Kamis, 18 Desember 2014

Ayah ku Jundi Keadilan



Ayah ku Jundi Keadilan
Jundi dalam bahasa Indonesia berarti tentara. Kenapa aku menggunakan kata itu? Begini ceritanya ….

Allah ghayatuna ..
Ar Rasul quthwa tuna..
Al Qur’anu dusturuna..
Al Jihadu sabiluna ..
Masih teringat lagu dengan bahasa Arab itu, sayup-sayup, meski tak tahu benar atau tidak penulisannya dalam huruf latin. Sebuah lagu yang akrab aku dengar ketika masih berada di SMP IT dahulu. Kalimat terakhir di atas *meski itu belum akhir lagu* adalah al jihadu sabiluna (jihad adalah jalan juang kami). Setidaknya itu kata yang disebutkan ayah sebelum berangkat beberapa hari lalu. Kata yang membuat aku langsung terdiam, tak lagi berkomentar apapun.
ini ayahku pake baju pandu keadilan
“Bapak mau kemana?” l “mau ke Banjarnegara sama temen-temen PKS” l “Loh pak, kan mba ida sama dek nanan baru pulang, masih kangen, mau ngapain tah pak di sana?” sahutku dengan manja l “Panggilan jihad, nok” 
Begitulah, aku langsung bungkam, tak berani berkomentar apapun. Ayahku akan menjadi relawan di sana, meskipun tidak lama. Sudah lama, semenjak aku belum lahir, kedua orang tua ku merupakan simpatisan PKS. Bermula dari tarbiyah (dimana ayah dan ibu ku bertemu), hingga mereka menetapkan salah satu jalan dakwah mereka melalui partai ini.
Aku tidak akan berdebat mengenai partai saat ini. Aku pun tidak paham dengan partai, meskipun aku tumbuh dengan banyak baju dan stiker berlambangkan dua bulan sabit dan padi berwarna emas dimana-mana. Ini hanya penuangan dari rekaman otakku, selama 19 tahun aku hidup dan mengenal partai ini.

Dahulu, aku kecil sering diajak berkegiatan dengan partai ini. Di lapangan luaas, mendengarkan ceramah entah apa isinya dengan berbaju putih-kuning-hitam khas. Juga, kegiatan sosial seperti pengobatan gratis, aku paling suka itu. Aku berkaos seperti mereka, lalu keluar masuk diantara pasien, dokter dan apoteker yang sedang bertugas. Menyenangkan sekali. Aku yang kala itu masih imut, membuat orang-orang di sekitarku gemas. Tapi aku suka bau dokter, aku suka pura-pura tidur di kasur pasien saat acara selesai. Pernah sekali kegiatan itu diadakan di rumahku, ah senangnyaa, aku ikut-ikut menata ini itu meski tak tahu apa-apa. Dan yang tak kalah bangga dengan partai ini adalah pengiriman relawan ke tempat-tempat bencana. Mungkin tidak tersorot media memang, tapi aku tahu, aku melihat dengan mata kepala ku sendiri beberapa kali ayah pamit untuk menjadi relawan. Itu kala aku kecil.

SMP-SMA-Kuliah, aku tak lagi di rumah. Tak lagi diajak dalam aktivitas-aktivitas seperti itu. Aku mulai mencari jalanku. Jauh dari orang tua memberiku kesempatan untuk memilih. Sempat pula orang tua ku tak berkecimpung di politik karena ada suatu guncangan dalam keluarga kami. Dan, baru-baru ini, ayahku kembali berkecimpung di sana.

Kembali ke cerita ayahku jundi keadilan-- Aku melihat wajah ayahku yang segar sebelum berangkat, nampak bersemangat. Melepas beliau, jadilah kami bertiga di rumah (ibu, aku, adek). Sehari berikutnya, aku gelisah, aku takut, bagaimana jika terjadi apa-apa di sana. Aku berkeluh kesah pada ibuku, aku rindu ayah, aku ingin telpon ayah lalu ibu menjawab “kemarin bapakmu udah pesen ke ibu sebelum berangkat, selama di sana hp bapak mau di matikan”. Dengan santai ibu menjawab demikian, tak ada raut gelisah di wajahnya. Dalam hati subhanallah ibu ikhlas membiarkan bapak berjuang untuk agamanya, bagaimana denganku nanti ketika suamiku meminta ijin untuk pergi berjuang demi agama.

Ayah & Aku ketika SMP
Kedua orangtua ku, aku sangat menyayangi mereka. Mereka lah teladan ku dalam urusan agama. Coba temukan mereka di kamar ketika  sepertiga malam terakhir, nihil. Yang akan ditemukan adalah jiwa tenang  yang sedang menghadap Rabb nya. Rukuk, sujud, dan berdzikir di sepanjang waktu itu. Ah, aku kecil dihadapan mereka, untuk bangun pun masih berat, shalat subuh pun menjelang jam 5. Juga ketika adzan subuh berkumandang hingga fajar, jangan harap menemukan ayah di rumah. Ayah akan berada di masjid, berdzikir Al Ma’tsurat dan membaca Al Qur’an. Aku kecil, aku sungguh kecil, tak ada apa-apanya di banding mereka.

Hingga, tadi malam saat kami bertiga sudah terlelap, aku menemukan sosoknya yang baru pulang dari Banjarnegara, tak ingin membangunkan ibu. Sekitar pukul setengah 12 malam. Aku terbangun, buah tangan gondang gandung hangat langsung memenuhi perutku. Kami bercerita sebentar sebelum aku kembali terlelap. Dan seperti biasa, ketika aku terbangun, ayah sudah di masjid. Subhanallah, bahkan ketika aku melembur tugas hingga jam 12 malam, aku pasti kesiangan, telat shalat subuh. Tapi bapak tidak. 

    Itulah ayahku, itulah orang tua ku. Aku ingin seperti mereka, terbesit keinginan, namun mesih berat untuk melngkah. Mungkin hidayah belum memelukku. Selagi itu, aku akan berusaha semampuku, menertibkan wajibku, dan menjalankan sunnahku, meskipun selangkah demi selangkah. Tuhan, kelak, pertemukanlah aku dengan seorang lelaki yang benar-benar menjadi imam ku. Yang mampu membimbingku menuju kepada Mu, yang bersama-sama dengannya kami membangun suatu rumah tangga yang indah, yang penuh dengan cinta Mu, yang bersama-sama dengannya, kami memperjuangkan agama Mu. Amin