Senin, 18 Februari 2013

Dia Sahabat Kental ku ^-^

  ICHA
Teman, ingin ku ceritakan padamu mengenai seorang sahabat yang begitu spesial dalam melewati masa putih abu-abu ku. Jangan kalian tafsirkan bahwa dia adalah seorang laki-laki, dengan perasaan merah jambu pada ku. Bukan.
Bermula dari keterpaksaan ku menjalani hidup sederhana demi ambisi besarku. Merayu habis orang tua untuk dapat tinggal di rumah kos. Hari-hari itu begitu berat bagi ku. Tak sedikitpun aku mau membagi cerita penderitaanku dengan orang tua ku. Aku terlalu gengsi untuk itu. Mungkin bahasaku terlalu berlebihan. Tapi menurutku, begitulah adanya.
Aku mengenalnya semenjak satu rumah kos dengannya. Sering kami pergi membeli makan bersama, nonton film di latop kala sepi, mengerjakan tugas bersama, banyak hal yang kami lakukan berasama. Mulai dari hal yang menyenangkan hingga hal-hal yang tidak mengenakkan.
Aku kagum dengan sosoknya. Dia seorang yang kukuh pada pendiriannya. Percaya diri dengan apa yang dilakukannya. Peduli. Baik hati. Ramah. Semua itu ada padanya. Nanti akan ku uraikan satu persatu tentangnya. Tentu saja, dia bukanlah seorang yang sempurna. Sebagai seorang berdarah Makassar yang hampir 6tahun tunggal di jogja, sifat Makassarnya masih kental. Tahu lah, orang Makassar seperti apa. Aku bingung ingin bercerita dari mana, karna beribu-ribu cerita telah kami ukir bersama. Emm, mungkin dari cerita unforgettable bin asyik bin ngeri aja yaa.
Tahun pertama hijrahku ke jogja. Menjelang ujian semester hingga hari-hari saat malam ujian semester.  Aku tertarik dengan salah satu kamar kos yang ukurannya lebih kecil dari 3m3 yang kebetulan baru ditinggal pindah oleh penyewanya. Kecil sih, tapi ada satu yang membuatnya beda dengan kamar lain. Yaitu teras mungil pribadi di depannya. Anak-anak kos lain sempet iri juga sih sama aku, gara-gara aku duluan yang mesen kamar itu, hehe. Tapi, sumpah, teras itu berkesan banget berooo.
Bergaya layaknya anak kecil yang nggak punya dosa, aku dan sahabatku itu menggelar tikar kain di sana. Duduk santai hingga menjelang malam. Selalu memegang buku yang belum tentu 100 % kami baca. Senda gurau, ngliatin orang-orang lewat di jalan, ketawa kakak kikik nggak jelas. Nonton film sampe larut. Semua dilakuin di teras itu. Sakin betahnya, kami berdua sampe bawa bed cover ke teras mungil. Indah banget sih, lebih keren dari hotel bintang lima. Karna bintang kami berjuta-juta di atas sana (langit).
Sampai suatu saat, saking indahnya cuaca malam itu, kami memutuskan untuk tidur di teras itu sampe pagi. Waktu mulai berjalan. Tip tap tip tap.. dan terdengar bunyi “kruyuuuk kruyuk” dari perut kami. Pukul 10 malam rupanya. Tak tahan dengan kelaparan yang semakin menjadi, kami memutuskan untuk berkelana mencari makanan di Jalan Magelang. Bayangkan, dua manusia super manis-manis keluar dengan sepeda malam-malam hanya untuk membeli martabak manis. WOW ! :D
Usai mengsi amunisi, kami kembali pada tempat pertapaan suci kami di teras. Hmm, nyam nyam. Bagai malaikat yang mau menyelamatkan dua perut dengan cacing-cacing ganas, martabak manis ludes berpindah tempat ke perut kami. Hingga waktu mulai beranjak ke status midnight. Ketawa kami terus pecah dengan topik-topik geje peneman belajar kami. Tiba-tiba terdengar suara dari bawah “Mbaaa, mbaa”. Sontak ! bulu kuduk kami berdiri.
“Waaaaaaaa..” kami menjerit lirih. Antara takut dan terancam. Dug dug dgu.. denyut jantung kami terus berpacu. Spontan kami menghambur masuk ke kamar meninggalkan bedcover dan seluruh harta kami di teras depan. Takut kalau-kalau orang tadi bisa manjat ke atas dan menemukan kami berdua (lebay).
…………………………………………………To be continue…………………………………………….
Hehheh

2 komentar:

  1. i'm waiting . To be continue-nya mana piil

    BalasHapus
  2. Aaa kamu baca ya, aku jadi malu, ini tulisan msh kasar bangett. Dan aku lupa buat nerusin cerita ini. Blm sempet, doakan ya segera ada dorongan buat nulis lg. Tangan ku lg kaku buat nulis, ehhe

    BalasHapus