Sabtu, 20 Juni 2015

Bocah Kecil dan Puntung Rokok


Bocah Kecil dan Puntung Rokok

Aaaa tidaa bisaa
Tangan ini geli pengen ngetik lagi. Pengalaman tadi siang ..

Menatap nanar pada bocah kecil yang aku perkirakan usianya sekitar 2-3 tahun.

Sambil memanasi motor, biasa mata menatap pada apapun di sekitar. Oke, sesosok ibu muda baru saja lewat di sebelah. Tak berapa lama, seorang anak kecil berjalan di belakangnya (berjarak sekitar 3 meter dari sang ibu). Di sebuah persimpangan, sang ibu berbelok. Namun si bocah berhenti. Awalnya aku mengira dia memakan sesuatu di tanah. Tapi aku pertajam penglihatanku (agak kabur tanpa kacamata), ternyata si bocah menghirup SISA PUNTUNG ROKOK!!! yang mungkin sudah dibuang pemiliknya namun masih berasap.

Ya Allah, ayah bunda dimana peran kalian. Bukankah kalian ditugaskan Allah untuk menjaga titipanNya (anak) ??  . ayah dan bunda, bukankah seharusnya kalian menjadi malaikat yang mengenalkannya pada sang Pecipta ?

Ayah, bunda, setahu saya, anak itu bagai kanvas kosong nan putih. Menjadi apa dia kelak, sepenuhnya itu cerminan dari apa yang dididik dan dilakukan kalian. Saya berani pastikan, si bocah yang menghisap sisa puntung rokok  pasti pernah melihat ayah atau paman atau kakeknya merokok di depannya. Bahkan mungkin sering (berulang, setiap hari) dia terpapar pada lingkungan perokok hingga dalam pikirannya tercipta presepsi rokok adalah hal keren ala orang dewasa. Si bocah mencoba layaknya perokok professional dengan dua jari menjepit puntung.

Ya Allah, hati saya menangis melihatnya. wahai ayah, bunda, masadepan putra kalian masih panjang dan luas. Apa kalian mau begitu saja membiarkan putra kalian terus-terus terpapar rokok, membuat nikotin dan zat lain merampas ikatan oksigen pada hemoglobin, pasokan oksigen di otaknya tidak mencukupi, lantas kemampuan kognitifnya rendah. Belum lagi, ketika dia mendapat nilai jelek, kalian akan melontarkan kata2 buruk yang membuatnya semakin terpuruk. Dia tidak dapat berkembang, hingga dewasa susah mendapat pekerjaan, kembali (maaf) miskin, lantas lari dari masalah dengan menghisap rokok, dia punya putra lagi, putranya terpapar hal yang sama. Tidak akan selesai lingkaran setan itu! Berputar begitu terus.

source: www.coolchaser.com
Wahai bunda, ujung tombak itu ada padamu, masa depan putramu ada di tanganmu. Hiasilah kanvas itu dengan warna-warna yang indah. Ciptakanlah suasana nyaman untuk perkembangan dan pertumbuhan putra-putrimu. Laranglah ayah merokok di depannya. Ciptakanlah komitmen antara ayah dan bunda untuk bersama mendidiknya. Kata pepatah “apa yang ada pada dirimu saat ini bukanlah harga mati untuk kau tidak pernah berjuang memperbaikinya”. Putra-putrimu punya masadepan yang luas, jauh terbentang di sana. Genetik? Miskin itu bukan terikat pada gen, kecerdasan memang terkait pada genetik, tapi kesuksesan itu 90% ada pada usaha. Ayah dan ibu masih bisa mengoptimalkan perkembangan otaknya dengan asupan makanan (yodium, omega3, omega6) , masih bisa memberikan kata-kata positif setiap hari yang menguatkan kepercayaan dirinya, masih bisa menciptakan lingkungan positif walaupun dalam kesederhanaan. :)

Entah sepertinya saya masih terlalu naïf, masih menjadi mahasiswa yang sehari-hari menelan teori. Masih belum mengerti sepenuhnya masyarakat. Saya pun belum pernah merasakan memiliki putra. Andai saya bisa bertukar pikiran dengan si ibu di jalan itu. Karena saya tau, saya berteriak-teriak di sini, siapa yang mau baca. Mereka, mungkin hanya facebook yang mereka kenal. Bismillah, semoga suatu saat lidah ini dapat menyampaikan kebaikan dan diterima masyarakat .. menjadi agen of change, insyaAllah, amin :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar