Sebentar ya, sebentar saja. Aku
ingin sejenak berkaca dengan diriku. Menertawakan aku di masalalu. Haha, bukan
tertawa dalam arti melecehkan, tertawa karna saat ini emosiku lebih matang. Jauh
dari keadaanku dahulu. Apapun keadaannya, aku tetap bangga menjadi FILDA. Menjadi
AKU yang AKU. Aku yang berproses dari waktu ke waktu.
Menelisik belief yang aku percayai tiga tahun
belakangan. Belief yang baru saja aku
terbangun darinya, setelah mendapatkan materi dari ILC 3 di Cibodas lalu.
Sebelum ini, aku merasa sangat kecil, aku merasa sangat rendah di fakultasku. Aku
semacam membangun banteng tinggi dari teman-temanku. Sengaja aku menghindar
aktif di fakultas. Sengaja aku menyibukkan diri dengan hal-hal yang jauh dari
bidang ilmu yang ku pelajari.
Karna aku minder. Karna aku
benar-benar merasa tidak ada apa2 dari mereka. Aku lebih sering sendiri. Melakukan
apapun sendiri. Tidak tertarik memiliki teman. Terlebih dengan gaya teman-teman
fakultasku yang aku rasa so high class. Mengerjakan
tugas kelompok pun sekenanya saja, sepentingnya saja.
Hingga tahun pertama dan
kedua berlalu. Belum ada satupun kos dari teman-teman jurusanku yang aku tahu. Waktu
semakin menelanku. Dan aku merasa semakin kerdil dan terpencil. Terutama setelah
mengetahui indeks prestasiku berkepala dua. Aku tak boleh terus berada dalam
zonaku. Bergerak aktif disana sini dan menjadikan kehidupan perkuliahan sebagai
pekerjaan sampingan.
Barulah tahun ketiga aku
mulai menaruh segenap perhatian. Pelan-pelan, aku menutup kegiatanku di luar
fakultas. Konsentrasiku mulai penuh pada tugas demi tugas dan kolega yang harus
ku bentuk dengan teman-teman jurusan. Aku memaksakan diri asik dengan mereka,
walaupun sedikit merasa tertekan. Biarlah mereka menganggap aku pendiam.
To be honest,
aku bukan seorang yang pendiam. Orang terdekatku mengatakan bahwa aku adalah
orang extrovert yang menyerap banyak energy dari komunikasiku dengan orang
lain. Dan, akhir-akhir ini baru ku sadari, perkataannya sepenuhnya benar. Aku merasa
full power ketika memiliki banyak teman, bisa berbicara disana sini. Sebelumnya,
semua hal itu aku dapatkan di luar fakultas.
Hingga tiba saatnya pelatihan
demi pelatihan dari Indofood. Tahap demi tahap Indofood Leadership Camp (ILC) aku
nikmati dan terus menerapkannya sejauh kemampuanku. Di camp September ini, kami
diajarkan mengenai karir dan serba-serbinya. Termasuk komunikasi efektif. Aku
belajar mengenai kuadran belief. Sebuah
kuadran kepercayaan mengenai posisi kita dan orang lain dalam subjektif posisi
kita. Kurang lebih seperti itu aku mendefinisikan pelatihan dari Ahmada Consulting
waktu itu. Teman, ku coba perlihatkan padamu, seperti ini
|
Kuadran 1
I’m
okay
You’re
okay
|
Kuadran 2
I’m okay
You’re not okay
|
|
Kuadran 4
I’m
not okay
You’re
not okay
|
Kuadran 3
I’m not okay
You’re okay
|
Selama ini aku merasa berada di kuadran 3. Berkutat di
kuadran 3 lama sekali, berputar-putar di sana, membentuk banteng tinggi dari
perubahan.
Hari tepat setelah
kepulanganku dari camp, aku menerapkannya. And
I feel a great energy and passion. Tidak ada lagi aku merasa lebih rendah
dari mereka. Indeks prestasiku semester ini pun jauh melewati ekspektasi. Untuk
apa aku merasa rendah?
Aku mulai merasa mereka sama, kita sama. Semua setara.
Dan aku mulai bisa menjadi diriku sendiri di tempat ini. Aku masih bagian dari
Fakultas Kedokteran UGM. Walaupun bukan kedokteran jurusanku. Prinsip I’m okay
You’re okay juga aku terapkan di perkuliahan inter-profesi antara calon ahli
gizi, dokter, dan juga perawat. Walhasil, aku memiliki banyak teman baru satu
malam tidur di barak bersama mereka.
Subhanallah, Alhamdulillah, terimakasih Allah. Engkau
beri aku kesempatan menjadi peserta ILC dari camp ke camp, dengan pelatih dan
teman-teman yang luar biasa. Engkau beri aku kesempatan menerapkan semua ilmu
yang benar-benar luar biasa. Aku bersyukur, dengan sepenuh syukur dari dasar
hatiku. Bismillah, izinkan aku untuk terus menerapkannya, dan menebarkan
kebaikan. Dimanapun dan kapanpun aku berada. Terimakasih Allah :)