Memang
selama ini bukan manusia? Bukan. Bukan itu
yang ku maksud. Aku ingin menjadi seorang manusia yang bernar-benar manusia,
layaknya sebuah pohon yang bisa memberi manfaat bagi seluruh makhluk hidup di
sekitarnya. Yang mengalirkan mata air dari akar-akarnya. Yang buahnya manis. Yang
dedaunannya meneduhkan. Yang tangkainya menjadi sarang bagi burung-burung
kecil. Yang oksigen hasil
fotosintesisnya menyejukkan. Aku ingin menjadi seseorang yang kepergiannya
disayangkan dan kehadirannya dirindu setiap orang.
Menjadi
aku yang sekarang. Mau tidak mau waktu mengubahku. Apa yang aku baca, apa yang
aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasakan, dan semua kejadian yang
aku alami. Semua menjadi satu dalam kebisaan baru yang semakin lama membentuk
sifatku.
Aku
mencoba berdiam. Melihat semua kejadian di belakangku. Waktu terbuang percuma. Teman-teman
yang mungkin sudah tidak nyaman dengan semua yang ada pada diriku. Aku harus
berhenti. Menarik benang yang selama ini ku ulur percuma, tanpa memperhatikan
apa dan dimana tujuanku. Aku membiarkan semua yang ada mengalir. Dan sekarang
mulai menggila. Tidak teratur. Tak berbentuk. Aku merasa bukan aku.
Tak
boleh begini. Aku melupakan janji perubahan tiga tahun lalu. Aku ingin menjadi
remaja yang berbeda dari semua remaja di sekitarku. Yang meneropong jauh ke depan
demi sebuah masa depan baru yang menjanjikan. Merantau jauh dari zona nyaman.
Mengarungi hari-hari yang berat di sekolah “Madrasah”.
Satu
tahun berlalu dari janjiku, sepercik manis mulai ku rasa, namun aku
menukarkannya dengan kesenangan sesaat. Bermalas-malasan, menyepelekan apapun,
tidak menjiwai semua peran, berleha-leha dengan predikat “galau”. Sempurna
sudah semua membuat ku lupa akan tujuanku. Di hadapan orang lain aku mencoba
konstan. Tapi tidak dalam diriku. Semangatku terkikis. Mengenaskan.
Tak
ada waktu untuk meratapi. Aku harus menjadi gadis desa yang tangguh. Semua mimpi
yang ku gantungkan harus aku gapai. Mamak dan bapak di rumah harus bisa
tersenyum bangga kepadaku di hari tua mereka. Tak perlu lagi memikirkan berapa
harga beras. Aku ingin mereka duduk manis, menikmati hasil putri yang selama
ini susah payah mereka didik, dan beribadah dengan tenang. Ya, aku harus
menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Aku harus memulai lembaran-lembaran
masa depan. Dari sini, detik ini, dan dengan “aku” yang saat ini.
Aku
lupa, cerpen kerangan siapa, dan judulnya apa. Yang aku ingat bukunya sudah
usang, milik perpustakaan SMP ku, dan aku membacanya di tempat tidurku yang
kebetulan waktu itu di bagian atas (dua tingkat). Kata-kata yang selama ini
selalu memotivasiku : “Apa yang ada pada dirimu hari ini bukanlah harga mati
untuk kau tidak pernah berjuang mengubahnya”. Dari sebuah kebiasaan, akan
menjadi sifat. Dari sebuah sifat, ia akan menjadi karakter. Maka dari itu, memulai
dari setiap hal yang dilakukan sehari-hari, suatu langkah pasti. Masih hangat
nasehat dari wali kelasku, Bu Nur Rohmah, “Hidup itu harus punya kurikulum,
harus punya visi misi yang pasti, harus tau apa yang di tuju dan jalan mana
yang kamu pilih untuk sampai pada tujuanmu itu.
Baiklah,
kurikulum ku : memperbaiki hubungan vertikal dan horisontal. Pertama, perbaiki
hubungan ku dengan Ar-Rahman. Membiasakan kebiasaan-kebiasaan yang sempat
tergeser. Kedua, menjadi seorang wanita. Bangun pagi, nyiapin sarapan sama ibuk,
clean up home (kebiasaan yang harus ditanam). Ketiga, jadi seorang anak muda
yang gesit, tekun, lincah, selalu nglakuin sesuatu semaksimal mungkin dan
sesempurna yang aku bisa. Empat, singkirkan kisah asmara. Love is mistery.
Serahkan pada pemilik Cinta Semesta. Belum saatnya. Lima, be a good person
wherever and whenever. Harus! Dan semua ini masih akan terbagi dalam sub-sub
kurikulum dalam buku agendaku.
So,
hidup cuma sekali, jangan disia-siakan. Juga jangan lupa, kita hidup, mencari
bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan setelah hidup. Pertebal iman dan taqwa. Perbanyak amal
shaleh, dimanapun kapanpun. Singkirkan semua penyakit hati. Hiasi hari dan diri
dengan Akhlak Muhammad sebagai cerminan Al Qur’an. allahumma shalli ‘alaih.
Hanya
sepercik keinginan hati yang sedang membara
dengan sebuah semangat perubahan diri. Semoga bermanfaat.