Kamis, 11 Juni 2015

Romantisme ayah dan putrinya


Romantisme ayah dan putrinya

Source: www.styliwallpapers.com
Ayah, kau masih setampan ketika pertama kali aku melihatmu. Mungkin pertama katika aku melihat dunia. Seiring berputarnya roda waktu, tak sedikit warna rambutmu yang mulai memutih, lekuk bernama kerut di wajahmu pun mulai nampak. Meski begitu, kau masih segagah dulu untuk putrimu. Ayah, purtimu begitu mencintaimu. Terimakasih untuk samudra kesabaran yang begitu luas, yang telah kau hamparkan untuk keluarga kecilmu ini.

Satu bulan terakhir, aku sering merasa hampa dengan seluruh kegiatanku. Jujur saja, entah kenapa aku mudah sekali frustasi. Mungkin aku sedikit mengidap penyakit stress. Beruntung, tanggung jawabku sebagai seorang koordinator telah berakhir, aku bisa menghabiskan akhir pekan di rumah. Ah, rumah. Tempat yang selalu menawarkan kebahagiaan dan kehangatan, walaupun terkadang ada gejolak panas, sepertinya setiap rumah tangga memilikinya. Aku merasa, pulang adalah solusi terbaik. Selama ini, ketika orang tua ku menelpon “ sedang apa nok? Pulang ngga minggu ini?” , lebih sering ku lontarkan jawaban “mboten buk, ada kegiatan”. Begitu selama bertahun-tahun terakhir. Sejak SMP aku sudah berpisah dengan orang tua ku. Ah tidak ada salahnya akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu dengan mereka. Supaya mereka masih merasa memiliki putri, hihi.

Ayah yang akrab aku sapa dengan sebutan “bapak” sedari kecil, sering membuatku tertawa ketika menangis, ketika aku mengeluh, pun ketika aku rewel hingga saat ini. Dengan candaan-candaan kecil kami sering tertawa bersama. Beberapa waktu terakhir aku sering meledek ayahku “wii, perut bapak mulai hamil, ati-ati lho pak resiko penyakit sindrom metabolic (baca: diabetes, jantung, hipertensi, dll) , makanya pak, olahraga :p ” dan ayahku hanya tetawa kecil sambil melontarkan ejekan lain untukku.

Beberapa kepulangan terakhir, ada keajaiban baru, haha. Seperti biasanya, selepas subuh dan selesai berdzikir, ayah ke kamarku dan melemparkan benda2 kecil ke arahku yang masih belum sepenuhnya bangun. Menggelitiki kakiku dengan bulu-bulu boneka ku. Mengambil selimutku. Atau menutup (bhs jawa: mbetet) hidungku. Sambil melayangkan nyanyian paginya “ayo bangun, wis sholat subuh hurung ki”. Oke fine, mau tak mau aku pun bangkit dari tidurku. Selesai aku menunaikan subuh, tidak seperti biasanya yang menyalakan TV dan mendengarkan ceramah ustad YM, ayah mencegahku tidur lagi. Ia mengajakku jalan-jalan di desa.

Asiiiik, teriakku dalam hati. Aku dilahirkan di sini, namun jarang sekali aku menikmati udara desa ini. Terakhir, sewaktu SD. Ayah mengajakku ke rute yang berbeda dari biasanya. Melalui jalan-jalan kecil di sub-desa. Jalan-jalan ini bukan hanya sekedar berjalan, namun juga bertukar kata. Aku bercerita banyak hal kepada ayah sepanjang perjalanan. Kuliahku, organisasiku, hingga hubunganku dengan teman-teman. Sesekali, kami melewati tempat-tempat bersejarah(buatku). Pemandian kecil di dekat mata air, tempat aku dan teman-teman SD ku pernah mandi di sana. Atau tanah lapang diantara pohon-pohon bambu (lumayan horor) yang pernah sempat menjadi bakal rumah kami (tp tdk jadi).

Sambil berjalan, aku menyamakan pundakku dengan pundaknya. Terkadang ketahuan, hihi. Ayahku langsung menegakkan badannya dan menjinjitkan kakinya. Kalau sudah bergitu, aku langsung manyun :3 “aaa baapak, kan mba ida udah hampir sama tingginya sama bapak”, dan ayahku pasti tertawa menang mendengarnya. Dengan medan yang mulai becek dan tidak lagi beraspal, aku mulai rewel. “pak, batu-batunya bikin sakiit”, dengan mudahnya ayahku menjawab “lho, ini malah pijat refleksi alami”, cep, diam aku. Lagi, di suatu jalan “paak, becek, bau keboo pak”. Apa kata ayahku “dadi uwong ki rausah kakean ngeluh, lakoni wae, makin ngeluh makin abot”. Jlebb, satu kalimat. Tapi dalam maknanya. Aku langsung terdiam. Dalam bahasa Indonesia Jadi manusia itu jangan terlalu banyak mengeluh, dijalani saja, semakin banyak mengeluh maka semakin berat bebanmu. Ah ayah :”) betapa sering putri mu ini mengeluh. Maafkan putri mu ya ayah –dalam hati-.

Begitulah, hingga akhir perjalanan kami adalah Kali Ngelis. Sebuah sungai yang dibendung dan dibagi ke beberapa sungai kecil untuk mengairi sawah di banyak penjuru desa kami. Udara masih sangat sejuk ketika kami sampai di tempat itu. Rumput-rumput hujau pun masih berembun. Ada taman kecil di sana, uniknya warna daun di taman itu ada 3 macam, merah, kuning, dan hijau tua. Indah sekali. Aku mencuci kaki ku di anak sungai kecil. Sempurna :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar