Laman

Kamis, 13 Desember 2018

Si Pemimpi Kecil

Hai, jumpa lagi di malam menyenangkan ini. Kata orang, sejarah kalo tidak di tuliskan akan berlalu begitu saja seperti asap yang terbang dan menghilang entah ke manaa. Suatu saat, blog ini akan kutunjukkan pada putra putriku. Bagaimana bundanya pernah begini dan begitu. Tulisan galau pun tak ingin ku hapus. Biar begitu apa adanya, hihi.

And, this is me, si pemimpi kecil dari desa yg tidak terkenal. Dimana pulang sekolah yang dicari adalah sungai, bermain bidadari-bidadarian sambil mandi di sungai, pura-pura luluran menggunakan lumpur sungai, mengumpulkan buah entah apa namanya di kebun semi hutan di pinggir sungai, nakal mengambil bunga kopi yang dirangkai menjadi bunga pengantin, atau berpetualang di bekas irigasi bikinan belanda di bukit dekat rumah. Masa SD yang amat menyenangkan.

Si pemimpi kecil, yang ingin sekali sekolah di Jogja hanya karena terpesona oleh jalan flyover di jombor. Si pemimpi kecil yang bertekad memenangkan 5 Lomba walaupun sekolah di Madrasah. Si pemimpi kecil yang sangaat ingin naik pesawat.” Tulislah 100 keinginanmu, dan satu per satu nanti akan tercapai” kata seorang senior kala itu. Benar saja, hal yang sangat ku ingat kala itu adalah naik pesawat, juara lomba karya tulis ilmiah nasional (LKTI Nasional), dan kuliah di fakultas kedokteran.

Tak lama, hanya sekitar 2 tahun dari penulisan 100 mimpi itu. Aku benar bisa naik pesawat, ke Banjarmasin waktu itu, untuk menghadiri LKTI Nasional dari  universitas Lambung Mangkurat. Itu kali pertama menginjakkan kaki di pesawat. Jika teman2 ku bilang impiannya adalah naik pesawat, sudah dari SMA aku mewujudkan mimpi pertamaku. Dari sana, aku ingin menjelajahi “bhineka” nya Indonesia, bagaimana? Sedangkan untuk makan saja uang selalu pas-pasan. Orang bilang itu keberuntungan (tapi kata pelatihku, tidak ada yang namanya keberuntungan, semua terjadi karna suatu alasan), di masa kuliah aku mendapat penempatan untuk KKN di pulau Samosir (Sumatera Utara),  naik pesawat lagi, xixixi, beruntung bisa mempelajari keberagaman dari suku Batak Toba di sana. Lanjut selang beberapa lama, aku lolos di camp 4 lalu 5 indofood, terbanglah aku ke Pekanbaru (Riau), menjelajahi kota Padang (Sumatera Barat), dan terbang ke pulau Dewata (Bali). Ah ya, the power of kemauan. Dimana ada kemauan pasti ada jalan..

Oh ya, di LKTI Nas itu, beruntung kami kantongi juara 3 Nasional, gugurlah impian juara lomba nasional. Pada dasarnya, aku bukan orang cerdas, aku hanya punya modal kemauan, otakku tidak seencer teman2 yang bisa langsung paham sekali dijelaskan. Di asrama, saat temen2 terlelap tidur, saat itulah aku berusaha keras memahami apa yg disampaikan guru dg bekal buku2 perpus. Aku bisa kuliah di fakultas kedokteran UGM, karna mimpiku, aku ingin kuliah di sana. Tak lolos jurusan pendidikan dokter, jurusan gizi kesehatan  pun aku sambangi. Masih segar kala itu, belajar siang malam, mengurung diri di rumah selama 2 minggu demi belajar SBMPTN (Ujian tulis). Guruku hanya buku dg pembahasan soalnya, apalah daya uang dari ortu hanya 200rb, tidak cukup untuk membayar les2an mahal, cukup ku alihkan dengan buku, mereka seperti guru les bagiku. Walaupun, ketika kuliah aku merasa salah jurusan haha. Teman2 kuliahku sungguh akademis, aku seperti orang asing, untuk menelan materi kuliah harus ku pelajari berkali2, haha. Sebagai gantinya, aku lebih memilih aktif di UKM dan paguyuban beasiswa KSE, haha itulah kenapa aku dibilang bukan seperti anak UGM yang akademis.

Dibalik semua itu, masa SMA hingga kuliahku penuh dengan perjuangan. Rasanya hidup hanya berjuang-berjuang-berjuang tak ada habisnya (waktu itu). Tapi kata ibuk, insyaallah semua akan berubah, asal kita tidak menyerah dari berjuang. Hari ini, 50 ribu hanya cukup untuk makan 1 hari, tapi kala itu, 50 rb ku gunakan untuk makan satu minggu, sudah termasuk uang bensin dan fotocopy. Heran kenapa dulu bisa? Wallahu’alam, masalah membuat kita stronger.


Pemimpi kecil, mimpi-mimpi apa lagi yang ingin diwujudkan? Wait, banyak list menunggu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar