Romantisme ayah dan putrinya
![]() |
| Source: www.styliwallpapers.com |
Ayah,
kau masih setampan ketika pertama kali aku melihatmu. Mungkin pertama katika
aku melihat dunia. Seiring berputarnya roda waktu, tak sedikit warna rambutmu
yang mulai memutih, lekuk bernama kerut di wajahmu pun mulai nampak. Meski
begitu, kau masih segagah dulu untuk putrimu. Ayah, purtimu begitu mencintaimu.
Terimakasih untuk samudra kesabaran yang begitu luas, yang telah kau hamparkan
untuk keluarga kecilmu ini.
Satu bulan terakhir, aku sering
merasa hampa dengan seluruh kegiatanku. Jujur saja, entah kenapa aku mudah
sekali frustasi. Mungkin aku sedikit mengidap penyakit stress. Beruntung, tanggung
jawabku sebagai seorang koordinator telah berakhir, aku bisa menghabiskan akhir
pekan di rumah. Ah, rumah. Tempat yang selalu menawarkan kebahagiaan dan kehangatan,
walaupun terkadang ada gejolak panas, sepertinya setiap rumah tangga
memilikinya. Aku merasa, pulang adalah solusi terbaik. Selama ini, ketika orang
tua ku menelpon “ sedang apa nok? Pulang ngga minggu ini?” , lebih sering ku
lontarkan jawaban “mboten buk, ada kegiatan”. Begitu selama bertahun-tahun
terakhir. Sejak SMP aku sudah berpisah dengan orang tua ku. Ah tidak ada
salahnya akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu dengan mereka. Supaya mereka
masih merasa memiliki putri, hihi.
Ayah yang akrab aku sapa dengan
sebutan “bapak” sedari kecil, sering membuatku tertawa ketika menangis, ketika
aku mengeluh, pun ketika aku rewel hingga saat ini. Dengan candaan-candaan kecil
kami sering tertawa bersama. Beberapa waktu terakhir aku sering meledek ayahku “wii,
perut bapak mulai hamil, ati-ati lho pak resiko penyakit sindrom metabolic (baca:
diabetes, jantung, hipertensi, dll) , makanya pak, olahraga :p ” dan ayahku
hanya tetawa kecil sambil melontarkan ejekan lain untukku.
Beberapa kepulangan terakhir,
ada keajaiban baru, haha. Seperti biasanya, selepas subuh dan selesai berdzikir,
ayah ke kamarku dan melemparkan benda2 kecil ke arahku yang masih belum
sepenuhnya bangun. Menggelitiki kakiku dengan bulu-bulu boneka ku. Mengambil
selimutku. Atau menutup (bhs jawa: mbetet)
hidungku. Sambil melayangkan nyanyian paginya “ayo bangun, wis sholat subuh
hurung ki”. Oke fine, mau tak mau aku
pun bangkit dari tidurku. Selesai aku menunaikan subuh, tidak seperti biasanya
yang menyalakan TV dan mendengarkan ceramah ustad YM, ayah mencegahku tidur
lagi. Ia mengajakku jalan-jalan di desa.
Asiiiik, teriakku dalam hati. Aku dilahirkan
di sini, namun jarang sekali aku menikmati udara desa ini. Terakhir, sewaktu
SD. Ayah mengajakku ke rute yang berbeda dari biasanya. Melalui jalan-jalan
kecil di sub-desa. Jalan-jalan ini bukan hanya sekedar berjalan, namun juga
bertukar kata. Aku bercerita banyak hal kepada ayah sepanjang perjalanan. Kuliahku,
organisasiku, hingga hubunganku dengan teman-teman. Sesekali, kami melewati
tempat-tempat bersejarah(buatku). Pemandian kecil di dekat mata air, tempat aku
dan teman-teman SD ku pernah mandi di sana. Atau tanah lapang diantara
pohon-pohon bambu (lumayan horor) yang pernah sempat menjadi bakal rumah kami
(tp tdk jadi).
Sambil berjalan, aku menyamakan
pundakku dengan pundaknya. Terkadang ketahuan, hihi. Ayahku langsung menegakkan
badannya dan menjinjitkan kakinya. Kalau
sudah bergitu, aku langsung manyun :3 “aaa baapak, kan mba ida udah hampir sama
tingginya sama bapak”, dan ayahku pasti tertawa menang mendengarnya. Dengan medan
yang mulai becek dan tidak lagi beraspal, aku mulai rewel. “pak, batu-batunya
bikin sakiit”, dengan mudahnya ayahku menjawab “lho, ini malah pijat refleksi
alami”, cep, diam aku. Lagi, di suatu jalan “paak, becek, bau keboo pak”. Apa kata
ayahku “dadi uwong ki rausah kakean
ngeluh, lakoni wae, makin ngeluh
makin abot”. Jlebb, satu kalimat. Tapi dalam maknanya. Aku langsung
terdiam. Dalam bahasa Indonesia Jadi
manusia itu jangan terlalu banyak mengeluh, dijalani saja, semakin banyak
mengeluh maka semakin berat bebanmu. Ah ayah :”) betapa sering putri mu ini
mengeluh. Maafkan putri mu ya ayah –dalam hati-.
Begitulah, hingga akhir perjalanan
kami adalah Kali Ngelis. Sebuah sungai
yang dibendung dan dibagi ke beberapa sungai kecil untuk mengairi sawah di
banyak penjuru desa kami. Udara masih sangat sejuk ketika kami sampai di tempat
itu. Rumput-rumput hujau pun masih berembun. Ada taman kecil di sana, uniknya
warna daun di taman itu ada 3 macam, merah, kuning, dan hijau tua. Indah
sekali. Aku mencuci kaki ku di anak sungai kecil. Sempurna :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar