![]() |
| www.pinterest,com |
Hujan
mengguyur kota Bandung sore ini. Seperti biasa, kantor hanya menyisakan sepi. Hanya
aku sendiri yang masih berkutat dengan angka-angka. Waktu terus berjalan. Semakin
sore, aku belum menunaikan sholat ashar. Air segar mengguyur wajah ku, menenggelamkan
ku dalam khusyu wudhu. Ah lama aku tak bersimpuh dalam, selama ini hanya
rutinitas. Segala beban membuatku duduk tertunduk dalam waktu yang lama. Setetes
demi setetes, hingga deras, mengalir membasahi pipiku. Terbayang masalah demi
masalah yang sedang ku hadapi, ah tidak, selama ini pertolonganNya begitu
besar. Dia mengangkatku dari lembah hitam menjijikkan, Dia tutupi semua aib ku,
Dia angkat aku ke derajat lebih tinggi, Dia berikan aku anugrah demi anugrah
yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Tak terhitung berapa kali aku luput
dariNya. Aku selalu merasa, langkah ini
selalu dibimbingNya. Dia ciptakan masalah demi masalah, untuk aku kembali
padaNya, menjauhi maksiat. Dingin selalu membangunkanku sebelum subuh berkumandang,
namun aku, selalu nakal, hanya selimut yang lebih ku pilih. Saat ini, dalam
simpuh yang panjang, seolah aku disadarkan, kembali kembali kembali.
Aku masih
menangis, kala rentetan kata ini tertuang. Allah, ingin ku sandarkan kepala ini
pada seseorang, namun rupanya Engkau masih menginginkan sujudku lebih panjang,
atau doa ku yang lebih khusyu, mancurahkan segala ini hati ini padaMu. Sudah?
Selesai menangis nya? Sedari dulu aku berkomunikasi dengan diriku mealui kata.
Tanpanya, aku tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan.
Menjalani hari
demi hari sendiri, adalah suatu konsekuensi, suatu resiko yang harus aku
tanggung. “Bertanggungjawab atas semua pilihan”. Itu yang selalu ibu ingatkan
padaku. Bekerja di tempat ini adalah suatu pilihan, dan segala pernak pernik
pekerjaan adalah resiko yang harus aku selesaikan dan pecahkan.
Aku kuat.
Dari hari ke hari aku (harus) semakin kuat. Tempaan membuatku lebih dewasa. Ingat
ketika dahulu, masih di bangku kuliah, tak terhitung berapa lama aku menangis,
bapak ibu belum mampu mengirim uang mingguan, beasiswa belum turun, insentif
mengajar juga belum waktunya. Menangis aku menahan lapar, tak ada sepotong pun
roti maupun beras di kos. Menangis, tertidur, lalu lupa akan rasa lapar itu. Selalu
percaya, keadaan itu tidak akan selamanya. Saat ini, Allah menjawabnya sudah. Bahkan
gaji jauh di atas bayangan yang ku harapkan dahulu. Namun benar, semakin naik,
maka angin semakin kencang berhembus. Kesulitan finansial bukan lagi sebuah
masalah. Kini dihadapkan dengan masalah-masalah lain di pekerjaan, teman yang
jarang ku miliki, juga keinginan untuk menemukan teman seperjuangan yang menemani
langkah hingga tua nanti.
Sudah, Allah
belum menghadirkannya dalam hidupmu, bukan karena Dia tidak mendengar doa mu,
Fil. Mungkin, kamu yang belum pantas menerima teman hidup itu. Beberapa bagian
hidup mu, sifatmu, emosi mu, kematangan cara berfikirmu, perlu diperbaiki. Mungkin
memang karena kamu belum siap.
Tersenyum
ya, semua akan lebih mudah dihadapi dengan senyum mu, Fil. Oh ya, dari pagi
belum sempat makan ya, terlalu sibuk bekerja kamu, makanya emosimu labil,
nangis aja. Ayo sudahi, segera senyum dan makan, jangan sampai sakit, Fil :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar