Gorengan 600,-
Geli juga melihat tulisan itu. Hampir
di setiap penjual gorengan menarif harga sekian. Sedih rasanya, karna itu
artinya uang tiga ribu perak yang biasanya bisa manukar 3 biji tahu dan 3 biji
tempe sekarang menjadi 3 tahu dan 2 tempe. Terlepas dari itu semua, ini
persoalan ekonomi, persoalan inflasi bla bla bla. Hampir tiap tahun begini. Ini
awal 2014 dan harga-harga mulai tidak beres -.-
Orang bilang ini Negara demokrasi,
yang kekuasaannya katanya dari rakyat
oleh rakyat dan untuk rayat. Pusing juga mikirin yang diatas, si penentu
kebijakan. Entah karna memang begitu seperti yang disosialisasikan ke
masyarakat, atau ada oknum-oknum yang bermain di balik ini semua. Yang jelas,
rakyat kecil makin tercekik. Masih mending kalau inflasi harga bahan pokok diikuti
inflasi harga gaji petani, gaji buruh cuci, gaji penjahit. Oke, mungkin tarif mereka
sedikit naik, tapi apa mungkin menutupi semua kebutuhan mereka seperti sedia
kala? Pusing kalo difikir.
Pakar ekonom bilang, pertumbuhan
ekonomi Indonesia bagus. Setiap tahun mengalami peningkatan. Bagus, iya bagus
memang. Jalanan mulai dipenuhi mobil-mobil bagus. Tidak terkecuali Jogja ku. Mau
kesana macet mau kesini macet. Yah maklumlah, pertumbuhan ekonomi Indo bagus,
jadi banyak yang bisa beli mobil. Tapi disadari atau tidak, jurang pemisah
antara si kaya dan si miskin makin jauh. Di satu sisi suatu keluarga bisa beli
mobil untuk masing-masing sang suami, sang istri, anak pertama, anak kedua, anak
ketiga dan seterusnya, double untuk pergi bareng sekeluarga, dan bla bla bla. Di
sisi lain, kakek pencari kardus dan barang-barang bekas yang berjalan di
depanku ketika mau beli gorangan tadi, berapa rupiah yang ia dapat sehari. Apa rupiah
yang ia dapat juga mengalami kanaikan di 2014 ini? Entahlah.
Ada yang salah dengan Indonesiaku.
Ada yang salah. Beberapa hari lalu aku berdiskusi dengan seorang teman. Ada
simpul yang kusut. Ada pipa yang tidak terhubung. Ialah pendidikan. Dengan pendidikan
seeorang dapat memenangkan persaingan. Dengan pendidikan seseorang dapat
membuka lapangan pekerjaan. Dengan pendidikan seseorang dapat mengolah alam
dengan lebih bijak dan dimanfaatkan sefektif sefisien dan semaksimal mungkin. Agar
pangan tidak lagi dikuasai pasar impor. Agar minyak alam dan gas bumi kita
dapat dimanfaatkan sebijak mungkin. Agar harga LPG normal. Agar para ibu tidak
kebakaran jenggot mempertahankan dapur tetap mengepul.
Tugas siapa? Tugas kita, manusia
terdidik yang sekarang duduk di bangku-bangku perkuliahan. Tugas kita, pelajar
di jenjang apapun. Amanah pembukaan UUD tersematkan di pundak-pundak kita “mencerdaskan
kehidupan bangsa”. Cerdaskan Indonesia kita, cerdaskan masyarakat kita.
Ahli teknik melakukan inovasi
alat-alat canggih nan mempermudah kerja apapun. Ahli pertanian, agro, dan
sejenisnya cerdaskan para petani kita. Ajarkan cara menanam efektif yang bisa
menghasikan berlipat-lipat dengan luas lahan yang sama. Ahli gizi memberi
arahan kepada keluarga-keluarga untuk mengonsumsi makanan bergizi yang dapat
melahirkan generasi sehat nan cedas. Ahli politik, hukum, dan lain-lain di
jurusan sosial, silahkan duduk di atas. Di penentu kebijakan. Atau dimanapun
yang kalian mau, asal menguntungkan bangsaku bukan bank-saku.
Apapun disiplin ilmu yang sedang
digeluti, alangkah indah jika sama-sama berkontribusi walaupun sedikit ke
Indonesia kita. Terlalu perfeksionis memang. Tapi mengapa tidak. Mengapa tidak,
setiap dari kita berfikir seperti ini. minimal diri kita. Tidak usah banyak
berdebat dan mencari teori sana sini menganai ini itu. Ayo kita bergerak. Indonesia
membutuhkan BUKTI, bukan janji!
Entahlah, nglantur sana sini. Yang
penting, isi pikiran tertuang. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar