![]() |
| source: www.etsy.com |
Tanpa Judul O_o
Okelah, di sela-sela belajar UAS, rileks dikit menuangkan
secuil pikiran. Beberapa detik lalu, aku tergelitik membuka sebuah trailer
film. Mengenai pernikahan dan poligami. Betapa si tokoh utama merasa dirinya
telah berada di negri dongeng dengan indahnya hidup yang dijalaninya. Suami yang
setia, anak-anak yang cerdas, karir menulis yang bagus. Hingga suatu hari
(kurang begitu jelas gmn ceritanya krn blm baca novelnya, ekek) si suami akan
menikah lagi. Kalo baca di goodreads sih itu novel bercerita mengenai poligami
dari segi pandang istri (pertama).
Duh, sakit banget pasti. Udah dia ikhlaskan hari-harinya
untuk sepenuhnya mengabdi pada suaminya, menjadi istri dan ibu yang baik, tapi
tiba-tiba.. Jika aku menjadi dia, pasti sangat berat menjalaninya. Terlepas siapapun
kalian pembaca blog ku (entah apa ada pembacanya atau tidak, wkwk). Aku ingin
sedikit curhat di sini, setidaknya aku merasa ada sahabat yang sedang
mendengarkan ceritaku.
Pernikahan. Aku tahu itu bukan perkara mudah.
Aku kemudian berkaca pada diriku sendiri. Ah, siapkah aku
menjadi seorang istri? Aku ingin, sangat ingin mendampingi dia, siapapun dia. Aku
ingin mengabdi padanya. Menjadi istri dan ibu sepenuh waktu, dengan tetap
memilki pekerjaan paruh waktu. Tapi, entahlah. Pandanganku mendadak berubah
setelah menyaksikan trailer film itu. Bagaimana jika aku menikah muda, dengan
usia pernikahan yang seumur jagung, badai itu datang? Apa aku siap? Apa emosi
dan psikis ku sanggup menghadapinya? Jika cinta suami terbagi? Jawabannya tidak,
aku tidak akan sanggup.
Apa aku harus menunggu hingga usiaku matang? Tidak juga. Aisyah
r.a. istri Rasulullah bahkan menikah pada umurnya yang belum genap 10 tahun
(lupa berapa). Sudahlah, yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berdoa, semoga
kelak dikaruniai seorang suami yang setia. Walaupun poligami diperbolehkan
dalam agama, namun tetap saja, aku pribadi pasti tidak sanggup.
Sudah, tutup laptop, buka bukuu.. belajarr!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar