Kamis, 24 Maret 2016

Cerita yang Tertunda

Di jam ini, aku seharusnya merampungkan laporan gizi olahraga. Ah sebentar, suasana ini terlalu kondusif untuk menuangkan pikiran. Suasana yang sempurna. Komputer intel core, ruangan berAC, akses internet cepat. Sedang tidak bernafsu membuka dropbox untuk menyelesaikan tugas. Aku ingin mendongeng. Tentang cerita yang tertunda. Tentang Pelatihan Bela Negara di Akademi Militer Januari lalu. Tentang pengalamanku, tentang kenanganku bersama 200 sahabat dari penjuru negriku. Mungkin, tidak semua dapat ku tulis, mengingat waktuku tinggal 30 menit sebelum tagihan komputer ini naik 2 kali lipat, haha.

28 Januari. 8 Mobil khas militer menjemput kami di stasiun tugu. Setia menunggu kami dari dini hari. Aku tak tahu apa yang aku pikirkan, hanya tiga kata “ini telah dimulai”. Pelatihan yang menjadi buah bibir dari tahun ke tahun. Yang menjadikan kakak-kakak tingkat bermetamorfose menjadi kupu-kupu indah di mataku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Ada semacam rasa gugup. Yang jelas, “aku akan menjadi pribadi yang berbeda selepas kepulanganku dari pelatihan ini”.
Mobil terus melaju membelah jalanan. Terlihat kendaraan lain yang terasa lebih kecil di samping kanan kiri kami. “wow, kita udah kayak anak presiden” celetuk salah satu dari kami. Benar saja, kami terus melaju tanpa ada satu lampu merah pun yang menghambat laju kami. Beginilah iring-iringan eksklusif ala militer.

Sebelum memasuki area Akademi militer, kami di latih di suatu tempat mengenai cara berlatih dan berjalan mode langkah tegap. Usut punya usut, kami akan memasuki wilayah Akmil melalui gerbang utama. Gerbang Kesatrian. Gerbang dimana biasanya hanya Presiden, Jendral, dan orang-orang penting yang dapat melewatinya. Orang sipil seperti kami tidak diperkenankan, kecuali calon militer dan pada pelatihan ini. Kami berlatih, dan berusaha sebaik mungkin berjalan melewati gerbang tersebut. Nampak kanan dan kiri kami barisan tentara berpangkat entah apa berjajar, seperti membuat pagar betis, menyambut kedatangan kami. Aku terharu :”(

Kami dilatih kedisiplinan. Kami dilatih menghargai waktu. Kami disadarkan, mengenai siapa diri kami yang sebenarnya. Bahwa, kami adalah anak bangsa yang wajib menjalankan amanah negara. Sesuai tertera dalam undang-undang, pasal 27. Bahwa, setiap warga negara berhak dan wajib melaksanakan bela negara *kurang lebih seperti itu bunyinya. Bela negara yang harus kami lakukan bukan dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan bidang ilmu yang sekarang kami tekuni. Menjadi ahli di bidangnya, dan mengabdikan apa yang kami miliki pada bangsa. Bisa dibayangkan, kami berasal dari berbagai universitas di indonesia, dengan berbagai spesifikasi ilmu yang berbeda-beda. Salah satu pelatih mengatakan, kalian adalah aset berharga, yang harus diasah sedemikian rupa.

Uups, tinggal 4 menit lagi waktuku habis. Akan ku sambung lagi lain waktu. See u soon :*

Wasiat buat adek" ku

Halo dek, ketika aku menulis ini, aku sedang berada di semester 6 di perkuliahan Prodi Gizi Kesehatan. Aku menulis ini tiga hari sebelum kalian menghadapi ujian tengah semester. Dan, apa yang aku rasakan? aku semacam terharu, karena aku sampai pada titik ini. Titik dimana semua sejenak beristirahat.

Semester 6. Semester dimana perkuliahan hanya ada 4, blok asuhan gizi klinis, blok pelayanan gizi institusi, epidemiologi, dan matakuliah pilihan (gizi olahraga). Semua serasa melelahkan, semua serasa menjemukan. Dimana kalian bukan hanya duduk dan mendapatkan kuliah pakar, namun tutorial, praktikum lab, praktikum lapangan, dan segudang tugas yang akan menemani malam-malam kalian.

Setiap malam, kalian akan terjaga untuk membaca jurnal demi jurnal melengkapi laporan kalian. Atau, buku demi buku untuk disusun dalam laporan asuhan gizi. Atau kegalauan menentukan diagnosis gizi. Atau, memutar otak untuk membuat manajemen menu atau asuhan klinis pasien. Tak lupa, menguras seluruh tenaga dan waktu memahami jurnal untuk telaah kritis. Epidemiologi.

Epidemiologi. Tak jarang aku mendengar teman-teman hingga mengalami semacam "trauma". Ketika tombol power laptop terpencet, tanpa sadar tangan ini akan mengarahkan pada suatu folder bernama "epidemiologi". Sungguh berat tugas satu ini. Aku pribadi hampir meneteskan air mata ketika harus mengerjakannya dengan deadline yang menunjukan h-beberapa jam. Hari ini, tutorial terakhir, tutorial terberat yang harus ku jalani, terutama karena dosen pengampunya cukup "killer". Dan. Hari ini melewatinya.

Jalani dek. Jalani. Bahkan ketika kamu sudah tidak sanggup lagi. Ambil wudhu. Kerjakan semaksimal kemampuanmu. Kerjakan bahkan ketika tanganmu sudah tak tahu apa yang akan kamu tulis. Entah seperti apa kemampuanmu. Mungkin kemampuanmu lebih dariku. Untuk aku pribadi, aku membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami. Percaya, bahwa kamu bisa menyelesaikannya. Percaya, Tuhan tidak akan memberikan beban diluar kemampuan kita. Dan lihatlah, aku masih hidup sampai detik ini.

Setidaknya, bersyukurlah kalian telah melewati cobaan seberat laporan IBM dan AZG, atau biokimia, atau teknologi pangan. karena laporan-laporan itu akan membuat kalian lebih tangguh untuk melewati semester 6.

Sekarang, aku sedang berada di tengah semester. Bukan berarti sudah tidak ada lagi beban di semester ini (3 laporan gizi olahraga siap menunggu).  Hanya saja, di titik ini aku baru dapat berpikir jernih. Berpikir untuk bersyukur. Berpikir untuk memililiki kekuatan lebih dan lebih untuk menghadapi tangangan kedepan, yang seperti kata kakak-kakak kelas, badai akan semakin keras menerjang. Siapkan perbekalan, dan hadapi.

Selamat menikmati hari-harimu di gizi :)

Rabu, 23 Maret 2016

Karena siapa?


Karena siapa?

Jawabannya karena “kita”. Siang ini jogja diguyur hujan derass plus angin kencang. Mau tidak mau menerjang badai buat ngumpulin tugas yang deadlinenya tinggal h-sekian jam. Iseng, aku coba lewat tempat yang ngga biasanya ku lewatin. Maceeett. Ampun deh, hayati lelah. Ga kerasa air udah makin tinggi, sepatu mulai terendam walaupun udah naik di tempat pancatan kaki.

Huft, ini to banjir yang kayak di tivi tivi. Huhu, basah mulai merambat dari bawah. Makin ngga nyaman. Ternyata ada 1 mobil mogok. Sebagai akar dari kemacetan (maklum, motor tetap bisa merayap semacet apapun).

Oh God, jogja banjiir. Kalo udah begini yang salah siapa? Salahin pemerintah karena ngga ngasih fasilitas umum yang baik? Helloo, punya kaca ngga di rumah? Kita introspeksi diri dulu deh. Siapa yang buang sampah di sungai? Siapa yang ga mau bersihin gorong-gorong? Itu semua tanggung jawab kita gengs.

Udah jarang sekarang lihat bapak-bapak kerja bakti hari minggu pagi bersih-bersih gitu (kecuali di desa-desa mungkin masih). Tapi sepertinya jogjaku makin ngga njogjani. Beberapa nilai-nilai kemasyarakatan mulai luntur, entah faktor apa. Yang jelas, aku kangen rumah :( aku pengen segera jadi bagian dari masyarakat. 9 tahun merantau :’’

Senin, 21 Maret 2016

Aku berandai 15 tahun lagi


Aku berandai 15 tahun lagi

18.39 menaiki tangga sendirian sambil membawa belanjaan sayur segar di kanan dan bungkusan makan malam di kiri. Tak sabar ingin segera memasuki surge ku “kamar”. Seperti biasa, lantai atas sepi, tetangga kosku mudik ke kampungnya entah berapa lama. Jadilah aku seperti tinggal sendiri. Mencari kunci, membuka pintu, dan menyalakan   lampu . . .

Alangkah indahnya jika dalam keadaan seperti ini ada si kecil yang menyambutku. Berteriak “bundaaa..” sambil berlari menghamburku. Lantas beralih mengambil barang-barang belanjaanku. Tak sabar mencari-cari makanan yang aku bawa. Sepintas menanggapnya, sejurus menengadah, melihat “dia” melempar senyum dan mendekatiku. “Assalamualaikum bunda .. “. Suara lembutnya selalu membuatku tentram. “Waalaikumsalam ayah” jawabku dengan mengembangkan sepenuh senyum sambill mencium tangannya . . .

Haha mungkin gula darahku terlalu drop, jadi mulai mengandai-ngandai kesana kemari. Alangkah indahnya jika keadaan telah ku ubah atas izinNya. Bismillah, masih otw berusaha menjadi “orang”. Singkat, satu paragraf itu menggambarkan keinginanku. Tetap bisa berkarir tanpa mengesampingkan tugas utama sebagai seorang ibu. Tetap berkarya dalam pengabdian pada keluarga.

Satu paragraf. Aku berandai itu adalah secuplik dari kisahku nanti, amiin :). Ketika suatu saat aku sangat mendalami dan expert dalam suatu bidang tertentu, lalu diundang untuk mengisi seminar. Hingga maghrib aku sampai rumah dan la la la …

Bismillah, aku sedang berusaha mewujudkannya .. :)