Selasa, 01 Desember 2015

Episode Ikramina

"Episode Ikramina"

Haloo, ini nama baru blog ku. Jadi "Galaksi Fillda Sakti" buat saat ini disimpen jadi kenanga dulu ya, xixi. Kenapa aku ganti? Satu-satunya alasan adalaah aku pengen ganti suasana aja. Aku mulai sadar kalo aku udah bukan remaja imut usia belasan lagi (d^.^b). Mulai sadar kalo udah harus lebih dewasa. Udah kepala dua, udah memasuki episode baru. Udah harus berpikir dengan cara dewasa *walopun ngga bisa dipungkiri kadang aku masih kekanak-kanakan hehe. Yang jelas, aku lagi berusaha dewasa sekarang. Berusaha capture semua hal dari kacamata positif. Belajar dari masnya :)

Aku yang sekarang, mulai sadar tentang pentingnya kehidupan akademik. Walaupun mulai ngurangin mainan organisasi, tp bukan berarti semuanya menguap gitu aja. Aku yang sekarang, harus mulai lebih peka sama sekitar. Berusaha jadi manusia yg lebih bermanfaat. Sip semangatt !!

Rabu, 12 Agustus 2015

Paksa Saja


Paksa saja

Saat liburan panjang penuhi harimu
Saat bangun pun badan tak mau
Dan kemudian sia-sia semua waktu
Hanya ada satu cara untukmu

Paksa
Paksa saja
Paksa terus

Kamu tak memerlukan apapun
Hanya sebuah belati tajam
Setajam sayatan kata dari mulut wanita
Untuk apa?
Untuk membunuh keMALASan
Yang terus menggelayuti di setiap sendi


*di sudut gelanggang, sambil nungguin temen2 laihan untuk demo

Selasa, 04 Agustus 2015

Naik Gunung: versi positif


Aku sudah berjanji untuk membagi cerita pendakian ini dalam dua versi, karna di samping penderitaan, ada hal-hal lain yang menyejukkan mata dan hati. Dari pada terlalu panjang, lebih baik aku uraikan dalam poin-poin

1.       tatap di depan, selesaikan di hadapan. Ini hikmah pertama yang aku ambil ketika mendaki. Semua terjal, melihat lintasan di atas hanya akan membuat pikiran loyo. Lebih baik hadapi yang ada di depan kaki, pijak jalan yang dapat dipijak. Seperti kehidupan bukan, daripada kita mengkhawatirkan masa depan –bagaimana nanti, sukses atau tidak-- lebih baik kita hadapi apa yang ada di depan mata hari ini, melakukan hal terbaik yang dapat kita lakukan.

2.       terbit bulan, merah, cerah dari ufuk timur. Salah satu pertimbangan aku mengikuti pendakian karena katanya tanggal itu bulan purnama. Lama kami mendaki, namun bulan tak juga muncul. Namun setelah jalanan ekstrim menuju pos 3, bulan muncul, terbit, indaah sekali. Merah merekah, di batas langit dan bumi. Menghibur kami, beribu syukur terucap. Indahnya bumi Allah.

3.       langit penuh bintang, mirip luar angkasa. Terlihat di pemberhentian kami, sabana satu. Mendongakkan kepala. Dan, vallaaa, bintang-bintang berlomba memancarkan sinar yang nampak kecil-kecil ditangkap mata. Sempurna. Tak ada sebatang pohon pun. Seperti berada di luar angkasa. Itu ketika memandang ke atas, memandang ke bawah, menemukan hamparan lampu-lampu kota solo nan elok, berpadu dengan gelapnya malam.

4.       terbit matahari ufuk timur, merah, ada fotografer. Setelah melalui malam yang rasanya amat panjang, memandang ke arah timur membuat hati bergetar dengan keindahan batas cakrawala. Sebentar lagi matahari terbit. “golden moment” kata mas zukhruf. Garis antara langit dan bumi terlihat jelas. Langit berpendar merah orange. Dan sekitar pukul 6, matahari mulai muncul, merah, malu-malu dari timur. Sungguh beruntung bersama fotografer di sini. Berbagai gaya dan gambar kami abadikan dalam kamera. Apa lagi yang lebih aku sukai dari foto-foto ^^ . puas berfoto dan membuat ucapan dengan kertas, kami menikmati hangatnya matahari sembari menyantap mie dan coklat hangat. Lebih hangat bersama sahabat. Gita kuu ({}).


5.       perjalanan pulang, mengenai perjuangan. Seharusnya ini masuk dalam versi kapok, tapi aku lebih ingn melihat dalam sudut positif. Berkali-kali aku terjatuh, karet alas sepatuku mulai tepos sehingga licin untuk berpijak. Seperti hidup, ada satu yang menjadi prinsipku: ketika jatuh, harus bangun lagi. Bukan kamu kalau menyerah dan tidak berpijak pada kakimu (merosot). Karena akan kasihan pada pendaki lain yang naik, sebab jalurnya rusak jika kita merosot.

6.       Tuhan menciptakan sempurna. Kembali pada niat, naik gunung untuk tadabur alam, bersyukur dan mengambil hikmah pada semua ciptaanNya. Perjalanan pulang lebih dan lebih mengerikan, untukku, hampir semua jalan licin. Tapi Allah sudah menciptakannya sedemikian rupa. Allah menciptakan akar dan pohon edelwais yang sangat kuat. Bahkan untuk menopang tubuhku dan menjadi pegangan ketika aku akan terjatuh.

7.       Kami perempuan, memang tidak sekuat laki-laki, namun kami tidak lemah. Let me finish it. Pada akhir perjalanan turun, aku benar-benar telah kehabisan tenaga. Tidak fokus sedikit saja pasti jatuh. Berkali-kali mendapat bantuan untuk meringankan beban. Tidak, selalu terngiang dalam benakku: kami perempuan, memang tidak sekuat laki-laki, namun kami tidak lemah. Izinkan aku menyelesaikan pendakinku walaupun terhuyung-huyung. Walaupun sudah seperti nenek-nenek yang dijaga dua cucuknya, akhirnya berhasil jugaa.

8.       pemandangan indah, tanaman hijau, hutan pinus, edelwais, bunga2 ungu&putih kecil. Tak dapat dipungkiri, itulah tadabur alam. Ciptaan-ciptaan Allah yang elok sempurna memanjakan mata. Hampir semua tanaman di sana, jarang ku temukan di bawah. Bersyukur atas nikmat alam yang indah. Indonesiaku yang indah ^^.

Begitulah hal-hal yang menyenangkan di gunung, tapi kalau diajak naik gunung lagi . . tidak terimakasih. Haha, cukup dengan ini aku merasa sangat bersyukur dilahirkan di bumi Indonesia. Sekarang, saatnya kembali ke dunia nyata !!

Naik Gunung: versi kapok


Sehari lalu kami di gunung Merbabu. Menapakkan kaki pada terjal tanahnya, juga membiasakan paru-paru dengan suhu dinginnya. Aku memulainya dengan sesuatu yang sudah tidak baik, emosiku sedang labil saat itu. Baru ketika aku berpisah dengan teman-teman karena mereka menunaikan shalat ashar, aku menenangkan hatiku. Hati, ku mohon diamlah, tekanlah ego, dan lupakanlah emosimu. Sepintas  aku lebih baik.

Dan, semua pengalaman ini membuatku tak mau mendaki lagi:
- naik terjal, mlusut, jalanan licin—super duper ekstra 300% dari biasa
- ga pernah latian, jantung berdegub sangat kencang, bahkan rasanya hampir copot
- bersentuhan dg lawan jenis, dibantu karena aku hampir terpelanting. 
- badan lemes, menggigil, tangan mati rasa
- turun susah, licin, gagal fokus jatuh terus
- dapet ledekan terus: apapun tema nya

Ini, aku uraikan hal yang paling aku benci dan paling membekas. Saat-saat di tenda malam hari:

Sebelum tidur. “Mba fil ngga pake SB?” l “Engga”I “Terus pake apa?” I “aku bawa sarung sama jaket dua. dalam hati aku ngga bawa SB, ngga punya, pake caranya adek aja pake sarung,semoga gapapa. Oya, katanya aku dipinjemin SB, kok ngga ada yg ngingetin atau ngsih tau SB nya dimana ya. Udahlah paling nnti ada.

Bismillah, tapi unfortunately penyakit ngga bisa tidur dateng, mata ku pakasain terpejam, tapi pikiraku masih bermain di luar tenda sana atau memikirkan apapun banyak sekali. Ayolah lepaskan pikiranmu, tidur tiduur, percuma. Gigi ku mulai gemertak, menggigil. Tiba-tiba ingat pesan ibuk, perbanyak dzikir. Setidaknya aku lebih tenang, meski aku masih berpikir siapa yang batuk di sana, siapa yang bergerak dan tergesek benda plastik di sana.

22.30. kakiku dingin, jariku susah bergerak. Masya Allah, dingin. Sadar di sebelah Gita juga kedinginan dangan tangannya. Oh ya, aku punya balsem otot mungkin bisa panas. Jari tanganku mengambil balsam dalam-dalam dan mengoleskannya pada jari kaki. Sedikit lebih hangat, tapi masih dingin.
Entah pukul berapa. Ya Allah, dingin, dingin nya sakit, jari ku ikut menggigil, kata adek satu sleeping bag bisa buat berdua kalo cewek, tapi aku ngga tega sama mereka, mereka masih kedinginan walaupun udah pake sleeping bag.

Ingin sekali aku mengadukan apa yang aku rasakan pada seseorang di tenda sebelah, walaupun hanya pesan singkat. Tanganku meggapai-gapai handphone, tapi tidak, tak ada sinyal. Sudahlah, bukan waktunya mengeluh.

00.33. dingin makin menggigit. Kakiku seperti menginjak es. Sama sekali tak dapat menggerakkan jari kakiku. Ku paksakan duduk, mencoba berbagai posisi agar lebih nyaman. Gita juga bangun, tangannya masih kedinginan, “Git, jam berapa sekarang?” berharap subuh segera menjelang I  “Masih jam setengah satu zat”. Tidak, harus merem, semoga waktu segera bergulir. Kami segera memposisikan tidur kembali.

02.00.  Gita terbangun lebih dulu, dia sudah duduk. Jaket yang ku gunakan untuk selimut menjadi dingin bukan main, seperti basah oleh embun. Yang menutupi badan hingga kakiku ke bawah hanya selembar sarung, yang saat itu sudah menjadi dingin bukan main. Terpaksa menanggalkan jaket paling luar, bisa tambah dingin kalo terus dipake. “Allah, Allah, Allah” hanya itu yang menyertai setiap tarikan nafas.
Ada bulir hangat yang mengalir dari mataku. Allah, Allah, Allah, entah jam berapa sekarang.
03.00.  terbangun lagi karena daily alarm di handphone. Allah, masih jam 3. Gita tertidur dalam posisi duduk. Kasihan aku melihatnya, padahal dia sudah berbalut SB. Bangun untuk mematikan alarm. Lantas meringkuk, melipat kaki, mungkin akan lebih baik. Nafasku dalam, seperti bengek (asma), sudah lama bukan hanya gigi yang gemertak, tapi badan hingga kaki. Jadi ingat pelajaran SMA, menggigil adalah gerakan alamiah untuk meningkatkan suhu tubuh.
04.00 alarm ku berbunyi kembali. Ada suara-suara di luar, juga lampu senter yang terarah ke tenda kami. Ah pendaki lain, mungkin mereka bergegas ke puncak untuk mendapat sunrise. Sekuat tenaga aku melipat tubuhku, sabarlah sebentar lagi subuh.
Tak lama, teman-teman lain bangun, membangunkan satu sama lain untuk meneruskan perjalanan ke puncak. Alhamdulillah, setidaknya mungkin aku dapat meminjam salah satu SB mereka, kepalaku benar-benar pening, dingin. Urung aku mengikuti mereka ke puncak, lebih baik di sini.
Teman-teman bergegas sholat dan berangkat ke puncak. Masih meringkuk di tenda. Selepas sholat subuh bersama Gita, tak sengaja melihat langit merekah merah, sebentar lagi matahari terbit. Sayang melewatkannya.
Singkat cerita, kami puas menikmati fajar. Puas menikmati hangat matahari. Pukul setengah 8. Kembali ke tenda, membungkus diri dengan SB, entah milik siapa. Subhanallah, subhanallah, subhanallah. Benar-benar hangat, air mataku menetes lagi, hangat  ini indah, terimakasih Allah.
Teman-teman dari pucak sudah sampai di camp kami. Mereka membuat sarapan, dan ngobrol apapun, sekali duakali aku dapat menyahut pecakapan mereka. Tapi ada yang menyakiti hati, aduh di saat seperti ini, aku sudah tak dapat mengendalikan ego ku. Sudahlah, aku membenamkan tubuhku dalam-dalam di sleeping bad. Siapapun membangunkanku, mengajakku bergabung, tak mau, aku ingin di sini, dalam sleeping bad. Aku mau istrahat, kakiku terlalu pegal karena meringkuk semalam.
Itu hanya sepenggal, dari keseluruhan penderitaan naik gunung. Di peringkat kedua paling menyakitkan adalah ketika kamu mendaki dan kamu turun. It’s so hard. Berulang kali jatuh bedebam di tanah, dabu pun menjadi kawan. Lain kali tidak lagi, masih banyak cara lain untuk tadabur alam disamping mencederai diri dengan mendaki.

Ada yang Tertinggal di Merbabu


Hati
Repotnya punya hati
Rasa datang dan pergi
Ayolah, hati-hati dengan hati

Pendakian merbabu empat ribu sekian mdpl menggores sedikit cerita yang telah ditutup. Selalu berusaha menghindari terbitnya rasa lalu dari benak. Entah nafsu dalam diri atau syaitan yeng menarik untuk menikmati kenyamanan berbincang dengannya. Pos sabana satu, tak tahu sudah berapa tingginya, namun di balik bukit tempat mendirikan tenda, kami dapat memandang eloknya kelap kelip lampu kota solo, lampu jalan utama yang meliuk sempurna membentuk angka dua terbalik.

Sesuatu mendorongku untuk mengamati lebih dekat, ah aku tahu dia di sana, tak boleh, tak boleh kesana. Tapi tetap saja kaki ini mengikuti langkah seorang teman yang juga akan menikmati indahnya, bertiga dengan dia. Tak berapa lama, si teman kembali ke tenda, namun kakiku berat untuk meninggalkan tempat itu. Keindahan tempat itu menyihirku untuk masih berlama-lama berada  di sana. Namun bersama dia.

Ada gejolak hebat di dalam benakku, ayolah, berbalik dan pulanglah ke camp, berlama-lama berbincang dengannya hanya akan membuka rasa lalu atau plis, tunggulah sebentar, tak bisa ku pungkiri, aku merindukan berbincang dengannya. Membuatku mundur satu langkah, dan langkah lagi dalam waktu yang lama. Tak berani aku menatapnya, pandanganku jauh terlempar pada gunung lawu di sebrang sana atau lampu-lampu kota solo boyolali yang begitu menawan. Salah, aku membuka percakapan yang sedikit sensitif. Salah, pembicaraan itu harus beralih, atau segera diakhiri.

Pada kesempatan lain, dalam kelelahan kepayahan lintasan turun, dia banyak membantuku. Bukan hanya dia yang membantu, namun juga temanku lain. Sudah, bersikaplah professional, dia dan teman lain sama. Kendalikan emosi dan perasaanmu pil.

Oh Allah, berat sekali gejolak hati, andai dia bisa mendapat kesiapannya dalam satu atau dua tahun nanti, tentulah aku lebih memilihnya dari pada orang yang belum ku kenal. Belum ku temukan orang yang dapat menguasai naik turun emosiku selain dia. Allah, pertemukan kami nanti, atau pertemukanlah aku dengan seseorang yang memiliki kedewasaan sepertinya.

Wahai hati, tenanglah, cinta itu fitrah, namun harus dipilah dan dipilih, mana yang harus tumbuh dan mana yang harus ditutup. Ingat, cinta pada lawan jenis harus disimpan dan disemai untuk sang pendamping di masa depan yang masih misteri detik ini.

Secuplik dari Arsy Cinta


Oya, rada iri kan laki-laki dapet banyak bidadari? Terus kita gimana? Wahai saudariku, muslimah, ketahuilah bahwa BIDADARI ITU KAMU <3 <3 , bahkan wanita dunia lebih mulia dari bidadari surga karena amalannya selama di dunia. Kata pak juned (ustad) wanita dunia itu nanti jadi ratunya bidadari, hihi tp aku belum nemu hadis nya kalo itu. Ini aku kutip dari salah satu bab di buku Arasy Cinta, percakapan antara Rasulullah dengan Ummu Salamah (karena susah meringkasnya, aku re-write aja ya) :

“Ya Rasul, mana yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari bermata jeli?” Ummu Salamah belum berhenti bertanya.

Beliau menjawab, “wanita-wanita dunia lebih utama dari pada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tak terlihat”.

“Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”

Karena shalat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahgialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya …” jawab Nabi mengakhiri (HR. Ath Thabrani).


WARNING!!
Kenapa aku nulis ini? Alasan utamanya adalah buat memotivasi diriku sendiri dan mungkin jika ada pembaca blog ku yg muslimah. Untuk apa? Untuk terus meningkatkan kualitas ibadah kita. Aku sadar, ibadahku masih belum apa-apa dibanding muslimah-muslimah lain, tp setidaknya selagi Allah masih memberi kesempatan untuk menghirup udara hari ini, berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Terus meng-upgrade diri dengan ilmu. Muslimah, ketika kamu belajar, apa yang kamu pelajari bukan hanya untuk generasimu, tapi untuk dua generasi. Suatu saat, kamu akan menjadi madrasah dan pendidik pertama generasi selanjutnya, anak-anakmu. :)
~ Karna Engkau Begitu Berharga ~

Sumber:
Lubis, Arif Rahman. 2015. Arasy Cinta. Jakarta: Qultummedia.

Pertidaksamaan Gender dalam Islam


Iseng pengen re-memorize ceramahya ust felix barusan di laptop. Jadi ceritanya, Islam bukan hanya sekedar agama, tp ia adalah the way of life. Islam mengatur segalanya dengan sempurna. Dari mulai kita bangun di pagi hari, sampai kita tidur menutup hari, Islam sudah mengatur segalanya.

Tapi, pernah ngga, kita sebagai perempuan merasa tidak adil. Kenapa laki-laki tidak usah berhijab? Kenapa laki-laki mendapat pahala yang besar ketika shalat di masjid, berjihad, dan lain sebagainya sedangkan kita perempuan diperintahkan untuk beribadah di tempat yang terdalam di rumah kita. Laki-laki bebas mengeksplorasikan ini itu. Laki-laki pun akan mendapat bidadari-bidadari surga dengan amalan-amalan tertentu. Sedangkan kita? Apa ada bidadara-bidadara (bidadari cowok) untuk kita?

Tenang sob, Allah sudah mengaturnya dengan sempurna. Kaum feminis, juga kaum barat lantang menyerukan persamaan gender. Bahkan  salah satu point MDG’s yg ketujuh kalo ga salah, terdapat persamaan gender. Kalau laki-laki dan perempuan setara, ibaratnya laki-laki dan perempuan akan sama-sama bersaing dalam satu jalur. Tapi tidak dalam Islam. Laki-laki dan perempuan memiliki jalur masing masing menuju suksesnya (surga).

Sekarang begini,  laki-laki diperintahkan berjihad dan mencari nafkah sedangkan wanita diperintahkan di rumah untuk mendidik anak-anaknya serta mengurus rumah. Asal kamu tahu, laki-laki harus bersusah payah beribadah la la la untuk mendapat pahala menggapai surga, sedangkan perempuan ni, para muslimah asalkan dia beribadah taat kepada Allah, menjaga harga dirinya, lalu suaminya ridho kepadanya, maka dia bisa masuk surga dari pintu manapun. Subhanallah, kereeeenn yaa. Tapi sayangnya hanya sedikit wanita yang dapat melakukannya :(.

“Apabila seorang wanita telah mengerjkan sholat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, senjaga syahawatnya lalu menaati suaminya, maka akan dikatakan padanya ‘Masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki’” (HR. Ahmad dan Ibnu Habban)

Jadi, jelas kan. Laki-laki dan perempuan memiliki jalannya sendiri-sendiri. Sehingga keduanya bisa saling beriringan dan saling melengkapi :), bukan bersaing. Laki-laki, lelah berdakwah, berjihad, atau mencari nafkah, sampai di rumah di sambut sang istri. Udah lelah, sampai di rumah ngelihat rumah bersih, anak-anak terurus dengan baik serta cerdas-cerdas, dimasakin makanan yg enak lagi, pasti nyaman dan seneng.

Oya, tentang bidadari surga, baca di post ku berikutnya yaa ^_^

Sumber:
Ceramah Ust Felix Siauw di Yogyakarta

Ngomong-ngomong tentang rumah tangga, kapan-kapan aku certain kenapa aku pengen nikah muda. Karena setiap jengkalnya pahala. Nyuciin baju suami, nyediain makanan buat suami, ngurus anak-anak, de el el banyak pahalanya lho sob :D 

Senin, 06 Juli 2015

Dolan Wancah Prei



“Mba ida ki, dolan wae”

Berkali-kali aku mendapat lemparan kata itu oleh orang rumah. Haha, benar saja, aku sering memanfaatkan waktu liburan dua bulan yang baru berjalan satu minggu untuk asik di luar rumah. Eits, jangan salah, aku sedang membangun relasi sambil bersilaturrahmi. Toh aku juga tidak pergi dengan lawan jenis (yaa paling-paling cuma adek).

Di hari aktif kuliah aku jarang sekali bisa meluangkan waktu untuk pulang. So, dua bulan ini aku loncat ke sana kemari menyambangi rumah sepupu-sepupu, bude-bude, atau main dengan teman SD SMP SMA *yg jarang main ke kakek nenek soalnya takut main ke kuburan berrrr. Hasilnya, aku sering dibawain makanan, jalan-jalan ke tempat asik, sampai diajarin ilmu jahit. Keren kaaan, hahhaha.

Betewe, ngomongin soal jahit ni, aku jadi inget kata-kata temen SMA ku (cowok) yang ngomong di depan cewek-cewek. Dia bilang “sepinter-pinternya cewek (dlm akademik), kalo ngga bisa masak sama ngga bisa jahit, bukan cewek namanya”. Jlebb saat itu aku blm bisa masak, apalagi jahit baju. Yang aku tahu cuma belajar, belajar, dan belajar. Tapi eng ing eeeeengg . . tidak untuk hari ini. Time flies people change. Aku udah bisa masak walaupun dikit-dikit, aku udah bisa jahit walaupun belum halus.

Pokoknya, bersyukur aja. Punya temen dan sodara dimana-mana, jangan sampai putus silaturrahmi. ~Jangan lelah untuk meringankan beban mereka, karena suatu saat ketika kita jatuh, tangan mereka akan terulur untuk membantu kita berdiri.~ Quotes untuk hari ini ^_^

Senin, 29 Juni 2015

Be myself ~edisi meng-4LaY-kan sepupu~

Kretek .. hoaaamm bersolek ria. Akhirnya selesai juga UAS. At least selesai juga malam-malam panjang dengan kertas-kertas hand out. It’s time to enjoy ma holidaaaay ..

Ini aku, yang sedang bertumbuh menjadi diriku yang sebenarnya. Lelah memaksa diri untuk menjadi “dewasa” kata orang. Menurutku, dewasa bukan hanya mengenai sikap kalem, diam, sok mengerti, dan sok bisa. Dewasa adalah ketika kita bisa mengayomi mereka yang lebih muda, hingga bijak dalam mengambil keputusan dan menghadapi kehidupan. Jadi dengan sikap ku yang kekanak-kanakan bukan berarti aku tidak dewasa. Aku hanya sedang ingin menjadi diriku, aku yang ceria, aku yang suka having fun, tentunya dalam batas-batas yang telah ditentukan.  Tolong ya, jangan suka menjudge sesuatu dari luarnya #gayasewot ceritanya hahha.

Nah kan, daripada pusing mikirin nikah ngga jadi-jadi, atau mereka-mereka yang bikin bingung, anggap aja temen biasa, mending nikmatin aja hidup. Mensyukuri setiap jengkal nikmat yang diberikanNya. Nikmat kemampuan, fikiran, materi, kehidupan, semuanya. Terutama untuk berbagi, dan memberi arti :)

Ini cerita kemarin sore. Saat uang di dompet hanya 20 ribu, saat dua bulan ngga kerja dan ngga punya tambahan apapun. Kebetulan ini hari libur anak-anak sekolah. Keponakan dan sepupu-sepupuku tumpah ruah di rumah keluarga besarku (baca: anak2 SD, TK, dan belum sekolah). Orang-orang dewasa sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku kepalang tanggung, paling besar dan paling tua diantara mereka . Ya, kadang bisa dibilang aku yang momong (mengasuh) mereka. Aku suka anak kecil, suka sekali, membuat mereka tertawa dan memperhatikan mereka bermain adalah kebahagiaan tersendiri.  Tak jarang, aku sering mengajak beberapa di antara mereka ke taman kota atau kolam renang ketika libur kuliah seperti ini. Kali ini giliran putra dari almarhum om ku dan sepupu dari gontor yang jarang pulang yang beruntung aku ajak main.

Nampak, air muka kecewa pada yang lain. Baiklah, aku berikan pengertian pada mereka. Aku jelaskan perlahan. Ah andai aku bisa nyetir mobil, tak ada raut-raut muka itu. Yah mau bagaimana, aku trauma menabrak pembatas sungai ketika belajar mobil dengan ayah, tak lagi berani belajar.

Back to topic. Haha, dengan 1 motor bertunggang 2 orang dewasa dan 2 anak kecil, si timee (nama motorku) melaju membelah jalan-jalan desa di Gerabag menuju air terjun Sekar Langit. Sengaja memilih perjalanan ke sana menghindari bapak coklat (polisi) dan juga prinsip cost effective di SekarLangit. Masa bodo lah, yang penting pada seneng, haha.

Si timee mulai memasuki wilayah parkir. “Horee..” sorak ria si kecil. Lari kesana kemari. Dari pintu gerbang ke air terjun masih harus ditempuh dengan berjalan kaki. Nikmati saja, sambil bercanda di sepanjang perjalanan, juga belajar menghitung setiap anak tangga dengan berteriak keras-keras “saa tu, duuu a, tiii ga ..” . Tak pernah luput, mengabadikan setiap momen dengan kamera.

Puncaknya, ketika air terjun di depan mata, berlipat bahagianya. Si kecil langsung copot baju (3 tahun). Baiklah, kita-kita kakak nya langsung pasang badan. Siap posisi di tiga penjuru. Kali-kali dia loncat kesana kemari, sambil sesekali bermain air. 

Lelah bermain air, saatnya istirahat di batu agak besar yang lumayan landai. Karna tabiat si kakak tertua (baca: aku) suka selfie, yasudah kita berselfie ria. Hahhaha.

Adzan ashar berkumandang, saatnya pulang …

~Salah satu bahagia adalah tertawa bersama mereka~

*tulisannya blm selesaii, kapan2 yaa, lg males nulis inih, heheh

Magelang, 29 Juni 2015


Jumat, 26 Juni 2015

(bukan) Orang Baik

(bukan) Orang Baik

Belum genap 5 jam aku membicarakannya
"Orang baik"

Aku tahu
Aku tak sebaik yg kalian kira
Aku pun tak seburuk di benak kalian

Andai
Tuhan memberiku ekstra time untuk menjelaskan
Semua duduk perkara ini

Namun sudahlah
Bukankah sahabat Ali pernah berpesan
"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu."

Mohon, jangan membenciku
Atau, jangan terlalu mencintaiku
Karna sesuatu di kepala kalian bukan absolut
mengenai aku sebenarnya

Sabtu, 20 Juni 2015

Menulislah

menulisah
ya, menulislah
tuangkan semua di pikiran

kok tata bahasamu ngga sebagus dulu?
ah siapa peduli
aku menulis untuk merasa nyaman
aku menulis untuk merasa memiliki teman

dalam prosesku
sebuah proses pendewasaan
langit berhias awan
kehidupan berbingkai pengalaman

hei, ini bukan puisi,
bukan juga pantun, haha
ini hanya celoteh pada blog pribadi

aku dan secangkir teh hangat di teras kecil beratapkan langit ramadhan
semoga ramadhan ini banyak memberi berkah :)

Bocah Kecil dan Puntung Rokok


Bocah Kecil dan Puntung Rokok

Aaaa tidaa bisaa
Tangan ini geli pengen ngetik lagi. Pengalaman tadi siang ..

Menatap nanar pada bocah kecil yang aku perkirakan usianya sekitar 2-3 tahun.

Sambil memanasi motor, biasa mata menatap pada apapun di sekitar. Oke, sesosok ibu muda baru saja lewat di sebelah. Tak berapa lama, seorang anak kecil berjalan di belakangnya (berjarak sekitar 3 meter dari sang ibu). Di sebuah persimpangan, sang ibu berbelok. Namun si bocah berhenti. Awalnya aku mengira dia memakan sesuatu di tanah. Tapi aku pertajam penglihatanku (agak kabur tanpa kacamata), ternyata si bocah menghirup SISA PUNTUNG ROKOK!!! yang mungkin sudah dibuang pemiliknya namun masih berasap.

Ya Allah, ayah bunda dimana peran kalian. Bukankah kalian ditugaskan Allah untuk menjaga titipanNya (anak) ??  . ayah dan bunda, bukankah seharusnya kalian menjadi malaikat yang mengenalkannya pada sang Pecipta ?

Ayah, bunda, setahu saya, anak itu bagai kanvas kosong nan putih. Menjadi apa dia kelak, sepenuhnya itu cerminan dari apa yang dididik dan dilakukan kalian. Saya berani pastikan, si bocah yang menghisap sisa puntung rokok  pasti pernah melihat ayah atau paman atau kakeknya merokok di depannya. Bahkan mungkin sering (berulang, setiap hari) dia terpapar pada lingkungan perokok hingga dalam pikirannya tercipta presepsi rokok adalah hal keren ala orang dewasa. Si bocah mencoba layaknya perokok professional dengan dua jari menjepit puntung.

Ya Allah, hati saya menangis melihatnya. wahai ayah, bunda, masadepan putra kalian masih panjang dan luas. Apa kalian mau begitu saja membiarkan putra kalian terus-terus terpapar rokok, membuat nikotin dan zat lain merampas ikatan oksigen pada hemoglobin, pasokan oksigen di otaknya tidak mencukupi, lantas kemampuan kognitifnya rendah. Belum lagi, ketika dia mendapat nilai jelek, kalian akan melontarkan kata2 buruk yang membuatnya semakin terpuruk. Dia tidak dapat berkembang, hingga dewasa susah mendapat pekerjaan, kembali (maaf) miskin, lantas lari dari masalah dengan menghisap rokok, dia punya putra lagi, putranya terpapar hal yang sama. Tidak akan selesai lingkaran setan itu! Berputar begitu terus.

source: www.coolchaser.com
Wahai bunda, ujung tombak itu ada padamu, masa depan putramu ada di tanganmu. Hiasilah kanvas itu dengan warna-warna yang indah. Ciptakanlah suasana nyaman untuk perkembangan dan pertumbuhan putra-putrimu. Laranglah ayah merokok di depannya. Ciptakanlah komitmen antara ayah dan bunda untuk bersama mendidiknya. Kata pepatah “apa yang ada pada dirimu saat ini bukanlah harga mati untuk kau tidak pernah berjuang memperbaikinya”. Putra-putrimu punya masadepan yang luas, jauh terbentang di sana. Genetik? Miskin itu bukan terikat pada gen, kecerdasan memang terkait pada genetik, tapi kesuksesan itu 90% ada pada usaha. Ayah dan ibu masih bisa mengoptimalkan perkembangan otaknya dengan asupan makanan (yodium, omega3, omega6) , masih bisa memberikan kata-kata positif setiap hari yang menguatkan kepercayaan dirinya, masih bisa menciptakan lingkungan positif walaupun dalam kesederhanaan. :)

Entah sepertinya saya masih terlalu naïf, masih menjadi mahasiswa yang sehari-hari menelan teori. Masih belum mengerti sepenuhnya masyarakat. Saya pun belum pernah merasakan memiliki putra. Andai saya bisa bertukar pikiran dengan si ibu di jalan itu. Karena saya tau, saya berteriak-teriak di sini, siapa yang mau baca. Mereka, mungkin hanya facebook yang mereka kenal. Bismillah, semoga suatu saat lidah ini dapat menyampaikan kebaikan dan diterima masyarakat .. menjadi agen of change, insyaAllah, amin :)

Tanpa Judul O_o

source: www.etsy.com

Tanpa Judul O_o

Okelah, di sela-sela belajar UAS, rileks dikit menuangkan secuil pikiran. Beberapa detik lalu, aku tergelitik membuka sebuah trailer film. Mengenai pernikahan dan poligami. Betapa si tokoh utama merasa dirinya telah berada di negri dongeng dengan indahnya hidup yang dijalaninya. Suami yang setia, anak-anak yang cerdas, karir menulis yang bagus. Hingga suatu hari (kurang begitu jelas gmn ceritanya krn blm baca novelnya, ekek) si suami akan menikah lagi. Kalo baca di goodreads sih itu novel bercerita mengenai poligami dari segi pandang istri (pertama).

Duh, sakit banget pasti. Udah dia ikhlaskan hari-harinya untuk sepenuhnya mengabdi pada suaminya, menjadi istri dan ibu yang baik, tapi tiba-tiba.. Jika aku menjadi dia, pasti sangat berat menjalaninya. Terlepas siapapun kalian pembaca blog ku (entah apa ada pembacanya atau tidak, wkwk). Aku ingin sedikit curhat di sini, setidaknya aku merasa ada sahabat yang sedang mendengarkan ceritaku.

Pernikahan. Aku tahu itu bukan perkara mudah.

Aku kemudian berkaca pada diriku sendiri. Ah, siapkah aku menjadi seorang istri? Aku ingin, sangat ingin mendampingi dia, siapapun dia. Aku ingin mengabdi padanya. Menjadi istri dan ibu sepenuh waktu, dengan tetap memilki pekerjaan paruh waktu. Tapi, entahlah. Pandanganku mendadak berubah setelah menyaksikan trailer film itu. Bagaimana jika aku menikah muda, dengan usia pernikahan yang seumur jagung, badai itu datang? Apa aku siap? Apa emosi dan psikis ku sanggup menghadapinya? Jika cinta suami terbagi? Jawabannya tidak, aku tidak akan sanggup.

Apa aku harus menunggu hingga usiaku matang? Tidak juga. Aisyah r.a. istri Rasulullah bahkan menikah pada umurnya yang belum genap 10 tahun (lupa berapa). Sudahlah, yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berdoa, semoga kelak dikaruniai seorang suami yang setia. Walaupun poligami diperbolehkan dalam agama, namun tetap saja, aku pribadi pasti tidak sanggup.

Sudah, tutup laptop, buka bukuu.. belajarr!!

Sabtu, 13 Juni 2015

Meng-4LaY-kan Keluarga

Meng-4LaY-kan Keluarga

~kata mas Azhar Nurun, ikatlah kenangan dengan menuliskannya :D . ini ceritaku~

Haha. Cerita ini mengenai 12 Juni kemarin. Kenapa aku beri judul alay? Karena itu yg dikatakan adekku dengan semua tingkahku dan romantisme keluarga yg sedang aku bangun. Haha, biarlah. Inilah keluargaku, hanya aku yg paling cerewet. Keluargaku tergolong pendiam, terutama ayah dan adekku. Ibu, cenderung pintar berbicara sih, tp entah kenapa aku agak mendominasi di keluargaku, hehe.

Kembali ke cerita, aku mengajak orang tua ku touring ke jogja layaknya anak muda, hihi. Eh aku cuman menawarkan sebenarnya, tp beliau2 mau ternyata. Ayah dan ibu memang tergolong menikah muda, hihi, jadi aku hampir seperti kakak adik (dari segi penampilan fisik) dengan mereka. Walaupun rambut mereka sudah mulai memutih, ternyata diajak main ayok aja.

Kami tidak pergi terlalu jauh memang, hanya malioboro dan alkid. Tp kebersamaan jalan2 berempat ini tergolong langka. Bisa satu tahun sekali, yah aku dan adekku cenderung sibuk di hari biasa :( . tapi tak apa, inilah keluargaku yang unik. Lengkap 1 putra dan 1 putri, jadilah kami berjalan seperti double date, haha.

Agenda pertama, sholat di taman pintar. Sembari menunggu aku, ternyata ayah dan ibu ke shopping, dan mengantongi 2 buku dari penulis favorit mereka, ustad YM. Hmm, ayah terlihat 'sumigrah' sekali dengan buku barunya. Pertama murah, kedua bukunya pas sekali dengan dirinya. Maklum, sehari2 hanya bertemu kursi, rumput, dan kebun. Apapun yg orangtua ku punya, pasti untuk memenuhi kami di sini :" . sudah, itulah kenapa, I'm happy to see that face.

Ayahku sempat ngga mau lagi diajak ke malioboro, mau baca bukunya aja katanya. Nah, akhirnya dengan ajakan 3power puff (haha) , ayah mau diajak. Menyusuri jalanan malioboro, melihat kaos2 couple (uugh, pengen bangeeet, tp ga punya coupleee, ngajak adek jadi couple ku, hahhaha) . Finally, udah, beli baju hem buat adek, liat bunga2 buat ibuk, dan balik.

Matahari mulai bersembunyi di ufuk barat ketika kami mulai melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Usai menunaikan sholat maghrib, kami bergegas pulang. Ah kurang seru- kataku dlm hati. Iseng, krn dulu sewaktu sma aku doyan main, aku ajak pulang melewati alkid. Pikirku, sekali2 lah, lewat doang.

Wow, senang sekali melihat ekspresi ibu. Melihat mobil2 bertenaga ayuhan kaki, dengan lampu warna warni . Dari motor sebelah, ibu menawari "mba ida, mau naik ngga?" . tp rasa2nya itu ibu yg pengen, hihi. Sepertinya beliau belum pernah melihat seperti ini, jaman beliau remaja blm ada mobil berlampu macam2 seperti ini. Ayok, kita naik berempat. Haha

Tawar menawar dengan si abang mobil, akhirnya fix. Adekku langsung menempati bagian kemudi. Aku santai saja, ku pikir dia lebih jago wkt latihan stir kata ayahku dulu. Oke, mobil kecil mulai melaju, pelan, nyaman. Sampaai, ciiiit, ngerem mendadak. Huft, hampir saja. Nampak pengendara motor di belakang meringsut agak marah haha. Mobil melaju lagi, brukkk.. Nabrak mobil2an lain yang akan diparkir. Hahhaha, adek kena omelan si empunya mobil. Tp as usual, dia ttp meringis2 sok cool, wkwk.

Perjalanan ditutup dengan menikmati susu murni hangat di dekat kos adek. Hmm .. Indahnyaa. Menghangatkan keluarga. Kapan lagi bisa meluangkan waktu seperti inii. Sebelum sibuk. Sebelum nambah menantu, hihi. *eh kalo ada menantu jadi berlima kalo jalan-jalan , biarin, biar adek jomblo naik motornya, hahaha kasian deh dek, salah siapa ngga mau cium tangan mba ida :p :p

Anyway, I love my family so much, big huuuuuuug ({}) ({}) ({}) ({})



Hihi, ini aku sama adek yg di depan
Ayah sama ibu yg jadi ppenumpang
Ini dia bapak sopirnyaa (adekku)
Keliatan tua ya mukanya, wkwk

Kamis, 11 Juni 2015

Romantisme ayah dan putrinya


Romantisme ayah dan putrinya

Source: www.styliwallpapers.com
Ayah, kau masih setampan ketika pertama kali aku melihatmu. Mungkin pertama katika aku melihat dunia. Seiring berputarnya roda waktu, tak sedikit warna rambutmu yang mulai memutih, lekuk bernama kerut di wajahmu pun mulai nampak. Meski begitu, kau masih segagah dulu untuk putrimu. Ayah, purtimu begitu mencintaimu. Terimakasih untuk samudra kesabaran yang begitu luas, yang telah kau hamparkan untuk keluarga kecilmu ini.

Satu bulan terakhir, aku sering merasa hampa dengan seluruh kegiatanku. Jujur saja, entah kenapa aku mudah sekali frustasi. Mungkin aku sedikit mengidap penyakit stress. Beruntung, tanggung jawabku sebagai seorang koordinator telah berakhir, aku bisa menghabiskan akhir pekan di rumah. Ah, rumah. Tempat yang selalu menawarkan kebahagiaan dan kehangatan, walaupun terkadang ada gejolak panas, sepertinya setiap rumah tangga memilikinya. Aku merasa, pulang adalah solusi terbaik. Selama ini, ketika orang tua ku menelpon “ sedang apa nok? Pulang ngga minggu ini?” , lebih sering ku lontarkan jawaban “mboten buk, ada kegiatan”. Begitu selama bertahun-tahun terakhir. Sejak SMP aku sudah berpisah dengan orang tua ku. Ah tidak ada salahnya akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu dengan mereka. Supaya mereka masih merasa memiliki putri, hihi.

Ayah yang akrab aku sapa dengan sebutan “bapak” sedari kecil, sering membuatku tertawa ketika menangis, ketika aku mengeluh, pun ketika aku rewel hingga saat ini. Dengan candaan-candaan kecil kami sering tertawa bersama. Beberapa waktu terakhir aku sering meledek ayahku “wii, perut bapak mulai hamil, ati-ati lho pak resiko penyakit sindrom metabolic (baca: diabetes, jantung, hipertensi, dll) , makanya pak, olahraga :p ” dan ayahku hanya tetawa kecil sambil melontarkan ejekan lain untukku.

Beberapa kepulangan terakhir, ada keajaiban baru, haha. Seperti biasanya, selepas subuh dan selesai berdzikir, ayah ke kamarku dan melemparkan benda2 kecil ke arahku yang masih belum sepenuhnya bangun. Menggelitiki kakiku dengan bulu-bulu boneka ku. Mengambil selimutku. Atau menutup (bhs jawa: mbetet) hidungku. Sambil melayangkan nyanyian paginya “ayo bangun, wis sholat subuh hurung ki”. Oke fine, mau tak mau aku pun bangkit dari tidurku. Selesai aku menunaikan subuh, tidak seperti biasanya yang menyalakan TV dan mendengarkan ceramah ustad YM, ayah mencegahku tidur lagi. Ia mengajakku jalan-jalan di desa.

Asiiiik, teriakku dalam hati. Aku dilahirkan di sini, namun jarang sekali aku menikmati udara desa ini. Terakhir, sewaktu SD. Ayah mengajakku ke rute yang berbeda dari biasanya. Melalui jalan-jalan kecil di sub-desa. Jalan-jalan ini bukan hanya sekedar berjalan, namun juga bertukar kata. Aku bercerita banyak hal kepada ayah sepanjang perjalanan. Kuliahku, organisasiku, hingga hubunganku dengan teman-teman. Sesekali, kami melewati tempat-tempat bersejarah(buatku). Pemandian kecil di dekat mata air, tempat aku dan teman-teman SD ku pernah mandi di sana. Atau tanah lapang diantara pohon-pohon bambu (lumayan horor) yang pernah sempat menjadi bakal rumah kami (tp tdk jadi).

Sambil berjalan, aku menyamakan pundakku dengan pundaknya. Terkadang ketahuan, hihi. Ayahku langsung menegakkan badannya dan menjinjitkan kakinya. Kalau sudah bergitu, aku langsung manyun :3 “aaa baapak, kan mba ida udah hampir sama tingginya sama bapak”, dan ayahku pasti tertawa menang mendengarnya. Dengan medan yang mulai becek dan tidak lagi beraspal, aku mulai rewel. “pak, batu-batunya bikin sakiit”, dengan mudahnya ayahku menjawab “lho, ini malah pijat refleksi alami”, cep, diam aku. Lagi, di suatu jalan “paak, becek, bau keboo pak”. Apa kata ayahku “dadi uwong ki rausah kakean ngeluh, lakoni wae, makin ngeluh makin abot”. Jlebb, satu kalimat. Tapi dalam maknanya. Aku langsung terdiam. Dalam bahasa Indonesia Jadi manusia itu jangan terlalu banyak mengeluh, dijalani saja, semakin banyak mengeluh maka semakin berat bebanmu. Ah ayah :”) betapa sering putri mu ini mengeluh. Maafkan putri mu ya ayah –dalam hati-.

Begitulah, hingga akhir perjalanan kami adalah Kali Ngelis. Sebuah sungai yang dibendung dan dibagi ke beberapa sungai kecil untuk mengairi sawah di banyak penjuru desa kami. Udara masih sangat sejuk ketika kami sampai di tempat itu. Rumput-rumput hujau pun masih berembun. Ada taman kecil di sana, uniknya warna daun di taman itu ada 3 macam, merah, kuning, dan hijau tua. Indah sekali. Aku mencuci kaki ku di anak sungai kecil. Sempurna :)

Rabu, 25 Maret 2015

jangan males wooii


Jangan Malas wooiii

iyes, itu komentar untuk diriku sendiri. Belajar dari pengalaman kemarin siang. Seperti biasa predikat deadliner masih aku sandang sampai sekarang. Hari terakhir pendaftaran sebuah program dari universitas. Entah kenapa banyak hal yang seharusnya simpel jadi ribet minta ampun.

ini aku di lain waktu yg lg males nglanjutin 
Dimulai dari bangun tidur. Sadar tanggal sudah menginjak angka 25, gelagepan cari formulir, downlad surat bla blab la. Sambil diselingi sholat dan mandi, singkat cerita jam 7 baru selesai. Ganti baju lala 7.15 berangkat. Ada praktikum 7.30, tp masih menyempatkan diri mampir ke tempat print. Dan yang terjadi? Tab ku mati. Mau ga mau aku harus berangkat. Di jalan galau, mau ikut ngga ya. Inget satu sisi aku udah nungguin program ini dari setaun yang lalu. Ini satu-satunya kesempatan karena cuman di angkatan ini diselenggarakan, tidak ada kesempatan lagi untuk tahun depan. Entah apa hasilnya, setidaknya aku mencoba, karena dari sana (mencoba) kan tumbuh peluang.

Singkat cerita aku balik ke kos setelah praktikum (11.00), pinjem flash disk orang, ngeprint, cari ttd buat surat keterangan, 11.45 selesaii. Langsung memacu sepeda kampus ke dirmawa (tersisa 15 menit debelum dirmawa tutup). Eeeh sampe tempat, ternyata “ngumpulinnya bukan di sini mba, di gedung depan GMC”. Oke fix aku udah lari2 kayaknya sia2. Agak lemas memacu sepeda untuk menghampiri kampus, krn kuliah lagi 12.30. Masih 15 menit.  Otakku mulai berputar, mencari berbagai alternatif. Agar kuliah bisa, ngumpulin berkas juga bisa *kantornya tutup jam 4, kuliah selesai jam 4. Males, sudahlah, mepet ajaa seperti biasanya, dalam hatiku. Tapi tidak, roda sepeda berputar mengarah ke kompleks GMC. Ah coba selesaikann. Dan yap, ternyata tak semengerikan yang aku bayangkan. Naruh berkas tidak membutuhkan waktu lama *2 menit. Daaaann selesai perjuanganku hari itu.

Wooii jangan males woii. Coba saja aku langsung ke kampus, pasti aku harus keluar kelas lebih awal *korupsi waktu* dan lari-lari untuk mengejar waktu 16.00. Dan Alhamdulillah, semua selesaii dalam sekejap. Kuncinya BUNUH RASA MALASmu. That’s I am. Aku selalu setengah-setengah ngerjain sesuatu. Biasanya belum sampai selesai, sudah malas, aku tinggal. Wal hasil selama ini aku jadi deadliner sejati. Haha buruk ini jangan ditiru. Ayo sama2 belajar membunuh rasa malas kita. Kata temenku Bram :

“kalo malas bisa membuat aku sukses maka aku sudah malas dari dulu, tapi sayangnya engga”

Dimulai dari diri sendiri, dimulai saat ini, di tempat ini, dan S E K A R A N G juga. Sekali lagii, wooii piiiill jangan maleeees wooiii

Selasa, 20 Januari 2015

sendiri

menemukan diriku benar2 sendiri
Memecah hening dengan suara isak
Tumpah tangis, pecah fikir

Satu yang ku rindukan
Teman

Aku rindu berbagi segalanya
Dimana pundaknya menjadi tempatku bersandar
Terlalu banyak yg hrs aku pikul sendiri

Sendiri
ya, aku sendiri