Ini aku, yang sedang bertumbuh
menjadi diriku yang sebenarnya. Lelah memaksa diri untuk menjadi “dewasa” kata
orang. Menurutku, dewasa bukan hanya mengenai sikap kalem, diam, sok mengerti,
dan sok bisa. Dewasa adalah ketika kita bisa mengayomi mereka yang lebih muda,
hingga bijak dalam mengambil keputusan dan menghadapi kehidupan. Jadi dengan
sikap ku yang kekanak-kanakan bukan berarti aku tidak dewasa. Aku hanya sedang
ingin menjadi diriku, aku yang ceria, aku yang suka having fun, tentunya dalam
batas-batas yang telah ditentukan. Tolong
ya, jangan suka menjudge sesuatu dari luarnya #gayasewot ceritanya hahha.
Nah kan, daripada pusing mikirin
nikah ngga jadi-jadi, atau mereka-mereka yang bikin bingung, anggap aja temen
biasa, mending nikmatin aja hidup. Mensyukuri setiap jengkal nikmat yang
diberikanNya. Nikmat kemampuan, fikiran, materi, kehidupan, semuanya. Terutama
untuk berbagi, dan memberi arti :)
Ini cerita kemarin sore. Saat
uang di dompet hanya 20 ribu, saat dua bulan ngga kerja dan ngga punya tambahan
apapun. Kebetulan ini hari libur anak-anak sekolah. Keponakan dan
sepupu-sepupuku tumpah ruah di rumah keluarga besarku (baca: anak2 SD, TK, dan
belum sekolah). Orang-orang dewasa sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku
kepalang tanggung, paling besar dan paling tua diantara mereka . Ya, kadang bisa
dibilang aku yang momong (mengasuh)
mereka. Aku suka anak kecil, suka sekali, membuat mereka tertawa dan
memperhatikan mereka bermain adalah kebahagiaan tersendiri. Tak jarang, aku sering mengajak beberapa di
antara mereka ke taman kota atau kolam renang ketika libur kuliah seperti ini.
Kali ini giliran putra dari almarhum om ku dan sepupu dari gontor yang jarang
pulang yang beruntung aku ajak main.
Nampak, air muka kecewa pada yang
lain. Baiklah, aku berikan pengertian pada mereka. Aku jelaskan perlahan. Ah
andai aku bisa nyetir mobil, tak ada raut-raut muka itu. Yah mau bagaimana, aku
trauma menabrak pembatas sungai ketika belajar mobil dengan ayah, tak lagi
berani belajar.
Back to topic. Haha, dengan 1
motor bertunggang 2 orang dewasa dan 2 anak kecil, si timee (nama motorku)
melaju membelah jalan-jalan desa di Gerabag menuju air terjun Sekar Langit.
Sengaja memilih perjalanan ke sana menghindari bapak coklat (polisi) dan juga
prinsip cost effective di
SekarLangit. Masa bodo lah, yang penting pada seneng, haha.
Si timee mulai memasuki wilayah
parkir. “Horee..” sorak ria si kecil. Lari kesana kemari. Dari pintu gerbang ke
air terjun masih harus ditempuh dengan berjalan kaki. Nikmati saja, sambil
bercanda di sepanjang perjalanan, juga belajar menghitung setiap anak tangga
dengan berteriak keras-keras “saa tu, duuu a, tiii ga ..” . Tak pernah luput,
mengabadikan setiap momen dengan kamera.
Puncaknya, ketika air terjun di depan mata, berlipat bahagianya. Si kecil langsung copot baju (3 tahun). Baiklah, kita-kita kakak nya langsung pasang badan. Siap posisi di tiga penjuru. Kali-kali dia loncat kesana kemari, sambil sesekali bermain air.
Puncaknya, ketika air terjun di depan mata, berlipat bahagianya. Si kecil langsung copot baju (3 tahun). Baiklah, kita-kita kakak nya langsung pasang badan. Siap posisi di tiga penjuru. Kali-kali dia loncat kesana kemari, sambil sesekali bermain air.
Lelah bermain air, saatnya
istirahat di batu agak besar yang lumayan landai. Karna tabiat si kakak tertua
(baca: aku) suka selfie, yasudah kita berselfie ria. Hahhaha.
Adzan ashar berkumandang, saatnya
pulang …
~Salah satu bahagia adalah tertawa bersama mereka~
*tulisannya blm selesaii, kapan2 yaa, lg males nulis inih, heheh
*tulisannya blm selesaii, kapan2 yaa, lg males nulis inih, heheh
Magelang, 29 Juni 2015





