Bocah Kecil dan Puntung
Rokok
Aaaa tidaa bisaa
Tangan ini geli pengen ngetik
lagi. Pengalaman tadi siang ..
Menatap nanar pada bocah kecil yang aku perkirakan usianya sekitar 2-3
tahun.
Sambil memanasi motor, biasa mata menatap pada
apapun di sekitar. Oke, sesosok ibu muda baru saja lewat di sebelah. Tak berapa
lama, seorang anak kecil berjalan di belakangnya (berjarak sekitar 3 meter dari
sang ibu). Di sebuah persimpangan, sang ibu berbelok. Namun si bocah berhenti. Awalnya
aku mengira dia memakan sesuatu di tanah. Tapi aku pertajam penglihatanku (agak
kabur tanpa kacamata), ternyata si bocah menghirup SISA PUNTUNG ROKOK!!! yang mungkin
sudah dibuang pemiliknya namun masih berasap.
Ya Allah, ayah bunda dimana peran
kalian. Bukankah kalian ditugaskan Allah untuk menjaga titipanNya (anak) ?? . ayah dan bunda, bukankah seharusnya kalian menjadi
malaikat yang mengenalkannya pada sang Pecipta ?
Ayah, bunda, setahu saya, anak
itu bagai kanvas kosong nan putih. Menjadi apa dia kelak, sepenuhnya itu
cerminan dari apa yang dididik dan dilakukan kalian. Saya berani pastikan, si
bocah yang menghisap sisa puntung rokok pasti pernah melihat ayah atau paman atau kakeknya
merokok di depannya. Bahkan mungkin sering (berulang, setiap hari) dia terpapar
pada lingkungan perokok hingga dalam pikirannya tercipta presepsi rokok adalah
hal keren ala orang dewasa. Si bocah mencoba layaknya perokok professional dengan
dua jari menjepit puntung.
Ya Allah, hati saya menangis
melihatnya. wahai ayah, bunda, masadepan putra kalian masih panjang dan luas. Apa
kalian mau begitu saja membiarkan putra kalian terus-terus terpapar rokok,
membuat nikotin dan zat lain merampas ikatan oksigen pada hemoglobin, pasokan
oksigen di otaknya tidak mencukupi, lantas kemampuan kognitifnya rendah. Belum lagi,
ketika dia mendapat nilai jelek, kalian akan melontarkan kata2 buruk yang
membuatnya semakin terpuruk. Dia tidak dapat berkembang, hingga dewasa susah
mendapat pekerjaan, kembali (maaf) miskin, lantas lari dari masalah dengan
menghisap rokok, dia punya putra lagi, putranya terpapar hal yang sama. Tidak akan
selesai lingkaran setan itu! Berputar begitu terus.
![]() |
| source: www.coolchaser.com |
Wahai bunda, ujung tombak itu ada
padamu, masa depan putramu ada di tanganmu. Hiasilah kanvas itu dengan
warna-warna yang indah. Ciptakanlah suasana nyaman untuk perkembangan dan
pertumbuhan putra-putrimu. Laranglah ayah merokok di depannya. Ciptakanlah komitmen
antara ayah dan bunda untuk bersama mendidiknya. Kata pepatah “apa yang ada
pada dirimu saat ini bukanlah harga mati untuk kau tidak pernah berjuang
memperbaikinya”. Putra-putrimu punya masadepan yang luas, jauh terbentang di
sana. Genetik? Miskin itu bukan terikat pada gen, kecerdasan memang terkait
pada genetik, tapi kesuksesan itu 90% ada pada usaha. Ayah dan ibu masih bisa
mengoptimalkan perkembangan otaknya dengan asupan makanan (yodium, omega3,
omega6) , masih bisa memberikan kata-kata positif setiap hari yang menguatkan
kepercayaan dirinya, masih bisa menciptakan lingkungan positif walaupun dalam
kesederhanaan. :)
Entah sepertinya saya masih
terlalu naïf, masih menjadi mahasiswa yang sehari-hari menelan teori. Masih belum
mengerti sepenuhnya masyarakat. Saya pun belum pernah merasakan memiliki putra.
Andai saya bisa bertukar pikiran dengan si ibu di jalan itu. Karena saya tau,
saya berteriak-teriak di sini, siapa yang mau baca. Mereka, mungkin hanya
facebook yang mereka kenal. Bismillah, semoga suatu saat lidah ini dapat
menyampaikan kebaikan dan diterima masyarakat .. menjadi agen of change,
insyaAllah, amin :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar