Taman Al Qur'an
Sebuah taman nan indah di salah satu sudut kota Jogja. Bukan dengan air mancur yang menjulang tinggi. Bukan juga dengan berbagai macam tanaman yang beraneka ragam. Melainkan sebuah masjid yang terletak di sebuah desa bernama Blunyahrejo. Masjid yang merupakan salah satu asuhan keraton Yogyakarta. Bila kita berdiri di pintu utama masjid, kita akan menemukan lambang keraton Yogyakarta di dinding atas. '
Aku menyebutnya Taman Al Qur'an. Mungkin, bisa
disebut taman syurga. Menentramkan berada di majlis TPQ itu. Melepaskan
kepenatan setelah beraktifitas menjemukan selama hari-hari efektif. ya, TPQ itu
hanya diadakan setiap akhir pekan. Sangat tepat dengan jadwalku yang super
padat menjelang ujian nasional.
Lama aku meninggalkannya. Sekitar 6 bulan aku tak
datang ke tempat itu. Alasannya simpel saja ku katakan pada pengajar lain,
"Aku sedang ingin konsentrasi untuk Ujian Nasional". Namun sebenarnya
bukan itu. Jauuh di lubuk hati ku, aku masih merasakan sakit yang amat dalam
mengenang masa-masaku besama seseorang. Dia lah yang membawaku ke taman
itu. Dialah yang mengajakku menjadi guru di sana. Sekedar memanfaatkan waktu
luang. Aku ingin mengubur dalam-dalam semua kenanganku bersamanya.
Sore yang indah, aku memutuskan untuk kembali
mengajar di tempat itu berkat ajakan seorang temanku. Tak peduli dengan sudut
kecil hatiku yang mulai berontak. aku tetap pergi ke tempat itu. Tak ada
salahnya. Aku sudah berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan seseorang
itu tlah pergi dan tak akan mungkin kembali.
Suara riuh renyah santri-santri kecilku pecah ketika
kakiku menginjakkan kaki di masjid itu. Ramai berkomentar "mba, kemana
aja??" , "mba fildaaaaaa", atau "aku kangen mbaa".
Lucu sekali. Raut muka mereka masih polos. Wajah-wajah yang tak terbebani oleh
apapun. Riang, penuh tawa. Walau terkadang jahil bin nakal. Namun itu sudah
tabiat mereka sebagai anak kecil yang "suci". Bukan salah mereka
ketika mereka nakal, membangkang, susah di atur. usia-usia mereka masih seperti
tanah liat, belum menjadi keramik yang kokoh dan keras. Teladan dari orang
dewasa, itu yang seharusnya mereka butuhkan.
Acara membaca iqra selesai. kini saatnya aku
berceloteh ini itu kepada mereka. aku memulainya dengan menceritakan surah Al
Fil. Perang Penghancuran Ka'bah pada tahun gajah. Dengan antusias mereka
mengikutinya. Aku memulainya dengan mengartikan kata "al fil". Ada
dua mata bening memperhatikanku dengan seksama. Seorang santri yang baru ku
temui hari itu. Matanya memancarkan rasa keingintahuannya yang tinggi. Sangat
kritis. Setiap jengkal dari ceritaku selalu dikritisi, ditanyakan, dihubungkan
dengan hal lain.
Subhanallah.
Sungguh cerdas anak ini. Namanya Jihan. Kelas 1 sekolah dasar di SD Muhammadiah
Blunyah. Tuhan, kuatkan aku agar selalu mengajar di taman ini. Agar dapat
mengobati kehausannya akan ilmu. Semoga aku masih diberikan umur ketika anak
ini tumbuh, menjadi bunga yang mewangi bagi sekitarnya, dan memberi banyak
manfaat pada agama ini. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar