Minggu, 01 Desember 2013

Tradisi (ini ceritaku ^.~)



Tradisi (ini ceritaku ^.~)
Tanganku selalu tergelitik untuk menuliskan sesuatu ketika aku mengalami suatu kejadian yang unik dan tak terlupakan. Namun, inilah si Upill. Berjuta-juta (lebay) tulisan telah diketik. Namun hanya segelintir yang mencapai finish. Alias tulisannya selesai dan siap publish. Semoga tulisan ini menjadi satu diantara berjuta-juta yang dapat terbit di kumpulan cuap-cuap ini.
        “Keinginanku sederhana, melihat pendekar-pendekar dari perguruan ini. Karna kurasa, aku mulai jatuh cinta dengan perguruan ini. –Jogja 1 Des”
          Seperti tulisanku terdahulu. Aku ingin jadi pendekar. Bukan apa-apa. Namun itu salah satu impian yang harus segera aku rajut dan aku wujudkan. Selagi ada kesempatan dan belum terlambat. Aku tidak ingin selalu bergantung ke siapapun. Aku ingin mandiri. Berani ke manapun tanpa harus risau masalah keamanan diri. Dan dua bulan lalu aku bergabung dengan perguruan ini.
       Tepat dua hari ke belakang aku mengikuti acara tahunan beladiri ini. Tradisi. Acara besar yang diadakan satu tahun sekali guna mempertemukan semua cabang di Indonesia dan Dunia. Mendengar judulnya saja, aku sudah berspekulasi bahwa ini akan menjadi suatu acara yang belum pernah aku lihat dan pasti keren. Yang artinya, aku akan menemui banyak pendekar, baik yang masih di tingkat dasar maupun pendekar sungguhan (hehe). Bukan hanya itu, rangkaian acara yang aku dengar dari beberapa senior terdengar sangat keren di benakku. Dan apakah kenyataannya begitu? Ikuti terus kisahku :p 
         Dua minggu sebelum acara: kepo kepo, nyari tau itu acara apa. Nyari massa (anak-anak dasar 1) buat ikut acara itu.
          Satu minggu sebelum acara: tiap latihan malem tidak ada pengumuman mengenai tradisi. Masih tenang, mungkin kakak senior kelupaan dan belum dibuka pendaftaran.
        Dua hari sebelum acara : “maaf untuk dasar 1 belum bisa mengikuti tradisi karena sragamnya belum jadi. Gubrakk. Ga jadi ikut tradisi
          Dua puluh satu jam sebelum acara: “Salam perguruan :D. (intinya) dasar 1 bisa mengikuti acara tradisi dengan syarat mala mini mengambil sragam di sekre.” Senangnya hatiku, jadi juga sragamku (lagu insana: senangnya hatiku turun panas demamku, heheh)
         Singkat cerita, hari sabtu pagi ba’da subuh aku melaju dengan Arvita, menaiki kuda besiku. Nyasar di beberapa tempat. Belok sana balik sini. Dan dapat. Perguruan Merpati Putih Parang Kusuma. Sampai di TKP, takjub bukan main. Lapangan seluas itu dipenuhi oleh manusia-manusia berbaju putih dangan celana hitam lengkap dengan ikat pinggangnya masing-masing. Indah sekali, aku terharu :’) (lebay). Mereka sedang bersiap melakukan pemanasan, seperti latihan biasanya.
          Bertemu dengan kakak senior. Satu. Dua. Ternyata ada misskom di kolat ku. Dasar 1 cabang Sleman memang belum diberikan ikat pinggang karena belum pengukuhan. Dan, yang benar saja, kami dicarikan ikat-ikat pinggang milik kakak tingkatan yang tergeletak tak bertuan. Dari tampilannya saja benda-benda itu sudah hampir menyatu dengan tanah pasir, tidak terurus, dan lembab. Baiklah, itu lebih baik daripada seumur acara terdisi dihukum karna tidak mengenakan ikat pinggang. Dan mungkin bisa dibayangkan, sragam yang baru saja keluar dari konveksi, putih mulus, berpadu dengan sabuk putih kusam yang mungkin bukan putih lagi namanya. Kami mencucinya seadanya. Dan langsung mengenakannya. Hahaha, kalau bukan karna acara ini mungkin seumur hidup tidak pernah merasakan pengalaman ini.
         Next, beranjak ke acara berkutnya. Setelah peregangan, kami menaiki kendaraan merakyat menuju sungai titik titik (lupa namanya). Kami melakukan tabur bunga di sana. Sebelumnya, kami diceritakan sejarah, mengapa melakukan hal itu. Ternyata jauh sebelum orangtuaku bertemu (alias aku belum lahir), ada satu orang murid merpati putih yang hanyut di tempat itu. Disusul dengan tiga orang lain yang juga hanyut dalam kesempatan yang berbeda. Semoga ruh mereka diterima di sisi Allah dan diampuni dosa-dosanya, amiiiiin. Dan kami melakukan tabur bunga di sana.
          Berangkat dari tepi sungai, kami melakukan pendakian di sebuah bukit bernama Gunung Botak. Entah dari mana ceritaya tempat itu dinamai Gunung Botak. Karna sepenglihatanku diperjalanan kanan kiri ku lihat saja banyak pohon-pohonnya (ha ha). Kami mendaki dan menuruninya selama kurang lebih 3-4 jam. Aspal yang berliku-liku, bebatuan yang terjal, serta kerikil-kerikil halus --yang cukup menusuk-nusuk kaki dan membuat kaki berpotensi kapalan— menjadi lintasan kami. Namun jangan salah, di puncak kami melihat pemandangan (yang bisa ditebak pasti) indaah sekali. Perpaduan antara bukut-bukit hijau, pantai, dan laut. Benar-benar manis. Pada akhir perjalanan kami melewati jalanan beraspal selama beberapa kilometer. Dan ajaibya, hujan turun membasahi peraspalan, yang menyelamatkan kaki-kaki indah kami dari efek buruk aspal panas yang dilintasi tanpa alas kaki. Hahaha.
        Betapa indahnya sampai di basecamp. Istirahat, tidur terlentang. Serasa disurga, hoho. Tak butuh waktu berjam-jam hingga panggilan peserta berkumandang. Kami kembali berkumpul di lapangan. Agenda kali ini adalah gerak. Setangkapku, yang kami lakukan ini adalah gerak murni dari Merati Putih yang berlum termodifikasi. Dan apa yang terjadi, ketika tiba materi gerak tangan, tidak ada yang ku mengerti sama sekali. Kami belum diajarkan, sementara anak-anak dasar satu kolat lain sudah “terlihat” mahir. Ya, mau bagaimana lagi, aku ikut-ikutan saja, walaupun cacat sana sini. Haha, yang penting hepii.
          Waktu istirahat, acara pending sekitar 15 menit menunggu guru besar. Sip, ada waktu sejenak, lari ke masjid mumpung udah adzan. Acara dilanjukan dengan upacara pembukaan. Pre-memori pre-memori. Dan ini yang unik. Disediakan tiga gentong dari tanah liat berisi air. Air pertama untuk cuci tangan, kurang tau campurannya apa. Air kedua untuk membasuh muka, kali ini ada bunga-bunganya. So, airnya wangi dan seger. Air ketiga juga kurang tau campurannya apa, tapi dari cerita seorang senior, air ini fungsinya untuk menghitamkan rambut. Dalam hati, bule-bule yang rambut aslinya bukan item gimana ya? –pertanyaan cukup disimpan saudara2 -___- 
          Terjadi antrian mengular pada prosesi di atas. Acara dilanjutkan dengan sesuatu yang paling menakjubkan di sepanjang Tradisi ini. ialah Menghantar Matahari. Bermeditasi di depan sunset, sambil merenung tentang kehidupan, juga dipadu dengan gerakan garuda benteng. Yang jelas ini keren pake banget. Sebelum mata terpejam, masih tertangkap oleh mata kami, matahari yang mulai tenggelam. Saat itu posisi kami di atas bukit pasir, dari posisi tinggi itu matahari terlihat seperti akan tenggelam di laut. Tak henti mengucap syukur atas pemandangan indah ini. Bukan hanya itu sodara, jika kepala sedikit menengok ke belakang, maka akan tampak elok pelangi yang sempurna membentuk setengah lingkaran dari ujung ke ujung. Menghantar matahari dilakukan dengan mata tertutup, dan sudah menjadi hukum alam, aku tak dapat menyaksikan kepergian mereka (Karena ketika mata terbuka, hari sudah mulai gelap).
         Dilanjut dengan ISHOMA. Ingat, namanya ishoma. IStirahat SHOlat MAkan. Tidak istilah ada mandi dalam akronim ini (nanti jadi ISHOMAMA, hihi). So, tidak ada mandi dalam agendaku. Hehe, bukan cuma aku, tapi hampir semua peserta lain, coba aja ditanya, apa mereka mandi :p. Berlangsung hingga pukul sekitar setengah 8. Dalam kegelapan basecamp, kami makan bersama. Untung ada Icha yang menyelipkan hape dengan fasilitas senter di kerudungnya, jadi tidak terlalu gelap. Oya, ada satu yang asik, ngobrol sama temen-temen sama senior-senior. This is my second family :)
     Malam itu kami dikumpulkan di lapangan besar, lalu dipindah ke lapangan kecil. Menyaksikan video-video kiriman beberapa cabang. Yang paling aku suka videonya Sleman, sumpah kreatif bangett. Selanjutnya ada acara ulangtahun guru besar yang bertepatan dengan tanggal itu juga. Lalu ada wejangan yang dilanjutkan pengarahan renungan. Tak lupa memejamkan mata di sesi ini.  Lalu renungan sungguhan di pinggir pantai (tak bisa lagi jelasin detail, tangan sudah pegel, dan yang mbaca juga udah bosen pasti). After that, ada getaran, jadi air dari tujuh mata air diberi tenaga dalam dari seluruh peserta. Kebetulan juga penulis belum bisa apa-apa selain ikut-ikutan peserta lain. And than, sempet ada kerancuan acara, yang berujun renungan di papan suwung. Badan sudah mulai kacau rasanya, kepala pening karena dalam semalaman tidak ada sesi “benar-benar tidur”. Sholat subuh, sebelum mata terpejam satu jam. Jam lima, mulai lagi acara yang intinya menyambut matahari terbit. Ishoma lagi, tidur lagi sampai sekitar jam sembilan.
         Diakhiri dengan upcara penutupan yang super keren. Pokoknya ini khas Merpati Putih banget. Ada jurus-jurus yang dibuat seni, lalu Dewan Guru di angkat di kursi yang sudah dibuat ada bambunya buat ngangkat (keren banget, ini bener-bener pendekar). Dilanjut pengukuhan  mereka yang mangikuti UKTnas. Ada beberapa wejangan, penutupan, dan pulaang. That’s all Tradisi Merpati Putih tahun emas 2013 versi ku, peserta dari Dasar 1. Maaf bila ada salah kata, kalo ada kritik dan saran, boleh ketik di comment, salam ):