![]() |
| source: http://blog.erikathornes.com/page/3/ |
“Bahkan di kampus
Bunda, ada sebuah tugu kecil yang mengukir namanya. Sebagai Bapak Kedokteran
Modern. Hebat bukan? Begitulah Nak, Al Qur’an merupakan sumber segala ilmu.
Menurut Bunda, Ibnu Sina menjadikan Al Qur’an sebagai pondasi. Seperti orang
membuat rumah nak. Di atasnya berdiri tiang-tiang keilmuan modern. Dengan
sebuah pondasi yang kokoh, maka akan berdiri tiang-tiang yang kokoh pula”
“Nak, ayo belajar Al
Qur’an bersama Bunda dan Ayah. Agar suatu saat kamu bisa sehebat Ibnu Sina.
Pintar sekali putra Bunda ini.” :)
~Salah satu metode
mendidik adalah dengan biografi sebuah tokoh. Teori mana? Teori dari ibuk
tercinta. Kalo boleh cerita, dahuluu kala, berawal dari 20 tahun yang lalu. Ibu
sering sekali menyanyikan lagu “Aisyah adinda kita” karya Bimbo. Lagu tersebut
menceritakan tentang seorang gadis bernama Aisyah yang bukan hanya cantik dan
cerdas, namun juga menutup auratnya.
Sedikit banyak,
-bahkan banyak sih sepertinya. Lagu itu tertanam dalam pikiran bawah sadarku.
Hasilnya ya kurang lebih seperti aku ini, haha tapi banyak ga sempurnanya. Bagitulah
selama ini aku mengembangkan diri. Seperti ada highway, aku ingin jadi apa.
Lebih indah lagi,
kalo suatu saat bisa mensinergiskan ini dengan pasangan. Jadi keduanya bisa
saling bahu membahu dalam mewujudkannya.
Apa lagi anak itu seperti kanvas putih. Mau seperti apa kedepan, Ayah dan
Bundanya lah yang membentuknya, melukisnya.
Makanya fil, besok
kalo masih awal2 menikah, buatlah guideline,
manual prosedur, kurikulum, atau apapun itu untuk menyamakan persepsi seperti
apa keluarga kecil nanti. Dengan apa anak akan dididik. *haha ngaca*. Eh tapi
jauh sebelumnya harus menemukan “dia” yang se-visi dulu. Visi di dunia maupun
di kehidupan setelah dunia *eaaaaa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar