Minggu, 01 Maret 2020

Cara Periksa di Puskesmas Tanpa BPJS 2020

Haloo aku mau sharing nih. Bbrp waktu lalu aku periksa ke puskesmas. Kebetulan aku ini perantau, jd aku tinggal di Malang tp KTP ku Jawa Tengah. Aku punya BPJS sih, tp faskes tingkat pertamanya di Jateng juga. Akhirnya aku periksa di puskesmas tanpa BPJS. Jadi periksa biasa non-BPJS.

Awalnya males periksa di puskesmas, harus antri, dan ga ngerti caranya. Tp yaa coba cari pengalaman lah ya, lagi pula dinkes Kota Malang sekarang makin bagus dr segi pelayanannya. 

Jadi, gimana cara periksa di Puskesmas Non-BPJS ? Dan cara periksa di puksesmas yg bukan domisili KTP? Gini caranya:

1. Langsung Ambil No. Antrian
Hal pertama yg harus dilakukan adl ambil nomor antrian untuk pendaftaran. Jangan kemana² dulu, jangan ambil uang dulu, apalagi jajan dulu, noo. Langsung tanya ke pasien lain/tukang parkir, dmn no. antriannya.

Jangan sampe zonk, udh 30menit ngantri, baru tau kalo harus ambil no. antrian. Asalkan udh pegang no. antrian, mau ditinggal ke warung dulu, atau benerin jilbab, atau ngapain, tenaang. Tp jangan lama² takut kelewat antriannya.

2. Daftar di bagian Administrasi
 Setelah no. Antrian kita dipanggil, kita akan daftar ke bagian administrasi sesuai sakit apa. Kalo flu/diare diarahkan ke BP Umum, sakit gigi ke BP Gigi, periksa kehamilan ke KIA. 

Yg perlu digaris bawahi kalo kita non-BPJS atau periksa di puskesmas yg tdk sesuai KTP, adalah kita WAJIB BAWA KTP ASLI. Karena data² kita diverivikasi lewat KTP tsb. 

Hari ini tgl 11 Maret 2020, aku daftar non-BPJS dan non-domisili biayanya Rp. 13.000,- (tiga belas ribu rupiah). 

3. Antri di Depan Ruang Periksa
Karena tadi kita udh daftar di administrasi, kita tinggal tunggu di depan ruang periksa. Nanti nama kita bakal dipanggil, atau dipanggil pake no. Antrian poin 1 tadi. 

Tipsnya, duduk jangan jauh² dr ruang periksa, takut ngga kedengeran kalo dipanggil. 

4. Ikuti Instruksi Perawat/Dokter
Selanjutnya tinggal ikutin aja instruksi perawat/dokter yg periksa. Biasanya nimbang BB/TB, cek tensi darah, baru diperiksa dokter. 

Buat kamu yg pekerja, jangan lupa minta surat dokter setelah diperiksa sama dokter. Pastikan ga ada coretan apalagi di nama & tgl berobat. Nanti di surat sakit akan ada 2 cap: 1. cap dokter, 2. cap puskesmas. Pastikan kamu dapet dua cap tersebut. Krn aku pernah cuma dapet 1 cap dan ga berlaku. Nanti tanya ke perawat lg aja, untuk surat sakit yg lengkap gmn, soalnya di Bandung sm di Malang beda.

5. Ambil Obat di Bagian Farmasi
Setelah selesai diperiksa, kamu akan dikasih resep. Taruh resepmu di keranjang kecil bagian farmasi. Biasanya ada tulisan "tempat resep dokter". Atau lebih amannya tanya ke apoteker tempat naruh resep dimana.

Tunggu sebentar di depan loket farmasi, selesai resepmu diracik, nanti namamu akan dipanggil. 

Ambil obatnya, dan sekali lg tanya, ini perlu nambah bayar lg ga? Ke apotekernya. Biasanya ga nambah bayar kalo dapet obat generik. Tp kalo kita ada obat² khusus mungkin harus bayar lg. 

Kamis, 13 Desember 2018

Si Pemimpi Kecil

Hai, jumpa lagi di malam menyenangkan ini. Kata orang, sejarah kalo tidak di tuliskan akan berlalu begitu saja seperti asap yang terbang dan menghilang entah ke manaa. Suatu saat, blog ini akan kutunjukkan pada putra putriku. Bagaimana bundanya pernah begini dan begitu. Tulisan galau pun tak ingin ku hapus. Biar begitu apa adanya, hihi.

And, this is me, si pemimpi kecil dari desa yg tidak terkenal. Dimana pulang sekolah yang dicari adalah sungai, bermain bidadari-bidadarian sambil mandi di sungai, pura-pura luluran menggunakan lumpur sungai, mengumpulkan buah entah apa namanya di kebun semi hutan di pinggir sungai, nakal mengambil bunga kopi yang dirangkai menjadi bunga pengantin, atau berpetualang di bekas irigasi bikinan belanda di bukit dekat rumah. Masa SD yang amat menyenangkan.

Si pemimpi kecil, yang ingin sekali sekolah di Jogja hanya karena terpesona oleh jalan flyover di jombor. Si pemimpi kecil yang bertekad memenangkan 5 Lomba walaupun sekolah di Madrasah. Si pemimpi kecil yang sangaat ingin naik pesawat.” Tulislah 100 keinginanmu, dan satu per satu nanti akan tercapai” kata seorang senior kala itu. Benar saja, hal yang sangat ku ingat kala itu adalah naik pesawat, juara lomba karya tulis ilmiah nasional (LKTI Nasional), dan kuliah di fakultas kedokteran.

Tak lama, hanya sekitar 2 tahun dari penulisan 100 mimpi itu. Aku benar bisa naik pesawat, ke Banjarmasin waktu itu, untuk menghadiri LKTI Nasional dari  universitas Lambung Mangkurat. Itu kali pertama menginjakkan kaki di pesawat. Jika teman2 ku bilang impiannya adalah naik pesawat, sudah dari SMA aku mewujudkan mimpi pertamaku. Dari sana, aku ingin menjelajahi “bhineka” nya Indonesia, bagaimana? Sedangkan untuk makan saja uang selalu pas-pasan. Orang bilang itu keberuntungan (tapi kata pelatihku, tidak ada yang namanya keberuntungan, semua terjadi karna suatu alasan), di masa kuliah aku mendapat penempatan untuk KKN di pulau Samosir (Sumatera Utara),  naik pesawat lagi, xixixi, beruntung bisa mempelajari keberagaman dari suku Batak Toba di sana. Lanjut selang beberapa lama, aku lolos di camp 4 lalu 5 indofood, terbanglah aku ke Pekanbaru (Riau), menjelajahi kota Padang (Sumatera Barat), dan terbang ke pulau Dewata (Bali). Ah ya, the power of kemauan. Dimana ada kemauan pasti ada jalan..

Oh ya, di LKTI Nas itu, beruntung kami kantongi juara 3 Nasional, gugurlah impian juara lomba nasional. Pada dasarnya, aku bukan orang cerdas, aku hanya punya modal kemauan, otakku tidak seencer teman2 yang bisa langsung paham sekali dijelaskan. Di asrama, saat temen2 terlelap tidur, saat itulah aku berusaha keras memahami apa yg disampaikan guru dg bekal buku2 perpus. Aku bisa kuliah di fakultas kedokteran UGM, karna mimpiku, aku ingin kuliah di sana. Tak lolos jurusan pendidikan dokter, jurusan gizi kesehatan  pun aku sambangi. Masih segar kala itu, belajar siang malam, mengurung diri di rumah selama 2 minggu demi belajar SBMPTN (Ujian tulis). Guruku hanya buku dg pembahasan soalnya, apalah daya uang dari ortu hanya 200rb, tidak cukup untuk membayar les2an mahal, cukup ku alihkan dengan buku, mereka seperti guru les bagiku. Walaupun, ketika kuliah aku merasa salah jurusan haha. Teman2 kuliahku sungguh akademis, aku seperti orang asing, untuk menelan materi kuliah harus ku pelajari berkali2, haha. Sebagai gantinya, aku lebih memilih aktif di UKM dan paguyuban beasiswa KSE, haha itulah kenapa aku dibilang bukan seperti anak UGM yang akademis.

Dibalik semua itu, masa SMA hingga kuliahku penuh dengan perjuangan. Rasanya hidup hanya berjuang-berjuang-berjuang tak ada habisnya (waktu itu). Tapi kata ibuk, insyaallah semua akan berubah, asal kita tidak menyerah dari berjuang. Hari ini, 50 ribu hanya cukup untuk makan 1 hari, tapi kala itu, 50 rb ku gunakan untuk makan satu minggu, sudah termasuk uang bensin dan fotocopy. Heran kenapa dulu bisa? Wallahu’alam, masalah membuat kita stronger.


Pemimpi kecil, mimpi-mimpi apa lagi yang ingin diwujudkan? Wait, banyak list menunggu

Rabu, 12 Desember 2018

Ngene Lho Cah Kerjo

Jatuh, bangun lagi, ditekan, bangkit lagi, ada masalah, selesaikan lagi. Yah begitulah, namanya juga sedang bejuang. Bongkahan emas juga merasakan kesakitan ketika dipilah kemurniannya dengan api bersuhu tinggi, dilelehkan dengan panas luar biasa, dan dibentuk dengan indah yang akhirnya menghiasi etalase-etalase mahal. Dari sebelumnya hanya tanah yg terinjak-injak, atau hanya material yg tak dianggap diantara timbunan material lain di bumi, menjadi sesuatu bernilai tinggi, tak sedikit pengorbanan yg harus dialami si emas bukan?

Yaa begitulah, masa depan adalah milik mereka yang menyiapkan hari ini. Jadi, dipukul berkali-kali dengan tekanan dan masalah, its okay, masih bisa senyum. Toh badai ga akan selamanya singgah. Akan ada masa damai aman tantram dan menyenangkan. Haha

Namanya juga kerja, diantara 30 hari dalam 1 bulan, pasti ada saja satu momen low yang sangat low sampai terfikir untuk menyerah. Kalo sudah begitu, hanya 2 kontak di HP yang bisa recharge. Sharing dengan ortu dan mas faiq. Diskusi beberapa menit, tanang, dan kembali lagi berpikir jernih. Mau kerja dimanapun, dengan lingkungan seperti apapun, pasti kita menghadapi saat-saat dimana resign adalah pilihan menarik. Di saat seperti itu, diam dulu, cari tempat curhat positif, jangan langsung ambil keputusan dalam keadaan "panas". Ingat kembali apa tujuan utama kita bekerja. Dan everything is under control ketika kita menyelesaikan masalah dengan kepala dingin ^^.

Ngene lho kerjo, apa yang kita dapatkan akan sesuai dg apa yg kita kerjakan. Penuh tekanan, masalah, iya, tapi coba tengok akhir bulan ketika gajian, Hahaha. Satu lagi, kerja di tempat penuh tekanan dan masalah akan membuat kita semakin berkembang dari hari ke hari. Kamu hari ini akan sangat berbeda dengan kamu di bulan depan. Karna otakmu terasah, kedewasaanmu teruji. Jadi tujuan lain selain salary? Itulah aktualisasi diri dan karir :)

Sabtu, 28 Juli 2018

Titik Jenuh

Perjalanan masih saangat panjang. Jalani, tekuni, sabar, tawakkal. Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya bukan?

Melihat teman-teman sudah bekeluarga, beberapa sambil bekerja, menimang buah hati mereka. Indah sekali. Melihat desain-desain rumah unik nan cantik, rasanya “nyaman sekali berada di dalamnya”. Namun semua butuh proses, tidak instan. Jangan percaya siapapun. Tidak ada penyihir yang bisa menjadikanmu Cinderella dalam satu malam. Semua harus diusahakan.

Kita memiliki rencana, A, B, C hingga Z. Tapi Allah selalu punya rencana lebih baik dari itu. Apalah manusia. Kadang hanya bisa menangis bersimpuh, namun lupa ketika berlimpah nikmat.

Dan kini, aku sedang berada di titik jenuh, mungkin titik terjenuh. Ingin pergi dari rutinitas ini, sudah seperti robot. Tak ada teman yang bisa dengan tulus ku ajak bercengkrama. Kehidupanku serasa pernuh dg kerja-tidur-kerja-tidur. Hiburan? Ah makan makanan lezat, dan menghamburkan uang.

Selebihnya aku jenuh.

Bekerja di tempat ini, uang melimpah, semua kebutuhan keluargaku terpenuhi, tapi aku kosong. Sungguh menjemukan jauh dari para staf lain, bertemu pun tak akrab, tak ada kenalan atau teman kuliah. Atau aku yang terlalu malas bersosialisasi. Teman itu diciptakan, dan butuh energi lebih untuk menciptakan “pertemanan” itu.


Ah aku rindu jogja, rindu rumah hijau itu, rindu setiap sudut kampusku, rindu kesibukan rumah belajar, rindu event2 sosial. Sempat terbesit, apa aku perlu mencari pekerjaan lain yg bisa ditempatkan di sana? Ah entahlah. Random.

Minggu, 27 Mei 2018

Dua Tiga dan Angin Segar

“Nok, jangan lupa selalu bersukur”. Alhamdulillah, itu nasehat yang selalu ibu ingatkan sebelum menutup telpon dari ku. Satu lagi, selalu berbaik sangka terhadap apa yg Allah gariskan pada ku. Belakangan, aku ribet sekali, kenapa Allah belum juga datangkan jodoh, padahal sudah berusaha merayu Allah ini itu. Mungkin aku terlalu panik. Usia ku sudah menginjak dua tiga, teman-temanku sudah memiliki putra. Sedangkan aku, hilal jodoh pun belum juga terlihat, haha.  Di sisi lain, peluang karir ku semakin terbuka. Aku jadi teringat nasehat Triana, dalam menjawab doa kita, Allah punya 3 jawaban: “ya”, “nanti”, atau “Aku punya yg lebih baik”. Mungkin ini saatnya move on memikirkan jodoh, haha. Mungkin Allah ingin aku “nanti” memikirkannya. Tak ada yg tak mungkin bagi Nya. Bumi masih terhampar luas, masih bejuta-juta manusia di muka bumi. Mudah sekali bagi Allah untuk membolak balikkan hati manusia. Jadi tenang, tak ada yg perlu dikhawatirkan sekalipun usiaku sudah dua tiga. Naudzubillahi min dzalik, apapun yg terjadi aku tak akan membuka cerita masa lalu, “F” , tak ada jalan kembali.

Sekarang yg ingin aku jalani adalah menikmati karir ku seperti layaknya aku menikmati bermain dengan soal-soal olimpiade matematika dahulu. Aku paham, aku tak akan berhasil 100%. Yang aku tau, apa yg aku jalani sekarang sangat menyenangkan. Kerikil tajam bahkan hantaman batu akan selalu ada, namun itu yang membuat jalanku lebih bermakna dan berwarna.

Selanjutnya, target kecilku, membuktikan aku bisa berprestasi di ibu kota. Mengembangkan networking lebih luas di sana. Impianku, satu tahun lagi, aku bisa menyodorkan program bagus, lalu bisa memegang rayon Yogyakarta, aktif lagi di olahraga freeletics, menjadi pembicara di event2 mahasiswa, memberikan hadiah bagus untuk simbah dan mba lala di warung property. Oh ya, sebelum itu, November 2018 aku sudah harus bisa menyetir mobil dengan sim A nya.

Sedikit tentang warung property. Sebuah "warteg" kalo orang biasa menyebutnya, bertempat di jalan Monjali Yogyakarta. Semenjak tahun 2010, warung itu selalu menyuplai asupan gizi ku, xixi. Harganya sangat terjangkau untuk aku yg hanya punya uang makan 50rb seminggu. Semakin berjalannya waktu, hingga aku lulus kuliah di 2017, tak banyak kenaikan harga yg diberikan pada ku. Khusus aku, ya walaupun harga ke pelanggan lain tergolongnya masih cukup murah dibandingkan warung lain. Aku sayang sekali dengan simbah dan keluarganya. Sering aku berlama-lama untuk ngobrol. Prinsip simbah, gapapa keuntungan sedikit, asalkan perputaran cepat. Hal ini sangat menguntungkan kami anak kosan, hehe. Sekarang Alhamdulillah, pelanggan semakin banyak, warung sudah lebih bagus, simbah dan keluarganya juga sudah bisa beli mobil avansa. Jadi ketika aku bisa kembali lagi ke sana, aku ingiin sekali memberikan simbah hadiah untuk kebaikan hatinya pada kami anak kosan :D .

Alhamdulillah, aku bahagia menjalani hari2ku saat ini. Seorang muslim yang baik, jika diberi anugerah maka akan bersyukur, dan jika diberi cobaan maka akan bersabar. Setiap manusia punya masa lalu. Apa yang ada pada dirimu saat ini bukanlah harga mati untuk kau tidak pernah berjuang memperbaikinya, bukan?  Ini aku, yg masih berusaha memaafkan masa lalu dan menjadi muslim lebih baik dari hari ke hari :)


Bandung, di sela istirahat kantor