Rabu, 03 Juli 2013

TRY TO BE A HUMAN


Memang selama ini bukan manusia?  Bukan. Bukan itu yang ku maksud. Aku ingin menjadi seorang manusia yang bernar-benar manusia, layaknya sebuah pohon yang bisa memberi manfaat bagi seluruh makhluk hidup di sekitarnya. Yang mengalirkan mata air dari akar-akarnya. Yang buahnya manis. Yang dedaunannya meneduhkan. Yang tangkainya menjadi sarang bagi burung-burung kecil.  Yang oksigen hasil fotosintesisnya menyejukkan. Aku ingin menjadi seseorang yang kepergiannya disayangkan dan kehadirannya dirindu setiap orang.

Menjadi aku yang sekarang. Mau tidak mau waktu mengubahku. Apa yang aku baca, apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasakan, dan semua kejadian yang aku alami. Semua menjadi satu dalam kebisaan baru yang semakin lama membentuk sifatku.

Aku mencoba berdiam. Melihat semua kejadian di belakangku. Waktu terbuang percuma. Teman-teman yang mungkin sudah tidak nyaman dengan semua yang ada pada diriku. Aku harus berhenti. Menarik benang yang selama ini ku ulur percuma, tanpa memperhatikan apa dan dimana tujuanku. Aku membiarkan semua yang ada mengalir. Dan sekarang mulai menggila. Tidak teratur. Tak berbentuk. Aku merasa bukan aku.

Tak boleh begini. Aku melupakan janji perubahan tiga tahun lalu. Aku ingin menjadi remaja yang berbeda dari semua remaja di sekitarku. Yang meneropong jauh ke depan demi sebuah masa depan baru yang menjanjikan. Merantau jauh dari zona nyaman. Mengarungi hari-hari yang berat di sekolah “Madrasah”.

Satu tahun berlalu dari janjiku, sepercik manis mulai ku rasa, namun aku menukarkannya dengan kesenangan sesaat. Bermalas-malasan, menyepelekan apapun, tidak menjiwai semua peran, berleha-leha dengan predikat “galau”. Sempurna sudah semua membuat ku lupa akan tujuanku. Di hadapan orang lain aku mencoba konstan. Tapi tidak dalam diriku. Semangatku terkikis. Mengenaskan.

Tak ada waktu untuk meratapi. Aku harus menjadi gadis desa yang tangguh. Semua mimpi yang ku gantungkan harus aku gapai. Mamak dan bapak di rumah harus bisa tersenyum bangga kepadaku di hari tua mereka. Tak perlu lagi memikirkan berapa harga beras. Aku ingin mereka duduk manis, menikmati hasil putri yang selama ini susah payah mereka didik, dan beribadah dengan tenang. Ya, aku harus menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Aku harus memulai lembaran-lembaran masa depan. Dari sini, detik ini, dan dengan “aku” yang saat ini.

Aku lupa, cerpen kerangan siapa, dan judulnya apa. Yang aku ingat bukunya sudah usang, milik perpustakaan SMP ku, dan aku membacanya di tempat tidurku yang kebetulan waktu itu di bagian atas (dua tingkat). Kata-kata yang selama ini selalu memotivasiku : “Apa yang ada pada dirimu hari ini bukanlah harga mati untuk kau tidak pernah berjuang mengubahnya”. Dari sebuah kebiasaan, akan menjadi sifat. Dari sebuah sifat, ia akan menjadi karakter. Maka dari itu, memulai dari setiap hal yang dilakukan sehari-hari, suatu langkah pasti. Masih hangat nasehat dari wali kelasku, Bu Nur Rohmah, “Hidup itu harus punya kurikulum, harus punya visi misi yang pasti, harus tau apa yang di tuju dan jalan mana yang kamu pilih untuk sampai pada tujuanmu itu.

Baiklah, kurikulum ku : memperbaiki hubungan vertikal dan horisontal. Pertama, perbaiki hubungan ku dengan Ar-Rahman. Membiasakan kebiasaan-kebiasaan yang sempat tergeser. Kedua, menjadi seorang wanita. Bangun pagi, nyiapin sarapan sama ibuk, clean up home (kebiasaan yang harus ditanam). Ketiga, jadi seorang anak muda yang gesit, tekun, lincah, selalu nglakuin sesuatu semaksimal mungkin dan sesempurna yang aku bisa. Empat, singkirkan kisah asmara. Love is mistery. Serahkan pada pemilik Cinta Semesta. Belum saatnya. Lima, be a good person wherever and whenever. Harus! Dan semua ini masih akan terbagi dalam sub-sub kurikulum dalam buku agendaku.

So, hidup cuma sekali, jangan disia-siakan. Juga jangan lupa, kita hidup, mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan setelah hidup.  Pertebal iman dan taqwa. Perbanyak amal shaleh, dimanapun kapanpun. Singkirkan semua penyakit hati. Hiasi hari dan diri dengan Akhlak Muhammad sebagai cerminan Al Qur’an. allahumma shalli ‘alaih.                                   


Hanya sepercik keinginan hati yang sedang membara  dengan sebuah semangat perubahan diri. Semoga bermanfaat.