Senin, 30 Mei 2016

Mungkin Sebuah Pendewasaan


     Ingin aku menuliskannya, semoga suatu saat nanti aku tersenyum ketika membaca tulisan ini. Berkhusnudzan kepada Allah, mungkin ini cara Allah mendidikku. Pagi ini, salahku, aku tak bisa menepati janji untuk berangkat setelah subuh. Jadilah aku tak tega meminta temanku untuk mengantar ke terminal.
            Pukul 05.59, jalanan sudah mulai terang. Mungkin sudah ada angkot jam segini, pikirku. Ah ya, aku melihat dompet, dan benar, uangku hanya sisa 10 ribu. Itu sudah semua simpanan ku. Masih ada receh, ku hitung hanya 2 ribu. Yah, angkot dr kos ke terminal 3 ribu. Dari terminal ke magelang 10 ribu. Aku tak dapat menggunakannya untuk biaya angkot. Jadilah aku berjalan dari kos ku di daerah TVRI ke jombor. Alhamdulillah, Allah masih memberiku karunia kaki yang sehat. Aku masih dapat pergi kemanapun dengan kaki ini, meski memakan banyak waktu, meski seperti biasanya pada malam hari aku akan merintih kesakitan karena berjalan terlalu jauh. Sempat memutar otak, bagaimana jika meminta bantuan teman lain. Ah, kos mereka di daerah ugm, jauh. Tetangga kos juga sedang pulang dan KL. Mataku menatap nanar ketika angkot-angkot melewatiku. Ada 6 hingga aku sampai terminal, ah tak apa
            Seharusnya, pagi ini aku masih punya sisa uang, tapi semalam, salah satu temanku mengajak makan. Dia tau aku blm makan dari pagi. Aku percaya, sebenarnya aku kuat tak makan hingga pagi ini, hingga sampai rumah dan makan masakan ibu, tapi temanku terus memaksa. Yasudah, mungkin demi kebaikanku juga. Kali ini aku mencoba membayar sendiri walaupun sedikit kekurangan masih dibayarnya, aku tau kondisinya juga sedang kekurangan.
            Baginilah, dengan kondisiku yang seperti ini pun orang tuaku sudah berusaha maksimal. Sering tetanggaku menasehati agar aku serius belajar. “da, bapak ibumu ki wis pontang panting golek duit awan begi, ida nek belajar sing tenanan, ojo ngecewakke bapak ibu”. Ida adalah nama panggilanku di rumah. Begitulah, aku mengumpulkan uang beasiswaku setiap bulan untuk meringankan orang tua ku membayar UKT setiap semesternya. (terimakasih para donatur Karya Salemba Empat, tiga tahun ini saya bisa tetap kuliah). Terkadang ada keinginan seperti penerima lain, bisa membelanjakan uang beasiswa untuk beli hp, beli sepatu. Ah sepatu, kedua sepatuku berharga 60 ribu, dan tahun demi tahun telah menemaniku walaupun sekarang beberapa sisi telah menunjukkan uraian benangnya.
            Aku tahu, aku bukan satu-satunya mahasiswa yang merasakan ini. Di luar sana, bahkan mungkin banyak yang harus lebih prihatin dari ku. Makan dengan nasi garam, atau nasi kecap. Aku bersyukur ada kompor di kos. Aku bisa beli sayur 2 ribu dan tempe 3 ribu untuk ku olah menjadi menu makanan sehari. Kadang beberapa kali aku harus mengencangkan perut ketika berasku habis, mejikomku bermasalah atau di warung tidak ada stok gas ketika gasku habis. Aku bersyukur, punya teman-teman yang baik. Sesekali ada yang mengantarku ketika aku tak memiliki kendaraan. Bahkan teman dekatku beberapa kali mentraktir ku makan. Terimakasih teman-teman, terimakasih atas segala kebaikan kalian, semoga Allah selalu memberi kemudahan untuk kalian, amin :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar