Laman

Sabtu, 28 Juli 2018

Titik Jenuh

Perjalanan masih saangat panjang. Jalani, tekuni, sabar, tawakkal. Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya bukan?

Melihat teman-teman sudah bekeluarga, beberapa sambil bekerja, menimang buah hati mereka. Indah sekali. Melihat desain-desain rumah unik nan cantik, rasanya “nyaman sekali berada di dalamnya”. Namun semua butuh proses, tidak instan. Jangan percaya siapapun. Tidak ada penyihir yang bisa menjadikanmu Cinderella dalam satu malam. Semua harus diusahakan.

Kita memiliki rencana, A, B, C hingga Z. Tapi Allah selalu punya rencana lebih baik dari itu. Apalah manusia. Kadang hanya bisa menangis bersimpuh, namun lupa ketika berlimpah nikmat.

Dan kini, aku sedang berada di titik jenuh, mungkin titik terjenuh. Ingin pergi dari rutinitas ini, sudah seperti robot. Tak ada teman yang bisa dengan tulus ku ajak bercengkrama. Kehidupanku serasa pernuh dg kerja-tidur-kerja-tidur. Hiburan? Ah makan makanan lezat, dan menghamburkan uang.

Selebihnya aku jenuh.

Bekerja di tempat ini, uang melimpah, semua kebutuhan keluargaku terpenuhi, tapi aku kosong. Sungguh menjemukan jauh dari para staf lain, bertemu pun tak akrab, tak ada kenalan atau teman kuliah. Atau aku yang terlalu malas bersosialisasi. Teman itu diciptakan, dan butuh energi lebih untuk menciptakan “pertemanan” itu.


Ah aku rindu jogja, rindu rumah hijau itu, rindu setiap sudut kampusku, rindu kesibukan rumah belajar, rindu event2 sosial. Sempat terbesit, apa aku perlu mencari pekerjaan lain yg bisa ditempatkan di sana? Ah entahlah. Random.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar