Sejak kapan bunga-bunga itu merekah, aku tidak tahu persis waktunya. yang jelas, aku menemukannya di suatu sore sepulang rutinitas sibuk kelas 3. ketika itu, seribu tali mengikat kepalaku. gerah seharian beraktivitas, ditambah bekas asap sepeda motor yang menempel di jaketku, membuatku ingin semakin cepat melangkahkan kaki ini menuju peraduan terakhirku.
jarak sekolah dan kos ku tidak begitu jauh. hanya butuh waktu 3 menit untuk mencapainya. gang di belakang sekolah menjadi satu-satunya jalan menuju kos. berbeda dari biasanya. bau tanah. namun langit tidak menunjukkan tanda-tanda hujan, pun sisa hujan.
aku sengaja menegadahkan kepalaku, mencari sesuatu yang lain dari biasanya. berpuluh-puluh tangkai anggrek telah merekah. indah. berwarnakan ungu yang elok sempurna. mahkota-mahkota bunganya basah, masih terhitung menit siraman empunya. bagai embun di pagi hari. butiran-butiran air yang bergulir, bergabung dengan butiran lain. indah sekali.
konon, aku sering melihat empunya dengan sabar merawat satu demi satu koleksinya. mungkin, tanah jogja terlalu padat, hingga tembok gang (yg mungkin dulu adalah halaman rumahnya) menjadi tempat bunga-bunga itu menggelantung sempurna. seorang nenek yang mungkin dulu adalah saksi sejarah kelahiran negri ini.
terhitung bilangan bulan aku akan meninggalkan tempat ini, insyaallah. ketika suatu saat aku kembali, aku ingin melihat bunga-bunga ini merekah dengan indah menyambut kedatanganku. bunga-bunga itulah yang setiap hari menghiburku, melupakan penat dan dan sesaknya tinggal di tempat ini. semoga, waktu yang bergulir tidak lantas menggilasnya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar