Jumat, 23 Desember 2016

Something for you, Nak

source: http://blog.erikathornes.com/page/3/
“Nak, dulu Bunda suka sekali membaca tentang seorang muslim bernama Ibnu Sina. Dia hidup bertahuun tahun yang lalu. Dahulu, Ibnu Sina kecil suka sekali dengan Al-Qur’an. Di usia 10 tahun ia sudah bisa menghafal seluruh Al Qur’an. Tapi ada hal lain yang lebih Bunda suka. Ibnu Sina tidak hanya menghafal Al Qur’an dan sudah, eksklusif begitu saja. Tidak. Setelah dia menguasai Al Qur’an, dia mulai belajar ilmu-ilmu lain, seperti ilmu Kedokteran, Filsafat, bahkan Astronomi.”

“Bahkan di kampus Bunda, ada sebuah tugu kecil yang mengukir namanya. Sebagai Bapak Kedokteran Modern. Hebat bukan? Begitulah Nak, Al Qur’an merupakan sumber segala ilmu. Menurut Bunda, Ibnu Sina menjadikan Al Qur’an sebagai pondasi. Seperti orang membuat rumah nak. Di atasnya berdiri tiang-tiang keilmuan modern. Dengan sebuah pondasi yang kokoh, maka akan berdiri tiang-tiang yang kokoh pula”

“Nak, ayo belajar Al Qur’an bersama Bunda dan Ayah. Agar suatu saat kamu bisa sehebat Ibnu Sina. Pintar sekali putra Bunda ini.” :)


~Salah satu metode mendidik adalah dengan biografi sebuah tokoh. Teori mana? Teori dari ibuk tercinta. Kalo boleh cerita, dahuluu kala, berawal dari 20 tahun yang lalu. Ibu sering sekali menyanyikan lagu “Aisyah adinda kita” karya Bimbo. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang gadis bernama Aisyah yang bukan hanya cantik dan cerdas, namun juga menutup auratnya.

Sedikit banyak, -bahkan banyak sih sepertinya. Lagu itu tertanam dalam pikiran bawah sadarku. Hasilnya ya kurang lebih seperti aku ini, haha tapi banyak ga sempurnanya. Bagitulah selama ini aku mengembangkan diri. Seperti ada highway, aku ingin jadi apa.

Lebih indah lagi, kalo suatu saat bisa mensinergiskan ini dengan pasangan. Jadi keduanya bisa saling bahu membahu dalam  mewujudkannya. Apa lagi anak itu seperti kanvas putih. Mau seperti apa kedepan, Ayah dan Bundanya lah yang membentuknya, melukisnya.


Makanya fil, besok kalo masih awal2 menikah, buatlah guideline, manual prosedur, kurikulum, atau apapun itu untuk menyamakan persepsi seperti apa keluarga kecil nanti. Dengan apa anak akan dididik. *haha ngaca*. Eh tapi jauh sebelumnya harus menemukan “dia” yang se-visi dulu. Visi di dunia maupun di kehidupan setelah dunia *eaaaaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar