Minggu, 25 September 2016

Belief yang Terluruskan



Sebentar ya, sebentar saja. Aku ingin sejenak berkaca dengan diriku. Menertawakan aku di masalalu. Haha, bukan tertawa dalam arti melecehkan, tertawa karna saat ini emosiku lebih matang. Jauh dari keadaanku dahulu. Apapun keadaannya, aku tetap bangga menjadi FILDA. Menjadi AKU yang AKU. Aku yang berproses dari waktu ke waktu.
Menelisik belief yang aku percayai tiga tahun belakangan. Belief yang baru saja aku terbangun darinya, setelah mendapatkan materi dari ILC 3 di Cibodas lalu. Sebelum ini, aku merasa sangat kecil, aku merasa sangat rendah di fakultasku. Aku semacam membangun banteng tinggi dari teman-temanku. Sengaja aku menghindar aktif di fakultas. Sengaja aku menyibukkan diri dengan hal-hal yang jauh dari bidang ilmu yang ku pelajari.
Karna aku minder. Karna aku benar-benar merasa tidak ada apa2 dari mereka. Aku lebih sering sendiri. Melakukan apapun sendiri. Tidak tertarik memiliki teman. Terlebih dengan gaya teman-teman fakultasku yang aku rasa so high class. Mengerjakan tugas kelompok pun sekenanya saja, sepentingnya saja.
Hingga tahun pertama dan kedua berlalu. Belum ada satupun kos dari teman-teman jurusanku yang aku tahu. Waktu semakin menelanku. Dan aku merasa semakin kerdil dan terpencil. Terutama setelah mengetahui indeks prestasiku berkepala dua. Aku tak boleh terus berada dalam zonaku. Bergerak aktif disana sini dan menjadikan kehidupan perkuliahan sebagai pekerjaan sampingan.
Barulah tahun ketiga aku mulai menaruh segenap perhatian. Pelan-pelan, aku menutup kegiatanku di luar fakultas. Konsentrasiku mulai penuh pada tugas demi tugas dan kolega yang harus ku bentuk dengan teman-teman jurusan. Aku memaksakan diri asik dengan mereka, walaupun sedikit merasa tertekan. Biarlah mereka menganggap aku pendiam.
To be honest, aku bukan seorang yang pendiam. Orang terdekatku mengatakan bahwa aku adalah orang extrovert yang menyerap banyak energy dari komunikasiku dengan orang lain. Dan, akhir-akhir ini baru ku sadari, perkataannya sepenuhnya benar. Aku merasa full power ketika memiliki banyak teman, bisa berbicara disana sini. Sebelumnya, semua hal itu aku dapatkan di luar fakultas.
Hingga tiba saatnya pelatihan demi pelatihan dari Indofood. Tahap demi tahap Indofood Leadership Camp (ILC) aku nikmati dan terus menerapkannya sejauh kemampuanku. Di camp September ini, kami diajarkan mengenai karir dan serba-serbinya. Termasuk komunikasi efektif. Aku belajar mengenai kuadran belief. Sebuah kuadran kepercayaan mengenai posisi kita dan orang lain dalam subjektif posisi kita. Kurang lebih seperti itu aku mendefinisikan pelatihan dari Ahmada Consulting waktu itu. Teman, ku coba perlihatkan padamu, seperti ini
Kuadran 1
I’m okay
You’re okay
Kuadran 2
I’m okay
You’re not okay
Kuadran 4
I’m not okay
You’re not okay
Kuadran 3
I’m not okay
You’re okay
Selama ini aku merasa berada di kuadran 3. Berkutat di kuadran 3 lama sekali, berputar-putar di sana, membentuk banteng tinggi dari perubahan.
Hari tepat setelah kepulanganku dari camp, aku menerapkannya. And I feel a great energy and passion. Tidak ada lagi aku merasa lebih rendah dari mereka. Indeks prestasiku semester ini pun jauh melewati ekspektasi. Untuk apa aku merasa rendah?
Aku mulai merasa mereka sama, kita sama. Semua setara. Dan aku mulai bisa menjadi diriku sendiri di tempat ini. Aku masih bagian dari Fakultas Kedokteran UGM. Walaupun bukan kedokteran jurusanku. Prinsip I’m okay You’re okay juga aku terapkan di perkuliahan inter-profesi antara calon ahli gizi, dokter, dan juga perawat. Walhasil, aku memiliki banyak teman baru satu malam tidur di barak bersama mereka.
          Subhanallah, Alhamdulillah, terimakasih Allah. Engkau beri aku kesempatan menjadi peserta ILC dari camp ke camp, dengan pelatih dan teman-teman yang luar biasa. Engkau beri aku kesempatan menerapkan semua ilmu yang benar-benar luar biasa. Aku bersyukur, dengan sepenuh syukur dari dasar hatiku. Bismillah, izinkan aku untuk terus menerapkannya, dan menebarkan kebaikan. Dimanapun dan kapanpun aku berada. Terimakasih Allah :)