Rabu, 12 Agustus 2015

Paksa Saja


Paksa saja

Saat liburan panjang penuhi harimu
Saat bangun pun badan tak mau
Dan kemudian sia-sia semua waktu
Hanya ada satu cara untukmu

Paksa
Paksa saja
Paksa terus

Kamu tak memerlukan apapun
Hanya sebuah belati tajam
Setajam sayatan kata dari mulut wanita
Untuk apa?
Untuk membunuh keMALASan
Yang terus menggelayuti di setiap sendi


*di sudut gelanggang, sambil nungguin temen2 laihan untuk demo

Selasa, 04 Agustus 2015

Naik Gunung: versi positif


Aku sudah berjanji untuk membagi cerita pendakian ini dalam dua versi, karna di samping penderitaan, ada hal-hal lain yang menyejukkan mata dan hati. Dari pada terlalu panjang, lebih baik aku uraikan dalam poin-poin

1.       tatap di depan, selesaikan di hadapan. Ini hikmah pertama yang aku ambil ketika mendaki. Semua terjal, melihat lintasan di atas hanya akan membuat pikiran loyo. Lebih baik hadapi yang ada di depan kaki, pijak jalan yang dapat dipijak. Seperti kehidupan bukan, daripada kita mengkhawatirkan masa depan –bagaimana nanti, sukses atau tidak-- lebih baik kita hadapi apa yang ada di depan mata hari ini, melakukan hal terbaik yang dapat kita lakukan.

2.       terbit bulan, merah, cerah dari ufuk timur. Salah satu pertimbangan aku mengikuti pendakian karena katanya tanggal itu bulan purnama. Lama kami mendaki, namun bulan tak juga muncul. Namun setelah jalanan ekstrim menuju pos 3, bulan muncul, terbit, indaah sekali. Merah merekah, di batas langit dan bumi. Menghibur kami, beribu syukur terucap. Indahnya bumi Allah.

3.       langit penuh bintang, mirip luar angkasa. Terlihat di pemberhentian kami, sabana satu. Mendongakkan kepala. Dan, vallaaa, bintang-bintang berlomba memancarkan sinar yang nampak kecil-kecil ditangkap mata. Sempurna. Tak ada sebatang pohon pun. Seperti berada di luar angkasa. Itu ketika memandang ke atas, memandang ke bawah, menemukan hamparan lampu-lampu kota solo nan elok, berpadu dengan gelapnya malam.

4.       terbit matahari ufuk timur, merah, ada fotografer. Setelah melalui malam yang rasanya amat panjang, memandang ke arah timur membuat hati bergetar dengan keindahan batas cakrawala. Sebentar lagi matahari terbit. “golden moment” kata mas zukhruf. Garis antara langit dan bumi terlihat jelas. Langit berpendar merah orange. Dan sekitar pukul 6, matahari mulai muncul, merah, malu-malu dari timur. Sungguh beruntung bersama fotografer di sini. Berbagai gaya dan gambar kami abadikan dalam kamera. Apa lagi yang lebih aku sukai dari foto-foto ^^ . puas berfoto dan membuat ucapan dengan kertas, kami menikmati hangatnya matahari sembari menyantap mie dan coklat hangat. Lebih hangat bersama sahabat. Gita kuu ({}).


5.       perjalanan pulang, mengenai perjuangan. Seharusnya ini masuk dalam versi kapok, tapi aku lebih ingn melihat dalam sudut positif. Berkali-kali aku terjatuh, karet alas sepatuku mulai tepos sehingga licin untuk berpijak. Seperti hidup, ada satu yang menjadi prinsipku: ketika jatuh, harus bangun lagi. Bukan kamu kalau menyerah dan tidak berpijak pada kakimu (merosot). Karena akan kasihan pada pendaki lain yang naik, sebab jalurnya rusak jika kita merosot.

6.       Tuhan menciptakan sempurna. Kembali pada niat, naik gunung untuk tadabur alam, bersyukur dan mengambil hikmah pada semua ciptaanNya. Perjalanan pulang lebih dan lebih mengerikan, untukku, hampir semua jalan licin. Tapi Allah sudah menciptakannya sedemikian rupa. Allah menciptakan akar dan pohon edelwais yang sangat kuat. Bahkan untuk menopang tubuhku dan menjadi pegangan ketika aku akan terjatuh.

7.       Kami perempuan, memang tidak sekuat laki-laki, namun kami tidak lemah. Let me finish it. Pada akhir perjalanan turun, aku benar-benar telah kehabisan tenaga. Tidak fokus sedikit saja pasti jatuh. Berkali-kali mendapat bantuan untuk meringankan beban. Tidak, selalu terngiang dalam benakku: kami perempuan, memang tidak sekuat laki-laki, namun kami tidak lemah. Izinkan aku menyelesaikan pendakinku walaupun terhuyung-huyung. Walaupun sudah seperti nenek-nenek yang dijaga dua cucuknya, akhirnya berhasil jugaa.

8.       pemandangan indah, tanaman hijau, hutan pinus, edelwais, bunga2 ungu&putih kecil. Tak dapat dipungkiri, itulah tadabur alam. Ciptaan-ciptaan Allah yang elok sempurna memanjakan mata. Hampir semua tanaman di sana, jarang ku temukan di bawah. Bersyukur atas nikmat alam yang indah. Indonesiaku yang indah ^^.

Begitulah hal-hal yang menyenangkan di gunung, tapi kalau diajak naik gunung lagi . . tidak terimakasih. Haha, cukup dengan ini aku merasa sangat bersyukur dilahirkan di bumi Indonesia. Sekarang, saatnya kembali ke dunia nyata !!

Naik Gunung: versi kapok


Sehari lalu kami di gunung Merbabu. Menapakkan kaki pada terjal tanahnya, juga membiasakan paru-paru dengan suhu dinginnya. Aku memulainya dengan sesuatu yang sudah tidak baik, emosiku sedang labil saat itu. Baru ketika aku berpisah dengan teman-teman karena mereka menunaikan shalat ashar, aku menenangkan hatiku. Hati, ku mohon diamlah, tekanlah ego, dan lupakanlah emosimu. Sepintas  aku lebih baik.

Dan, semua pengalaman ini membuatku tak mau mendaki lagi:
- naik terjal, mlusut, jalanan licin—super duper ekstra 300% dari biasa
- ga pernah latian, jantung berdegub sangat kencang, bahkan rasanya hampir copot
- bersentuhan dg lawan jenis, dibantu karena aku hampir terpelanting. 
- badan lemes, menggigil, tangan mati rasa
- turun susah, licin, gagal fokus jatuh terus
- dapet ledekan terus: apapun tema nya

Ini, aku uraikan hal yang paling aku benci dan paling membekas. Saat-saat di tenda malam hari:

Sebelum tidur. “Mba fil ngga pake SB?” l “Engga”I “Terus pake apa?” I “aku bawa sarung sama jaket dua. dalam hati aku ngga bawa SB, ngga punya, pake caranya adek aja pake sarung,semoga gapapa. Oya, katanya aku dipinjemin SB, kok ngga ada yg ngingetin atau ngsih tau SB nya dimana ya. Udahlah paling nnti ada.

Bismillah, tapi unfortunately penyakit ngga bisa tidur dateng, mata ku pakasain terpejam, tapi pikiraku masih bermain di luar tenda sana atau memikirkan apapun banyak sekali. Ayolah lepaskan pikiranmu, tidur tiduur, percuma. Gigi ku mulai gemertak, menggigil. Tiba-tiba ingat pesan ibuk, perbanyak dzikir. Setidaknya aku lebih tenang, meski aku masih berpikir siapa yang batuk di sana, siapa yang bergerak dan tergesek benda plastik di sana.

22.30. kakiku dingin, jariku susah bergerak. Masya Allah, dingin. Sadar di sebelah Gita juga kedinginan dangan tangannya. Oh ya, aku punya balsem otot mungkin bisa panas. Jari tanganku mengambil balsam dalam-dalam dan mengoleskannya pada jari kaki. Sedikit lebih hangat, tapi masih dingin.
Entah pukul berapa. Ya Allah, dingin, dingin nya sakit, jari ku ikut menggigil, kata adek satu sleeping bag bisa buat berdua kalo cewek, tapi aku ngga tega sama mereka, mereka masih kedinginan walaupun udah pake sleeping bag.

Ingin sekali aku mengadukan apa yang aku rasakan pada seseorang di tenda sebelah, walaupun hanya pesan singkat. Tanganku meggapai-gapai handphone, tapi tidak, tak ada sinyal. Sudahlah, bukan waktunya mengeluh.

00.33. dingin makin menggigit. Kakiku seperti menginjak es. Sama sekali tak dapat menggerakkan jari kakiku. Ku paksakan duduk, mencoba berbagai posisi agar lebih nyaman. Gita juga bangun, tangannya masih kedinginan, “Git, jam berapa sekarang?” berharap subuh segera menjelang I  “Masih jam setengah satu zat”. Tidak, harus merem, semoga waktu segera bergulir. Kami segera memposisikan tidur kembali.

02.00.  Gita terbangun lebih dulu, dia sudah duduk. Jaket yang ku gunakan untuk selimut menjadi dingin bukan main, seperti basah oleh embun. Yang menutupi badan hingga kakiku ke bawah hanya selembar sarung, yang saat itu sudah menjadi dingin bukan main. Terpaksa menanggalkan jaket paling luar, bisa tambah dingin kalo terus dipake. “Allah, Allah, Allah” hanya itu yang menyertai setiap tarikan nafas.
Ada bulir hangat yang mengalir dari mataku. Allah, Allah, Allah, entah jam berapa sekarang.
03.00.  terbangun lagi karena daily alarm di handphone. Allah, masih jam 3. Gita tertidur dalam posisi duduk. Kasihan aku melihatnya, padahal dia sudah berbalut SB. Bangun untuk mematikan alarm. Lantas meringkuk, melipat kaki, mungkin akan lebih baik. Nafasku dalam, seperti bengek (asma), sudah lama bukan hanya gigi yang gemertak, tapi badan hingga kaki. Jadi ingat pelajaran SMA, menggigil adalah gerakan alamiah untuk meningkatkan suhu tubuh.
04.00 alarm ku berbunyi kembali. Ada suara-suara di luar, juga lampu senter yang terarah ke tenda kami. Ah pendaki lain, mungkin mereka bergegas ke puncak untuk mendapat sunrise. Sekuat tenaga aku melipat tubuhku, sabarlah sebentar lagi subuh.
Tak lama, teman-teman lain bangun, membangunkan satu sama lain untuk meneruskan perjalanan ke puncak. Alhamdulillah, setidaknya mungkin aku dapat meminjam salah satu SB mereka, kepalaku benar-benar pening, dingin. Urung aku mengikuti mereka ke puncak, lebih baik di sini.
Teman-teman bergegas sholat dan berangkat ke puncak. Masih meringkuk di tenda. Selepas sholat subuh bersama Gita, tak sengaja melihat langit merekah merah, sebentar lagi matahari terbit. Sayang melewatkannya.
Singkat cerita, kami puas menikmati fajar. Puas menikmati hangat matahari. Pukul setengah 8. Kembali ke tenda, membungkus diri dengan SB, entah milik siapa. Subhanallah, subhanallah, subhanallah. Benar-benar hangat, air mataku menetes lagi, hangat  ini indah, terimakasih Allah.
Teman-teman dari pucak sudah sampai di camp kami. Mereka membuat sarapan, dan ngobrol apapun, sekali duakali aku dapat menyahut pecakapan mereka. Tapi ada yang menyakiti hati, aduh di saat seperti ini, aku sudah tak dapat mengendalikan ego ku. Sudahlah, aku membenamkan tubuhku dalam-dalam di sleeping bad. Siapapun membangunkanku, mengajakku bergabung, tak mau, aku ingin di sini, dalam sleeping bad. Aku mau istrahat, kakiku terlalu pegal karena meringkuk semalam.
Itu hanya sepenggal, dari keseluruhan penderitaan naik gunung. Di peringkat kedua paling menyakitkan adalah ketika kamu mendaki dan kamu turun. It’s so hard. Berulang kali jatuh bedebam di tanah, dabu pun menjadi kawan. Lain kali tidak lagi, masih banyak cara lain untuk tadabur alam disamping mencederai diri dengan mendaki.

Ada yang Tertinggal di Merbabu


Hati
Repotnya punya hati
Rasa datang dan pergi
Ayolah, hati-hati dengan hati

Pendakian merbabu empat ribu sekian mdpl menggores sedikit cerita yang telah ditutup. Selalu berusaha menghindari terbitnya rasa lalu dari benak. Entah nafsu dalam diri atau syaitan yeng menarik untuk menikmati kenyamanan berbincang dengannya. Pos sabana satu, tak tahu sudah berapa tingginya, namun di balik bukit tempat mendirikan tenda, kami dapat memandang eloknya kelap kelip lampu kota solo, lampu jalan utama yang meliuk sempurna membentuk angka dua terbalik.

Sesuatu mendorongku untuk mengamati lebih dekat, ah aku tahu dia di sana, tak boleh, tak boleh kesana. Tapi tetap saja kaki ini mengikuti langkah seorang teman yang juga akan menikmati indahnya, bertiga dengan dia. Tak berapa lama, si teman kembali ke tenda, namun kakiku berat untuk meninggalkan tempat itu. Keindahan tempat itu menyihirku untuk masih berlama-lama berada  di sana. Namun bersama dia.

Ada gejolak hebat di dalam benakku, ayolah, berbalik dan pulanglah ke camp, berlama-lama berbincang dengannya hanya akan membuka rasa lalu atau plis, tunggulah sebentar, tak bisa ku pungkiri, aku merindukan berbincang dengannya. Membuatku mundur satu langkah, dan langkah lagi dalam waktu yang lama. Tak berani aku menatapnya, pandanganku jauh terlempar pada gunung lawu di sebrang sana atau lampu-lampu kota solo boyolali yang begitu menawan. Salah, aku membuka percakapan yang sedikit sensitif. Salah, pembicaraan itu harus beralih, atau segera diakhiri.

Pada kesempatan lain, dalam kelelahan kepayahan lintasan turun, dia banyak membantuku. Bukan hanya dia yang membantu, namun juga temanku lain. Sudah, bersikaplah professional, dia dan teman lain sama. Kendalikan emosi dan perasaanmu pil.

Oh Allah, berat sekali gejolak hati, andai dia bisa mendapat kesiapannya dalam satu atau dua tahun nanti, tentulah aku lebih memilihnya dari pada orang yang belum ku kenal. Belum ku temukan orang yang dapat menguasai naik turun emosiku selain dia. Allah, pertemukan kami nanti, atau pertemukanlah aku dengan seseorang yang memiliki kedewasaan sepertinya.

Wahai hati, tenanglah, cinta itu fitrah, namun harus dipilah dan dipilih, mana yang harus tumbuh dan mana yang harus ditutup. Ingat, cinta pada lawan jenis harus disimpan dan disemai untuk sang pendamping di masa depan yang masih misteri detik ini.

Secuplik dari Arsy Cinta


Oya, rada iri kan laki-laki dapet banyak bidadari? Terus kita gimana? Wahai saudariku, muslimah, ketahuilah bahwa BIDADARI ITU KAMU <3 <3 , bahkan wanita dunia lebih mulia dari bidadari surga karena amalannya selama di dunia. Kata pak juned (ustad) wanita dunia itu nanti jadi ratunya bidadari, hihi tp aku belum nemu hadis nya kalo itu. Ini aku kutip dari salah satu bab di buku Arasy Cinta, percakapan antara Rasulullah dengan Ummu Salamah (karena susah meringkasnya, aku re-write aja ya) :

“Ya Rasul, mana yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari bermata jeli?” Ummu Salamah belum berhenti bertanya.

Beliau menjawab, “wanita-wanita dunia lebih utama dari pada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tak terlihat”.

“Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”

Karena shalat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahgialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya …” jawab Nabi mengakhiri (HR. Ath Thabrani).


WARNING!!
Kenapa aku nulis ini? Alasan utamanya adalah buat memotivasi diriku sendiri dan mungkin jika ada pembaca blog ku yg muslimah. Untuk apa? Untuk terus meningkatkan kualitas ibadah kita. Aku sadar, ibadahku masih belum apa-apa dibanding muslimah-muslimah lain, tp setidaknya selagi Allah masih memberi kesempatan untuk menghirup udara hari ini, berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Terus meng-upgrade diri dengan ilmu. Muslimah, ketika kamu belajar, apa yang kamu pelajari bukan hanya untuk generasimu, tapi untuk dua generasi. Suatu saat, kamu akan menjadi madrasah dan pendidik pertama generasi selanjutnya, anak-anakmu. :)
~ Karna Engkau Begitu Berharga ~

Sumber:
Lubis, Arif Rahman. 2015. Arasy Cinta. Jakarta: Qultummedia.

Pertidaksamaan Gender dalam Islam


Iseng pengen re-memorize ceramahya ust felix barusan di laptop. Jadi ceritanya, Islam bukan hanya sekedar agama, tp ia adalah the way of life. Islam mengatur segalanya dengan sempurna. Dari mulai kita bangun di pagi hari, sampai kita tidur menutup hari, Islam sudah mengatur segalanya.

Tapi, pernah ngga, kita sebagai perempuan merasa tidak adil. Kenapa laki-laki tidak usah berhijab? Kenapa laki-laki mendapat pahala yang besar ketika shalat di masjid, berjihad, dan lain sebagainya sedangkan kita perempuan diperintahkan untuk beribadah di tempat yang terdalam di rumah kita. Laki-laki bebas mengeksplorasikan ini itu. Laki-laki pun akan mendapat bidadari-bidadari surga dengan amalan-amalan tertentu. Sedangkan kita? Apa ada bidadara-bidadara (bidadari cowok) untuk kita?

Tenang sob, Allah sudah mengaturnya dengan sempurna. Kaum feminis, juga kaum barat lantang menyerukan persamaan gender. Bahkan  salah satu point MDG’s yg ketujuh kalo ga salah, terdapat persamaan gender. Kalau laki-laki dan perempuan setara, ibaratnya laki-laki dan perempuan akan sama-sama bersaing dalam satu jalur. Tapi tidak dalam Islam. Laki-laki dan perempuan memiliki jalur masing masing menuju suksesnya (surga).

Sekarang begini,  laki-laki diperintahkan berjihad dan mencari nafkah sedangkan wanita diperintahkan di rumah untuk mendidik anak-anaknya serta mengurus rumah. Asal kamu tahu, laki-laki harus bersusah payah beribadah la la la untuk mendapat pahala menggapai surga, sedangkan perempuan ni, para muslimah asalkan dia beribadah taat kepada Allah, menjaga harga dirinya, lalu suaminya ridho kepadanya, maka dia bisa masuk surga dari pintu manapun. Subhanallah, kereeeenn yaa. Tapi sayangnya hanya sedikit wanita yang dapat melakukannya :(.

“Apabila seorang wanita telah mengerjkan sholat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, senjaga syahawatnya lalu menaati suaminya, maka akan dikatakan padanya ‘Masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki’” (HR. Ahmad dan Ibnu Habban)

Jadi, jelas kan. Laki-laki dan perempuan memiliki jalannya sendiri-sendiri. Sehingga keduanya bisa saling beriringan dan saling melengkapi :), bukan bersaing. Laki-laki, lelah berdakwah, berjihad, atau mencari nafkah, sampai di rumah di sambut sang istri. Udah lelah, sampai di rumah ngelihat rumah bersih, anak-anak terurus dengan baik serta cerdas-cerdas, dimasakin makanan yg enak lagi, pasti nyaman dan seneng.

Oya, tentang bidadari surga, baca di post ku berikutnya yaa ^_^

Sumber:
Ceramah Ust Felix Siauw di Yogyakarta

Ngomong-ngomong tentang rumah tangga, kapan-kapan aku certain kenapa aku pengen nikah muda. Karena setiap jengkalnya pahala. Nyuciin baju suami, nyediain makanan buat suami, ngurus anak-anak, de el el banyak pahalanya lho sob :D