bersyukur sama semua yang dimilikinya, serta sama-sama memperbaiki diri. Hingga, bersama, kita menjadi luar biasa :) *ceileeee