Jumat, 23 Desember 2016

Profesi

Kabar gembira untuk mahsisiwa Gizi angkatanku. Tahun depan akan segera dibuka program studi profesi gizi. Dimana mahasiswanya bersyarat para fresh graduate dan terbatas hanya untuk 40 mahasiswa.

Urung, lisanku langsung menolak mentah-mentah. mana mungkin seorang aku, dengan ekonomi keluargaku, bisa melanjutkan profesi gizi. Namun dalam renungku, ingin sekali aku merampungkan kuliah ini hingga profesi. Menjadi seorang Registered Dietitian, dan dapat membuka praktik sendiri.

Ingin sekali. Aku menyadari passionku adalah mendidik. Aku menjadi sangat bersemangat ketika diberi kehormatan untuk menyampaikan ilmu. Basic kuliahku bukan keguruan memang, namun terakhir aku sadari bahwa jiwa gizi adalah konseling. Mendidik seseorang untuk mau merubah pola makannya, meyakinkan agar mau menjalankan diet (pola makan) yang disarankan.

Profesi gizi. Salah satu gerbang untuk menyalurkan passionku. Jika senjata utama dokter adalah obat, maka senjata utama kami sebagai nutrisionis adalah konseling. Dengan merampungkan studi hingga profesi, maka kemampuanku dalam anamnesis hingga konseling gizi telah diakui (registered). Tapi sayang, kenapa biaya profesi mahal sekali :".

Satu-satunya pilihan paling rasional dalam benakku adalah bekerja. Ya. Lekas menyelesaikan skripsi, magang untuk mendapat pengalaman, dan bekerja

Pun aku adalah anak pertama. Yosh! Semangatt boruuu!!*


*boru adalah anak perempuan dalam suku batak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar