Jumat, 21 Februari 2014

MP-boulevard runner #1




Untuk hitungan tepatnya, aku lupa. Namun kira-kira sudah berjalan hampir lima bulan kesertaanku dalam Unit Kegiatan Mahasiswa ini. ada yang unik dari setiap latihan rutin yang aku jalani. Dan mungkin ini jadi momok paling menyebalkn dari seluruh sesi latihan, terutama bagi kami anggota baru. Yaitu lari mengelilingi boulevard *ga tau tulisannya* sepanjang dua kali putaran (kurang lebih 1,6 km) yang harus ditempuh dengan target waktu 8 menit tepat. Namun justru dari sesi ini lah aku memetik banyak buah hikmah.
Di bulan-bulan pertama, menjadi langganan dihukum adalah makanan rutin bagi kami. Tak ada sekali latihan pun yang lolos dari hukuman. Pencapaian lari ku melebihi 8 menit (bahkan hingga 10menit). Hingga suatu saat salah satu teman yang masih baru pula, dia bisa memecahkan mitos bahwa dasar 1 putri (tingkatan pemula) dapat berlari kurang dari 8 menit. Badannya bahkan lebih kecil dari postur tubuhku. Hei kenapa aku tidak bisa? Dari dia, aku terinspirasi. Dan jadilah. Aku mempercepat langkahku. Hingga suatu malam latihan, untuk pertama kali aku memecahkannya. 8 menit tepat.
Di malam-malam berikutnya, aku sesekali masuk  kurang dari 8 menit, walaupun lebih sering dihukum tentunya. Terus, terus saja aku menata diri. Aku jadikan setiap awal latihan adalah kesempatan baru. Untuk memecahkannya. Untuk lolos dari hukuman. Tidak salah lagi, aku adalah tipe orang yang phobia hukuman. Aku akan melakukan segala cara untuk lolos, atau minimal terhindar darinya.
Banyak hal yang aku pikirkan ketika aku berlari. Dan yang paling mengena adalah mengenai JARAK dan WAKTU. Dua hal itu menjadi pokok dalam permasalahan lari ku. Aku harus mengarungi jarak itu, menggerusnya menjadi bilangan yang lebih kecil. Selangkah demi selangkan. 1600 meter hingga menjadi 0 meter. Dan itu bukan perkara yang mudah ketika kita hanya memiliki kesempatan: tempuhlah dalam waktu tersebut.
Layaknya sebuah masalah, kita hanya dapat memecahkannya dengan kecepatan. Hal itu buakan perkara yang mudah terutama bagi seorang yang dulunya benci olahraga seperti ku. Tak seperti mengendarai motor yang hanya dengan sedikit memutar genggaman tangan kita mendapatkan perceptan tinggi, tidak. Kaki yang terasa lelah harus terus diadu. Tubuh yang sedari tadi ingin istirahat harus ditegaskan. Tak jarang aku meneteskan air mata ketika berlari. Degup jantungku berdebar keras. Semua harus ku abaikan. Dan ternyata, itu cukup untuk memenuhi target MINIMAL dari pelatih.
Aku tahu, banyak teman-teman yang jauh lebih cepat dari ku. Biarlah, aku sedang ingin memberi penghrgaan pada diriku sendiri. Sembari terus melatih diri. Biar manusia kecil kurus ini berlatih dan berlatih, suatu waktu nanti hingga bisa seperti kalian :)

2 komentar: