Minggu, 12 Januari 2014

Sekelumit bahasa (krama)



Sekelumit bahasa (krama)

Kita orang mana?

Sejenak telintas di benakku mengenai sepotong kalimat itu. Melayangkan fikiran yang tumbuh dari sepotong pesan singkat. “Fil, bahasa kramanya –setiap pagi- apa ya?”. Berfikir keras, lama, tidak juga pecah dalam kata. Mencoba mengingat ingat. Enjang (pagi), hanya itu yang terlintas. Payah ini bahasa ibu, kenapa tidak bisa?

Sejenak aku merenung mengganti bahasa. Every morning (Inggris) atau kullu shabahah (arab). Lancar. Duhai, apa yang terjadi. Aku yang tinggal di kota budaya, yang seharusnya masih kental akan kebudayaan Jawanya saja tidak bisa berbahasa karma yang benar. Bagaimana dengan di tempat lain? Agaknya, arus globalisasi yang terlalu deras sudah menguliti identitas kita.

Bahasa Jawa. Melalui bahasa kita mendapatkan nilai tata karma (baca: moral) yang luhur. Dengan segala serba serbi mutiara kata yang sarat akan maknanya. Seharusnya ini bisa menjadi penyaring dampak globalsasi. Hingga dampak negatif dapat semaksimal mungkin ditekan. Sehingga kita mempunyai identitas di kancah dunia. Ini lho masyrakat Jawa yang masih menjunjung tinggi budayanya.

Teringat seorang teman, dengan gelar “Raden Roro” di depan namanya (gelar bagi keturunan keraton).—maaf tanpa ingin menyinggung siapapun--.  Suatu hari kami dalam satu divisi yang sama, yang mengharuskan berkomunikasi dengan masyarakat desa menggunakan bahasa krama. Namun, dia tidak bisa menggunakan bahasa itu.  Hanya dapat mengerti tanpa bisa mengucap. Dia tinggal masih dalam wilayah Yogyakarta. Ternyata sedari kecil, orangtuanya membiasakan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Beberapa kali mengamati keluarga-keluarga di Jogja dan sekitarnya. Ternyata, orang tua sekarang membiasakan berkomunikasi dengan putra putrinya menggunakan bahasa Indonesia. Terlebih bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke atas. Padahal, bhineka tunggal ika tidak akan demikian jika tidak ada bahasa daerah (jadinya hanya”ika”). Padahal pula, transfer moral yang luhur juga dilakukan melalui bahasa.

Seorang guru pernah berpetuah “Ajak anak kalian berkomunikasi dengan bahasa jawa karma, karna dia tidak akan mendapatkannya secara utuh kecuali dari orangtuanya dan keluarganya. Bahasa Indonesia akan biasa digunakan gurunya di sekolah nanti. Begitu pula bahasa Inggris dan bahasa asing lain, akan diajarkan melalui bangku sekolah maupun kursus”. Begitulah wahai ibu, calon ibu, ayah dan calon ayah. Mari kita melestarikan suatu permata indah bernama bahasa yang terbalut dalam luhurnya budaya ini.

1 komentar: